Siapa sangka, isi perut bisa jadi sumber malapetaka buat jantung? Ya, studi terbaru yang jangkauannya bikin geleng-geleng kepala, melibatkan ribuan partisipan dari Amerika Serikat dan Tiongkok, berhasil mengidentifikasi delapan jenis ‘metabolit’ – sebut saja ini hasil sampingan dari aktivitas bakteri usus yang super sibuk – yang punya korelasi kuat sama risiko penyakit jantung koroner. Jadi, selain makanan yang masuk, ternyata ‘penghuni’ usus kita juga punya andil besar dalam menentukan nasib organ vital ini. Rasanya seperti punya agen rahasia di dalam tubuh yang diam-diam bikin keputusan penting, cuma bedanya ini bukan mata-mata Hollywood, melainkan mikroba usus.
Uniknya, metabolit-metabolit ini seolah jadi semacam ‘tanda universal’ risiko penyakit jantung, yang konon berlaku lintas usia dan etnis. Namun, jangan senang dulu. Para peneliti dengan lihai mengingatkan bahwa level awal dari zat-zat ini – dan seberapa ‘galak’ pengaruhnya – bisa jadi beda jauh antara populasi Amerika dan Asia. Ini bukan sekadar variasi genetik biasa, tapi lebih ke arah perbedaan ‘genre’ bakteri usus yang menghasilkan ‘alkimia’ yang berbeda pula. Ibaratnya, satu resep masakan bisa menghasilkan rasa yang berbeda tergantung ‘bumbu’ lokal yang dipakai.
Di dalam saluran pencernaan manusia, ceritanya memang rumit. Ada jutaan mikroba dengan berbagai macam jenis yang berkoloni dengan damai, atau mungkin juga saling bersaing sengit. Para peneliti menekankan bahwa setiap individu punya ‘proposi’ atau komposisi bakteri usus yang berbeda-beda. Nah, perbedaan komposisi inilah yang akhirnya memengaruhi jenis molekul yang dihasilkan dari reaksi metabolisme normal mereka. Bayangkan saja sebuah orkestra: jika alat musiknya berbeda, suara yang dihasilkan pun pasti akan berbeda nuansanya.
Molekul-molekul hasil fermentasi bakteri usus ini, yang kita sebut metabolit, punya kemampuan untuk menyusup ke dalam aliran darah. Begitu masuk, mereka bisa memberikan efek yang beragam, mulai dari yang bikin badan sehat buger sampai yang justru bikin masalah. Beberapa metabolit dari bakteri usus ini diduga kuat punya hubungan erat dengan risiko penyakit jantung koroner, yang ironisnya, masih jadi penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. Jadi, urusan perut ini bukan cuma soal kenyang atau mules, tapi bisa sampai mengancam nyawa.
“Metabolit ini masuk ke aliran darah melalui lapisan usus dan memengaruhi kesehatan jantung dengan cara memodulasi faktor-faktor risiko kardio-metabolik, termasuk inflamasi sistemik, lipid darah, tekanan darah, kontrol gula darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal,” ungkap penulis utama studi, Danxia Yu, dari Vanderbilt University Medical Center, Amerika Serikat, kepada Nutrition Insight. Pernyataan ini terdengar seperti pengakuan dari seorang ‘dalang’ yang tahu persis bagaimana setiap elemen dalam tubuh bekerja sama – atau justru saling menjatuhkan – demi kesehatan jantung.
Yu punya keyakinan bahwa metabolit-metabolit ini suatu saat nanti bisa menjadi semacam ‘kode pos’ atau biomarker untuk memprediksi risiko penyakit kardiovaskular. “Potensinya sangat besar, karena sebagian besar metabolit ini terkait dengan risiko penyakit melebihi faktor risiko kardiovaskular yang sudah ada,” tambahnya. Ini seperti menemukan ‘celah keamanan’ baru dalam sistem pertahanan tubuh yang sebelumnya terlewatkan, membuka peluang untuk deteksi dini yang lebih akurat.
“Mereka bisa menjadi biomarker baru untuk memberikan informasi pada studi mekanistik dan intervensi di masa depan,” ujar Yu. Artinya, penemuan ini bukan sekadar temuan ilmiah biasa, melainkan sebuah ‘batu loncatan’ untuk penelitian lebih lanjut yang berpotensi merevolusi cara penanganan penyakit jantung. Siapa tahu, di masa depan, cek metabolit usus bisa jadi rutinitas wajib seperti cek kolesterol.
Delapan Metabolit, Delapan ‘Sinyal Bahaya’ Jantung
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Medicine, Yu dan rekan-rekannya membeberkan temuan tentang hubungan ‘sumbu usus-jantung’ (gut-heart axis). Mereka menganalisis sampel darah dari ribuan partisipan dewasa, baik yang berkulit hitam, putih, maupun Asia, yang tersebar di seluruh Amerika Serikat dan Shanghai, Tiongkok. Pengumpulan data yang begitu masif ini seolah menggali lebih dalam harta karun tersembunyi di dalam tubuh manusia.
Dengan fokus pada data hampir 2.000 partisipan, para peneliti memusatkan perhatian pada sembilan metabolit dari bakteri usus yang dikaitkan dengan risiko penyakit jantung koroner. Dari sembilan kandidat tersebut, delapan di antaranya ternyata benar-benar menunjukkan korelasi yang signifikan. Ini seperti memilih sembilan koin dari sebuah mesin capit, dan ternyata delapan di antaranya adalah koin emas yang berharga (atau dalam kasus ini, berisiko).
“Delapan dari zat ini terkait dengan peningkatan risiko,” kata Yu. Ia memberikan contoh konkret: 3-hidroksibutirat dan imidazol-propionat menunjukkan korelasi terkuat. Peningkatan sekecil apa pun pada kadar zat-zat ini dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit jantung masing-masing sekitar 27% dan 26%. Angka ini mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, tapi dalam dunia medis, peningkatan risiko sekecil itu bisa berarti perbedaan besar antara hidup dan mati.
Senyawa lain, seperti penanda kesehatan usus trimethylamine N-oxide (TMAO) dan 4-hidroksihipurat, juga memberikan sinyal bahaya yang serupa, dengan risiko yang lebih tinggi. TMAO ini terbentuk ketika bakteri usus ‘mengolah’ nutrisi seperti kolin dan L-karnitin – yang banyak terdapat pada daging merah, telur, dan produk susu – menjadi trimetilamin. Senyawa ini kemudian ‘diumumkan’ oleh hati menjadi TMAO. Jadi, makanan favorit banyak orang ternyata bisa jadi ‘bahan bakar’ bagi bakteri usus untuk menghasilkan zat berbahaya bagi jantung. Sebuah paradoks yang menarik.
Di sisi lain spektrum, indolepropionate tampil sebagai ‘pahlawan tunggal’ dalam kelompok ini. Kadar yang lebih tinggi justru berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit jantung sekitar 11%. Ini menunjukkan bahwa tidak semua produk bakteri usus itu buruk; ada juga ‘pasukan khusus’ yang justru menjaga kesehatan jantung. Bayangkan saja, seperti ada dua kubu di usus kita: satu yang siap menyerang jantung, satu lagi yang siap melindunginya.
Konsistensi Lintas Etnis: Jantung Tetap Jantung, Tapi ‘Bahasa’ Beda
Secara umum, hubungan antara metabolit dan penyakit jantung ini cukup konsisten antar partisipan, bahkan setelah memperhitungkan faktor gaya hidup atau riwayat keluarga. Ini memberikan gambaran bahwa usus kita punya ‘aturan main’ yang relatif universal. Namun, di sinilah bagian menariknya: para peneliti mengamati adanya beberapa perbedaan ketika individu dikelompokkan berdasarkan ras atau usia. Ternyata, meskipun jantung secara fungsional sama, ‘penyambutan’ terhadap metabolit-metabolit ini bisa berbeda.
“Kami mengamati bahwa konsentrasi beberapa metabolit berbeda antara individu di Amerika dan Asia, serta beberapa metabolit menunjukkan asosiasi yang bervariasi antar kelompok etnis,” jelas Yu. Ini seperti mengetahui bahwa bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sama-sama bahasa, tapi cara pengucapan dan beberapa idiomnya tentu berbeda. Begitu pula metabolit, fungsinya mungkin sama tapi manifestasinya bisa unik di setiap kelompok.
Contohnya, 4-hidroksifenilasetat dan fenilasetil-L-glutamin menunjukkan asosiasi yang secara numerik lebih kuat pada partisipan kulit hitam dibandingkan dengan partisipan kulit putih atau Asia. Sementara itu, 1-metil-4-imidazolasetat hanya signifikan pada partisipan kulit putih. TMAO, yang sebelumnya disebut-sebut sebagai penjahat, ternyata hanya signifikan pada partisipan di Amerika Serikat, tidak pada partisipan Asia. Temuan ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah ada faktor lingkungan, diet, atau genetik spesifik yang membuat TMAO ‘lebih jahat’ di satu negara daripada di negara lain?
“Kami juga menemukan potensi modifikasi efek oleh usia dan status obesitas,” tambah Yu. Ini berarti, pengaruh metabolit tidak berdiri sendiri, melainkan bisa berinteraksi dengan faktor lain seperti usia dan berat badan. Seseorang yang gemuk dengan kadar metabolit tertentu bisa jadi punya risiko yang berbeda dengan seseorang yang kurus dengan kadar metabolit yang sama. Semuanya saling terkait dalam jaring-jaring kompleks tubuh manusia.
Berdasarkan temuan ini, para peneliti menyerukan adanya penelitian lanjutan terhadap sembilan metabolit yang teridentifikasi. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah mereka benar-benar merupakan ‘jalur tikus’ yang menjanjikan untuk dikembangkan menjadi cara baru dalam mengobati atau mencegah penyakit jantung koroner. Ini adalah panggilan untuk ‘penyelidikan lebih lanjut’ guna membongkar misteri di balik hubungan usus dan jantung.
“Meskipun temuan kami memberikan bukti epidemiologis yang komprehensif melalui studi multi-tahap yang ketat, peran kausal dari metabolit mikroba yang disorot dalam etiologi dan terapi penyakit jantung koroner masih perlu diselidiki,” tegas Yu. Pernyataan ini adalah pengingat penting bahwa sains terus berkembang; temuan hari ini bisa jadi dasar untuk pertanyaan baru di masa depan. Belum ada yang final, semua masih dalam proses pembuktian.
Studi di masa depan, termasuk yang melibatkan model hewan, diharapkan dapat memperluas cakupan mikroba usus yang teridentifikasi dan produk metabolik yang mereka hasilkan. Ini adalah langkah logis untuk memetakan secara lebih detail peta ‘medan perang’ di dalam usus dan dampaknya terhadap jantung. Siapa tahu, dengan studi hewan, kita bisa menemukan ‘senjata’ baru atau ‘benteng pertahanan’ yang lebih kuat.
Penelitian sebelumnya juga telah menemukan bahwa metabolit tertentu bisa memberikan efek positif yang berlawanan pada kesehatan jantung. Pada bulan Februari lalu, para peneliti menemukan bahwa metabolit bakteri di usus dapat memengaruhi jantung dengan berinteraksi dengan neuron tertentu, membuka jalan baru yang terhubung ke otak. Ini semakin menegaskan bahwa usus bukan hanya ‘pabrik pencernaan’, tapi juga pusat kendali yang kompleks dengan jangkauan pengaruh yang luar biasa luas, bahkan sampai ke otak.

