Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Sapi Makan Hemp: Hati-Hati Kanabinoid di Dagingmu

Pernahkah terlintas di benak Anda, di era serba mungkin ini, bahwa sapi pun bisa ikut serta dalam drama legalisasi ganja? Bukan, ini bukan tentang sapi yang ikutan demo atau sapi yang diam-diam nyeduh teh kembang ganja. Ini tentang penelitian serius yang mencoba memastikan: apakah susu sapi yang diberi pakan sisa olahan hemp bisa membuat konsumen ketiban jackpot halusinasi atau justru aman sentosa? Sebuah studi revolusioner dari Oregon State University (OSU) baru-baru ini merilis temuan yang membuat dahi berkerut, sekaligus mungkin, sedikit lega. Mereka menemukan bahwa kanabinoid dalam susu sapi ternyata bisa lenyap tak berbekas seiring waktu, menjawab keraguan banyak pihak tentang potensi “susu spesial” di lemari pendingin.

Kisah Sisa Hemp dan Ambisi Ilmuwan: Bukan Sekadar Urusan Pakan Ternak

Sejak 2018, menanam hemp industri sudah sah secara hukum di Amerika Serikat, seolah membuka pintu baru bagi dunia pertanian. Namun, seperti layaknya drama percintaan, tidak semua hal berjalan mulus. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat ternyata masih cuek dan belum mengizinkan sisa olahan hemp digunakan sebagai pakan ternak. Padahal, ada gunung keuntungan tersembunyi jika ini diizinkan, baik untuk peternak maupun produsen hemp. Larangan ini bukan tanpa alasan kuat, sebab ada kekhawatiran besar mengenai potensi akumulasi THC (senyawa psikoaktif dari ganja) dalam produk pangan seperti susu atau daging.

Permasalahan muncul karena lebih dari 60% hemp yang dibudidayakan di AS diperuntukkan bagi ekstraksi cannabidiol (CBD). Proses ekstraksi ini, ironisnya, menghasilkan tumpukan biomassa hemp sisa pakai (spent hemp biomass atau SHB) yang melimpah ruah. Biomassa ini sebenarnya bisa menjadi sumber pakan alternatif yang ekonomis dan bergizi. Namun, status ilegalnya sebagai pakan ternak membuat miliaran dolar potensi ekonomi teronggok begitu saja.

Para peneliti di balik studi terbaru ini melihat potensi SHB sebagai ‘harta karun’ tersembunyi yang bisa dimanfaatkan. Mereka berargumen bahwa dengan data ilmiah yang kuat, pintu regulasi bisa terbuka lebar. Inilah mengapa studi dari OSU ini menjadi langkah krusial. Studi tersebut bertujuan untuk mengisi kekosongan data yang dibutuhkan FDA untuk akhirnya memberi restu pada penggunaan SHB sebagai suplemen pakan ternak.

Ketika Sapi Jersey Jadi Bintang Penelitian: Eksperimen Detoksifikasi Cannabinoid

Studi yang menjadi sorotan ini, berjudul “Cannabinoid Distribution and Clearance in Feeding Spent Hemp Biomass to Dairy Cows and the Potential Exposure to Δ9-THC by Consuming Milk,” dipublikasikan pada Mei 2025 di Journal of Agricultural and Food Chemistry. Penelitian ini tidak main-main, melibatkan 18 ekor sapi Jersey yang didapuk menjadi “ilmuwan” dadakan. Sapi-sapi ini menjadi kunci untuk mengungkap rahasia pergerakan kanabinoid dalam tubuh mereka.

Selama 28 hari pertama, sembilan sapi diberikan diet khusus dengan 13% SHB, sementara sembilan sapi lainnya menikmati diet kontrol standar dengan 13% pelet alfalfa. Ini seperti skenario “dua geng” sapi dengan menu makan yang berbeda, semuanya demi ilmu pengetahuan. Periode pakan khusus ini kemudian diikuti oleh masa penarikan selama empat minggu, di mana semua 18 sapi kembali ke diet kontrol yang sama. Ini adalah fase krusial untuk melihat apakah dan seberapa cepat kanabinoid menghilang dari sistem tubuh mereka.

Para peneliti menggunakan teknik canggih bernama ultra-high performance liquid chromatography tandem mass spectrometry (UHPLC-MS/MS) untuk mengukur kadar kanabinoid dalam susu sapi. Hasil awal menunjukkan bahwa transfer kanabinoid ke dalam susu sangat rendah, kurang dari 1%. Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi yang ini adalah mencari jejak THC di segelas susu. Namun, jangan terlalu cepat senang, karena kadar THC yang cukup tinggi justru terdeteksi pada jaringan lemak sapi.

Susu Ajaib Tanpa “Efek Samping”: Jejak THC yang Sirna?

Salah satu temuan paling melegakan, terutama bagi para pecinta susu, adalah bagaimana jejak THC berperilaku dalam susu. Setelah 12 hari masa penarikan pakan SHB, THC sama sekali tidak terdeteksi dalam susu. Ini seperti aplikasi “bersih-bersih” otomatis yang menghilangkan semua data mencurigakan. Hasil ini menunjukkan bahwa susu sapi memiliki mekanisme pembersihan yang relatif cepat, setidaknya untuk THC.

Namun, drama tidak berhenti di situ, karena THC ternyata punya tempat persembunyian favorit lainnya. Meskipun sudah “angkat kaki” dari susu, THC masih bisa terdeteksi dalam jaringan lemak sapi hingga 30 hari setelah masa penarikan pakan. Ini seperti penumpang gelap yang bersembunyi di bagasi, enggan pergi begitu saja. Data ini menyoroti kompleksitas metabolisme kanabinoid dalam tubuh hewan ternak.

Selain THC, senyawa lain seperti CBD dan cannabidiolic acid (CBDA) juga ditemukan berperilaku berbeda. Keduanya masih terdeteksi dalam plasma sapi hingga 90 hari setelah masa penarikan pakan. Ini menunjukkan bahwa beberapa kanabinoid memiliki masa tinggal yang lebih lama dalam sistem sirkulasi sapi, seolah-olah mereka adalah tamu yang sangat betah dan enggan pulang. Temuan ini penting untuk memahami durasi clearance penuh kanabinoid dari tubuh sapi.

Jejak Misterius di Jaringan Lemak: Di Mana THC Bersembunyi?

Studi ini juga menemukan bahwa total asupan THC dari susu sapi yang diberi diet hemp sempat melampaui batas referensi akut sebesar 1 μg/kg BW. Tentu saja, ini bisa memicu kekhawatiran awal bagi konsumen. Namun, ada plot twist yang menyelamatkan cerita ini. “Dua minggu penarikan biomassa hemp sisa pakai dari diet sapi menghilangkan risiko mengonsumsi THC melalui susu dari sapi-sapi tersebut,” jelas Massimo Bionaz, pemimpin studi dan seorang profesor di Departemen Ilmu Hewan dan Padang Rumput di OSU. Ini seperti tombol “reset” yang membuat semuanya aman kembali.

Dalam penelitian sebelumnya yang diterbitkan di Food Additives and Contaminants, US Department of Agriculture (USDA) dan North Dakota State University (NDSU) juga telah menyelidiki isu serupa. Mereka menemukan bahwa sapi yang diberi pakan bungkil biji hemp akan mempertahankan konsentrasi rendah THC dan CBD dalam dagingnya. Bagian daging yang paling “berkesan” dengan jejak ini adalah otot, ginjal, hati, dan jaringan lemak.

Bungkil biji hemp sendiri digambarkan sebagai sumber pakan alternatif yang kaya protein kasar dan serat, menjadikannya pilihan yang sangat layak untuk ternak. Selain itu, temuan ini juga membuka potensi pasar baru bagi produsen hemp. Artinya, sisa-sisa panen hemp tidak hanya menjadi limbah, tetapi bisa menjadi aset berharga yang memberikan nilai tambah ekonomi. Penelitian ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana produk sampingan hemp dapat berintegrasi ke dalam rantai pasokan pangan.

Pada akhirnya, temuan-temuan dari berbagai studi ini menjadi fondasi penting bagi masa depan penggunaan produk sampingan hemp dalam industri pakan ternak. Meskipun ada beberapa tantangan terkait akumulasi kanabinoid, terutama di jaringan lemak, adanya periode penarikan yang efektif menjadi solusi kunci. Dengan data ini, pintu bagi FDA untuk menyetujui SHB sebagai pakan ternak bisa terbuka lebih lebar, membawa manfaat besar bagi keberlanjutan pertanian dan ekonomi.

Previous Post

Chiesa Balik Haluan Dramatis: Liverpool Kantongi Pengganti Diaz

Next Post

Yomari Masuk Daftar UNESCO: Mengamankan Jejak Budaya

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *