Selamat datang di zaman ketika buku sejarah di lemari perpustakaan terlihat lebih kuno daripada kaset VHS yang tergeletak di gudang. Dulu, kalau belajar sejarah Indonesia, semua dibagi-bagi rapi kayak snack box: era Hindu-Buddha, lanjut ke kesultanan Islam, selingan “masa transisi” buat ngisi kekosongan. Arkeolog zaman Belanda yang bikin pembagian saklek ini, dan sampai sekarang masih jadi bingkai buat ngomongin situs purbakala, bahkan sampai nentuin apa sih yang pantas disebut sejarah dan apa yang harus masuk tempat sampah memori.
Tapi coba lihat Sendang Duwur, kompleks Islam abad ke-16 di Jawa Timur. Di sana, gerbang megah bertuliskan simbol Hindu berjaga di depan masjid yang masih aktif. Peziarah mendaki tangga yang kayak jalan menuju surga, melewati ruang-ruang yang menolak kalau maknanya cuma satu. Situs ini terus dihuni, direnovasi, dan ditafsir ulang selama lima abad, tapi ilmu arkeologi seolah pengen membekukannya jadi pajangan museum.
Apa iya cara pandang kolonial ini bikin buta sama cara komunitas Jawa asli memahami ruang sakral? Dan bagaimana para akademisi bisa keluar dari jebakan kategori warisan ini untuk merancang masa depan arkeologi Indonesia yang lebih merdeka?
Babak Baru Arkeologi: Menendang Binari Kolonial
Tito Ambyo, peneliti dari RMIT, berbincang dengan Panggah Ardiansyah, peneliti di Digital Humanities Institute, University of Sheffield. Riset Panggah memaksa kita melihat artefak Indonesia dari kacamata lokal, bukan cuma dari kacamata yang diajarin di kelas zaman dulu. Mengutip paper terbarunya di jurnal Art History, Panggah berargumen bahwa konsep kramat—tempat sakral yang sarat kekuatan leluhur—jauh lebih ampuh buat memahami situs seperti Sendang Duwur ketimbang dualisme Hindu-Buddha versus Islam yang diturunkan dari era penjajahan.
Ini bukan sekadar soal beda label agama. Ini soal bagaimana sebuah tempat bisa menyimpan banyak lapisan makna yang hidup dan terus berubah. Bayangkan sebuah meme yang terus di-remix oleh berbagai komunitas, setiap versi punya cerita dan audiensnya sendiri. Sendang Duwur, dengan gerbang Candi Bentar yang khas Majapahit menyambut masjid berarsitektur unik, adalah manifestasi nyata dari proses tanpa henti ini.
Pendekatan Panggah menantang cara pandang linier dalam sejarah Indonesia, yang seringkali memaksa setiap entitas harus memilih satu identitas tunggal. Di dunia nyata, identitas itu cair, berlapis, dan kadang kontradiktif—seperti orang yang suka kopi hitam tapi juga bisa menikmati es kopi susu kekinian. Sendang Duwur adalah artefak hidup yang menolak dikotomi kaku.
Kontribusi Panggah bukan sekadar menambah satu teori baru. Ini adalah undangan untuk merombak total cara kita memandang warisan budaya. Ini seperti meminta gamer berpengalaman untuk berhenti bermain mode tutorial dan langsung terjun ke mode survival dengan equipment seadanya.
“Kramat”: Kacamata Lokal untuk Warisan Nusantara
Konsep kramat, menurut Panggah, bukan sekadar “tempat keramat”. Ini adalah spektrum pengalaman spiritual dan historis yang melekat pada suatu lokasi, seringkali terkait dengan kekuatan gaib atau jejak leluhur yang masih terasa hingga kini. Ini semacam cheat code dalam game sejarah yang memungkinkan pemain melihat hidden lore yang terlewat oleh panduan resmi.
Sendang Duwur, dengan perpaduan arsitektur dan simbol yang membingungkan para peneliti dengan kerangka kolonial, justru jadi contoh sempurna bagaimana konsep kramat bekerja. Gerbang yang terinspirasi Hindu, patung-patung yang mengingatkan pada relief candi, semua itu bukan sekadar sisa-sisa masa lalu yang harus “dibersihkan” demi identitas Islam yang murni. Sebaliknya, elemen-elemen itu justru menjadi bagian dari energi sakral tempat tersebut, terus berdialog dengan pengunjung dan penghuni masa kini.
Panggah menyoroti bahwa pengkategorian Hindu-Buddha dan Islam sebagai entitas yang terpisah dan berurutan adalah reduksi yang disengaja untuk memudahkan interpretasi Barat. Padahal, di lapangan, batas-batas itu kabur, bahkan seringkali menyatu. Seolah memaksa pembalap Formula 1 untuk hanya menggunakan ban tipe tertentu, tanpa memperhitungkan kondisi trek yang berubah-ubah.
Ketika para arkeolog terpaku pada binary kolonial, mereka justru kehilangan esensi dari bagaimana situs-situs ini benar-benar hidup dan bermakna bagi masyarakat setempat. Ini seperti menonton film tanpa suara; tahu ada visual tapi kehilangan konteks dan emosinya.
Menuju Masa Depan Arkeologi Bebas Belenggu
Tantangan terbesar kini adalah bagaimana mengarusutamakan cara pandang seperti Panggah dalam studi arkeologi Indonesia secara keseluruhan. Ini bukan lagi soal merevisi buku sejarah, tapi merancang ulang mesin waktu agar bisa kembali dan mengganti cetakan aslinya.
Proyek dekolonialisasi dalam arkeologi tidak hanya soal membongkar teori lama, tapi membangun kerangka epistemologis baru yang menghargai kearifan lokal. Ini seperti merilis patch update besar-besaran untuk sebuah game yang sudah usang, bukan cuma memperbaiki bug kecil.
Diskusi ini, yang diangkat dalam podcast Talking Indonesia, adalah langkah krusial. Dengan menghadirkan peneliti seperti Panggah, Tito Ambyo, Jemma Purdey, Clara Siagian, Jacqui Baker, dan Elisabeth Kramer, ruang untuk narasi alternatif semakin terbuka. Ini adalah ajakan untuk semua pihak—akademisi, pemerintah, hingga masyarakat umum—untuk mulai melihat warisan budaya dengan mata yang lebih terbuka dan hati yang lebih lapang.
Perjalanan dekolonisasi arkeologi Indonesia masih panjang. Namun, dengan adanya studi mendalam seperti yang dilakukan Panggah, arahnya menjadi lebih jelas: menuju pemahaman yang lebih kaya, lebih otentik, dan tentu saja, lebih merdeka.


