Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

The Housemaid: Sydney Sweeney Ungkap Film dan Dampaknya pada Kekerasan Domestik

Bayangkan begini: Sydney Sweeney, aktris yang fotonya seringkali bikin kita *scrolling* tanpa sadar di Instagram, ternyata punya ambisi yang lebih dalam dari sekadar jadi *eye candy*. Alih-alih cuma memikirkan followers dan endorsement, dia justru ingin film-filmnya bisa “mempengaruhi dan menyelamatkan hidup orang”. Agak berat ya? Tapi tunggu dulu, ini bukan episode sinetron azab indosiar kok.

Sydney Sweeney dan Misi Mulia di Balik Layar

Sweeney, yang tahun ini berusia 28 tahun (iya, serius!), muncul dalam dua film yang mengangkat isu sensitif: kekerasan dalam rumah tangga. Ada *The Housemaid*, sebuah psychological thriller, dan *Christy*, sebuah film biopik tentang dunia tinju. Kedua film ini, secara tidak langsung, menyoroti masalah yang seringkali dianggap tabu. Sweeney sendiri menyebut topik ini “lazim” dan mengaku sangat berhati-hati dalam memerankan karakter-karakter yang terlibat di dalamnya. Apakah ini pertanda Sweeney akan banting setir jadi aktivis HAM sambil tetap berpose di karpet merah?

“Mampu memiliki film yang berada di level komersial tapi membahas topik yang sangat sulit itu penting,” ujarnya. Jadi, intinya, Sweeney ingin menyelipkan pesan moral dalam kemasan yang menarik. Mirip kayak makan sayur tapi dicampur *nugget* biar anak-anak doyan. Strategi yang cerdik, bukan?

Dalam *The Housemaid*, Sweeney berperan sebagai Millie Calloway, seorang pembantu rumah tangga. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Freida McFadden yang terbit tahun 2022. Novel ini sukses besar di kalangan pembaca, terutama di TikTok. Sweeney mengaku sebagai penggemar berat buku tersebut dan menyukai semua karakternya. Katanya sih, dia suka cerita-cerita kompleks, gila, dan penuh intrik. Mirip kayak kita semua yang suka nonton drama korea meskipun kadang bikin emosi jiwa.

Film ini juga dibintangi oleh Amanda Seyfried dan Brandon Sklenar, yang berperan sebagai Nina dan Andrew Winchester, pasangan suami istri yang mempekerjakan Millie. Uniknya, Seyfried dan Sweeney dipilih karena kemiripan fisik mereka. Tapi, menurut Seyfried, kesamaan mereka tidak hanya sebatas itu. Wah, jangan-jangan mereka punya resep awet muda yang sama nih!

Amanda Seyfried: Lebih dari Sekadar Wajah Cantik

“Ada kemiripan di antara kami yang sangat aneh, dan sangat menyenangkan bekerja dengan orang-orang yang menjalani hidup dengan cara yang sama, memiliki cita-cita yang sama tentang pekerjaan dan kehidupan,” kata Seyfried. Sweeney juga menambahkan bahwa mereka berdua telah mengembangkan “dinamika” di mana mereka “dapat menikmati kebersamaan”. Hubungan mereka ini memungkinkan mereka untuk “pergi ke tempat-tempat gila ini dan menemukan lebih banyak lagi di dalam karakter Anda”. Kedengarannya seperti pertemanan yang sehat dan produktif ya. Patut dicontoh nih buat kita yang seringkali drama sama teman sendiri.

Karakter Nina yang diperankan Seyfried bergulat dengan masalah kesehatan mental yang kompleks sepanjang film. Hal ini membuat film ini menjadi tontonan yang tidak selalu nyaman. “Anda harus memainkannya serealistis mungkin karena perlu mencerminkan kehidupan nyata,” ujarnya. Seyfried yang dikenal karena perannya dalam *Mamma Mia!* dan *Mean Girls*, percaya bahwa para pemain “berhasil mendapatkan nada yang tepat” dan berharap, meskipun film ini adalah hiburan, orang-orang “keluar dengan pemahaman yang lebih baik tentang kekerasan dalam rumah tangga” dan “memperluas wawasan mereka”.

Ketika Kekerasan Domestik Jadi Bahan Tontonan: Sensitifkah?

*The Housemaid* dibandingkan dengan film-film *domestic thriller* tahun 1990-an, seperti *The Hand That Rocks the Cradle*, *Fatal Attraction*, dan *Basic Instinct*. Tapi, film ini memiliki sentuhan modern dengan alur cerita tentang kekerasan fisik dan mental. Isu kekerasan domestik dalam film memang menjadi topik hangat di Hollywood. Apalagi setelah tur promosi film *It Ends With Us* tahun 2024 yang dikritik karena mengemasnya sebagai kisah romantis, bukan sebagai cerita tentang kekerasan. Duh, salah fokus nih!

Sklenar, yang muncul di kedua film tersebut, mengatakan bahwa “menantang” untuk mengambil peran sebagai pelaku kekerasan. Dia menggambarkan karakternya – Andrew Winchester di *The Housemaid* dan Atlas Corrigan di *It Ends With Us* – sebagai “dua kutub yang berlawanan”. “Ketika berbicara tentang akting, Anda dapat mencoba semua yang Anda inginkan, tetapi pada akhirnya terkadang itu hanya memengaruhi Anda,” katanya. “Ini intens dan pada akhirnya akan memengaruhi Anda dalam cara tertentu.” Jadi, meskipun cuma akting, tetap ada efeknya ya buat kesehatan mental.

Judul Film: Senjata Marketing atau Janji yang Harus Ditepati?

Film ini sebagian besar menerima ulasan positif, termasuk empat bintang dari *The Guardian*, yang mengatakan bahwa Feig dan para pemainnya “memberikan dengan semangat yang luar biasa; ini adalah suguhan liburan yang tidak bersalah”. Penerimaan ini tentu disambut baik oleh Sweeney setelah menjadi pusat banyak drama dan diskusi di tahun 2025. Iklan jins American Eagle yang dibintanginya menuai kritik karena mengangkat isu ras dan standar kecantikan. Sweeney mengatakan kepada *People Magazine* awal bulan ini bahwa dia “menentang kebencian dan perpecahan” dan terkejut dengan reaksi terhadap kampanye tersebut.

Novel Sebagai Sumber Inspirasi: Hollywood Mulai Kehabisan Ide?

Feig, yang film-film sebelumnya termasuk *Bridesmaids* dan *The Heat*, percaya bahwa novel akan menjadi sumber materi yang lebih subur bagi Hollywood karena “studio selalu menginginkan sesuatu yang berkualitas” untuk “membenarkan kemampuan mereka untuk menginvestasikan banyak uang” ke dalam proyek tersebut. Tapi, dia mengatakan bahwa dia mencoba untuk tidak membiarkan buku-buku dengan audiens dan penggemar yang besar mendikte proyek apa yang dia buat, karena “ada banyak buku yang sangat populer yang tidak cocok sebagai film”. Wah, berarti harus pintar-pintar milih nih!

Feig menambahkan bahwa “menyenangkan” untuk bekerja dengan skenario adaptasi Rebecca Sonnenshine untuk *The Housemaid*, tetapi dia telah “memulihkan” beberapa bagian dari buku yang “benar-benar akan dirindukan pembaca jika tidak ada di sana”. Ada juga “akhir tambahan yang tidak ada di dalam buku”, katanya, “sehingga pembaca bisa mendapatkan sesuatu yang baru yang tidak mereka duga”. Jadi, buat yang sudah baca novelnya, tetap ada kejutan ya di filmnya.

The Housemaid: Tontonan Hiburan atau Refleksi Diri?

Intinya, *The Housemaid* bukan sekadar film thriller biasa. Ada isu-isu sosial yang coba diangkat, meskipun dikemas dalam balutan hiburan. Kita sebagai penonton, punya pilihan: mau sekadar menikmati sensasi tegangnya atau mencoba merenungkan pesan yang ingin disampaikan? Pilihan ada di tangan Anda. Yang jelas, setelah nonton film ini, jangan lupa berterima kasih sama pembantu di rumah. Siapa tahu, mereka punya rahasia yang lebih gelap dari yang kita bayangkan.

Previous Post

Gaming Monitor Odyssey 2026: Samsung Perkenalkan Layar 3D 6K Pertama di Dunia & Refresh Rate 1040Hz!

Next Post

Golden Yachties: Velev Jadi ‘MMO Sunset’ Tercepat, Hanya 6 Hari!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *