Dulu, menerbangkan drone itu kayak cita-cita punya mobil terbang di film-film sci-fi. Sekarang? Beli drone semudah pesan kopi di aplikasi. Tapi, tunggu dulu, Antigravity A1 ini bukan sekadar drone biasa. Ini kayak gabungan GTA 5 sama Instagram, dikemas dalam satu alat yang bikin tetangga garuk-garuk kepala.
Antigravity A1 hadir sebagai penantang dominasi DJI yang—kalau dihitung—jumlahnya sudah kayak bintang di langit. Strategi mereka? Main cantik di ranah video 360 derajat dan kemudahan edit video via smartphone. Bayangkan, rekam video 8K dari segala arah, lalu edit sesuka hati tanpa takut ada momen yang terlewat. Kedengarannya menyenangkan, kan? Tapi, ya namanya juga teknologi baru, pasti ada drama update dan kurva belajar yang bikin alis berkerut.
Drone ini memang unik. Beratnya cuma 249 gram, yang membuatnya lolos dari beberapa regulasi drone (walau izin terbang tetap beda-beda tiap daerah). Dua kamera yang nangkring di atas dan bawah bodi drone jadi ciri khasnya. Susah bandingkan A1 dengan drone lain secara langsung, karena fiturnya campur aduk dari berbagai kategori, plus beberapa inovasi sendiri.
A1 bisa merekam video 360 derajat hingga resolusi 8K. Berkat pengalaman Insta360 di dunia action cam, bodi drone bisa dihilangkan secara ajaib dari video. Artinya, hasil rekaman bersih dari baling-baling atau bagian drone lainnya. Keren, kan? Di bagian bawah drone, ada dua kaki pendaratan yang otomatis turun saat mau mendarat, tapi harus ditarik manual saat mau terbang. Atau, bisa juga pakai tombol di controller-nya yang—percayalah—jumlahnya bikin pusing.
Drone Rasa Video Game: Kontrol yang Bikin Nagih
Controller A1 ini penuh dengan tombol, roda, dan slider. Tapi, yang bikin beda, kendali utama drone ini bukan pakai joystick atau tombol, melainkan gestur. Alih-alih menggerakkan stick ke kiri-kanan-atas-bawah, kita kayak main video game. Arahkan controller ke mana mau pergi, lalu tarik pelatuk. A1 langsung meluncur ke arah itu. Sensasinya beda dari drone lain yang pernah ada. Kayak menerbangkan helikopter di GTA 5. Bisa lihat ke segala arah, sambil bergerak atau diam di tempat.
Ada tombol buat rekam video, kendali terbang vertikal, dan memutar sudut pandang tanpa gerakin kepala. Bahkan, ada fungsi RTH (return to home) yang bisa diakses dengan menekan lama tombol rem darurat. Lengkap, euy!
Goggle-nya juga nggak main-main. Sepasang layar mikro-OLED 1,03 inci dengan resolusi 2.560 × 2.560 dan refresh rate 72Hz. Goggle drone FPV lain biasanya nawarin refresh rate 100Hz, tapi buat saya sih nggak terlalu masalah. Sempat khawatir lag bakal bikin pusing saat terbangin A1, tapi ternyata nggak. Mungkin karena kita bisa kendaliin penuh sudut pandang, jadi mualnya nggak separah itu.
Fitur lain yang menarik, terutama kalau terbang bareng teman, adalah layar bundar di luar goggle. Jadi, semua orang bisa lihat apa yang dilihat A1. Memang nggak bisa nunjukkin seluruh sudut pandang pilot drone, tapi lumayan lah buat ngilangin bosan saat nonton orang lain nerbangin drone. Di bagian dalam goggle, ada touchpad buat navigasi menu tanpa perlu nunjuk dan klik pakai controller.
Performa: Terbang Santai, Hasil Tetap Memukau
Soal performa, Antigravity A1 memang bukan yang paling kencang. Bahkan di mode Sport, kecepatan maksimalnya cuma di bawah 36 mph. Kalah jauh dari DJI Avata 2 yang bisa sampai 60 mph. Tapi, responsivitas A1 tetap bikin saya terkesan, terutama di mode Sport. Ada juga mode FPV tambahan (bisa diakses dari goggle) yang nawarin kendali lebih sensitif, tapi belum sempat saya coba karena baru muncul di update firmware terbaru.
Buat orang yang lebih jago main game daripada nerbangin drone, sistem kendali Antigravity ini pas banget. Saya bisa terbang ke mana aja, yakin dengan kendali dan hasil rekaman yang sesuai harapan. Menurut Antigravity, A1 bisa terbang dalam radius 10 km, tapi belum sempat saya tes di tengah kota London.
Pengalaman awal pakai drone ini terasa agak ribet. Pasangin semua perangkat harus urut: nyalain drone, nyalain goggle, nyalain controller. Matikan juga nggak bisa cuma tekan lama tombol power. Harus tekan-sekali-tekan-lagi-baru-tahan, yang sering saya lupa tiap kali mau matiin.
Download video dari A1 ke smartphone juga agak lama, tapi bukan cuma drone ini yang gitu. Antigravity coba kasih solusi, kayak microSD card quick reader yang bisa dicolok ke smartphone atau PC via USB-C.
Software Editing: Mudah dan Bikin Ketagihan
Sayangnya, saat dites, koneksi manual ke microSD malah jadi keharusan. Drone sering gagal terhubung ke aplikasi dan transfer file video dengan lancar. Beberapa file video malah hilang setelah update firmware, baru muncul lagi belakangan. Ada juga file yang berubah jadi dua tampilan bundar terpisah, satu dari tiap kamera, yang bikin nggak bisa dipakai. Semoga masalah ini sudah beres di versi retail.
Padahal, menerbangkan A1 dan pakai software editing Antigravity itu sama-sama mudahnya. Saya pernah bahas ini sebelumnya di action cam Insta360, kemampuan buat bikin barrel roll atau rotasi miring cuma dengan sekali sentuh itu menyenangkan banget. Kita juga bisa atur ulang frame dan ubah efek video, bikin efek planet mini, atau potong jadi tampilan kamera sinematik biasa. Software Antigravity nawarin banyak banget cara buat nunjukkin hasil rekaman drone kita. Deeptracking juga bisa dilakuin saat merekam atau editing, biar subjek yang gerak atau titik fokus tetap di tengah saat A1 terbang.
Kualitas Video: Bukan yang Terbaik, Tapi Cukup Memuaskan
Dengan sensor yang lebih kecil dan resolusi 8K yang tersebar di sudut pandang 360 derajat, A1 memang bukan drone video terbaik. Tapi, hasilnya tetap jernih dan jelas. Rekaman terbaik sih pas cuaca cerah, tapi hari mendung di London juga nggak terlalu ngaruh. Karena A1 harus gabungin dua sensor, sering ada jahitan di video, tapi biasanya nggak terlalu kelihatan. Mungkin ini yang bikin kreator video profesional mikir dua kali buat pakai drone ini buat rekaman yang paling polished. Rekam video pas hari mulai gelap juga bikin noise makin banyak dan detail berkurang. Mode Sinematik (dan terbang lebih pelan) bisa bantu, tapi tetap aja sensor drone ini nutup sudut yang lebar banget. Drone yang lebih fokus ke video bakal hasilin rekaman yang lebih bersih dan performa lebih baik di kondisi cahaya yang kurang ideal.
Ada juga fitur editing video berbasis AI yang bisa potong 20 menit rekaman terbang kita jadi video yang lebih singkat dan menarik dengan usaha minimal. Karena videonya 360 derajat, footage bisa dipotong dengan mudah buat format horizontal atau vertikal.
Simpulan: Drone Unik dengan Pengalaman Terbang yang Beda
Antigravity A1 sudah tersedia sekarang. Paket standar (drone, controller, dan goggle) dijual seharga $1.599. Paket Infinity ($1.999) dapat dua baterai tambahan, dongle quick reader, tas selempang, dan charging dock. Harganya memang lebih mahal dari drone FPV lain kayak DJI Avata 2, tapi A1 juga drone yang beda banget.
Kendali intuitif dan kemampuan lihat ke segala arah bikin drone ini beda dari yang lain. Pengalaman terbangnya menyenangkan, walau masalah software sempat ganggu sesi tes saya. Plus, pasangin semua perangkat kadang ribet dan bikin frustrasi.
Kalau Antigravity mikir buat bikin versi baru, saya penasaran pengen lihat drone dengan kemampuan kamera yang bisa saingin drone DJI dengan harga serupa. Tapi, bukan berarti model debutan ini jelek. A1 bisa dibilang drone konsumen paling menarik sejak Mavic Pro.


