Oke, mari kita bicara soal kanker langka yang nyempil-nyempil di tulang dan jaringan lunak, yang ternyata lebih suka nongkrongin anak muda dan remaja. Bukannya bikin ngeri, tapi justru karena langka ini, deteksinya sering telat parah. Bayangin aja, tumor nggak nyeri yang nyamar jadi benjolan biasa. Makanya, Singapura sekarang lagi all-out bikin sistem penanganan yang lebih gesit, mulai dari deteksi dini sampai rujukan yang nggak bikin pusing, demi para pejuang sarcoma.
Sarcoma: Si Penjahat Siluman yang Bikin Pusing
Sarcoma itu jenis kanker yang nyebar kayak hantu, bisa muncul di mana aja, dan seringnya cuma kayak benjolan nggak nyeri. Sifatnya yang suka menyamar ini bikin banyak orang telat sadar, sampai diagnosa sudah di tahap akhir. Kalau dihitung-hitung, sarcoma ini cuma jadi kurang dari satu persen kanker pada orang dewasa, tapi jangan salah, di kalangan anak-anak, angkanya melonjak drastis jadi sekitar 21 persen. Ini artinya, banyak banget anak muda yang terpaksa berhadapan sama musuh yang nyebelin ini.
Nah, buat ngatasin masalah pelik ini, para dokter di Singapura dari berbagai institusi, termasuk National University Cancer Institute, Singapore (NCIS) dan National Cancer Centre Singapore (NCCS), plus kontributor internasional, lagi giat banget nyusun strategi. Tujuannya? Biar makin jago ngenalin tanda-tandanya dari awal, bikin jalur rujukan jadi jelas kayak peta tol, dan ngatur penanganan yang terpadu. Semuanya digerakkan bareng-bareng, mulai dari ahli bedah, onkologi medis, onkologi radiasi, patologi, radiologi, sampai tenaga kesehatan pendukung. Semuanya demi pasien sarcoma yang butuh penanganan super spesifik.
Dunia medis ini memang kadang bikin geleng-geleng kepala. Ada lebih dari 100 jenis sarcoma, dan setiap jenisnya punya jurus diagnosis dan pengobatan sendiri-sendiri. Ini bukan kayak beli jadi di toko, tapi butuh keahlian super duper spesial dan koordinasi tim yang erat. Kalau nggak gini, ya siap-siap aja berantakan.
Ambil contoh kasusnya Pak Terence Goh, yang divonis sarcoma pleomorfik retroperitoneal di tahun 2023. Pengalamannya jadi bukti nyata kalau sarcoma itu bukan penyakit yang jalurnya lurus-lurus aja. Di usianya yang ke-46, beliau harus melewati radioterapi sebelum operasi. Operasinya sendiri? Jangan ditanya. Super kompleks, melibatkan banyak organ, waktu operasi berjam-jam, dan perencanaan matang tingkat dewa. Tumor utamanya nyantol dalam di retroperitoneum, bikin operasi butuh tim bedah yang gokil. Perlu diingat, radioterapi sebelum operasi bisa bikin jaringan sekitar jadi parut dan meradang, nambahin tingkat kesulitan operasi. Belum selesai sampai di situ, ada komplikasi susulan yang mengharuskan pengangkatan ginjal yang udah nggak berfungsi gara-gara tertekan tumor.
Selama perjalanan pengobatannya, Pak Goh dirawat di NCIS. Kasusnya berkali-kali di-review sama tim multidisiplin, terapinya di-escalate, dan butuh follow-up jangka panjang. Beliau juga harus menjalani protokol kemoterapi yang nggak main-main, terapi target yang diatur ketat sama divisi Nefrologi NUH buat jagain ginjal tunggalnya, plus beberapa kali operasi yang melibatkan dada dan perut. Kehidupannya terombang-ambing di antara ruang operasi dan ruang perawatan, tapi semangatnya pantang padam.
“Masih berjuang,” kata Pak Goh. “Yang bikin bertahan itu percaya sama dokter dan berusaha hidup normal sebisa mungkin, buat keluarga dan diri sendiri.”
Sebagai ayah dua anak, Pak Goh mengakui kalau istri dan keluarganya jadi penyemangat utamanya di tengah rawat inap yang berulang, efek samping pengobatan, dan masa pemulihan yang panjang. Meski tantangan terus ada, beliau tetap mendukung penuh riset sarcoma dan bersedia kasusnya jadi bahan pembelajaran buat memajukan ilmu kedokteran. Beliau berharap makin banyak orang yang paham soal sarcoma, karena riset, kesadaran, dan pilihan pengobatan yang lebih baik bisa bikin perbedaan besar.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan sarcoma itu adalah deteksi dini. Banyak dokter yang jarang ketemu sarcoma, jadi kadang ragu-ragu buat ngenalin ciri-cirinya yang mencurigakan atau kapan harus segera merujuk. Adjunct Professor Mark Edward Puhaindran, Ketua Dewan Medis di National University Hospital (NUH) dan Konsultan Senior di Divisi Onkologi Bedah NCIS, menjelaskan, “Dalam praktik klinis, kelangkaan sarcoma berarti banyak dokter mungkin hanya bertemu beberapa kasus seumur karier mereka, yang berujung pada ketidakpastian mengenali kondisi ini, serta memutuskan kapan harus meningkatkan penanganan atau merujuk. Memperkuat kesadaran dan memetakan jalur pengambilan keputusan yang lebih jelas adalah langkah penting untuk meningkatkan hasil penanganan.”
Panduan Ahli Multidisiplin: Senjata Baru Lawan Sarcoma
Sebagai bagian dari upaya besar ini, para klinisi dari Singapura dan pusat-pusat internasional telah bersatu untuk mengembangkan panduan multidisiplin ahli. Panduan ini ditujukan untuk mendukung diagnosis dan manajemen sarcoma. Salah satu hasilnya adalah buku pegangan klinis baru berjudul Clinical Management of Bone and Soft Tissue Tumours. Inisiatif yang dipimpin Singapura ini mengumpulkan keahlian gabungan dari 70 kontributor lokal dan internasional dari berbagai spesialisasi. Tujuannya adalah untuk membantu para profesional kesehatan menavigasi jalur diagnostik yang kompleks, mengidentifikasi kapan rujukan spesialis diperlukan, dan menentukan pendekatan perawatan multimodal yang tepat.
Associate Professor Victor Lee Kwan Min, Kepala dan Konsultan Senior di Departemen Patologi NUH, sekaligus Konsultan Senior di NCIS dan salah satu editor utama buku pegangan tersebut, menyatakan, “Patologi sarcoma secara inheren kompleks. Tumor-tumor ini jarang terjadi, sangat beragam, dan seringkali sulit dikarakterisasi, yang berarti diagnosis akurat bergantung pada keahlian spesialis yang didukung oleh tes tambahan yang sesuai. Kami berharap buku pegangan ini membantu para klinisi menavigasi kompleksitas ini dengan lebih baik dan sampai pada rencana pengobatan yang paling tepat untuk pasien mereka.”
Menambah bobot panduan ini, Associate Professor James Hallinan, Konsultan Senior di Departemen Pencitraan Diagnostik NUH dan Konsultan Senior di Divisi Onkologi Muskuloskeletal, Departemen Pencitraan Diagnostik NCIS, menambahkan, “Pencitraan memainkan peran penting dalam deteksi dini dan karakterisasi sarkoma. Buku pegangan menguraikan prinsip-prinsip inti, indikasi, dan batasan untuk memandu klinisi kapan investigasi lebih lanjut atau rujukan spesialis diperlukan. Pencitraan yang tepat waktu dan sesuai dapat secara signifikan memengaruhi perencanaan pengobatan dan hasil pasien.”
Buku pegangan ini, yang dikembangkan oleh NCIS bekerja sama dengan institusi seperti NCCS dan kontributor internasional, mencerminkan ekosistem terintegrasi Singapura. Ekosistem ini menyatukan keahlian dalam onkologi ortopedi, patologi, radiologi, bedah, onkologi medis, dan kesehatan terkait dalam satu jaringan terkoordinasi. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam memerangi kanker yang sulit dipahami ini.
Lebih dari sekadar diagnosis, perjuangan melawan kanker ini juga tentang semangat dan ketahanan. Ambil contoh Pak Hilman Basri, yang usianya baru 29 tahun saat merasakan ada benjolan di kakinya di akhir 2015. Awalnya dianggap sepele, tapi benjolan itu terus membesar sampai harus membeli sepatu ukuran lebih besar. Kanker? Jauh dari pikiran.
Sebuah rujukan membawanya ke NCIS, di mana biopsi mengkonfirmasi diagnosis langka: clear cell sarcoma, subtipe soft tissue sarcoma yang langka dan agresif. Operasi dilakukan Januari 2016, termasuk rekonstruksi kompleks dan cangkok kulit dari lengan. Meskipun Pak Basri terus hidup dengan penyakit persisten dan membutuhkan operasi kompleks serta pengobatan medis berkelanjutan selama bertahun-tahun, perjalanannya tidak ditentukan oleh keterbatasan, melainkan oleh tekad yang membara.
Di bawah perawatan Adjunct Professor Mark Edward Puhaindran, yang juga merupakan salah satu editor utama buku pegangan, manajemen Pak Basri melampaui operasi. Ini mencakup tindak lanjut jangka panjang, rehabilitasi, dan pengobatan berkelanjutan. Didorong oleh Advanced Practice Nurse Ms Foong Li Li dan tim perawatnya untuk memilih ketahanan daripada kepasrahan, Pak Basri mengubah pandangannya tentang hidup. Ia mengadopsi gaya hidup lebih sehat dan beralih ke lari sebagai cara mengatasi tantangan fisik dan mental hidup dengan kanker.
Sejak 2018, ia rutin mengikuti Marathon Run For Hope setiap tahun, seringkali berlatih dan berkompetisi di sela-sela operasi dan pengobatan. Setiap kali garis finis dilewati, itu bukan sekadar tanda pulih dari kanker, melainkan afirmasi kuat tentang apa yang masih mungkin dicapai meskipun ada penyakit tersebut. “Ini bukan vonis mati,” kata Pak Basri. “Ini bukan akhir, tapi awal dari babak baru.”
|
[1] Sumber: Burningham Z, Hashibe M, Spector L, Schiffman JD. The epidemiology of sarcoma. Clin Sarcoma Res. 2012;2:14. https://doi.org/10.1186/2045-3329-2-14. |
|
[2] Editor Clinical Management of Bone and Soft Tissue Tumours: Prof Mark Edward Puhaindran, Prof Victor Lee Kwan Min, Dr Thomas Patrick Decourcy Hallinan, Dr Angela Shien, Prof Bok Ai Choo |
Glosarium Mandarin
|
National University Cancer Institute, Singapore (NCIS) |
新加坡国立大学癌症中心 |
|
National University Hospital (NUH) |
国立大学医院 |
|
National Cancer Centre Singapore (NCCS) |
新加坡国立癌症中心 |
|
Adjunct Professor Mark Edward Puhaindran Chairman, Medical Board, National University Hospital (NUH) & |
Mark Edward Puhaindran客座教授 国立大学医院医疗委员会主席 & 高级顾问医生 肿瘤外科 新加坡国立大学癌症中心 |
|
Associate Professor Victor Lee Kwan Min Head & Senior Consultant Department of Pathology |
李光明医生副教授 主任兼高级顾问医生 病理科 国立大学医院(国大医院) & 高级顾问医生 |
|
Associate Professor James Hallinan Senior Consultant Department of Diagnostic Imaging National University Hospital (NUH) & |
詹姆士•哈利南医生副教授 高级顾问医生 影像诊断科 国立大学医院(国大医院) & 高级顾问医生 肿瘤外科 (肌肉骨骼外科), 新加坡国立大学癌症中心 |
|
Mr Hilman Basri |
Hilman Basri先生 |
|
Mr Terence Goh |
吴振扬先生 |


