Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Where Winds Meet: Ambisi Wuxia yang Terhalang Masalah Teknis & Grind Berat

Bayangkan dunia Wuxia yang penuh warna, karakter karismatik yang bisa lari di dinding dan terbang, plus intrik politik sekelam kopi tubruk. Where Winds Meet terdengar seperti resep RPG yang bikin nagih. Tapi, tunggu dulu! Sebelum Anda terhanyut dalam fantasi ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Apakah game ini benar-benar seindah yang dibayangkan, atau hanya fatamorgana di tengah gurun grinding?

Wuxia: Ketika Seni Bela Diri Bertemu Dunia Terbuka

Jika Anda pernah menonton film seperti Crouching Tiger, Hidden Dragon atau Kung Fu Hustle, Anda sudah familiar dengan Wuxia. Genre ini penuh dengan aksi akrobatik, karakter yang kuat, dan dunia yang luas untuk dijelajahi. Where Winds Meet mencoba menghadirkan pengalaman Wuxia ini ke dalam bentuk video game, dan lumayan berhasil dalam menciptakan atmosfer yang tepat. Setting di Tiongkok abad ke-10 yang fiktif memberikan nuansa politik yang kompleks, di mana klan-klan kuat saling bersaing untuk kekuasaan. Anda berperan sebagai yatim piatu yang dibesarkan oleh pembuat anggur, dan bertekad mencari jati diri di dunia yang penuh bahaya dan petualangan.

Sayangnya, petualangan ini tidak selalu mulus. Terjemahan bahasa Inggris yang kurang oke membuat dialog terasa aneh dan bertele-tele. Bayangkan adegan dramatis yang seharusnya bikin merinding, malah jadi bikin mengerutkan kening karena kalimatnya nggak nyambung. Belum lagi masalah teknis seperti suara yang tumpang tindih atau hilang sama sekali. Ini seperti nonton film bajakan dengan subtitle yang nggak sinkron – ganggu banget!

Pertarungan Ala MMO: Lebih Taktis daripada Sekadar Pencet Tombol

Salah satu hal yang menarik dari Where Winds Meet adalah sistem pertarungannya. Setiap dari tujuh senjata terasa unik dan mematikan, dengan gaya bertarung yang berbeda-beda. Anda bisa membawa dua senjata sekaligus, memberikan fleksibilitas dalam menghadapi berbagai macam musuh. Namun, yang membuat sistem ini menarik adalah elemen strategi yang kental. Anda harus memadukan serangan dan kemampuan dengan tepat untuk memaksimalkan damage. Lebih mirip main MMO daripada game action murni. Bagi yang sudah bosan dengan sistem button mashing, ini bisa jadi angin segar.

Namun, ada satu masalah: mendapatkan senjata baru itu susah. Anda mungkin menemukan payung atau tali cambuk di jalan, tapi nggak bisa langsung dipakai. Anda harus mencari gaya bertarung yang cocok dulu. Bayangkan harus menunggu 10 jam hanya untuk bisa menggunakan payung yang Anda temukan. Udah gitu, payungnya masih underlevel lagi. Apakah worth it menghabiskan sumber daya untuk menaikkan level senjata dan gaya bertarung, hanya untuk tahu apakah Anda suka atau tidak? Mikir keras, deh!

Dunia Terbuka yang Penuh dengan Kejutan (dan Juga Tugas yang Membosankan)

Dunia Where Winds Meet sangat luas dan penuh dengan hal-hal yang bisa dilakukan. Anda mungkin akan terkejut menemukan beruang yang sedang berlatih tai chi. Dan, yang lebih gila lagi, Anda bisa mempelajari gerakan tai chi tersebut dengan cara mengintip dan memainkan minigame yang menantang. Dengan tai chi, Anda bisa melempar beruang tersebut ke batu, mengaduk air, atau bahkan merebut perisai dari tangan musuh. Tapi, di balik momen-momen ajaib ini, ada banyak tugas sampingan yang membosankan. Memancing, membuat kerajinan, duel, dan berburu harta karun – semua ini terasa seperti formula standar yang sudah usang. Nggak ada inovasi yang bikin kita pengin nyobain lebih dari sekali.

Micromanagement: Ketika RPG Berubah Menjadi Spreadsheet Simulator

Setiap kali Anda berhasil menyelesaikan tugas, Anda akan mendapatkan banyak loot. Masalahnya, sebagian besar loot ini nggak ada gunanya. Potion dan makanan akan otomatis digunakan saat dibutuhkan, sementara bahan-bahan crafting akan menumpuk di inventaris Anda. Paling-paling, Anda cuma berharap punya cukup bahan saat mau level up. Hal yang sama berlaku untuk gear. Anda cuma asal pasang gear dengan power level tertinggi, tanpa peduli dengan bonus atau efek lainnya. Padahal, ada banyak banget detail kecil yang bisa Anda optimalkan, seperti meningkatkan crit rate dan damage dengan persentase kecil. Ada juga bonus set jika Anda memasangkan item dengan simbol yang sama. Tapi, semua ini terasa seperti kerjaan yang nggak ada habisnya. Seperti main spreadsheet simulator. Untungnya, ada tombol “Quick Advance” yang bisa otomatis meng-upgrade semua gear Anda. Tapi, keberadaan tombol ini justru menunjukkan betapa nggak pentingnya sistem micromanagement yang rumit ini.

Level Gating: Ketika Game Memaksa Anda untuk Grinding

Di Where Winds Meet, ada yang namanya Breakthrough Test. Ini adalah ujian yang harus Anda lalui untuk bisa terus level up. Anda akan menghadapi gelombang musuh yang harus dikalahkan dalam waktu tertentu. Jika berhasil, level maksimal Anda akan naik, tapi kekuatan musuh juga ikut naik. Ini seperti maju selangkah, lalu mundur dua langkah. Setelah empat Breakthrough Test pertama, ujian ini mulai terasa sulit. Yang lebih menjengkelkan, quest utama mulai di-level gate menjelang akhir permainan. Artinya, Anda harus menghabiskan waktu untuk grinding demi bisa melanjutkan cerita. Bahkan, Breakthrough Test Anda mungkin harus menunggu beberapa jam karena server sedang update. Seperti dipaksa berhenti di tengah jalan. Jangan suruh saya buang-buang waktu!

Where Winds Meet: Ambisi Besar dengan Eksekusi yang Kurang Matang

Where Winds Meet adalah game yang ambisius dengan banyak potensi. Dunia Wuxia yang indah, sistem pertarungan yang taktis, dan elemen RPG yang dalam seharusnya bisa menjadi kombinasi yang mematikan. Namun, masalah teknis, terjemahan yang buruk, micromanagement yang berlebihan, dan level gating yang menyebalkan membuat pengalaman bermain menjadi kurang menyenangkan. Game ini seperti hidangan mewah yang kurang bumbu. Masih bisa dinikmati, tapi sayang banget kalau nggak diolah dengan benar.

Previous Post

Rolldown: Bundler JavaScript Baru Super Cepat Ubah Cara Kita Ngoding?

Next Post

StoryFlow Editor: Bikin Narasi Visual Novel Lebih Interaktif & Offline!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *