Dunia ini memang lagi nggak asyik. Kekerasan di mana-mana, harga kebutuhan melambung tinggi, cari kerja susah, eh AI pula bikin berita bohong makin nggak terkendali. Kalau lagi begini, biasanya playlist saya isinya lagu-lagu melankolis dari AD 93. Tapi belakangan ini, saya malah lebih sering dengerin The Velvet Underground and Rowan, album pop underground yang rilis musim panas lalu. Anehnya, album ini justru bikin saya semangat lagi. Edgy tapi nggak penuh ironi, konyol tapi nggak nggak serius, gelap tapi tetap membawa kebahagiaan. Empat belas lagu dengan total durasi cuma 30 menit ini sukses bikin kaki saya pengen joget dan hati saya nyanyi lagi.
Duo London di Balik Album Ajaib Ini
The Velvet Underground and Rowan adalah hasil kolaborasi antara dua anak muda asal London, Leo Fincham dan Rowan Miles. Leo Fincham adalah seorang seniman visual dan produser yang dikenal dengan nama Worldpeace DMT. Sementara itu, Rowan Miles adalah member dari duo pop Teenagers-esque, the Femcels. Fincham dan Miles ini adalah bagian dari skena London yang terobsesi dengan tahun 2000-an, bareng sama fakemink dan Bassvictim. Tapi, The Velvet Underground and Rowan justru bikin mereka berdua terasa seperti skena tersendiri. Mereka mungkin sering ngasih wawancara yang menghibur dan sedikit sinting, punya akun Instagram yang berantakan, dan bikin pertunjukan dadakan yang heboh. Tapi musik mereka adalah campuran referensi indie awal 2010-an yang hyper-uncool dan lirik yang penuh pathos, disajikan dengan gaya Donny & Marie Osmond yang akrab.
Bayangkan begini, dengerin album ini tuh kayak tiba-tiba kena sucker punch dari Carles (RIP Hipster Runoff). Fincham dan Miles emang sering ngomongin soal kecintaan mereka sama era 60-an di wawancara. Pengaruh the Beach Boys dan the Velvet Underground juga kadang muncul di lagu-lagu mereka. Bahkan, mereka juga bikin cover lagu “The Ledge” punya Fleetwood Mac yang ceria. Tapi, sebagian besar lagu di The Velvet Underground and Rowan justru terasa seperti musiknya anak-anak yang tumbuh di akhir 2000-an dan awal 2010-an.
Racikan Ajaib dari Masa Lalu yang Uncool
Fincham dan Miles dengan bebasnya mengambil inspirasi dari band-band post-landfill-indie kayak Darwin Deez, Grouplove, dan Cults. Mereka dengan riang menyanyikan chorus dan melapisi lagu-lagu mereka dengan bunyi lonceng, drum yang diprogram, dan riff gitar yang aneh. Ada juga referensi yang nggak terlalu ekstrem, seperti Sung Tongs-nya Anco atau plunderphonics ceria ala the Avalanches. Tapi, nggak ada satupun yang bikin orang noleh dua kali di antrean bar di Ormside atau OTO. Tapi justru disitulah letak asiknya. Kalau nggak norak, bukan nostalgia namanya.
The Velvet Underground and Rowan ini terasa sejalan dengan Think Differently-nya Callahan & Witscher. Sama-sama memasangkan dua musisi underground yang memberikan sentuhan iseng dan lempar-semua-ke-dinding pada suara-suara yang relatif nggak trendi. Bedanya, Callahan & Witscher menggunakan pastiche rock 90-an mereka untuk nihilisme anti-Boomkat yang gelap. Sementara itu, Fincham dan Miles justru terdengar seperti orang-orang yang optimis. Musik mereka memang lucu, tapi lirik mereka seringkali terasa sangat tulus, bahkan ketika mereka sedang bercanda. “Wrote this song just so you’d know/To love yourself no matter what,” teriak Miles di lagu “Love Yourself” yang manis dan glitchy. Beberapa bait kemudian, dia nyanyi lagi: “Leo wrote this song for you/Sorry that I fucked your dude.” Mantap!
Humor Satir Sebagai Pintu Masuk Diskusi Serius
Lirik-lirik kayak gitu yang bikin album ini terasa begitu relatable. Di tengah dunia yang lagi nggak karuan ini, kita semua butuh sedikit kebodohan dan kejujuran. Fincham dan Miles nggak berusaha untuk jadi keren atau pinter. Mereka cuma bikin musik yang mereka suka dan nggak takut untuk nunjukkin sisi konyol mereka. Dan itulah yang bikin musik mereka begitu menyegarkan. Seolah-olah mereka ini adalah teman tongkrongan yang bisa bikin kita ketawa ngakak sambil curhat soal masalah hidup. Lebih asyik lagi karena musik mereka tetap enak didengar sambil joget-joget sendiri di kamar.
Mengapa *The Velvet Underground and Rowan* Relevan di Era Sekarang?
Di era digital yang serba cepat dan penuh tekanan ini, kita seringkali lupa untuk menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Kita terlalu sibuk ngejar validasi di media sosial, kerja keras biar bisa beli barang-barang mewah, dan berusaha untuk jadi orang yang paling keren di antara teman-teman kita. The Velvet Underground and Rowan ngingetin kita untuk santai sejenak dan nggak usah terlalu serius. Album ini ngajak kita untuk nerima diri kita apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan kita. Album ini juga ngingetin kita bahwa hidup itu terlalu singkat untuk dihabisin dengan meratapi masalah dan kekecewaan.
Dosis Nostalgia yang Pas
Salah satu daya tarik utama dari The Velvet Underground and Rowan adalah nuansa nostalgianya yang kuat. Album ini dipenuhi dengan referensi musik dan budaya dari era 2000-an dan 2010-an. Dari suara synth yang mengingatkan kita pada lagu-lagu chiptune sampai lirik-lirik yang nyindir tren hipster, album ini berhasil membangkitkan kenangan masa lalu yang menyenangkan. Nostalgia memang lagi jadi tren belakangan ini. Tapi, The Velvet Underground and Rowan nggak cuma sekadar numpang lewat. Album ini berhasil menggunakan nostalgia sebagai alat untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam tentang identitas, komunitas, dan harapan.
Musik yang Melampaui Genre dan Ekspektasi
The Velvet Underground and Rowan adalah album yang sulit untuk dikategorikan. Album ini menggabungkan unsur-unsur pop, indie, elektronik, dan eksperimental. Album ini juga nggak takut untuk keluar dari pakem dan mencoba hal-hal baru. Beberapa lagu mungkin terdengar aneh dan nggak masuk akal pada awalnya. Tapi, semakin sering kita dengerin, semakin kita menghargai keunikan dan keberanian mereka. Musik mereka ini kayak perpaduan antara cita rasa lokal dan internasional. Ada rasa familiar yang bikin kita nyaman, tapi juga ada sentuhan eksotis yang bikin kita penasaran.
Sebuah Ode untuk Kegagalan dan Keberanian
The Velvet Underground and Rowan bukan album yang sempurna. Ada beberapa lagu yang terdengar mentah dan belum selesai. Ada juga beberapa lirik yang terlalu pribadi dan sulit untuk dimengerti. Tapi, justru di situlah letak keindahan album ini. Album ini nggak berusaha untuk menyembunyikan kekurangan dan kelemahan mereka. Album ini justru merangkulnya dan menjadikannya bagian dari identitas mereka. Album ini adalah sebuah ode untuk kegagalan dan keberanian. Album ini ngingetin kita bahwa nggak apa-apa untuk gagal dan bikin kesalahan. Yang penting adalah kita berani untuk mencoba dan nggak nyerah.
Yang jelas, album ini adalah bukti bahwa musik bagus nggak harus rumit atau mahal. Musik bagus bisa datang dari mana saja, bahkan dari dua orang yang nggak dikenal yang bikin musik di kamar tidur mereka. Album ini juga ngingetin kita bahwa musik itu lebih dari sekadar hiburan. Musik bisa jadi sumber inspirasi, pelipur lara, dan teman setia di saat-saat sulit. Apalagi di zaman sekarang, ketika dunia terasa semakin nggak karuan. Dengerin The Velvet Underground and Rowan bisa jadi salah satu cara untuk tetap waras dan optimis.
Saatnya Berhenti Jadi Hipster, Mulai Nikmati Hidup
Jadi, tunggu apa lagi? Tinggalin dulu playlist melankolis lo dan coba dengerin The Velvet Underground and Rowan. Siapa tahu album ini bisa bikin lo semangat lagi dan ngingetin lo bahwa hidup itu nggak seburuk yang lo kira. Atau setidaknya, bisa jadi teman asyik sambil nunggu antrean kopi di warung favorit lo. Dijamin nggak bakal nyesel. Tapi awas, jangan sampe ketagihan ya. Nanti lo malah jadi kayak saya, yang nggak bisa lepas dari album ini. Eh, tapi nggak apa-apa juga sih. Yang penting happy!


