Bayangkan mencoba mendengarkan musik di tengah badai petir. Bukan badai petir biasa, tapi badai yang diciptakan oleh para pendeta ritual drone metal, Sunn O))), yang entah bagaimana berhasil memasukkan suara gemericik aliran air dan kicauan burung ke dalam kekacauan sonik yang luar biasa. Ini bukan sekadar album yang kembali ke akar; ini adalah Sunn O))) yang menggali lebih dalam ke inti kekacauan mereka, membungkusnya dengan seni abstrak yang membuat galeri seni pun kebingungan, dan menyajikannya sebagai pengalaman audio yang berlangsung hampir 90 menit. Jika ini adalah “kembali ke dasar”, maka dasar itu adalah lubang hitam yang mendesis.
Setelah jeda tujuh tahun sejak album kembar mereka yang diproduksi oleh Steve Albini, Life Metal dan Pyroclasts, para pionir drone metal ini kembali dengan album kesepuluh yang secara epik diberi nama sama dengan band itu sendiri. Rilisan ini menandai kembalinya mereka ke Sub Pop, label yang juga merilis Earth 2: Special Low Frequency Version dari Earth pada tahun 1993, yang dianggap sebagai teks dasar genre ini. Sunn O))) ini secara sadar melepaskan diri dari kolaborasi ekstensif mereka dengan musisi seperti Scott Walker dan Merzbow, serta palet musikal yang lebih luas yang menyertainya. Lupakan organ gereja, dulcimer, atau vokal; bahkan kontribusi radikal dari Steven Stapleton (Nurse With Wound) dalam album sebelumnya pun tidak ada. Meskipun lagu penutup, “Glory Black”, menyertakan sekelebat permainan piano dan desas-desus tentang penggunaan synthesizer, inti dari album ini tampaknya sangat bergantung pada gitar yang diturunkan (down-tuned) dan distorsi berat, ditambah dengan feedback yang sudah menjadi ciri khas Sunn O))) sejak mereka terbentuk pada tahun 1998.
Namun, gagasan “kembali ke dasar” di sini jelas tidak berarti kesederhanaan. Kata “sederhana” tidak akan pernah cocok untuk sebuah karya yang membentang hampir satu jam lebih, dihiasi sampul berisi dua lukisan Mark Rothko (dengan izin dari estate sang seniman), dan konon menampilkan antara 130 hingga 180 lapis gitar per lagu. Proses rekaman yang rumit ini melibatkan produser Brad Wood yang tidak hanya memikrofon amplifier duo tersebut, tetapi juga setiap speaker individual di dalam amplifier, serta menyiapkan apa yang ia sebut sebagai “susunan stereo mic ruangan terbesar di dunia” untuk menangkap tekstur ambien. Ditambah lagi, catatan liner dari penulis alam Robert Macfarlane yang mengutip filsuf stoik Epictetus, Walter Benjamin, naturalis abad ke-19 John Muir, penulis Patrick White, dan pegiat lingkungan asli Amerika Robin Wall Kimmerer. Ini adalah bungkus yang jauh dari minimalis.
Macfarlane, yang terkenal dengan buku-bukunya tentang dunia alam, tampaknya menemukan resonansi yang kuat dalam lanskap sonik Sunn O))). Album ini direkam di Bear Creek, sebuah studio yang terletak di tengah hamparan padang rumput dan hutan di pedesaan Washington. Walaupun Lionel Richie juga pernah merekam Dancing on the Ceiling di sana, jelas bahwa O’Malley dan Anderson lebih terinspirasi oleh lingkungan sekitar mereka daripada Mr. Easy dari Motown. Setelah menghabiskan pagi hari untuk mendaki, mereka kembali ke studio untuk memanfaatkan lingkungan itu sendiri dalam proses rekaman. Hal ini terasa jauh lebih relevan dengan keberhasilan album ini dibandingkan sekadar kembali ke instrumentasi dasar. Wood sendiri menceritakan tentang membuka pintu studio dan menempatkan mikrofon di lanskap sekitarnya. Ini menjelaskan mengapa, ketika ledakan bass pertama yang menggelegar terdengar dua menit ke dalam lagu pembuka “XXANN”, suara itu disertai dengan gemericik aliran sungai dan kicauan burung.
Anda mungkin menganggap suara alam ini sebagai detail kecil, sesuatu yang remeh di tengah-tengah hiruk-pikuk yang diciptakan Sunn O))). Namun, kecil atau tidak, elemen ini berhasil mengkontekstualisasikan ulang suara mereka, memberikan nuansa escapism pada musik ini. Apa yang disajikan dalam “Does Anyone Hear Like Venom?” yang dipenuhi feedback atau 18 menit dari “Mindrolling” jelas cukup luar biasa untuk terasa transformatif. Ketika lagu-lagu tersebut berakhir, keberadaan mereka terasa nyata, seolah-olah Anda baru saja diantarkan kembali ke kenyataan. Tambahan elemen ambien ini menciptakan pergeseran sonik halus yang membuat tempat-tempat tujuan terasa lebih ramah daripada menakutkan, menyoroti efek euforia yang aneh dari musik tersebut. Efek ini tidak selalu berasal dari kualitas hipnotis repetisi atau katarsis dari tenggelam dalam kebisingan semata. Ada sesuatu yang sangat menggembirakan dalam aliran konstan “Butch’s Guns”, di mana suara Sunn O))) yang masif sesekali mereda menjadi keheningan; ada sesuatu yang membingungkan tentang bagaimana interlude piano di “Glory Black” terasa lebih sunyi daripada musik yang mengelilinginya. Momen kemunculan kembali lumpur gitar yang diturunkan (detuned guitar sludge) benar-benar memberikan kualitas “punch-the-air” yang unik.
Ironi Lingkungan dan Pelarian Sonik
Mungkin faktor lingkungan lain turut memengaruhi nuansa album ini: rasa escapism yang diperkuat oleh fakta bahwa ada begitu banyak hal di tahun 2026 yang sangat ingin ditinggalkan. Kenyataan bahwa musik ini menuntut penyerahan diri—yang tidak masuk akal kecuali jika diberikan perhatian penuh dan tanpa gangguan—menjadi lebih terpuji di tengah era di mana platform streaming tampaknya semakin terobsesi dengan konsumsi pasif, musik sebagai latar belakang yang menyenangkan dan tidak jelas, sebuah ‘kebosanan yang menyenangkan’ (nice bore). Apapun pandangan terhadap Sunn O))), dan mereka adalah definisi dari ‘tidak untuk semua orang’, bahkan kritikus mereka yang paling keras pun tidak dapat menuduh mereka bersikap seperti itu.
Album ini terasa seperti sebuah pernyataan tegas di tengah kebingungan zaman. Di saat banyak musik berlomba-lomba menjadi latar belakang yang mudah dicerna, Sunn O))) justru memaksakan diri untuk diperhatikan. Mereka tidak meminta izin untuk hadir; mereka mendobrak masuk. Penggunaan suara alam, meskipun sekilas terdengar kontradiktif dengan kebisingan mereka, justru memberikan dimensi baru. Ini seperti menempatkan patung megah di tengah hutan belantara; kontrasnya menciptakan pengalaman yang tak terduga dan mendalam. Lingkungan pegunungan dan hutan di Bear Creek tidak hanya menjadi latar belakang, tetapi juga menjadi kolaborator yang tak terduga, menyuntikkan elemen organik ke dalam mesin suara mereka yang brutal. Pengaruh ini terasa, bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai pengingat akan keberadaan dunia di luar dinding studio.
Ketiadaan kolaborasi besar-besaran pada album ini juga patut dicatat. Sunn O))) telah terbiasa berkolaborasi dengan para seniman avant-garde, memperluas batas-batas suara mereka. Di sini, mereka kembali fokus pada inti kekuatan mereka: duo gitar yang saling bertukar beban kebisingan. Ini bukan berarti kemunduran artistik, melainkan penegasan identitas. Mereka menunjukkan bahwa bahkan tanpa kehadiran tamu istimewa, mereka mampu menciptakan lanskap suara yang monumental. Keputusan untuk kembali ke formasi yang lebih ramping ini memungkinkan setiap elemen—setiap riff gitar yang panjang, setiap ledakan feedback—untuk bersinar dengan intensitasnya sendiri. Ini adalah bukti kematangan band yang tidak lagi perlu membuktikan diri melalui kolaborasi demi kolaborasi, tetapi cukup dengan mendemonstrasikan kekuatan fundamental mereka.
Produksi Brad Wood patut mendapat pujian tersendiri. Teknik miking yang digunakan, dengan fokus pada setiap speaker amplifier dan penempatan mikrofon ambien, secara efektif menangkap kedalaman dan kelebaran suara Sunn O))). Hasilnya adalah rekaman yang terasa imersif, seolah-olah pendengar ditempatkan tepat di tengah-tengah generator suara mereka. Suara bass yang menggetarkan bumi, distorsi yang menggores telinga, dan harmoni feedback yang melengking semuanya terdengar jelas dan kuat. Kemampuan untuk menyeimbangkan kekacauan yang disengaja dengan kejernihan sonik adalah pencapaian yang signifikan, terutama mengingat sifat musik ini yang sangat padat dan berlapis. Penggunaan mikrofon di luar studio menambah lapisan lain pada kompleksitas ini, menciptakan resonansi antara suara yang diciptakan dan lingkungan alami.
Lirik atau narasi, jika bisa disebut demikian, diwakili oleh kutipan-kutipan yang dipilih dengan cermat. Penggunaan teks dari para pemikir seperti Epictetus, Walter Benjamin, dan Robin Wall Kimmerer menunjukkan bahwa album ini bukan sekadar tumpukan kebisingan. Ada gagasan filosofis dan lingkungan yang mendasarinya. Keterkaitan antara kekuatan alam, refleksi diri, dan potensi kehancuran mungkin menjadi tema sentral. Penyatuan teks-teks ini dengan suara Sunn O))) menciptakan dialog yang menarik antara pemikiran manusia dan kekuatan alam yang tak terkendali. Ini adalah musik yang mengundang refleksi, mendorong pendengar untuk mempertanyakan posisi mereka di dunia yang semakin kompleks dan sering kali menakutkan.
Interlude piano di “Glory Black” adalah titik kontras yang tajam. Setelah badai suara yang memekakkan telinga, muncul keheningan yang rapuh. Keheningan ini bukan sekadar jeda; ia berfungsi sebagai penanda waktu, momen introspeksi sebelum kembali ke jurang kebisingan. Sensitivitas dalam penempatan momen-momen tenang seperti ini menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang dinamika emosional yang dapat diciptakan oleh musik yang ekstrem. Piano yang terasa sendirian di tengah lautan distorsi menciptakan rasa kerentanan yang kontras dengan kekuatan band secara keseluruhan. Ini adalah contoh bagaimana elemen yang tampaknya tidak pada tempatnya justru dapat memperkuat dampak keseluruhan sebuah karya.
Pesan tentang perlunya perhatian penuh terhadap musik semacam ini menjadi semakin relevan. Di era yang didominasi oleh perhatian yang terfragmentasi dan konsumsi konten yang cepat, Sunn O))) menawarkan antitesis. Mereka menuntut kesabaran dan dedikasi. Mendengarkan album ini bukan tindakan pasif; ini adalah sebuah ritual, sebuah perjalanan yang membutuhkan komitmen. Dalam konteks ini, album ini menjadi sebuah bentuk pemberontakan terhadap tren budaya yang dangkal. Mereka mengingatkan bahwa ada nilai dalam pengalaman yang mendalam dan menuntut, sesuatu yang sering kali terabaikan dalam kesibukan sehari-hari.
Kekuatan Kebisingan yang Cerdas
Pilihan seni sampul dengan lukisan Rothko juga menambah lapisan makna. Lukisan Rothko dikenal karena kemampuan mereka untuk membangkitkan emosi yang kuat dan mendalam, seringkali melalui penggunaan warna dan bentuk yang sederhana namun berdampak. Kemiripan emosional ini dapat ditarik ke musik Sunn O))), yang juga mampu membangkitkan perasaan intens melalui sarana sonik yang terkadang tampak minimalis di permukaan. Pertemuan antara seni visual abstrak dan musik drone ekstrem menciptakan sinergi yang memperkaya pengalaman pendengar, mengundang interpretasi yang lebih dalam tentang tema-tema seperti kehilangan, keindahan, dan kekuatan.
Intinya, Sunn O))) bukanlah sebuah album yang mudah dihadapi. Ini adalah sebuah pernyataan artistik yang berani, sebuah eksplorasi mendalam tentang kekuatan kebisingan dan bagaimana elemen-elemen yang tampaknya kontradiktif dapat bersatu untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar unik dan menggugah pikiran. Keberhasilan album ini terletak pada kemampuannya untuk menantang ekspektasi, menggabungkan kesederhanaan struktural dengan kompleksitas sonik dan emosional yang luar biasa. Ini adalah musik yang tidak berkompromi, dan justru itulah yang membuatnya begitu kuat dan tak terlupakan.


