Genre beat ’em up, sebuah relik dari era 16-bit yang seharusnya telah tenggelam dalam nostalgia, ternyata masih memiliki denyut nadi di era PlayStation original. Meskipun banyak pengembang beralih ke mekanika yang lebih kompleks, para penggemar pertarungan jalanan tetap diberi pilihan. Beberapa judul memang terasa usang bagai kaset VHS yang berdebu, namun sebagian kecil tetap layak untuk dihidupkan kembali. Baik karena masih menawarkan keseruan tanpa pandang bulu, maupun sebagai eksperimen menarik yang memamerkan pola pikir para developer masa itu, beat ’em up PS1 ini terbukti masih memiliki gigitan.
Gekido: Urban Fighters – Ketika Seni Bertemu Ritmik Jalanan
Gekido: Urban Fighters punya beberapa amunisi yang membuatnya menonjol. Poin paling signifikan adalah partisipasi Joe Madureira, komikus Marvel yang kemudian melenggang ke proyek ambisius seperti Darksiders. Kehadiran Madureira menyuntikkan sentuhan visual yang khas, mendefinisikan estetika 2000-an yang sedikit ‘edgy’. Soundtrack-nya pun tak kalah unik, menggandeng Fatboy Slim dan Apartment 26. Mungkin ini jadi nilai plus bagi para penikmat musik elektronik atau rock alternatif, namun bagi yang tidak, nuansa game ini bisa jadi sangat terasa ‘era-nya’.
Mode Urban Fighters menyajikan inti permainan ala Streets of Rage yang sudah akrab. Ada pula mode lain yang lebih mirip game pertarungan konvensional, namun fokus utama tentu tertuju pada modus cerita. Gekido tidak menawarkan revolusi mekanika, tetapi berhasil menyajikan formula klasik dengan eksekusi yang solid. Ia adalah pengingat bahwa kesederhanaan dalam aksi dan visual yang menarik cukup untuk bertahan dalam ingatan.
Captain Commando – Sang Ksatria dari Masa Lalu yang Sulit Dijangkau
Captain Commando pertama kali menggebrak arena arkade pada 1991. Port untuk Super Nintendo menyusul di 1995, namun harus rela berkompromi dengan keterbatasan perangkat keras 16-bit. Untungnya, PlayStation kebagian port pada 1998, yang meskipun tidak membawa semua elemen orisinal, setidaknya lebih mendekati pengalaman arkade murni. Inilah kesempatan bagi banyak pemain untuk merasakan aksi Captain Commando dan kawan-kawan tanpa harus repot memasukkan koin tanpa henti.
Kabar kurang sedap, tergantung di belahan dunia mana ‘pemain’ berada, adalah rilis PS1 Captain Commando yang hanya terbatas di Jepang. Hal ini membuatnya sedikit kurang menarik bagi audiens modern yang bisa dengan mudah mengakses versi arkade melalui PC. Namun, bagi kolektor atau penggemar berat genre ini, keberadaan beat ’em up ini di PlayStation tetap layak diapresiasi sebagai bagian penting dari sejarah genre di konsol tersebut.
Crisis Beat – Ancaman Teroris di Kapal Pesiar Mewah
Crisis Beat dari Bandai menggebrak dengan latar yang tak lazim: sebuah kapal pesiar yang disandera teroris. Ide setting ini cukup segar di antara deretan gang kumuh dan jalanan kota yang menjadi langganan genre ini. Pemain dapat memilih dari empat karakter berbeda, dan jika beruntung memiliki teman seperjuangan, aksi bisa dinikmati berdua. Interaksi antar pemain dalam menghadapi ancaman global di tengah kemewahan laut memang menawarkan perspektif unik.
Keunggulan Crisis Beat terletak pada kesederhanaan sistem kombatnya, yang hanya mengandalkan dua tombol. Ini membuat penguasaan jurus terasa intuitif, sehingga siapa pun bisa langsung terjun ke dalam aksi. Meskipun mendapat rilis ulang di PlayStation Network pada 2013, game ini tetap menjadi buruan bagi sebagian kolektor, mengingatkan kita pada bagaimana pengembang mencoba variasi tema dalam formula beat ’em up.
Fighting Force – Akankah Menjadi Streets of Rage 4?
Fighting Force merupakan salah satu proyek awal Core Design pasca kesuksesan seri Tomb Raider. Awalnya, game ini diajukan ke Sega sebagai penerus spiritual Streets of Rage, namun tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Akhirnya, Core Design merilisnya di bawah naungan Eidos sebagai beat ’em up orisinal mereka. Keputusan ini memunculkan pertanyaan, ‘bagaimana jika…’ namun tetap melahirkan sebuah judul yang patut dikenang.
Fighting Force mungkin bukan mahakarya genre, namun kemampuannya untuk menghancurkan hampir seluruh elemen lingkungan menawarkan kepuasan tersendiri. Tampilan 3D yang masih terasa seperti 2D side-scroller menjadikannya semacam ‘kapsul waktu’ yang menarik bagi para penggemar. Sekuelnya dirilis pada 1999, dan kabar baiknya, kedua judul ini kembali hadir dalam sebuah koleksi baru di awal 2026, memudahkan akses bagi generasi kini untuk merasakan dinamika pertarungan ini.
Jackie Chan: Stuntmaster – Keajaiban Aksi Kung Fu Nyata
Stuntmaster adalah perpaduan memukau antara beat ’em up dan elemen platforming. Mengendalikan sang ikon Jackie Chan yang berupaya menyelamatkan kakeknya dari sekapan penculik, petualangan ini membawa pemain melintasi berbagai penjuru New York. Sistem kombo yang solid dan gerakan yang luwes menjadi andalan dalam melibas setiap musuh yang menghadang.
Poin krusial yang menempatkan Stuntmaster di peringkat atas adalah keterlibatan langsung Jackie Chan dalam proses rekaman mo-cap dan pengisi suara. Suara khas Chan saat melancarkan pukulan atau tendangan, ditambah animasinya yang mendekati realistis untuk standar PS1, menciptakan pengalaman otentik yang sulit ditandingi. Meskipun jelas terlihat usang, game ini menyajikan simulasi film Jackie Chan terbaik di era konsol tersebut.
Panzer Bandit – Permata Jepang yang Tersembunyi
Sayangnya bagi para penggemar di luar Jepang, mahakarya beat ’em up PlayStation ini tak pernah menjejakkan kaki di pasar Barat. Bahkan saat dirilis ulang di PlayStation Network pada 2011, regionalisasi tetap menjadi penghalang. Namun, jika ada kesempatan untuk mencicipi judul ini, Panzer Bandit jelas sangat layak diperjuangkan. Ini adalah bukti bahwa terkadang harta karun terbaik datang dari tempat yang tak terduga.
Secara visual, Panzer Bandit adalah salah satu game PS1 yang paling memanjakan mata. Sistem dua tombol serangan dasar diperkaya dengan kemampuan unik menggunakan tombol bahu untuk beralih antara latar depan dan belakang, memungkinkan eksekusi serangan spesial yang dinamis. Kedalaman mekaniknya terlihat dari adanya combo counter dan serangan elemen yang bisa diarahkan pada musuh. Dengan Bandai Namco mengakuisisi Banpresto pada 2008, ada harapan besar game ini akhirnya akan menyapa pasar global melalui sebuah koleksi di masa mendatang.

