Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

UX Desktop Mandek? Scott Jenson Kritik Desain yang Itu-Itu Saja

Oke, siap! Berikut adalah artikel yang dihasilkan dengan gaya Mojok, sesuai dengan instruksi yang diberikan:

Pernahkah Anda merasa terjebak dalam *deja vu* digital? Setiap hari kita terpaku pada tampilan desktop yang itu-itu saja. Ikon-ikon yang berbaris rapi, folder yang menumpuk seperti cucian kotor, dan wallpaper pemandangan yang sudah usang. Rasanya seperti hidup dalam Groundhog Day versi teknologi. Tapi, tunggu dulu! Seorang ahli UX bernama Scott Jenson punya uneg-uneg yang mungkin mewakili isi hati kita semua.

Menurut Jenson, desain desktop itu-itu saja sudah stagnan selama 20 tahun terakhir. Bayangkan, dua dekade! Padahal, potensi untuk membuat manusia lebih produktif itu masih segudang. Jenson mengungkapkan kegelisahannya ini di acara Canonical Ubuntu Summit 2025 di London. Sebuah curhatan yang cukup untuk membuat kita bertanya: “Apakah kita sudah terlalu nyaman dengan yang itu-itu saja?”

Jenson bukan orang sembarangan. Ia adalah anggota pertama dari grup Human Interface di Apple pada akhir 1980-an. Setelah itu, ia mendesain produk-produk penting untuk Symbian dan Google. Sekarang, ia menjadi seorang UX strategist di dunia open source untuk Mastodon dan Home Assistant. Pengalamannya segudang, tapi satu hal yang membuatnya sedih adalah: kita terlalu mengabaikan potensi desktop.

“Orang-orang benar-benar lupa betapa powerful-nya desktop, karena boring,” ujarnya. Sebuah pengakuan yang jujur, blak-blakan, dan membuat kita merenung: apakah selama ini kita hanya memanfaatkan desktop sebatas untuk main game dan nonton streaming?

Desktop: Dulu Inovatif, Sekarang Jadi Fosil?

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Jenson punya andil besar dalam membuat nama file yang panjang tetap terbaca di jendela Macintosh yang kecil. Ia mengganti posisi elipsis (…) dari akhir nama file ke tengah. Sebuah perubahan kecil, tapi dampaknya luar biasa. Kode yang ia buat 40 tahun lalu masih berjalan sampai sekarang. Ini bukti bahwa detail-detail kecil dalam UX desktop itu sangat penting.

Ia juga menyoroti satu fitur sederhana di Mac yang sering kita lupakan: kemampuan memindahkan file dari jendela belakang ke jendela utama, atau bahkan ke aplikasi lain. Di banyak sistem Linux, fitur ini tidak bisa dilakukan karena jendela langsung muncul di depan saat tombol mouse ditekan, bukan saat dilepas. Sebuah perbedaan kecil yang ternyata berdampak besar pada pengalaman pengguna.

“UX desktop yang bagus memungkinkan cara-cara baru untuk memindahkan data dan menangani berbagai hal,” kata Jenson. Sebuah pernyataan yang sederhana, tapi mengandung kebenaran yang mendalam. UX yang baik seharusnya mempermudah hidup kita, bukan malah bikin ribet.

Sayangnya, antarmuka desktop saat ini hanyalah salinan dari salinan dari salinan. Metodologi desktop yang asli berasal dari prototipe Xerox Star pada tahun 1981. Macintosh meniru antarmuka berbasis “jendela” ini, dengan beberapa penyempurnaan. Lalu lahirlah Windows, yang kemudian melahirkan GNOME dan KDE. Siklus nirwana *copy-paste* yang tak berujung.

Inovasi? Ah, Itu Urusan Nanti…

Meniru sistem berbasis jendela memang lebih mudah bagi desainer dan pengguna. “Kenapa repot-repot menciptakan kembali roda?” tanya Jenson. Sebuah pertanyaan retoris yang menyiratkan sindiran halus. Kita terlalu terpaku pada zona nyaman, sehingga lupa untuk berinovasi.

Desainer grafis berpikir secara statistik, sementara programmer berpikir secara matematis. Dua dunia yang berbeda, tapi seharusnya bisa saling melengkapi. Sayangnya, yang sering terjadi adalah: desainer hanya fokus pada tampilan visual, sementara programmer hanya fokus pada fungsionalitas. Hasilnya? Antarmuka yang indah, tapi tidak intuitif. Atau sebaliknya: antarmuka yang fungsional, tapi membosankan.

Jenson menyindir Apple yang bangga dengan liquid display baru untuk iPhone. “Kalau klaim terbesar dari sistem operasi Anda adalah piksel-piksel yang mewah dan berkilauan, Anda sudah benar-benar kehilangan arah,” sindirnya. Sebuah sindiran pedas yang langsung menusuk jantung para penggemar teknologi.

Microsoft Windows juga tidak luput dari kritik. Jenson mengkritik “pendaftaran yang haus” dan peluncuran fitur Recall yang gagal. Tapi, masalah sebenarnya adalah: tidak ada lagi yang bisa ditiru. Kita sudah sampai di titik jenuh inovasi. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Desain: Bukan Sekadar Pindah-Pindah Piksel

Saat ini, banyak orang berpikir bahwa desain user interface (UI) itu hanya sekadar memindahkan piksel. Berkat kesuksesan Figma, banyak “pekerjaan desain” yang hanya melibatkan ikon. Padahal, desain UI itu jauh lebih dari sekadar mempercantik tampilan. Desain UI itu tentang memahami, menjembatani, mengalirkan, dan menyempurnakan. Tujuannya adalah untuk membawa semua pihak yang terlibat ke dalam perspektif yang sama tentang apa itu sesuatu dan bagaimana cara kerjanya, jelas Jenson.

UX itu tentang perspektif yang sama. Di Mastodon, Jenson ikut berdebat tentang apakah respons terhadap sebuah postingan harus muncul di atas atau di bawah postingan aslinya di feed pengguna. Twitter menempatkan postingan asli di bawah, dengan asumsi bahwa itu akan meredam konten toksik. Mastodon sampai pada kesimpulan yang sama, tetapi dengan alasan yang berbeda. Mereka menemukan bahwa sebagian besar postingan asli itu sangat positif, dan pengguna lebih menyukai format repost di atas, karena akan memperkuat berita baik dalam postingan aslinya. Dari perspektif mana pun, kata Jenson, postingan di bagian bawah akhirnya menang.

Di tahun 2017, Apple membuat iklan iPad yang menampilkan seorang anak muda yang bertanya: “Apa itu komputer?” Iklan ini membuat hati Jenson hancur berkeping-keping. Saat itulah Apple secara definitif mengakhiri hubungan cintanya dengan Mac dan lebih memilih platform mobile. Sebuah keputusan bisnis yang masuk akal, tapi juga menyedihkan bagi para penggemar desktop.

Komputer untuk Bekerja, Ponsel untuk Gaya?

Mobile mungkin telah memenangkan pasar konsumen, tetapi untuk urusan produktivitas, komputer masih menjadi raja. iPhone dibuat untuk mengonsumsi data, bukan untuk memproduksinya. Para desainer mobile menyamakan ketukan di layar ponsel dengan klik mouse di komputer. Padahal, keduanya sangat berbeda dalam fungsionalitas. Hal ini membuat banyak pengguna mobile bingung saat mencoba mengetik teks seperti di komputer.

Satu ketukan di editor teks ponsel dapat menyebabkan empat kemungkinan tindakan, yang membuat banyak pengguna kebingungan. Sebaliknya, desktop memiliki pola yang sangat jelas untuk tombol klik dalam hal teks. Pertama, Anda belajar untuk mengklik sebuah kata. Kemudian Anda belajar untuk mengklik dan menyeret untuk lebih banyak kata. Pada tingkat pemahaman akhir, Anda mengklik dua kali sekali pada sebanyak mungkin kata yang Anda inginkan.

Masih ada kebutuhan akan antarmuka serupa yang dioptimalkan untuk memproduksi konten, bukan hanya mengonsumsinya. Sebuah tantangan bagi para desainer UI masa kini. Bagaimana caranya menciptakan antarmuka yang intuitif, efisien, dan menyenangkan untuk digunakan?

Jenson tidak menawarkan banyak ide tentang revisi skala besar, tetapi ia menawarkan jalan ke depan. Ini semua tentang berpikir dalam loop, katanya. Pengguna memulai suatu tindakan, dan tindakan itu dieksekusi. Rangkaian tindakan apa yang dapat membuka hambatan saat ini? Ia menawarkan demo di mana pengelola jendela dapat melacak tidak hanya file, tetapi juga mengelola kliping teks dan gambar, semuanya melalui serangkaian penekanan tombol yang sama.

“Saat Anda berpikir dalam loop, Anda memikirkan OS dengan cara yang lebih bernuansa,” katanya. Sebuah ajakan untuk berpikir *out of the box*, untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, dan untuk menciptakan solusi yang inovatif.

Jadi, apakah desktop akan terus menjadi fosil yang membosankan? Atau akankah kita mampu membangkitkan kembali potensinya dan menciptakan antarmuka yang benar-benar revolusioner? Jawabannya ada di tangan kita semua. Mari kita berhenti meniru dan mulai berkreasi!

Untuk lebih jelasnya, bisa simak obrolan lengkapnya di sini:

Previous Post

Everyday Sororicide: Game Yuri Brutal yang Hanya Bisa Dimainkan Sekali Sehari

Next Post

Jakob Pelletier Kembali ke Syracuse Crunch: Dampak Bagi Lightning?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *