Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Rock 1969: 5 Lagu Ikonik Yang Relevan Hingga Kini, Wajib Masuk Playlist Kamu!

Tahun 1969. Bukan cuma tahun kelahiran sebagian besar bapak-bapak usia 50-an yang masih nyetel musik rock kenceng-kenceng di mobil. Tahun itu, musik rock lagi nakal-nakalnya. Kayak anak SMA baru dikasih motor, semua trek lurus pengen di-geber abis. Tapi, lagu-lagu dari tahun itu, entah kenapa, justru makin tua makin jadi. Bukan kayak mantan yang makin tua makin nyebelin.

Dunia musik rock di 1969 lagi di puncak kejayaannya. Bayangin aja, lima tahun setelah histeria Beatlemania, budaya counterculture, flower power, dan dunia psikedelik udah bikin genre ini berubah total. Semua jadi serba eksperimental, palet nada makin luas. Kayak masakan yang tadinya cuma nasi goreng, eh, tiba-tiba ada steak wagyu segala.

Tapi, akhir 60-an juga jadi saksi bisu gerakan hippie yang mulai belok arah. Festival Woodstock yang legendaris itu ternyata banyak zonk-nya. Belum lagi tragedi Altamont, dan kesadaran bahwa beberapa sudut counterculture, kayak klub motor Hells Angels dan sekte Manson Family, ternyata dihuni kriminal berbahaya. Semua itu kayak bumbu pedas di musik era itu, makin lama makin getir. Perang Vietnam juga terus merenggut ribuan nyawa anak muda Amerika, dan menghasilkan pernyataan artistik yang nggak kalah ngeri. Salah satunya, penampilan legendaris Jimi Hendrix yang subversif membawakan “The Star-Spangled Banner”.

Nah, daripada kita terjebak nostalgia sambil nyalahin jaman, mending dengerin lagu-lagu dari 1969 yang ternyata nggak lekang dimakan waktu. Justru makin lama makin keren. Ini dia lima lagu dari 1969 yang tetep asik didengerin sampe sekarang, dipilih karena listenability dan daya tariknya buat pendengar modern.

The Stooges – “I Wanna Be Your Dog”: Ketika Anjing Lebih Jujur dari Pacar

The Stooges, band yang sekarang diagung-agungkan sebagai salah satu yang paling berpengaruh di generasinya, punya sound mentah yang ngeberontak dari hampir semua musik yang dirilis di akhir 60-an. Cuma bisa dibandingin sama The Velvet Underground soal dampak jangka panjangnya ke musisi-musisi setelahnya. Band asal Michigan yang dipimpin Iggy Pop ini cuma ngeluarin tiga album studio antara 1969 dan 1972, sebelum bubar karena narkoba dan kekacauan.

The Stooges punya cult following yang setia, tapi nggak pernah sukses secara komersial pas masih aktif. Justru butuh waktu puluhan tahun buat publik sadar dan menjadikan The Stooges ikonik. Pas itu, sound mereka yang berat dan vokal Iggy yang menyalak udah jadi panduan buat gerakan punk.

Kebanyakan fans bakal bilang semua diskografi The Stooges layak dijelajahi. Tapi ada satu lagu yang jadi mahakarya mereka: “I Wanna Be Your Dog” dari tahun 1969. Dibangun di atas riff tiga chord yang turun dan lirik Iggy yang submisif, lagu ini jadi antitesis dari sebagian besar musik yang muncul di dekade sebelumnya. Proto-punk downer yang terdistorsi, ngebawa nada yang lebih nihilistik yang bakal banyak dipake musisi di tahun 70-an.

The Beatles – “Come Together”: Ketika Fab Four Berubah Jadi Gangster Rock

Mungkin kedengeran nggak masuk akal kalo di saat proto-punk lagi gencar-gencarnya berkat band kayak The Stooges, eh, Fab Four masih aja jadi band terbesar di dunia. Tapi ya emang gitu kenyataannya. The Beatles di tahun 1969 udah beda jauh sama yang muncul di tahun 1962 dengan “Love Me Do”. Mereka udah nyemplung ke dunia psikedelik, pengaruh avant-garde, dan kemungkinan musik baru yang ditawarin teknologi studio. Hasilnya, mereka ngeluarin serangkaian album penting, kayak “Revolver” (1964) dan “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band” (1967), yang nempatin The Beatles di garda depan musik populer inovatif.

Album terakhir yang direkam The Beatles bareng-bareng, “Abbey Road” (“Let It Be” dirilis belakangan, tapi direkam duluan), muncul di tahun 1969. Buat banyak fans modern, ini jadi album The Beatles yang paling abadi karena produksinya yang jernih dan komposisinya yang mikir jauh ke depan. Lagu pembuka yang ditulis John Lennon, “Come Together”, mungkin jadi lagu paling keren yang pernah direkam Fab Four.

Katanya sih, lagu ini terinspirasi dari slogan yang dipake advokat LSD, Timothy Leary. Ada juga yang bilang ada subteks seksualnya. Yang jelas, lagu ini didorong sama bass groove yang bikin nagih dan nyantol pendengar ke lirik Lennon yang absurd. “Come Together” berhasil jadi seksi dan mengancam secara bersamaan, nggambarin banyak posturing glam rock di awal 1970-an.

The Rolling Stones – “Gimme Shelter”: Ketika Batu Berguling Ketemu Kegelapan Jiwa

The Rolling Stones lagi ngalamin banyak perubahan serius di tahun 1969. Di musim panas tahun itu, Stones kehilangan anggota pendirinya, Brian Jones, yang keluar dari band karena kecanduan narkoba. Dia cabut di bulan Juni, dan di bulan Juli dia ditemuin tewas di kolam renangnya. Kejadian yang bikin kaget band dan fansnya. Tahun itu ditutup dengan bencana di Altamont Speedway, yang ditandai dengan kekerasan antara penonton dan pengawal band, Hells Angels, yang berujung pada pembunuhan penggemar musik kulit hitam, Meredith Hunter.

Banyak yang nganggep kejadian tragis itu jadi momen mimpi budaya counterculture 60-an mati. Dan udah pasti jadi titik terendah karir awal The Stones. Tapi, di balik semua tragedi itu, band ini tetep punya bakat kreatif. Album “Let It Bleed”, yang dirilis di bulan November beberapa bulan setelah kematian Jones, dapet reaksi beragam dari pendengar band saat itu karena liriknya yang ngganggu. Padahal sekarang album itu dianggep salah satu album klasik The Stones. Yang paling menonjol adalah “Gimme Shelter”, lagu rock bernuansa soul yang suram dan kedengeran Stones banget, tapi juga beda dari semua lagu lain di katalog band ini. Dengan lirik yang cemas dan samar, dan vokal latar yang melambung tinggi dari penyanyi Merry Clayton, lagu ini masih bikin adrenalin naik sampe sekarang.

Credence Clearwater Revival – “Fortunate Son”: Ketika Nasib Anak Konglomerat Lebih Beruntung dari Anak Buruh

Kemarahan anak muda di tahun 60-an dipicu sama banyak masalah besar, termasuk Gerakan Hak Sipil, perselisihan antar generasi, dan, tentu aja, Perang Vietnam. Di akhir dekade itu, makin jelas buat publik kalo upaya militer AS buat ngilangin komunisme di Asia bakal gagal. Dan anak muda dikirim buat cacat atau mati dalam jumlah yang nggak masuk akal demi kebijakan luar negeri yang salah arah. Kekecewaan itu diekspresiin abis-abisan di musik era itu. Tapi nggak ada yang se-ampli Creedence Clearwater Revival lewat “Fortunate Son”, yang dirilis di akhir tahun.

Lagu yang pendek dan berapi-api yang dibawain penulis lirik utama band, John Fogerty, ini, ngritik segelintir orang kaya yang manfaatin kekayaan dan pengaruh mereka buat nyelamatin anak-anak mereka dari wajib militer. Tapi lagu ini juga nyentuh masalah ketidaksetaraan kekayaan yang lebih luas. “Lagu ini lebih nyentuh soal ketidakadilan kelas daripada perang itu sendiri,” jelas Fogerty (via Udiscovermusic). “Ini kayak pepatah lama soal orang kaya yang bikin perang dan orang miskin yang harus berjuang.” Kemarahannya masih kerasa sampe sekarang, dan kayak yang dibuktiin sama ratusan juta views yang didapet video musik baru lagu ini di tahun 2018, lagu ini terus nemuin pendengar setia.

Led Zeppelin – “Whole Lotta Love”: Ketika Cinta Butuh Distorsi dan Efek Aneh

Ada yang bilang Led Zeppelin itu buat tahun 70-an sama kayak The Beatles buat tahun 60-an: band Inggris yang dahsyat yang naklukin dunia musik rock, dan ngerubahnya selamanya. Tapi cerita Zeppelin sebenernya dimulai di tahun 60-an, dengan band yang dirakit dari sisa-sisa band blues rock yang udah bubar, The Yardbirds. Led Zeppelin terkenal karena empat album studio self-titled-nya. Buat banyak pendengar, band ini bener-bener nyampe puncak kejayaannya dengan “Led Zeppelin IV”, yang tetep jadi rekaman Zeppelin yang paling terkenal. Tapi, band ini ngerilis album debut dan album keduanya di tahun 1969. Album kedua ini nyimpen salah satu lagu terbaik mereka: “Whole Lotta Love”.

Nggak bisa dipungkiri kalo lagu ini didasarin sama lagu klasik Willie Dixon, “You Need Love”. Lagu ini jadi salah satu trek Zeppelin yang paling vulgar secara seksual, yang berkembang dari groove rocking yang bikin kepala geleng-geleng ke klimaks aneh dan nggak terstruktur sebelum balik lagi ke groove-nya. Lagu ini jadi hit single besar di AS, jadi lagu tema “Top of the Pops” di Inggris, dan udah sering di-cover sama musisi yang ngeliat lagu ini apa adanya: nomor blues-rock sederhana yang masih punya kekuatan buat bikin penonton semangat.

Jadi, itu dia lima lagu dari tahun 1969 yang masih tetep keren sampe sekarang. Bukti kalo musik bagus itu nggak kenal waktu, dan kadang, malah makin enak didengerin pas udah tua. Kayak anggur, makin lama makin mahal. Atau kayak utang, makin lama makin bikin pusing.

Previous Post

Update Mario Kart World: Kustomisasi Item dan Perubahan Layout Bikin Nagih!

Next Post

PS5 Lagi Diskon Gede! Jangan Sampai Ketinggalan Momen Cyber Monday Ini!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *