Industri musik memang penuh kejutan, bahkan lebih mengejutkan dari plot twist FTV azab. Contohnya, kisah yang dialami penyanyi-penulis lagu Inggris-Kanada, Matt Maltese. Lagunya, entah bagaimana caranya, bisa mejeng di album baru Rosaliá, Lux, tanpa sepengetahuan dirinya.
Ketika Lagu “Nyasar” ke Album Bintang: Kisah Aneh Matt Maltese dan Rosaliá
Kepada The Guardian, Matt Maltese menceritakan kisah absurd ini. Beberapa tahun lalu, ia menulis lagu berjudul “Magnolias” bersama teman-temannya. Lagu ini, katanya, tentang dirinya yang membayangkan pemakamannya sendiri. Terdengar agak emo, tapi siapa sangka justru berujung di album penyanyi sekelas Rosaliá?
Maltese sendiri nggak nyangka. “Saya nggak terlalu memikirkannya. Lalu, dua tahun kemudian, kami mendengar bisikan aneh bahwa Rosalía entah bagaimana mendengarnya,” ujarnya. Bayangkan, lagu yang tadinya cuma jadi bahan obrolan iseng, tiba-tiba terdengar sampai telinga bintang internasional.
Enam bulan lalu, Maltese menerima demo versi Rosaliá. Tapi, belum ada kepastian apakah lagu itu akan dirilis. Harapannya sempat membubung ketika Rosaliá mulai teasing album Lux dengan daftar lagu yang diblur, tapi samar-samar terlihat kata “Magnolias”. Kepastian baru datang saat album itu dirilis. Maltese mendengar lagunya bersamaan dengan semua orang.
“It’s exquisite,” katanya. “It’s a gift from someone, somewhere, that it fell into her lap.” Ibarat dapat loot crate legendaris di game, nggak nyangka isinya item super langka.
Semoga saja ini jadi “durian runtuh” bagi Maltese. Karirnya dimulai tahun 2015 dengan mengunggah lagu di SoundCloud. Sempat teken kontrak dengan Atlantic Records, tapi kemudian di-drop. Namanya kembali mencuat di tahun 2021 ketika singlenya tahun 2017, “As The World Caves In,” viral di TikTok. Ia juga sempat menulis lagu untuk Joy Crookes dan Celeste. Bisa dibilang, perjalanan karirnya penuh lika-liku, persis jalanan Jakarta pas jam pulang kerja.
Sementara itu, Rosaliá sedang berada di puncak karirnya. Album Lux mendapat banyak pujian. Single utamanya, “Berghain,” yang menampilkan Björk dan Yves Tumor, menjadi hit yang nggak terduga. Kolaborasi maut antara diva nyentrik dan musisi eksperimental, menghasilkan ramuan musik yang bikin penasaran.
Dari SoundCloud ke Album Rosaliá: Sebuah Dongeng Modern?
Kisah Matt Maltese ini seperti dongeng modern. Dimulai dari platform musik independen, lalu “terdampar” di album seorang bintang. Ini bukti bahwa di era digital, semua hal mungkin terjadi. Bahkan, lagu yang tadinya cuma jadi “bahan nostalgia” bisa jadi soundtrack hidup orang lain.
Fenomena ini juga menunjukkan betapa pentingnya keberuntungan dalam industri musik. Matt Maltese punya bakat, tapi tanpa “campur tangan dewi fortuna,” mungkin “Magnolias” akan tetap jadi lagu yang hanya didengarkan segelintir orang. Kadang, nasib memang suka bercanda.
Tentu saja, ada faktor lain yang berperan. Mungkin saja Rosaliá memang punya radar musik yang bagus, atau mungkin ada koneksi “orang dalam” yang menjembatani lagu Maltese ke telinganya. Apapun itu, hasilnya tetaplah sama: sebuah kolaborasi yang tak terduga.
Kisah ini juga bisa jadi inspirasi bagi musisi-musisi indie lainnya. Jangan pernah meremehkan karya sendiri. Siapa tahu, lagu yang kamu buat di kamar kos-kosan justru bisa jadi anthem sejagat raya. Dunia memang penuh kejutan.
Namun, jangan lupa juga bahwa keberuntungan tetap butuh persiapan. Matt Maltese nggak mungkin dilirik Rosaliá kalau dia nggak punya lagu yang bagus. Jadi, teruslah berkarya dan asah kemampuanmu. Siapa tahu, giliranmu yang dapat “berkah” selanjutnya.
Industri Musik: Antara Bakat, Kerja Keras, dan Keberuntungan
Kisah Matt Maltese ini mengingatkan kita bahwa industri musik adalah perpaduan antara bakat, kerja keras, dan keberuntungan. Bakat saja nggak cukup. Kerja keras juga belum tentu menjamin kesuksesan. Kadang, kita butuh sedikit “keajaiban” untuk bisa bersinar.
Tapi, yang pasti, kita nggak boleh menyerah. Matt Maltese sempat di-drop dari label rekaman. Tapi, ia terus berkarya dan akhirnya “mendapat ganjaran” yang setimpal. Ini bukti bahwa ketekunan adalah kunci utama.
Industri musik memang keras. Persaingannya ketat. Tapi, selalu ada celah untuk bisa menembus tembok raksasa itu. Asalkan kita punya bakat, kerja keras, dan sedikit keberuntungan, bukan nggak mungkin kita bisa meraih mimpi.
Yang terpenting, jangan lupa untuk menikmati prosesnya. Musik adalah tentang ekspresi diri. Jangan biarkan tekanan industri membuatmu kehilangan jati diri. Tetaplah berkarya dengan hati, dan biarkan musikmu berbicara.
Jadi, buat para musisi di luar sana, teruslah berkarya. Siapa tahu, lagumu berikutnya justru bisa jadi soundtrack hidup orang lain, bahkan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Dunia memang penuh kejutan, dan musik adalah salah satu kejutan terindah yang bisa kita rasakan.
Siapa tahu, kan, habis ini kamu yang lagunya di-cover musisi dunia? Jangan lupa traktir Mojok kalau beneran kejadian, ya!


