Pindah ke negara baru itu kayak masuk ke *game* yang *server*-nya beda. Awalnya kagok, bingung, sampai pengen *rage quit*. Tapi lama-lama, kita sadar kalau setiap negara punya *quest* uniknya masing-masing. Begitu kata Alice Zhou dan Ying Wang, dua mahasiswa internasional yang ngerasain langsung serunya (dan kadang bikin garuk-garuk kepala) jadi pendatang di Kanada.
Pernah nggak sih, ngerasa kalau kebiasaan yang di rumah itu biasa aja, eh pas di tempat lain malah jadi aneh? Mulai dari cara minum, cara salaman, sampai jam buka warung yang beda, semuanya bisa bikin kita kaget. Itulah yang namanya *culture shock*, atau dalam bahasa gaulnya, “wah, ternyata gini ya?”.
Ying dan Alice, dua mahasiswi di Laurentian University, Sudbury, juga ngalamin hal yang sama. Mereka cerita, banyak momen *culture shock* yang mereka alami selama di Kanada. Ada yang bikin bingung, ada yang bikin ngakak, dan ada juga yang bikin kangen rumah. Biar nggak penasaran, yuk simak cerita mereka dan teman-teman mahasiswa internasional lainnya!
Salju dan Jaket Tebal: Awal Mula Petualangan di Negeri Orang
Buat Syed Yousaf Yamin dari Bangladesh, salju adalah *boss level* pertama yang harus dia taklukkan. Bayangin aja, cowok yang seumur hidupnya belum pernah lihat salju, tiba-tiba harus berhadapan dengan badai salju di Kanada. Udah kayak *noob* yang baru pertama kali main *game RPG*, langsung disuruh lawan *boss* terakhir.
Yousaf cerita, dia udah dikasih *guide* sama temen-temennya tentang jaket yang harus dipakai. Tapi tetep aja, pas keluar dari bandara, dia langsung kaget sama dinginnya udara Kanada. “Dinginnya sih masih bisa diatasi, tapi jalan di tengah salju itu yang susah. Apalagi kalau nggak punya mobil, harus nunggu bus lama banget, atau malah ketinggalan dan harus jalan kaki di tengah badai salju,” curhatnya.
Tapi tenang aja, *gaes*. Setelah setahun lebih tinggal di Kanada, Yousaf udah mulai *pro* kok. Dia udah terbiasa sama dinginnya salju, bahkan udah bisa bedain mana salju yang “dingin biasa” sama salju yang “dingin banget”. Salut!
Sudbury: Kota yang Terlalu Luas untuk Jalan Kaki?
Kalau Yousaf kaget sama salju, Renato Zegarra dari Peru malah kaget sama jarak. Buat Renato, Sudbury itu kayak *open world game* yang map-nya luas banget. Mau ke mana-mana harus naik kendaraan, nggak bisa jalan kaki kayak di kampung halamannya.
“Di Peru, semuanya deket. Mau ke rumah temen tinggal jalan kaki. Tapi di sini, kalau nggak punya mobil, semuanya terasa jauh banget. Mau ke supermarket atau mall aja butuh waktu lama. Apalagi pas musim dingin, wah, rasanya makin berat,” keluh Renato.
Selain jarak, Renato juga kaget sama kebiasaan pengendara mobil di Kanada. Di Peru, mobil nggak bakal berhenti kalau nggak ada lampu merah. Kita harus lari-lari biar bisa nyebrang jalan. Tapi di Kanada, mobil malah berhenti buat ngasih kita jalan. “Awalnya bingung, tapi lama-lama jadi seneng juga sih,” kata Renato sambil ketawa.
Es Batu vs. Air Hangat: Perang Budaya di Meja Makan
Buat Ying (Vivian) Wang dari China, *culture shock* itu datang dari hal yang sepele: air minum. Di China, air hangat itu udah jadi bagian dari hidup sehari-hari. Dari dapur rumah sampai kampus, semuanya nyediain air hangat. Tapi di Kanada, dia malah disuguhi es batu.
“Pas pertama kali makan di restoran di Kanada, waktu itu lagi musim gugur, dingin banget. Pelayannya malah ngasih saya air es. Pas saya minta air hangat, dia ngeliatin saya kayak minta sup tanpa mi,” cerita Vivian sambil geleng-geleng kepala.
Dia menambahkan, di China, orang minum air hangat itu udah biasa, bahkan pas musim panas sekalipun. Di kampus juga cuma ada air hangat, nggak ada air dingin. “Di sini malah kebalikannya, cuma ada air dingin, nggak ada air hangat. Perbedaan itu terasa banget buat saya,” ujarnya.
Hidden Gems Kuliner Malam: Hilangnya Surga di Bumi
Lam Dong dari Vietnam juga punya pengalaman yang nggak kalah seru. Dia kaget karena di Sudbury nggak ada kuliner malam kayak di kampung halamannya. Buat Lam Dong, Vietnam itu kayak surga kuliner yang buka 24 jam. Tapi di Sudbury, semua warung udah pada tutup pas malam.
“Saya kangen banget sama makanan malam di kampung halaman. Di sini juga susah nyari bumbu masakan, *seafood* juga nggak selalu ada, sayuran malah lebih mahal dari daging,” keluhnya.
Selain itu, Lam Dong juga kaget karena supermarket dan toko buku di Sudbury tutupnya lebih awal dari di Vietnam. “Tapi yang paling bikin kaget itu suasana malamnya. Di Vietnam, jalanan itu rame banget sama orang jualan dan orang nongkrong. Tapi di Sudbury, jam segini udah sepi banget. Itu yang bikin saya ngerasa beda banget,” pungkasnya.
Rapat Orang Tua Murid: Bukan Sekadar Jadi Pendengar
Jie (Alice) Zhou dari China juga punya pengalaman unik soal *culture shock*. Dia kaget sama sistem rapat orang tua murid di Kanada. Di China, rapat orang tua murid itu cuma satu arah: guru ngomong, orang tua dengerin. Tapi di Kanada, dia malah disuruh ngomong.
“Saya nggak akan pernah lupa sama rapat pertama saya di Kanada. Gurunya jelas-jelas nyuruh saya ngomong dan cerita tentang anak saya. Tapi nggak ada laporan nilai, nggak ada naskah, saya nggak tahu harus ngomong apa,” cerita Alice.
Dia menambahkan, 10 menit pertama terasa kayak satu jam. Dia baru sadar kalau di Kanada, orang tua itu diharapkan buat aktif ngomong dan berpartisipasi, bukan cuma duduk dan dengerin. “Sekarang, saya selalu nyiapin beberapa pertanyaan sebelum rapat, dan saya siap buat ikut ngobrol,” ujarnya.
Nggak Ada 911? Sistem Kesehatan yang Bikin Kaget
Seorang mahasiswa anonim dari Afghanistan juga punya pengalaman yang nggak kalah bikin kaget. Dia kaget sama sistem kesehatan di Kanada. Di Afghanistan, dia bisa langsung ketemu dokter tanpa harus bikin janji. Tapi di Kanada, dia harus nunggu berbulan-bulan.
“Di Afghanistan, saya bisa ketemu dokter hari itu juga atau besoknya, nggak perlu bikin janji. Banyak obat, bahkan antibiotik, bisa langsung dibeli di apotek. Pas saya pindah ke Kanada, saya langsung sadar kalau sistemnya beda banget,” ujarnya.
Dia menambahkan, di Kanada, dia harus bikin janji dulu sebelum ketemu dokter, dan kadang harus nunggu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. “Di sini, kesehatan itu gratis, tapi buat ketemu dokter aja harus nunggu lama. Saya juga baru tahu kalau semua orang harus punya dokter keluarga dan kartu kesehatan. Dulu saya nggak pernah mikirin hal itu,” pungkasnya.
Senyum Palsu atau Tulus? Misteri Keramahan Orang Kanada
Odirin Oghene, yang lahir di Nigeria dan pindah ke Kanada sejak kecil, juga punya pengalaman unik soal *culture shock*. Dia kaget sama keramahan orang Kanada. Buat Odirin, orang Kanada itu terlalu baik, sampai-sampai dia bingung sendiri.
“Orang Kanada itu ramah banget, mereka berusaha bikin kamu nyaman. Awalnya saya bingung, mereka beneran tulus apa cuma basa-basi doang. Saya nggak terbiasa sama keramahan kayak gitu di kampung halaman,” ujarnya.
Dia menambahkan, awalnya dia nggak tahu gimana cara menilai keramahan orang Kanada. Tapi lama-lama, dia sadar kalau itu udah jadi bagian dari budaya Kanada. “Sekarang saya udah terbiasa kok,” katanya sambil tersenyum.
Dari Bisu Jadi Bersuara: Perjuangan Menguasai Bahasa Asing
Trecy Osango dari Kongo juga punya pengalaman yang nggak kalah inspiratif. Dia kangen sama kehidupan sosial di kampung halamannya, di mana semua orang merasa diterima. Pas pertama kali datang ke Kanada, Trecy kesulitan berkomunikasi karena bahasa Inggris bukan bahasa ibunya.
“Awalnya saya malu dan nggak banyak ngomong. Tapi untungnya saya tinggal di asrama, dan saya punya temen-temen yang baik banget. Mereka banyak bantu saya belajar bahasa Inggris. Saya juga latihan ngomong dan dengerin orang lain setiap hari. Sekarang, bahasa Inggris saya nggak sempurna, tapi saya udah lebih percaya diri,” cerita Trecy dengan bangga.
Dari cerita-cerita di atas, kita bisa lihat kalau *culture shock* itu nggak cuma soal hal-hal besar kayak sistem kesehatan atau pendidikan. Kadang, hal-hal kecil kayak salju, air minum, atau keramahan orang lain juga bisa bikin kita kaget. Buat kita yang udah lama tinggal di sini, cerita-cerita ini bisa jadi pengingat kalau kebiasaan yang kita anggap biasa, ternyata bisa jadi hal yang aneh buat orang lain. Jadi, yuk lebih *aware* dan lebih menghargai perbedaan!


