Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Starfield: Eks Developer Ungkap Alasan Mengapa Game Ini Dibenci, Bukan Cuma Gara-Gara Bethesda

Starfield, ambisi Bethesda untuk menjajah galaksi, ternyata tak semulus perjalanan mudik Lebaran. Alih-alih euforia bintang lima, yang ada malah rating “mostly negative” di Steam. Lantas, di mana letak kesalahan desainnya? Apakah Bethesda lupa bawa peta atau justru keasyikan bikin template planet generik?

Ekspektasi vs. Realitas: Ketika Janji Tak Seindah Trailer

Bethesda, sang maestro di balik Skyrim dan Fallout, mencoba peruntungan di luar angkasa. Ekspektasi membubung tinggi, layaknya roket Elon Musk yang meluncur ke orbit. Bayangkan, dunia open-world luas, eksplorasi tanpa batas, dan cerita yang bikin nagih. Tapi, kenyataannya? Lebih mirip naik angkot luar angkasa yang penuh loading screen dan planet yang itu-itu saja.

Bruce Nesmith, mantan pengembang Bethesda yang ikut andil dalam pembuatan Starfield, blak-blakan soal ini. Menurutnya, jika game ini dirilis oleh studio lain, mungkin nasibnya tak sepedih ini. Beban nama besar Bethesda rupanya jadi bumerang. Ibaratnya, bikin kopi pakai biji kualitas wahid, tapi yang nyeduh barista magang.

Memang, Starfield berhasil menjaring 15 juta pemain. Angka yang fantastis, tapi bukan jaminan kepuasan. Pertanyaan “Apakah Bethesda bakal kabur dan fokus ke Fallout atau Elder Scrolls?” terus menghantui sejak awal perilisan. Sama kayak gebetan yang tiba-tiba hilang kabar setelah pdkt intens.

Procedural Generation: Antara Efisiensi dan Identitas

Nesmith menyoroti satu masalah krusial: procedural generation. Teknologi ini memungkinkan pembuatan planet secara otomatis dengan variasi yang “tak terbatas”. Kedengarannya keren, tapi dampaknya? Planet-planet terasa seragam dan kurang berkesan. Mirip kayak makan nasi goreng di warung yang berbeda, tapi rasanya sama aja.

Kurangnya variasi musuh juga jadi perhatian. Alien-alien keren cuma jadi hiasan. “Kayak serigala di Skyrim,” ujar Nesmith, “cuma ada, nggak berkontribusi, nggak ada variasi lawan yang bisa jadi pemicu cerita.” Musuh yang serius kebanyakan manusia. Kurang seru, kan, kalau petualangan luar angkasa isinya cuma berantem sama bajingan bersenjata.

“Ketika planet-planet mulai terasa seragam dan Anda tidak merasakan kegembiraan di planet-planet, di situlah menurut saya itu berantakan,” lanjut Nesmith. Apa gunanya eksplorasi jika setiap sudut galaksi terasa seperti deja vu?

Janji Pembaruan: Mungkinkah Starfield Bangkit dari Kubur?

Bethesda bukannya tanpa usaha. Mereka berjanji untuk meningkatkan gameplay luar angkasa. Bahkan, ada bocoran kode yang mengindikasikan rencana untuk merampingkan pengalaman perjalanan antar planet. Mirip kayak janji pemerintah untuk memperbaiki jalan rusak setelah viral di TikTok.

Ruang Hampa yang Hampa: Menunggu Keajaiban dari Bethesda

Tim Lamb, pengembang Bethesda lainnya, mengonfirmasi bahwa timnya sedang fokus pada gameplay luar angkasa dan DLC baru. “Kami punya hal-hal keren yang akan datang, termasuk pembaruan gratis dan fitur yang diminta pemain,” katanya. Tapi, janji tetaplah janji. Kita tunggu saja, apakah Bethesda bisa memenuhi ekspektasi yang sudah telanjur membubung tinggi.

Starfield di PS5: Sebuah Pertanda atau Sekadar Portingan?

Kabar Starfield bakal hadir di PS5 pada 2026 juga menambah bumbu perdebatan. Apakah ini pertanda Bethesda mulai melunak dan merangkul platform lain? Atau sekadar upaya mendulang cuan dari game yang kurang sukses di platform aslinya? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, persaingan antar konsol semakin sengit, layaknya drama Korea yang penuh intrik.

Lalu, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Melihat lebih dalam, kita bisa bertanya: apakah Starfield korban dari ekspektasi berlebihan, atau memang ada kesalahan mendasar dalam desainnya? Procedural generation yang kurang matang, kurangnya variasi musuh, dan dunia yang terasa hampa jadi beberapa faktor penyebabnya. Sama kayak bikin kopi tanpa takaran yang pas, hasilnya pahit atau malah terlalu manis.

Gameplay Hampa Ala Starfield: Terlalu Banyak Manual, Minim Otomatis?

Salah satu yang disayangkan dari Starfield adalah tidak adanya ruang untuk melakukan penerbangan antar planet dengan mulus. Alih-alih, pemain harus menggunakan berbagai macam menu yang justru terasa membuat permainan jadi kurang imersif. Ibaratnya, ini seperti mengendarai mobil balap dengan transmisi manual di tengah kemacetan Jakarta – banyak potensi, tapi minim pengalaman yang menyenangkan.

Tentu saja, semua kekurangan ini bukan tanpa harapan. Bethesda punya sejarah panjang dalam memperbaiki dan memperluas game mereka setelah rilis. No Man’s Sky, yang sempat dicemooh karena janji palsu, berhasil bangkit dan menjadi salah satu game eksplorasi luar angkasa terbaik. Mungkinkah Starfield mengikuti jejaknya?

Misteri Armada Terran: Teori Konspirasi atau Petunjuk Tersembunyi?

Baru-baru ini, Bethesda menggoda penggemar dengan pesan tersembunyi dalam video perayaan ulang tahun Starfield yang kedua. Pesan tersebut memicu spekulasi tentang “Armada Terran”, sebuah faksi misterius yang mungkin akan hadir di konten mendatang. Apakah ini sekadar bualan marketing, atau petunjuk tentang kejutan yang lebih besar?

Starfield, dengan segala kekurangan dan potensinya, tetaplah sebuah game yang menarik untuk diperbincangkan. Apakah Bethesda bisa menghidupkan kembali ambisi luar angkasa mereka? Waktu yang akan menjawab. Sambil menunggu, mari kita seduh kopi dan berteori, layaknya warga Twitter yang selalu punya jawaban untuk semua masalah.

Previous Post

Tekken 3 Hadir di PS5 & PS4: Nostalgia Game Fighting Ikonik Kembali Menyala!

Next Post

Youth Opportunity: EBRD Kucurkan €4,5 Juta ke Kosovo, Dukung UMKM Berkembang!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *