Suga, atau Min Yoongi bagi mereka yang belum tersesat dalam labirin fandom, ternyata punya nama panggung yang ceritanya bisa bikin geleng-geleng kepala. Konon sih, berawal dari “shooting guard,” posisi yang sepertinya pas banget buat seorang atlet dengan kecepatan kilat, tapi sang empunya nama lebih milih arti yang lebih ‘wah’: “nama panggilan buat atlet yang punya teknik jempolan,” katanya, sambil nyebutin Sugar Ray Leonard dan Sean O’Malley. Di dunia hip-hop yang penuh gempuran lirik dan beat, Suga ini ibarat arsenal yang nggak ada habisnya, selalu awas sama perkembangan flow dari belahan dunia lain. Sebelum jadi idola global, dia udah jadi produser di kampung halamannya, Daegu, dan nggak pernah berhenti bikin beat. Album solo 2023-nya, D-Day, sebagian besar dia garap sendiri. Bahkan, lagu bonus Arirang, “Come Over,” juga buah karyanya. Di studio, dia lebih banyak jadi pendengar setia, sesekali jadi penengah kalau ada gesekan antaranggota. Ngomongin kerjaannya di BTS, dia menyebutnya “pekerjaan” saja, tapi dari sorot matanya jelas kalau itu lebih dari sekadar rutinitas. Ini bukan sekadar bakat, ini adalah dedikasi yang dingin dan perhitungan, layaknya seorang sniper di medan pertempuran musik.
Trilogi alter ego Agust D selesai di tahun 2023. Selesai? Ya, itu kata dia. Setelah itu, langsung nyemplung ke wajib militer. Jadi, ada rasa lega yang mendalam pas trilogi itu rampung. Agust D dianggapnya sudah tuntas, sebuah bab yang ditutup rapat. Selepas album terakhir itu, katanya, nggak ada lagi sisa-sisa perasaan negatif yang mengendap di dada. Kayak abis bersih-bersih lemari tua yang penuh sama barang-barang usang, sekarang siap diisi barang baru yang lebih segar. Ini momen transisi yang penting, dari fase eksplorasi diri yang penuh gejolak menjadi penegasan identitas yang lebih matang.
Katanya sih, dulu ada aja rasa “nggak enak” yang bersarang di dalam dirinya. Dari mana datangnya? Saat masih muda, ada kompleks inferioritas yang bikin minder. Ditambah lagi, tentu saja, ada sedikit kekecewaan sama keadaan sosial yang ada. Kombinasi keduanya yang bikin dia merasa perlu menyalurkan energi itu lewat musik. Ini bukan sekadar keluhan bocah ingusan; ini adalah refleksi mendalam dari seseorang yang peka terhadap ketidakadilan dan ketidaksempurnaan dunia di sekelilingnya, energi yang kemudian dibentuk menjadi output kreatif.
Saat ditanya soal perasaannya terjebak dalam kelompok idol yang tipikal, yang gayanya sering kali nggak sesuai sama cara berpikirnya, dia mengakui kalau sebelum ke Seoul, musik di Daegu itu beda cerita. Nggak ngerti sama konsep idol group. Tapi begitu bergabung, baru sadar betapa padatnya jadwal, betapa melelahkannya semua itu. Sekarang setelah terbiasa, dia merasa cocok. Ini bukan sekadar adaptasi, tapi penemuan diri dalam peran yang mungkin awalnya terasa asing. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kemauan untuk bertumbuh, bahkan di jalur yang tak terduga.
Lebih dari Sekadar Pop: Mencari Kualitas Suara Baru
Masuk ke album, dengan keseriusan sonik dan proses produksi yang dia kuasai, pertanyaannya adalah: seperti apa gambaran ideal suara yang ingin dicapai, dan bagaimana realisasinya? Prioritas utama adalah mengejar sound baru yang belum pernah terdengar dari mereka sebelumnya. Dan ya, dia yakin ini adalah album pop yang dibuat dengan baik, kepuasan itu mutlak. Nulis lagu sebanyak itu, revisi, edit, itu jelas bukan perkara gampang. Tapi di balik itu semua, ada kesenangan yang bikin hasil akhirnya jadi bagus. Ini bukan cuma soal merilis karya, tapi proses kreatif yang intens dan memuaskan.
Soal perselisihan soal track, dia menekankan pentingnya keseimbangan. Nggak pernah ngotot minta satu track masuk. Lebih banyak menghabiskan waktu mendengarkan pendapat orang lain dan jadi penengah. Hasilnya? Semuanya berjalan mulus. Mayoritas track favoritnya berhasil masuk. Bahkan yang awalnya kurang sreg, lama-lama jadi suka setelah didengarkan berulang kali. Jadi, kepuasan pribadi itu pasti ada, meski prosesnya nggak selalu mulus kayak jalan tol.
Pas momen break di 2022, dia pernah bilang kehabisan kata-kata. Gimana cara ngatasinnya? Rilis album solo. Itu proses yang bener-bener nggak mudah. Tapi sekarang, fokusnya adalah mengurangi stres. Dia yakin bakal selalu nemu hal baru buat diomongin, terus habis lagi. Kalau lihat lagi catatan di Notes di ponselnya, banyak memo lama yang ternyata punya makna baru. Energi itu disalurkan lagi ke album ini. Ya, emang kayak siklus abadi, nemu terus kehabisan lagi. Ini seperti seniman yang terus-menerus mencari inspirasi, menggali dari pengalaman hidup yang berulang.
Diplo, sosok yang katanya krusial buat album ini. Sebagai sesama produser, apa sih yang bikin dia jadi pilihan tepat buat ngebentuk sound album ini? Dia udah punya pengalaman luas sama artis K-pop, jadi paham banget proses dan lingkungan kerjanya. Prolifik juga. Mereka butuh sosok yang nggak cuma bisa nulis lagu keren, tapi juga ngerti banget alur dan struktur album. Diplo, ternyata, ngasih kontribusi yang luar biasa dalam hal ini. Ini kolaborasi yang strategis, menggabungkan keahlian dari berbagai sudut pandang.
Sebagai pengamat setia hip-hop, kalau harus milih MC terbaik sepanjang masa, siapa dan kenapa? [Tertawa]. Pertama-tama, istilah “MC” itu sendiri. Lagi ngobrol sama teman-teman soal gimana istilah itu udah jarang dipake. Tapi ya sudahlah. Susah milih. Tumbuh besar dengerin Eminem, jadi ya Eminem. Terus Kendrick Lamar. Ini pilihan yang solid, berdasarkan pondasi kuat dalam sejarah hip-hop, tapi juga mengakui evolusi lewat nama-nama yang lebih baru.
Gimana pandangannya soal kondisi hip-hop Amerika saat ini? Ada yang bilang agak stagnan. Sedih banget dengar kabar talenta muda yang udah nggak ada, kayak Juice WRLD. Tapi musik itu kan selalu berputar mengikuti tren. Kelihatannya stagnan sekarang, tapi sebentar lagi hip-hop bakal naik lagi ke puncak chart. Rasanya kayak lagi masa transisi. Emang sih, hip-hop lagi agak mandek, tapi pasti bakal bangkit lagi. Ini pandangan optimis yang realistis, mengakui tantangan tapi juga percaya pada daya lenting genre ini.
J-Hope bilang 10 tahun pertama BTS itu soal perjuangan mendaki. Sekarang, mereka kembali bersatu, udah di puncak. Apa tujuan BTS sekarang? Nikmatin aja. Dulu terlalu kompetitif, terburu-buru ngejar target, sampai kesehatan fisik dan mental terabaikan. Sekarang bisa lebih santai, apalagi usia juga udah nambah. Jadi, bisa lebih bersenang-senang. Ini perubahan filosofi yang krusial, dari ambisi yang membabi buta menjadi apresiasi terhadap perjalanan itu sendiri.
Masa Depan yang Tak Terlihat Batasnya
Anggota-anggota lain udah ngomongin buat manggung sampai tua nanti, umur 40, 50, 60-an. Bisa kebayang nggak itu terjadi? Selama masih ada kemauan, percaya bisa terus jalan sampai umur 70, 80. Nggak yakin bakal sama kayak sekarang, tapi pasti bisa cari cara lain. Selama kemauan itu ada, nggak bakal ada masalah. Ini visi jangka panjang yang mengagumkan, menunjukkan komitmen yang luar biasa terhadap musik dan para penggemar.
Apa sih rahasia kesuksesan BTS? Dari sisi karir, dan sebagai grup yang solid, yang anggotanya saling menyayangi? Mereka itu lucu. Seru diajak ngobrol. Udah lewatin banyak hal bareng-bareng, jadi udah kayak keluarga. Itu pasti jadi bagian dari kesuksesan, ikatan yang kuat itu. Ditambah lagi, semua anggotanya berbakat. Itu yang bikin bisa saling percaya di perjalanan ini. Ini lebih dari sekadar kerja tim, ini adalah koneksi emosional yang mendalam.
Apakah pengawasan ketat itu susah? Ada hal-hal kecil buat orang lain, tapi jadi masalah besar buat mereka. Apakah cara hidup yang harus selalu diperhatikan itu berat? Ya, itu bagian dari pekerjaan. Tugasnya adalah hidup di mata publik. Kadang, emang nggak nyaman. Tapi nggak peduli gimana orang lain ngeliat, dan nggak pernah baca opini orang lain. Jadi, nggak ada yang terasa berat banget. Ini adalah sikap profesional yang luar biasa, fokus pada tugas tanpa terpengaruh oleh narasi eksternal.
Production and Clothing Credits
Styling by YEJIN KIM. Hair by HANSOM, HWAYEON, and HYUNWOO LEE. Makeup by DAREUM KIM and SHINAE. Set design by YEABYUL JEON. Produced by NUHANA. Executive Producer Sooh Hwang. Producers SEBIN PARK and KALY NGO. Line producer CHERRY LEE. Digital Technician HUIJIN KIM. Photographic Assistance SOOJUNG OH, MINHYUK LEE, MINJUN KIM, JIHYUN OH, JUWAN KANG and JUNHYUNG YANG. Set Design Team SOHYUN WON, YUNSEON CHOI, JUNHYUK SIM. RS Video DoP MIKE BEECH. Camera Operators BYEONG HWI MIN, CHURL GWON, HYUNSUH PAIK. DIT JIWOON LEE. Sound operator MIN JAE LEE. Production assistant SEOHYUN YOON.
CLOTHING
Jacket BY ENFANTS RICHES DÉPRIMÉS. Shirt by SSSTEIN. Jewelry by WERKSTATT MÜNCHEN.


