Sudah bukan rahasia lagi bahwa hidup ini penuh kejutan, bahkan sampai ke pilihan melodi yang mengiringi perpisahan terakhir. Konon, daftar putar lagu untuk acara paling sakral ini kini bisa jadi lebih krusial daripada memilih filter Instagram yang pas untuk momen liburan. Jangan kaget jika alunan nada yang akrab di telinga saat nge-mall atau nongkrong di kafe, justru menjadi _soundtrack_ pilihan untuk ‘pesta’ perpisahan yang terakhir kalinya.
## Melodi Terakhir yang Bikin Auto-Mellow
Musik memiliki kekuatan magis dalam membangkitkan memori, sebuah portal waktu yang bisa membawa pendengar kembali ke tawa atau bahkan tangis terpilu. Fenomena ini semakin relevan dalam konteks layanan pemakaman, di mana pilihan lagu tidak lagi terbatas pada himne tradisional yang khusyuk. Kini, justru ada pergeseran signifikan menuju melodi-melodi yang lebih personal dan seringkali mengejutkan.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Masyarakat modern cenderung melihat pemakaman sebagai perayaan hidup yang telah dijalani, bukan sekadar momen duka semata. Oleh karena itu, lagu-lagu yang diputar seringkali mencerminkan kepribadian, hobi, atau bahkan humor dari individu yang telah berpulang. Tren ini menunjukkan bahwa dalam perpisahan pun, esensi diri tetap ingin dikenang dan disampaikan.
Co-op Funeralcare, salah satu penyedia layanan pemakaman terkemuka, secara rutin melakukan survei terhadap preferensi lagu yang diputar dalam lebih dari 90.000 pemakaman yang mereka tangani selama setahun terakhir. Studi ini memberikan gambaran yang menarik tentang evolusi selera musik masyarakat Inggris dalam konteks perpisahan. Hasil riset mereka menjadi semacam “Tangga Lagu Perpisahan” yang selalu dinanti.
Data yang dikumpulkan dari Mei hingga Juni 2025 ini menunjukkan preferensi yang beragam, mulai dari lagu-lagu yang menyentuh hati hingga yang tak terduga. Ini membuktikan bahwa setiap individu memiliki cara unik untuk mengucapkan selamat tinggal, dan musik menjadi jembatan emosional yang kuat. Dari himne klasik hingga melodi pop modern, semuanya punya tempat di daftar ini.
Manajer pelaksana Co-op Funeralcare, Gill Stewart, menyoroti betapa pentingnya musik dalam merefleksikan kepribadian dan menghubungkan kembali dengan orang-orang terkasih. Ia menekankan bahwa pemilihan lagu adalah bagian krusial dari proses perpisahan, entah itu lagu yang sakral atau melodi ringan nan nyeleneh. Setiap pilihan, seaneh apa pun, selalu memiliki makna mendalam bagi yang berpulang maupun yang ditinggalkan.
## Bocelli dan Sinatra: Sang Penguasa _Playlist_ Perpisahan
Daftar lagu paling populer yang diputar dalam upacara pemakaman ternyata didominasi oleh nama-nama besar yang sudah tak asing lagi di telinga. Di puncak singgasana, bertengger duo legendaris Andrea Bocelli dan Sarah Brightman dengan mahakarya mereka, “Time To Say Goodbye.” Melodi orkestra yang megah dan vokal yang menghanyutkan ini tampaknya memiliki _signature move_ yang tak terkalahkan dalam mengantar perpisahan.
Di posisi kedua, tak kalah legendaris, adalah “My Way” milik Frank Sinatra. Lagu ini, yang sering diidentikkan dengan pernyataan kemandirian dan perjalanan hidup yang unik, seolah menjadi _anthem_ bagi mereka yang ingin dikenang dengan gaya khasnya sendiri. Sinatra, sang _OG_ dari lagu perpisahan, membuktikan bahwa warisannya tak lekang oleh waktu, bahkan di momen-momen paling personal.
Daftar sepuluh besar juga dihiasi oleh nama-nama yang familiar, termasuk “The Best” dari Tina Turner dan “You Raise Me Up” dari Westlife. Kehadiran lagu-lagu ini menunjukkan adanya pergeseran dari kesedihan murni menuju perayaan dan penghormatan atas kehidupan yang telah dijalani. Tina Turner dengan semangatnya yang membara, dan Westlife dengan lirik inspiratifnya, memberikan nuansa optimisme di tengah duka.
Secara lengkap, daftar sepuluh besar lagu terpopuler yang berhasil dikumpulkan oleh Co-op Funeralcare adalah: “Time to Say Goodbye” – Andrea Bocelli, Sarah Brightman; “My Way” – Frank Sinatra; “Somewhere Over The Rainbow” – Eva Cassidy; “You’ll Never Walk Alone” – Liverpool FC; “The Best” – Tina Turner; “Supermarket Flowers” – Ed Sheeran; “Wind Beneath My Wings” – Bette Midler; “Abide With Me” (himne); “We’ll Meet Again” – Vera Lynn; dan “You Raise Me Up” – Westlife.
## Dari Lapangan Hijau ke Daftar Putar: Keunikan Pilihan Lagu
Tidak hanya lagu-lagu bernuansa sendu atau inspiratif, ternyata ada juga segmen khusus untuk para penggemar olahraga. Lagu “You’ll Never Walk Alone” oleh Gerry and the Pacemakers, yang identik dengan klub sepak bola Liverpool FC, menduduki peringkat teratas dalam kategori lagu bertema olahraga. Ini membuktikan bahwa loyalitas terhadap tim kesayangan bisa melampaui batas hidup dan mati, menjadi bagian dari _legacy_ yang ingin dikenang.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah daftar lagu-lagu ‘nyeleneh’ yang sempat diputar di beberapa pemakaman. Bayangkan, ada yang memilih “Ding Dong The Witch Is Dead” dari film _The Wizard of Oz_, seolah mengumumkan kebebasan dari beban dunia. Lalu ada “Dance Monkey” oleh Tones & I, yang mungkin mendiang adalah seorang _party animal_ sejati yang ingin pestanya berlanjut hingga akhir.
Bahkan, ada juga yang memilih _soundtrack_ film horor ikonik, “Jaws,” yang mungkin diperuntukkan bagi mereka yang memiliki selera humor gelap atau sekadar ingin memberikan _last jump scare_ yang tak terlupakan. Dan tak ketinggalan, “We Like To Party” dari Vengaboys, memastikan bahwa acara perpisahan tetap heboh dan jauh dari kesan suram. Pilihan-pilihan ini menunjukkan bagaimana humor bisa menjadi bagian dari proses berduka.
## Rencana Perpisahan: Jangan Sampai _Skip_ Bagian _Playlist_
Daftar lagu ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari dinamika emosi dan preferensi budaya yang terus berkembang. Ini menunjukkan bahwa meskipun setiap pemakaman bersifat unik dan sangat personal, ada beberapa melodi yang secara konsisten mampu menyentuh hati banyak orang di seluruh negeri. Lagu-lagu tersebut menjadi benang merah yang mengikat pengalaman universal tentang perpisahan.
Co-op Funeralcare aktif mendorong percakapan terbuka seputar perencanaan akhir hidup. Salah satu langkah sederhana namun bermakna adalah membicarakan lagu apa yang ingin diputar di pemakaman sendiri. Dengan melakukan ini, seseorang tidak hanya memastikan keinginan terakhirnya terpenuhi, tetapi juga memberikan kenyamanan dan panduan bagi mereka yang ditinggalkan. Ini adalah cara yang sederhana namun kuat untuk mengurangi beban emosional keluarga di masa sulit.
Jadi, meskipun terdengar agak _dark_ untuk sebagian orang, mungkin inilah saatnya untuk mulai memikirkan _playlist_ perpisahan pribadi. Siapa tahu, ada lagu yang lebih ‘Anda’ daripada “Time To Say Goodbye” atau “My Way.” Karena pada akhirnya, _soundtrack_ terakhir ini adalah cara paling personal untuk mengucapkan selamat tinggal dan memastikan bahwa warisan _vibe_ kita tetap terasa, bahkan setelah semua tirai ditutup.


