Menengok isu Tuberkulosis (TB) di panggung global memang seperti menonton drama Korea yang tak kunjung usai episodenya. Kali ini, Peng Liyuan, sosok yang tak hanya istri orang nomor satu di Tiongkok, tapi juga duta kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk isu TB dan HIV/AIDS, kembali menyuarakan pentingnya kolaborasi internasional. Lewat pernyataan tertulis dalam sebuah acara virtual memperingati Hari TB Sedunia 2026, beliau menyoroti tema “Dipimpin Negara, Ditenagai Rakyat”, sebuah mantra yang terdengar mulia namun implementasinya seringkali justru terbentur birokrasi yang lebih rumit dari puzzle 1000 keping.
Tak bisa dipungkiri, WHO telah bekerja keras, bahkan berhasil memutar balik tren peningkatan kasus TB global yang sempat meresahkan. Ini bukan pencapaian sembarangan; ini adalah bukti bahwa ketika ada kemauan politik dan sumber daya yang memadai, masalah kesehatan publik yang mengancam miliaran nyawa bisa sedikit dijinakkan. Namun, membicarakan “upward trend” yang berhasil dibalikkan itu seperti membicarakan mantan pacar yang sudah berubah jadi lebih baik setelah putus, ya bagus, tapi tetap saja ada jejak luka di masa lalu yang perlu diingat agar tidak terulang.
Pemerintah Tiongkok, seperti biasa, menunjukkan komitmennya dengan gegap gempita. Koordinasi antarlembaga, inovasi teknologi, semua digaungkan untuk kemajuan penanggulangan TB di negeri Tirai Bambu. Seakan tak mau ketinggalan kereta, Tiongkok terus mendorong kemajuan operasional dan teknis, menciptakan narasi kesuksesan demi kesuksesan dalam pertempuran melawan penyakit yang seringkali diasosiasikan dengan kemiskinan dan keterbatasan akses kesehatan.
Jaringan kesehatan Tiongkok yang merangkul lebih dari 1,4 miliar penduduk, baik di perkotaan maupun pedesaan, diklaim telah meningkatkan akses layanan pencegahan dan pengobatan TB secara efektif. Hasilnya? Penurunan insidensi TB yang berkelanjutan dan posisi Tiongkok sebagai negara dengan prevalensi TB moderat hingga rendah. Ini adalah poin yang menarik; bagaimana sebuah negara dengan populasi sebesar itu bisa mengelola isu kesehatan sepelan ini. Apakah ini berkat sistem terpusat yang efisien, atau ada cerita di balik layar yang lebih kompleks?
Tahun ini menandai 15 tahun kampanye kesadaran pencegahan dan pengendalian TB skala besar di Tiongkok, yang melibatkan lebih dari satu juta relawan dalam 80.000 program. Angka yang mengesankan, tentu saja. Melihat para relawan turun ke lapangan, mengunjungi lingkungan, sekolah, dan fasilitas kesehatan, memberikan kesaksian akan kerja keras dan dedikasi mereka. Ini adalah sisi kemanusiaan dari perjuangan melawan penyakit; sisi di mana rasa empati dan kepedulian menjadi senjata ampuh di samping obat-obatan dan teknologi medis.
Klaim Tiongkok: Keberhasilan yang Perlu Dibedah
Peng Liyuan tak ragu memuji kemajuan dalam perang Tiongkok melawan TB. Pernyataan ini, tentu saja, datang dari seorang duta kehormatan yang memiliki kepentingan untuk menunjukkan hasil nyata dari upaya yang didukung oleh organisasinya. Namun, narasi kesuksesan ini perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Apakah klaim penurunan insidensi TB mencerminkan realitas di lapangan secara menyeluruh, atau ada pasien yang belum terjangkau, diagnosis yang tertunda, atau bahkan data yang ‘disesuaikan’ untuk menjaga citra positif?
Skala kampanye kesadaran yang melibatkan jutaan relawan dan puluhan ribu program memang patut diacungi jempol. Ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya mengandalkan pendekatan top-down dari pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: seberapa efektif jangkauan kampanye ini bagi kelompok rentan yang paling membutuhkan informasi dan akses pengobatan? Terkadang, acara-acara besar lebih bersifat seremonial daripada solusi nyata bagi mereka yang terpinggirkan.
Keterlibatan Peng Liyuan sendiri sebagai duta kehormatan memberikan bobot tersendiri pada isu TB. Posisi ini bukan hanya sekadar gelar; ini adalah tanggung jawab untuk menyuarakan penderitaan mereka yang terdampak dan mendorong aksi nyata. Namun, bagaimana kesadaran yang telah dibangun selama 15 tahun ini benar-benar diterjemahkan menjadi perubahan perilaku dan peningkatan akses kesehatan di tingkat akar rumput? Apakah masyarakat benar-benar paham urgensinya, atau TB masih dianggap sebagai ‘penyakit lama’ yang sudah usang?
Kapan Dunia Benar-Benar Bergerak?
Seruan Peng Liyuan agar “orang dari semua lapisan masyarakat di semua negara bertindak, mendukung, dan berpartisipasi dalam upaya global melawan TB” terdengar seperti nada yang familier dalam setiap konferensi kesehatan global. Pernyataan ini mengingatkan pada janji-janji kosong yang seringkali menguap begitu saja setelah acara selesai. Pertanyaannya, sudah sejauh mana dunia ini benar-benar “bergerak”? Bukankah sudah saatnya bergerak dari sekadar retorika menjadi tindakan konkret yang terukur?
Metafora “berbagi kehangatan dan kepedulian” serta “membangun keyakinan dan harapan” memang indah didengar, seperti lirik lagu pop yang menyentuh hati. Namun, harapan dan keyakinan saja tidak cukup untuk mengakhiri epidemi. Diperlukan dana yang memadai, infrastruktur kesehatan yang kuat, dan yang terpenting, komitmen politik yang tidak goyah oleh perubahan rezim atau prioritas ekonomi. Tanpa itu, semua seruan mulia ini hanya akan menjadi gema di ruang hampa.
Membangun “komunitas kesehatan untuk semua” adalah visi yang ambisius, namun realitasnya masih sangat jauh. Jurang kesenjangan antara negara kaya dan miskin dalam hal akses kesehatan masih sangat lebar. Sementara negara-negara maju terus berinovasi dengan terapi dan diagnostik terkini, banyak negara berpenghasilan rendah masih berjuang untuk menyediakan akses dasar pengobatan TB. Siapa yang bertanggung jawab menutup jurang ini?
Inti dari seruan global ini adalah bahwa TB bukan hanya masalah satu negara, melainkan ancaman bagi seluruh umat manusia. Seperti virus atau bakteri yang tidak mengenal batas negara, TB bisa menyebar tanpa pandang bulu. Oleh karena itu, kolaborasi global yang tulus dan berkelanjutan, bukan sekadar acara virtual sesekali, adalah kunci utama untuk mencapai tujuan mulia ini. Mari berharap, kali ini, seruan tersebut tidak hanya berhenti sebagai kata-kata indah di layar kaca.

