Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Volbeat: Barney Napalm Death Guncang Panggung Birmingham Dengan “Evelyn”!

Pernah nggak sih, lagi asik dengerin musik metal, tiba-tiba nyokap masuk kamar dan bilang, “Itu suara apaan, kayak kucing kejepit pintu?” Nah, bayangin kalau kucing kejepit pintu itu ternyata kolaborasi epik antara VOLBEAT, band metal rock n’ roll asal Denmark, dan Barney Greenway, vokalis NAPALM DEATH, band grindcore legendaris Inggris. Kedengarannya absurd? Memang! Tapi itulah yang terjadi di Birmingham, Inggris, tanggal 12 November lalu.

Ketika Grindcore Bertemu Rock N’ Roll: Sebuah Persatuan yang Tidak Terduga

Buat yang belum familiar, NAPALM DEATH itu kayak kopi tubruk—keras, pahit, dan bikin melek seketika. Sementara VOLBEAT lebih ke kopi susu—tetap nendang, tapi ada manis-manisnya. Nah, kolaborasi ini kayak nyampur kopi tubruk ke kopi susu. Awalnya mungkin aneh, tapi begitu dicoba, kok… enak juga? Barney Greenway, dengan growl khasnya, naik ke atas panggung bersama VOLBEAT untuk membawakan lagu “Evelyn.” Hasilnya? Sebuah pertunjukan yang nggak cuma brutal, tapi juga melodis. Sebuah perpaduan yang bikin penonton garuk-garuk kepala sambil headbang.

Kolaborasi ini bukan kali pertama. Sejak tahun 2011, Michael Poulsen, vokalis dan gitaris VOLBEAT, sudah mengungkapkan kekagumannya pada NAPALM DEATH. Bahkan, Barney sudah mengisi vokal di versi studio “Evelyn” yang ada di album “Beyond Hell/Above Heaven”. Menurut Poulsen, ini adalah caranya menunjukkan bahwa VOLBEAT nggak cuma terinspirasi dari musik tahun 50-an, tapi juga tumbuh besar dengan mendengarkan band-band metal keren. Dan NAPALM DEATH adalah salah satunya.

Dari Klub Denmark ke Panggung Dunia: Kisah Sukses VOLBEAT

VOLBEAT itu kayak anak kuliahan yang awalnya cuma main band di garasi, tapi tiba-tiba diajak tur dunia. Bayangin aja, dari klub-klub kecil di Denmark, mereka bisa sampai ke panggung-panggung besar di seluruh dunia. Nggak cuma itu, mereka juga udah ngoleksi lebih dari 145 sertifikasi emas dan platinum. Prestasi yang bikin iri para musisi indie yang masih berjuang cari pendengar di Spotify.

Kesuksesan VOLBEAT nggak berhenti di situ. Single terbaru mereka, “Time Will Heal”, baru-baru ini jadi nomor 1 di tangga lagu Billboard Mainstream. Ini adalah kali kedua belas mereka meraih posisi puncak. Sebuah rekor yang bikin mereka jadi band asal luar Amerika Utara dengan single nomor 1 terbanyak di Billboard Mainstream Rock chart. Kalau kata anak zaman sekarang, “VOLBEAT emang nggak ada obat!”

Sebelum “Time Will Heal”, lagu “By A Monster’s Hand” juga sempat nangkring di puncak tangga lagu selama tiga minggu. Bahkan, di tahun 2020, lagu “Die To Live” (yang menampilkan Neil Fallon dari CLUTCH) juga berhasil meraih posisi nomor 1. Ini semua bukti bahwa VOLBEAT punya formula ajaib untuk menciptakan lagu-lagu yang nggak cuma enak didengar, tapi juga sukses secara komersial.

“God Of Angels Trust”: Album Terbaru yang Nggak Kalah Nendang

“Time Will Heal” dan “By A Monster’s Hand” adalah dua single yang diambil dari album terbaru VOLBEAT, “God Of Angels Trust”, yang dirilis tanggal 6 Juni lalu. Album ini kayak kumpulan amunisi yang siap meledak di telinga para penggemar. Selain dua single yang sudah disebutkan, ada juga lagu-lagu seperti “Demonic Depression” dan “In The Barn Of The Goat Giving Birth To Satan’s Spawn In A Dying World Of Doom” yang jadi favorit para penggemar.

Kenapa VOLBEAT Bisa Sesukses Ini?

Pertanyaan ini sama sulitnya dengan mencari sinyal di pelosok desa. Tapi, kalau boleh coba-coba menganalisis, ada beberapa faktor yang mungkin jadi kunci kesuksesan VOLBEAT. Pertama, mereka punya gaya musik yang unik—perpaduan antara rock n’ roll, metal, dan elemen musik tahun 50-an. Kedua, mereka nggak takut untuk bereksperimen dan berkolaborasi dengan musisi lain dari genre yang berbeda. Ketiga, mereka punya lirik yang relatable dengan kehidupan sehari-hari, tapi tetap dikemas dengan gaya yang puitis dan metaforis. Ibaratnya, mereka itu kayak tukang masak yang jago meracik bumbu—semua bahan dicampur jadi satu, tapi hasilnya tetap nikmat.

Mark “Barney” Greenway: Bukan Cuma Vokalis Grindcore Biasa

Kehadiran Mark “Barney” Greenway di atas panggung VOLBEAT bukan cuma sekadar gimmick atau ajang pamer. Ini adalah simbol dari keberagaman dan inklusivitas dalam dunia musik metal. Barney, dengan segala kebengisannya, membuktikan bahwa musik metal itu nggak cuma soal distorsi dan teriakan, tapi juga soal kreativitas dan kolaborasi. Dia itu kayak dosen filsafat yang tiba-tiba nge-dj di kelab malam—awalnya mungkin aneh, tapi begitu dilihat, kok… keren juga?

Kolaborasi: Ketika Dua Dunia Bertemu

Kolaborasi antara VOLBEAT dan Barney Greenway adalah contoh nyata bahwa musik itu nggak punya batasan. Genre itu cuma label yang diciptakan oleh manusia. Yang penting adalah bagaimana kita bisa saling menghargai dan belajar dari perbedaan. Kolaborasi ini kayak kopi dicampur teh—mungkin nggak semua orang suka, tapi buat yang berani mencoba, rasanya pasti unik dan nggak terlupakan.

“The Greatest Of All Tours Worldwide”: Sebuah Perjalanan Panjang

VOLBEAT, yang terdiri dari Poulsen, drummer Jon Larsen, bassist Kaspar Boye Larsen, dan gitaris Flemming C. Lund, baru saja menyelesaikan tur Eropa mereka yang bertajuk “The Greatest Of All Tours Worldwide”. Sebuah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa VOLBEAT adalah salah satu band metal paling pekerja keras di dunia. Mereka itu kayak kurir paket—nggak kenal lelah mengantarkan musik mereka ke seluruh penjuru dunia.

Musik Metal: Lebih Dari Sekadar Bising

Buat sebagian orang, musik metal mungkin cuma dianggap sebagai bising yang nggak karuan. Tapi, buat para penggemarnya, musik metal adalah bahasa universal yang bisa menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Musik metal adalah tempat di mana kita bisa mengekspresikan emosi yang terpendam, melepaskan amarah, dan menemukan jati diri. Musik metal itu kayak ojek online—siap mengantarkan kita ke mana pun kita ingin pergi.

Lantas, Apa Makna dari Semua Ini?

Kolaborasi antara VOLBEAT dan Barney Greenway adalah pengingat bahwa musik itu nggak punya aturan. Kita bebas untuk bereksperimen, berkolaborasi, dan menciptakan sesuatu yang baru. Musik adalah tentang kebebasan berekspresi dan merayakan perbedaan. Jadi, jangan takut untuk mendengarkan musik yang aneh, musik yang nggak biasa, musik yang mungkin bikin nyokap kita geleng-geleng kepala. Siapa tahu, di balik kebisingan itu, ada keindahan yang tersembunyi.

Apakah kolaborasi antara band rock n roll dan vokalis grindcore ini akan membuka jalan bagi kolaborasi-kolaborasi aneh lainnya di masa depan? Mungkin saja. Siapa tahu, besok kita bakal lihat Taylor Swift featuring Cannibal Corpse. Atau Billie Eilish featuring Gorgoroth. Dunia ini penuh dengan kejutan. Dan musik metal selalu siap untuk memberikan kejutan-kejutan itu.

Previous Post

Arc Raiders: Event Baru ‘Staking Our Claim’ Kasih Reward Gratisan!

Next Post

Anggaran Uni Eropa 2026 Disetujui: Lebih Banyak Dana Untuk Riset, Pertanian, dan Keamanan!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *