Siapa sangka, di tengah riuhnya panggung musik dunia yang seringkali dipenuhi drama klise, tiba-tiba muncul berita yang mampu membuat para penggemar tercengang, bahkan mungkin terbahak. Bayangkan saja, dua ikon pop Inggris yang pernah bernaung di bawah satu bendera, Robbie Williams dan Gary Barlow, yang selama ini dikenal dengan lagu-lagu hits mereka, kini berkolaborasi untuk menggarap sebuah lagu tentang… _stalker_ Morrissey! Ya, Anda tidak salah dengar. Ini bukan skenario film komedi, melainkan fakta menarik yang tersaji dalam album terbaru Robbie Williams, ‘Britpop’, dan siap menggoncang telinga pecinta musik.
## Kolaborasi Impian (atau Mimpi Buruk?) Sang Stalker Morrissey
Pekan lalu, Robbie Williams menjadi sorotan setelah menggelar acara pemutaran eksklusif album studio solo ke-13 miliknya, ‘Britpop’, di Groucho Club yang terkenal di pusat kota London. Acara intim tersebut dipandu oleh komedian Joe Lycett, menciptakan suasana obrolan yang santai namun penuh dengan kejutan menarik. Lokasi Groucho Club sendiri bukan pilihan sembarangan; klub ini merupakan simbol hedonisme selebritas tahun 90-an, era yang menjadi akar inspirasi utama album ‘Britpop’.
Robbie tidak hanya mengumumkan konser “terkecil yang pernah tiketnya dijual” di Dingwalls Camden, di mana ia akan memainkan seluruh album ‘Britpop’ bersama debut klasiknya, ‘Life Thru A Lens’. Lebih dari itu, ia juga membeberkan daftar panjang kolaborator bintang yang ikut meramaikan album barunya ini. Nama-nama besar seperti gitaris Black Sabbath, Tony Iommi, yang muncul di single pertama ‘Rocket’, serta _frontman_ Supergrass, Gaz Coombes, dan vokalis Coldplay, Chris Martin, turut menyumbangkan sentuhan magis mereka.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah pengumuman kolaborasi dengan mantan rekan bandnya di Take That, Gary Barlow. Mereka berdua menulis lagu baru berjudul ‘Morrissey’, yang sebelumnya telah dikonfirmasi masuk dalam daftar lagu ‘Britpop’. Ketika ditanya tentang pengalaman berkolaborasi dengan Barlow, Robbie menjawab dengan santai bahwa ia telah sering bekerja sama dengannya.
Uniknya, lagu tersebut bukan sekadar kolaborasi biasa, melainkan sebuah karya yang dibuat oleh Robbie Williams dan Gary Barlow tentang Morrissey. Sebagaimana yang diketahui, banyak warganet di media sosial kerap mengklaim bahwa Robbie Williams kini terlihat mirip dengan mantan vokalis The Smiths tersebut. Robbie bahkan belum lama ini sempat menyanyikan lagu klasik Morrissey, ‘Suedehead’, di Instagram, menambah spekulasi yang beredar.
Komedian Joe Lycett sempat terkejut dan berkomentar bahwa lagu ‘Morrissey’ terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, sesuatu yang tidak ia duga mengingat banyaknya pernyataan kontroversial dari Morrissey. Namun, Robbie Williams kemudian menjelaskan bahwa kelembutan itu datang karena lagu tersebut ditulis dari sudut pandang seorang _stalker_. Sebuah narasi yang mengejutkan, menggambarkan seseorang yang terobsesi dan benar-benar jatuh cinta pada Morrissey.
## Balik Kanan, Gerak! Robbie Williams Menjelajahi Lorong Waktu Britpop
Dalam obrolan santai tersebut, Robbie juga membahas bagaimana ia menjalani leg Eropa dari tur ‘Britpop’-nya, yang digambarkan Lycett sebagai “cukup tanpa henti”. Robbie mengaku bahwa meskipun melelahkan, ia masih memiliki ambisi yang membara untuk tampil prima di setiap penampilannya. Ia merasa memiliki tujuan dan dorongan kuat agar tidak mengecewakan dirinya sendiri maupun para penggemar yang telah membayar mahal untuk datang melihatnya.
Antusiasme penonton di akhir setiap konser menjadi barometer bagi Robbie bahwa ia berhasil memenuhi ekspektasi. Hal ini juga yang mendorongnya untuk mengumumkan konser intim di Dingwalls yang berkapasitas 600 orang, sehari sebelum perilisan album ‘Britpop’. Konser ini digambarkan sebagai pertunjukan paling intim sepanjang karier Robbie Williams.
Joe Lycett sempat bertanya apakah ini adalah pertunjukan terkecil Robbie, dan ia dengan cepat mengoreksi bahwa itu adalah “konser terkecil yang pernah tiketnya dijual”. Ia teringat masa-masa Take That di mana penontonnya hanya “satu orang dan anjingnya”, dan mereka bahkan tidak membayar untuk datang. Kali ini, Robbie ingin kembali ke titik awal.
Dalam konser tersebut, ia akan memainkan seluruh album debut solonya, ‘Life Thru A Lens’ (1997), dan juga seluruh album barunya. Robbie dengan jujur mengatakan bahwa pertunjukan itu sebagian besar untuk dirinya sendiri, sebagai bentuk kepuasan artistik. Ia ingin “menggoda” penonton dengan nuansa nostalgia sebelum menyajikan karya terbarunya, menegaskan bahwa ini adalah momen pribadinya.
Lycett juga menyoroti bahwa ‘Britpop’ dikatakan sebagai album yang ingin ditulis dan dirilis oleh Robbie setelah ia meninggalkan Take That pada tahun 1995. Robbie mengakui bahwa ia sempat merasa “agak tak bertujuan secara musikal” selama beberapa waktu. Ia seringkali mencoba “mengejar kemarin”, suatu hal yang wajar bagi seniman yang telah mencapai puncak kejayaan.
Selama 15 tahun terakhir, Robbie merasa dirinya terlalu sering melihat ke belakang, mencoba menemukan kembali apa yang berhasil saat radio komersial mulai jarang memutar lagunya. Dengan album ini, ia ingin “membersihkan dek”, kembali ke titik awal, dan bergerak maju dari sana. Ini adalah deklarasi bahwa ia ingin fokus pada arah musikal yang benar-benar ia inginkan.
## Ambisi Tanpa Batas: Si Raja Panggung yang Tak Pernah Puas
Saat berbicara dengan penonton tentang kenangan mereka di Groucho, Robbie, yang telah bersih dari narkoba dan alkohol selama lebih dari 20 tahun, dengan jenaka mengatakan bahwa ia telah melupakan banyak hal tentang tahun 90-an. “Tahun 90-an adalah tahun yang baik,” candanya, mengisyaratkan masa lalu yang penuh gejolak namun juga momen-momen ikonik.
Sampul album ‘Britpop’ sendiri menampilkan foto terkenal Robbie di Glastonbury Festival tahun 1995, di mana ia mengenakan _tracksuit_ Adidas merah dan rambut pirang, dengan satu gigi yang dihitamkan. Robbie mengakui bahwa dari sekian banyak pakaian yang ia kenakan, hanya momen tersebut yang tampaknya “bertahan di hati dan pikiran cukup banyak orang yang melihatnya”, menjadi simbol abadi dari era itu.
## Bukan Sekadar Nada: Ketika Robbie Williams Berubah Jadi Kurator Seni dan Pengusaha Hotel
Belakangan ini, Robbie Williams telah menunjukkan dirinya sebagai seorang _renaissance man_, sebuah pribadi yang memiliki banyak talenta di berbagai bidang. Ia bahkan sempat menggelar pameran seni solo berjudul _Radical Honesty_ di Moco Museum London. Menjelaskan daya tarik karier seninya, Robbie mengungkapkan bahwa di masa lalu, modus operandi hidupnya adalah nihlisme dan hedonisme, namun hedonisme justru membuatnya gemuk.
Ia menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu tentang hal itu, dan bahwa kesadarannya untuk berhenti dari narkoba dan alkohol awalnya didasarkan pada kesombongan. Namun, ada juga pertimbangan kematian yang mengintai. Robbie menjelaskan bahwa ia memiliki pikiran yang, jika dibiarkan tanpa pengawasan, akan cenderung melakukan hal-hal yang sangat buruk baginya.
Oleh karena itu, ia harus melatih otaknya untuk melakukan hal-hal lain, layaknya “hewan peliharaan yang bandel”. Kini, ia menciptakan sesuatu setiap hari, sepanjang hari. Ini menjadi modus operandinya, baik itu musik, melodi, puisi, atau apa pun yang bisa disebut “seni”. Ia tidak selalu menganggapnya sebagai seni, tetapi itu adalah ranah terdekat yang bisa ia temukan untuk ekspresi dirinya.
Selain berkarya di bidang seni, Robbie juga membagikan keinginan yang agak tidak biasa, yaitu membangun hotel yang mencakup “alam semesta hiburan”. Ia ingin industri hiburan menjadi “Rencana A dan Rencana B” bagi seseorang, menunjukkan visinya yang luas melampaui panggung musik semata. Ini bukan hanya tentang lagu, tetapi tentang menciptakan pengalaman menyeluruh.
## Meraba Masa Depan: Dari Konser Intim Hingga Ramalan AI
Robbie Williams dijadwalkan merilis ‘Human’, _single_ ketiga dari ‘Britpop’, dalam waktu dekat. Lagu ini, seperti yang ia ungkapkan, adalah tentang kecerdasan buatan (AI) dan ketakutan manusia akan dominasi teknologi. Ia merenungkan bagaimana kita diberitahu bahwa kita semua akan digantikan, padahal kita membutuhkan pakaian dan makanan, sehingga ada kemungkinan bahwa umat manusia akan “disingkirkan”. “Apakah itu sebuah ramalan, kita akan lihat,” ujarnya penuh makna.
Sebelum beranjak dari panggung setelah sesi _playback_ album, ia sempat bercanda, “Apakah saya yang membayar bar? Selamat menikmati!” Sayangnya, suara obrolan para jurnalis dan _media-type_ yang hadir membuat album ‘Britpop’ sulit didengar sepenuhnya. Namun, jelas sekali bahwa album ini sangat berbasis gitar, seperti yang Robbie isyaratkan pada tahun 2022.
Meskipun sebagian besar bertempo cepat, album ini juga menampilkan trek yang lebih melankolis. Salah satunya adalah duet Robbie dengan penyanyi wanita diiringi _synth_ yang sendu dan perkusi yang diredam. Ada pula lagu bergaya disko dan satu lagu di mana ia menyanyi-rap, lengkap dengan lirik yang merujuk kembali ke hit terbesarnya tahun 1997, ‘Angels’: “It offers me protection.”
Sebelumnya, Robbie Williams sempat berbagi _playlist_ eksklusif “British Pop” untuk NME, yang menampilkan nama-nama besar seperti Placebo, Morrissey, dan David Bowie. Kepada NME, ia mengungkapkan bahwa ia “bermain aman” dan “tidak memegang kemudi sendiri” dalam bermusik selama ini, terlalu sering _overthinking_ dan menebak-nebak apa yang disukai orang lain. Kini, ia hanya ingin melakukan apa yang ia sukai.
Robbie baru saja menyelesaikan tur stadion ‘Britpop’ di Inggris dan sedang melanjutkan perjalanannya di Eropa. Ia akan menjadi _headline_ di Come Together Festival di Newcastle, menegaskan posisinya sebagai _performer_ yang tak pernah lelah. Album ‘Britpop’ akan dirilis pada 10 Oktober, dan para penggemar yang melakukan _pre-order_ akan mendapatkan akses awal ke jadwal konser di Inggris pada tahun 2025.
Pada akhirnya, Robbie Williams membuktikan dirinya lebih dari sekadar penyanyi pop; ia adalah seorang seniman yang terus berevolusi, berani menggali masa lalu, menghadapi masa kini, dan melangkah ke masa depan dengan visinya sendiri. Album ‘Britpop’ bukan hanya tentang nostalgia, melainkan deklarasi bahwa Robbie Williams masih memiliki banyak kejutan di kotak pandoranya, siap untuk membuat dunia permusikan terus berdecak kagum dengan cara yang unik dan tak terduga.


