Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

SNL 50: Sinéad O’Connor ‘Mestinya Ada,’ Sebuah Pengakuan Terlambat

Dulu, kalau ada artis bikin ulah di acara live TV, rasanya udah kayak kiamat kecil di semesta pop culture. Reputasi anjlok, karier nyungsep, dan daftar hitam seolah jadi alamat permanen. Tapi, siapa sangka kalau salah satu momen paling epic fail dalam sejarah Saturday Night Live (SNL) ternyata hampir punya sequel yang jauh lebih wholesome? Lorne Michaels, otak di balik komedi legendaris itu, baru-baru ini bikin geger jagat maya dengan pengakuan bahwa ia sempat berencana mengundang kembali Sinéad O’Connor, ikon kontroversi, untuk tampil di acara spesial SNL50.

Ketika Panggung SNL Berubah Jadi Arena Geger Dunia

Kisah ini berawal dari penampilan Sinéad O’Connor pada 3 Oktober 1992, sebuah tanggal yang terukir abadi dalam buku sejarah SNL. Saat itu, ia menyanyikan lagu “War” milik Bob Marley dengan penuh semangat, namun yang terjadi selanjutnya membuat jutaan penonton di seluruh dunia ternganga. Dengan gestur yang tegas dan mata yang menusuk, O’Connor merobek foto Paus Yohanes Paulus II di hadapan kamera, sambil menyerukan “fight the real enemy.”

Insiden tersebut langsung meledak menjadi kontroversi yang mengglobal, seperti bom waktu yang meledak di tengah panggung hiburan. Akibatnya, O’Connor langsung dilarang tampil di SNL untuk selamanya, namanya mendadak jadi bahan omongan yang panas di mana-mana, dan ia dicap sebagai media pariah sejati. Dua minggu setelah momen mengguncang itu, ia bahkan hampir diusir dari panggung oleh cemoohan penonton saat tampil di konser penghormatan Bob Dylan di Madison Square Garden.

Ironisnya, liputan SNL sendiri mengambil nada mengejek pasca-insiden tersebut. Mereka seolah-olah menuangkan bensin ke api yang sudah menyala. Di musim yang sama, Madonna ikut-ikutan merobek foto Joey Buttafucco (lengkap dengan deklarasi bahwa sang playboy terkenal itu adalah “musuh yang sebenarnya”), sebuah parodi yang terasa lebih seperti upaya untuk memutarbalikkan fakta.

Namun, yang paling parah dari serangkaian protes berbalut komedi itu adalah penampilan Joe Pesci di SNL seminggu setelah O’Connor. Aktor berdarah Katolik tersebut tanpa ragu menyatakan keinginannya untuk “menjambak alis” O’Connor dan “menamparnya keras-keras,” sebuah pernyataan yang memperlihatkan betapa dalamnya sentimen negatif yang beredar saat itu.

Untuk waktu yang lama, Lorne Michaels sendiri tetap konsisten dengan pandangannya terhadap insiden tersebut. Melalui The Daily Beast, ia pernah menyebut tindakan O’Connor “egois.” Bahkan, dalam edisi “takeover” majalah Spin pada Februari 1993, Michaels terang-terangan menyerang O’Connor karena pendekatannya yang dianggap menipu.

Michaels menambahkan dalam wawancara tersebut, “Karena sulit sekali membuat dua sketsa komedi setelahnya, dan juga itu tidak jujur karena ia tidak memberitahu kami bahwa ia akan melakukannya.” Ia bahkan menggambarkan keterkejutannya dengan metafora yang cukup pedas, “Cara Anda akan terkejut pada seorang tamu rumah yang kencing di rangkaian bunga di ruang makan.”

Lorne Michaels: Dari ‘Selfish’ Menjadi ‘Sincere’

Namun, seiring berjalannya waktu, sebuah plot twist tak terduga mulai terungkap. Sejak Januari lalu, Michaels mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan hati yang signifikan. Dalam komentar yang terekam di film dokumenter Ladies & Gentleman… 50 Years of SNL Music, Michaels mengungkapkan adanya “sumur rasa hormat yang dalam” atas tindakan O’Connor.

Michaels menyatakan dengan nada yang berbeda, “Ada sebagian dari diriku yang mengagumi keberanian dari apa yang ia lakukan, dan juga ketulusan mutlak dari itu.” Perubahan nada ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, mengingat betapa kerasnya kritik yang pernah ia lontarkan di masa lalu.

Siapa sangka, Michaels ternyata punya rencana besar untuk SNL50. Ia mengatakan, “Jika [O’Connor] masih hidup, saya akan memintanya menyanyikan lagu itu,” merujuk pada penampilan “Nothing Compares 2 U” yang akhirnya dibawakan oleh Miley Cyrus dan Brittany Howard. Sebuah “apa jadinya jika” yang terasa pahit, mengingat O’Connor telah berpulang pada Juli 2023.

Tentu saja, banyak yang bilang bahwa waktu adalah obat terbaik untuk semua luka. Dan memang, Michaels tidak sendirian dalam perubahan perspektif ini. Banyak yang kini memandang bahwa O’Connor mungkin saja benar dalam kritiknya terhadap Gereja Katolik, jauh sebelum isu-isu sensitif tersebut terkuak ke publik. Bahkan, majalah Time secara anumerta menobatkan O’Connor sebagai wanita paling berpengaruh tahun 1992 atas tindakannya.

Dengan komentar Michaels belakangan ini, nada resmi SNL terhadap O’Connor mungkin akan bergeser secara terang-terangan. Hal ini bisa saja mengakhiri salah satu momen paling “ugly” (meski sekaligus “deliciously controversial”) dalam sejarah panjang acara tersebut. Ini bukan hanya tentang Michaels, melainkan juga tentang kebangkitan kembali budaya seputar O’Connor yang terus berlanjut.

Bahkan, biopic O’Connor yang akan datang mungkin akan memasukkan dan memosisikan momen kontroversial ini sebagai tindakan yang memiliki signifikansi artistik besar dan konteks budaya yang rumit. Ini menegaskan bahwa apa yang dulu dianggap sebagai “kesalahan fatal” bisa jadi merupakan sebuah tindakan profetik.

Pengakuan dari Michaels ini terasa semakin istimewa mengingat pendekatannya yang biasanya “ketat lidah” dalam mengelola SNL. Ini adalah secercah cahaya yang menunjukkan bahwa bahkan figur sebesar Michaels pun mampu merefleksikan kembali peristiwa masa lalu dengan sudut pandang yang lebih matang dan empatik.

Pada akhirnya, pengakuan Lorne Michaels ini tidak hanya membuka tabir sebuah “apa jadinya jika” yang menyedihkan, tapi juga menyoroti bagaimana waktu dapat mengubah lensa kita dalam memandang sejarah. Pergeseran nada resmi SNL terhadap Sinéad O’Connor, dari kutukan menjadi kekaguman, menggarisbawahi kekuatan abadi sebuah tindakan berani dan bagaimana warisan sejati seringkali baru terungkap setelah bertahun-tahun kemudian, jauh melampaui riuhnya kontroversi sesaat.

Previous Post

Yooka-Replaylee: Cetakan Fisik Rilis Resmikan Kehadiran Switch 2

Next Post

Mercedes 2025: Naik Turun Performa, Babak Baru Duel Driver

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *