Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Sungai Jadi Taman: Makassar Bebas Banjir, Warganya Bergaya

Melacak jejak manusia di tengah genangan air, di mana selokan yang meluap bukan lagi sekadar pemandangan suram tapi medan perang harian melawan kontaminasi, terdengar seperti sinopsis film bencana. Namun, inilah realitas brutal yang dihadapi sebagian besar warga Makassar, Indonesia, khususnya mereka yang mendiami pemukiman informal. Bayangkan ini: alih-alih berjalan santai ke pasar, Anda harus menavigasi jalur air beracun, di mana genangan air bukan hanya pengganggu tapi pembawa penyakit yang mengintai. Nah, di tengah kepungan banjir yang makin sering datang akibat ulah perubahan iklim, sebuah inisiatif bernama RISE datang membawa secercah harapan, bukan dengan sihir, tapi dengan sains dan sentuhan manusia yang cerdas.

Makassar: Kota Kerasukan Air, Tapi Tak Pernah Menyerah

Angka bicara, dan angka di Makassar cukup mengerikan. Sekitar 40% dari 1,7 juta penduduknya menghuni area yang rawan banjir. Ini bukan sekadar genangan air sesekali, ini adalah siklus menahun yang mengubah gang-gang sempit menjadi sungai keruh yang mengancam rumah dan kesehatan. Dulu, hujan deras berarti perjuangan hidup. Warga harus berjuang melintasi banjir setinggi pinggang, menyeimbangkan diri di atas papan bambu darurat, atau bahkan menyewa rakit seadanya. Anak-anak bermain di air yang tergenang, tanpa sadar bahwa mainan mereka bercampur dengan limbah tinja dari sistem sanitasi yang rusak dan drainase yang jebol. Kota pesisir ini, yang sudah menghadapi ancaman banjir dari laut, kini juga bergulat dengan hujan ekstrem yang semakin sering terjadi. Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari, merawat keluarga, bahkan sekadar keluar rumah menjadi sebuah tantangan logistik dan kesehatan yang serius.

Inilah lanskap yang coba diubah oleh program RISE, sebuah inisiatif ambisius yang dipimpin oleh Monash University. Alih-alih melihat pemukiman ini sebagai masalah yang harus dibongkar atau dipindahkan, RISE melihatnya sebagai lahan subur untuk inovasi infrastruktur. Program ini bekerja berdampingan dengan warga dan pemerintah kota, fokus pada perbaikan kesehatan lingkungan melalui infrastruktur air dan sanitasi, serta pembaruan komunitas lainnya. Kunci utamanya: mempertahankan lingkungan dan jaringan sosial yang ada, tanpa mengganggu mata pencaharian dan rutinitas harian warga. Ini bukan sekadar proyek pembangunan; ini adalah restorasi martabat dan keberlanjutan hidup.

Inovasi Bukan Sekadar Aspal Baru, Tapi Ekosistem Kehidupan

Transformasi yang dibawa RISE kini terlihat nyata di enam pemukiman informal Makassar. Lebih dari 1.400 warga kini menikmati langsung manfaat sanitasi, drainase, dan infrastruktur akses yang lebih baik. Diperkirakan 6.000 warga lainnya merasakan dampak tidak langsung melalui perbaikan kesehatan lingkungan dan ruang publik yang lebih layak. Ratusan toilet baru terhubung ke sistem sanitasi lingkungan, area pengolahan air limbah berbasis lahan basah (wetland) bekerja menyaring limbah, tangki penampung air hujan meningkatkan akses air bersih di tingkat rumah tangga, dan sistem drainase yang diperbarui membantu mengendalikan banjir. Yang paling mencolok, hampir 3.000 meter persegi jalur pejalan kaki yang ditinggikan kini memungkinkan warga bergerak aman di tengah area yang sebelumnya menjadi langganan banjir. Perubahan ini lebih dari sekadar fungsional; wetland kini berfungsi sebagai area hijau tempat warga berkumpul, sementara jalur yang ditinggikan menjadi ruang komunal sekaligus benteng pertahanan terhadap banjir.

Diego Ramirez-Lovering, salah satu direktur program RISE, menekankan filosofi di balik proyek ini. “Sanitasi seringkali bukan hal pertama yang dipikirkan komunitas,” ujarnya. “Mereka memikirkan tempat berkumpul dan bersosialisasi. Jadi, kami merancang infrastruktur yang juga menciptakan ruang untuk kehidupan komunitas.” Ide ini membalikkan paradigma pembangunan tradisional yang kerap mengabaikan aspek sosial dan budaya demi fungsionalitas semata. Di sini, infrastruktur bukan hanya untuk mengalirkan air, tapi untuk membangun kembali interaksi sosial dan rasa memiliki.

Memutus Rantai Kontaminasi: Alam Jadi Arsitek Utama

Mengubah cara orang bergerak di lingkungan mereka berarti mengubah cara air bergerak. Masalah utama di banyak permukiman ini adalah air kotor yang menjadi biang kerok diare, yang oleh warga Makassar disebut ‘camar’. Tajuddin, seorang tokoh masyarakat di salah satu permukiman, menjelaskan betapa rentannya anak-anak terhadap penyakit ini. Di area yang dibangun di tepi sungai dan dataran rendah, drainase yang buruk dan sistem sanitasi yang rapuh menyebabkan air hujan dan air limbah bercampur, menyebarkan kontaminasi ke rumah, jalan, dan ruang bersama. Ini adalah lingkaran setan yang mencekik kesehatan warga.

RISE mengambil pendekatan revolusioner dengan memperkenalkan sistem yang jarang digunakan di permukiman padat seperti ini. Dengan mendesentralisasi sistem sanitasi melalui pembangunan wetland, penggunaan sistem saluran bertekanan (pressure sewer) yang cerdas, dan tangki septik komunal tertutup, sistem sanitasi baru ini secara efektif memutus jalur penyebaran polusi. “RISE menggunakan alam sebagai infrastruktur dalam proses ini,” jelas Ramirez-Lovering. Air limbah dialirkan melalui wetland yang ditanami tumbuhan, di mana tanah, akar, dan mikroorganisme bertindak sebagai filter alami sebelum air kembali ke lingkungan dengan aman. Perbaikan drainase dan pengelolaan air hujan juga krusial untuk mengurangi banjir dan menjaga air terkontaminasi jauh dari rumah. Pendekatan ini sangat penting di bentang alam Makassar yang datar dan basah, di mana solusi sanitasi konvensional kerap gagal berfungsi optimal.

Kolaborasi Bukan Sekadar Wacana, Tapi Fondasi Pembangunan

Inovasi teknologi RISE memang mengagumkan, namun yang benar-benar membedakan adalah integrasi suara komunitas dalam setiap tahap implementasinya. Sejak awal, tim RISE berdiskusi dan mengadakan lokakarya bersama warga, memungkinkan mereka untuk ikut membentuk apa yang akan dibangun dan di mana. “Kami menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan,” ujar Intan Putri dari tim keterlibatan RISE. “Warga paling paham lingkungan mereka—ke mana air mengalir, di mana orang berjalan, dan ruang mana yang paling berarti.” Praktiknya berarti menghabiskan berminggu-minggu di setiap permukiman, berinteraksi langsung dengan warga. Anak-anak, orang tua, lansia, dan pemimpin komunitas semuanya terlibat dalam diskusi tentang pola banjir, tantangan sanitasi, dan cara mereka bergerak.

Hasil kolaborasi ini kini terlihat nyata. Jalur pejalan kaki yang ditinggikan menghubungkan rumah warga dengan jalan utama kota, sementara perbaikan wetland dan drainase mengelola air di area yang dulu tergenang. Intervensi ini juga mencerminkan adat istiadat dan kehidupan sehari-hari. Wetland diposisikan dengan kepekaan terhadap praktik budaya, bahkan ditempatkan di depan rumah sebagai perisai halus dari “roh jahat”, sebuah kepercayaan yang dihormati. Elemen sistem sanitasi disesuaikan dengan kenyamanan warga dalam berbagi fasilitas. Area berkumpul dan rak jemuran juga dimasukkan atas permintaan warga, mendukung rutinitas harian mereka. Warga juga dilatih untuk memantau sistem sanitasi, merawat vegetasi, dan menjaga infrastruktur bersama. Program seperti KePoLink, jaringan ‘juara lingkungan’ dari komunitas, menjadi jembatan komunikasi dengan instansi kota dan memperkuat keterlibatan warga dengan pemerintah daerah. “Kami melibatkan komunitas agar setelah pembangunan selesai, mereka memahami sistemnya dan bisa memeliharanya sendiri,” kata Ikram, seorang insinyur senior proyek. Perpaduan pengetahuan lokal dan keahlian teknis inilah yang menjadikan infrastruktur terasa sebagai milik komunitas.

Kemitraan Jangka Panjang: Menjamin Keberlanjutan Proyek

Agar perbaikan ini bertahan lama, kolaborasi dengan pemerintah kota Makassar sama pentingnya dengan kolaborasi dengan komunitas. Sejak awal, RISE bekerja sama erat dengan berbagai badan kota, termasuk Dinas Pekerjaan Umum, otoritas pengolahan air limbah, dan pemimpin tingkat distrik. Pejabat kota turut serta dalam keterlibatan komunitas, membantu menyelesaikan masalah kepemilikan lahan—tantangan besar di permukiman informal—dan mulai mempersiapkan pemeliharaan jangka panjang infrastruktur. Tujuannya jelas: memastikan RISE bukan sekadar pilot project jangka pendek, tapi terintegrasi dalam strategi kota yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas permukiman informal. Kini, tanggung jawab pemeliharaan infrastruktur RISE sedang bertransisi ke Pemerintah Kota Makassar. RISE melatih personel kota mengenai kolaborasi antarlembaga yang krusial untuk operasional dan manajemen. Semua ini didukung oleh perangkat kerja yang dikembangkan tim RISE dan kolaborasi berkelanjutan melalui kelompok kerja kota-RISE.

RISE juga memperkenalkan “kontrak visual,” yang dikembangkan bersama komunitas dan badan kota. Kontrak ini menerjemahkan rencana teknis menjadi ilustrasi yang mudah dipahami, menguraikan tanggung jawab dalam membangun, menggunakan, dan memelihara infrastruktur. Ini memastikan semua pihak memahami cara kerja sistem dan siapa yang bertanggung jawab atas perawatannya. Kemitraan ini adalah kunci untuk memastikan jalur pejalan kaki baru, wetland, dan sistem sanitasi tetap menjadi bagian dari masa depan urban Makassar jauh setelah fase awal proyek RISE berakhir.

Dari Laboratorium ke Realitas: Bukti Nyata Dampak Sosial

Dampak RISE di komunitas ini terukur. Proyek ini didasarkan pada uji coba terkontrol acak (randomized controlled trial) di 12 permukiman Makassar. Enam permukiman menerima peningkatan infrastruktur, sementara enam lainnya menjadi situs pembanding, memungkinkan peneliti mengukur bagaimana perbaikan lingkungan memengaruhi hasil kesehatan dari waktu ke waktu. Pendekatan ini, yang lebih umum digunakan untuk mengevaluasi vaksin dan obat-obatan, jarang diterapkan untuk infrastruktur perkotaan. Permukiman informal adalah lingkungan yang kompleks, di mana tidak ada dua lingkungan yang sama persis, sehingga sulit mengidentifikasi situs yang sebanding dan mempertahankan kondisi penelitian yang konsisten. Terlepas dari tantangan ini, uji coba ini menghasilkan bukti berharga. Peneliti melacak kualitas air, kontaminasi lingkungan, dan indikator kesehatan untuk memahami lebih baik bagaimana peningkatan sanitasi, drainase, dan infrastruktur berbasis alam memengaruhi kesehatan masyarakat. Bagi Makassar dan kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa, bukti ini sangat penting untuk mempengaruhi kebijakan. Dengan menunjukkan hasil kesehatan yang terukur, RISE memperkuat argumen untuk investasi dalam infrastruktur yang tahan iklim dan dipimpin oleh komunitas di permukiman informal.

Dampak RISE sudah meluas melampaui permukiman awal. Di Makassar, pemerintah kota telah mengidentifikasi 30 permukiman informal tambahan sebagai prioritas untuk peningkatan di masa depan (termasuk enam permukiman pembanding dari eksperimen awal yang akan ditingkatkan juga) dan sedang menjajaki cara mengintegrasikan pendekatan RISE ke dalam perencanaan jangka panjang dan anggaran infrastruktur. Sementara itu, model ini diadaptasi di kota-kota pesisir dan kepulauan lainnya. Lokasi demonstrasi di Suva, Fiji, menerapkan desain yang dipimpin komunitas dan sistem sanitasi berbasis alam ala RISE. Metode proyek ini juga menginformasikan Citarum Action Research Program di Jawa Barat, Indonesia, di mana strategi yang terinspirasi RISE digunakan untuk meningkatkan sanitasi dan pengelolaan sampah bagi komunitas yang hidup di sepanjang Sungai Citarum yang sangat tercemar. Yang menyebar bukan hanya teknologi, tapi prosesnya: metode desain yang melibatkan komunitas, alat tata kelola, dan pendekatan berbasis bukti yang memungkinkan komunitas, peneliti, dan pemerintah kota bekerja sama untuk meningkatkan kesehatan lingkungan.

Seperti yang dicatat Ramirez-Lovering, infrastruktur saja tidak dapat mengubah pemukiman informal. “Yang penting adalah merancang sistem yang dipahami, dipercaya, dan dapat dipelihara oleh komunitas dari waktu ke waktu.” Di Makassar, ide tersebut mulai berakar. Jalur pejalan kaki yang ditinggikan, wetland, dan sistem drainase kini mengalirkan air secara berbeda melalui lingkungan yang dulunya tergenang kontaminasi. Namun, pergeseran yang paling penting mungkin adalah bagaimana permukiman ini dialami dan dipahami oleh warganya. Alih-alih menjadi hambatan pembangunan, mereka kini menjadi tempat di mana model baru ketahanan iklim, kesehatan masyarakat, dan perubahan urban yang dipimpin komunitas diuji dan ditempa. RISE Makassar sendiri telah terpilih sebagai salah satu dari lima finalis untuk WRI Ross Center Prize for Cities 2025-2026, sebuah penghargaan yang merayakan inisiatif yang mengkatalisasi kota-kota sehat. Pemenang Utama, yang akan dipilih oleh juri independen dan menerima hadiah utama $250.000, akan diumumkan pada 20 April 2026. Ini bukan sekadar tentang mengeringkan genangan air, tapi tentang menanam benih perubahan yang berkelanjutan.

Previous Post

Forza Horizon 6: Peta Jepang Terkuak, Aspal Berkilah Jadi Surga Drifter

Next Post

Usap Vagina, Deteksi Kanker Rahim Makin Akurat Pakai AI

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *