Capek dengan destinasi mainstream yang itu-itu melulu? Museum udah, pantai apalagi. Gimana kalo kuburan? Eits, jangan salah paham dulu. Kuburan bukan cuma tempat nakutin yang ada kuntilanaknya. Tapi juga bisa jadi destinasi wisata yang anti-mainstream abis. Seriusan!
Wisata Kuburan: Nggak Seseram yang Dibayangkan
Mungkin terdengar agak nyeleneh, tapi wisata kuburan ini beneran lagi jadi tren di Eropa, lho. Buat para taphophile—sebutan buat mereka yang demen banget sama kuburan dan batu nisannya—jalan-jalan di antara makam itu kayak nemuin harta karun budaya dan sejarah. Bayangin aja, di setiap batu nisan, ada cerita hidup yang terukir. Mulai dari kisah cinta, tragedi, sampai pencapaian seseorang. Lebih seru dari drama Korea, kan?
Jono Namara, seorang filmmaker dan taphophile sejati, udah menjelajahi ratusan kuburan di seluruh Eropa. Katanya, kuburan itu bukan tempat yang serem atau bikin merinding. Tapi justru “museum terbuka” yang penuh dengan seni, arsitektur, dan kepercayaan. Jadi, sambil jalan-jalan, kita bisa belajar banyak hal tentang budaya dan sejarah suatu tempat. Plus, jauh dari keramaian turis yang bikin stress.
Salah satu kuburan favoritnya adalah London’s Magnificent Seven. Di sana, dimakamkan tokoh-tokoh terkenal kayak Karl Marx, Emmeline Pankhurst, dan Sir Henry Tate. Ada juga Père Lachaise di Paris, tempat peristirahatan terakhir Oscar Wilde, Jim Morrison, dan Édith Piaf. Kalo lagi di Brussels, jangan lupa mampir ke Laeken. Katanya sih, Zentralfriedhof di Vienna juga wajib dikunjungi buat para pecinta musik dan puisi.
Overtourism Bikin Mual? Kuburan Solusinya!
Kita semua tahu, kan, overtourism udah jadi masalah serius di banyak negara Eropa? Turisnya tumplek blek di tempat-tempat mainstream, bikin sesak napas dan merusak pengalaman wisata. Nah, wisata kuburan ini bisa jadi alternatif yang menarik. Selain jauh dari keramaian, kita juga bisa merasakan atmosfer yang lebih otentik dan lokal.
Kata Jono Namara, kuburan biasanya terletak di lingkungan perumahan yang tenang, jauh dari turis dan toko suvenir. Jadi, buat nyari kuburan yang menarik, kita harus blusukan dulu ke gang-gang sempit dan jalan-jalan kecil. Dari situ, kita bisa ngeliat bagaimana masyarakat setempat hidup dan berinteraksi. Sekaligus, belajar tentang bagaimana mereka menghormati orang yang udah meninggal. Keren, kan?
Kuburan-Kuburan Keren yang Wajib Masuk Bucket List
Selain Jono Namara, ada juga Dr. Dan O’Brien, seorang sejarawan kematian dari University of Bath. Dia juga demen banget sama kuburan. Awalnya sih, dia cuma iseng jalan-jalan di kuburan pas lagi ada waktu luang. Tapi lama-lama, jadi ketagihan. Sekarang, dia malah hobi nyari memento mori di batu-batu nisan—gambar tengkorak dan tulang yang melambangkan kematian.
Beberapa kuburan favoritnya antara lain Greyfriars Kirkyard di Edinburgh, Tower Hamlets di London, dan Key Hill and Warstone Lane di Birmingham. Katanya, kuburan-kuburan ini lokasinya deket sama tempat wisata populer. Tapi suasananya jauh lebih tenang dan damai. Cocok buat ngadem sejenak dari hiruk pikuk kota.
San Michele: Kuburan Romantis di Tengah Kota Kanal
Dr. O’Brien juga merekomendasikan San Michele di Venice. Ini kuburan yang masih aktif dan terletak di sebuah pulau kecil. Suasananya tenang banget, cocok buat jalan-jalan santai atau sekadar duduk-duduk sambil menikmati pemandangan. Ada juga pet cemetery di Bath’s Parade Gardens yang super imut dan tersembunyi di tengah kota.
Buat yang pengen wisata kuburan di luar Eropa, Dr. O’Brien merekomendasikan New Orleans. Di sana, ada banyak kuburan bersejarah yang menarik buat dikunjungi. Salah satunya adalah St Louis No.1, kuburan tertua di daerah tersebut. Kabarnya sih, tempat ini angker banget. Tapi justru itu yang bikin penasaran, kan?
Wisata Kuburan: Lebih dari Sekadar Lihat Batu Nisan
Mungkin sebagian dari kita masih ngerasa aneh atau nggak nyaman dengan ide wisata kuburan. Tapi buat yang berani nyoba, siapa tahu malah jadi ketagihan. Catherine Warrilow, seorang ahli strategi merek pariwisata di The Plot, bilang kalo sekarang ini, banyak orang yang pengen melakukan “perjalanan penemuan diri” saat berwisata. Mereka pengen terhubung dengan kisah-kisah orang lain dan belajar tentang sejarah suatu tempat.
Menurut Catherine, minat orang buat mengunjungi kuburan semakin meningkat. Dan ini adalah tren yang positif. Karena dengan mengunjungi kuburan, kita bisa terhubung dengan leluhur dan sejarah daerah tersebut. Selain itu, kuburan juga bisa jadi tempat yang indah dan menenangkan.
Catherine juga bilang kalo Gen Z sekarang ini mulai “memberontak” terhadap wisata mainstream yang cuma itu-itu aja. Mereka lebih tertarik buat mengunjungi tempat-tempat yang memungkinkan mereka buat berhenti sejenak dan merenung. Dan kuburan adalah salah satu tempat yang cocok buat itu.
Wisata Anti-Mainstream: Saatnya Jadi Rebel!
Selain kuburan, ada juga tempat-tempat lain yang menawarkan pengalaman wisata yang serupa. Misalnya, kapel-kapel kuno, situs pemakaman kuno, reruntuhan bersejarah, dan tempat-tempat yang terkait dengan cerita rakyat, mitos, dan legenda.
Jadi, tunggu apa lagi? Kalo kamu bosen sama wisata mainstream yang itu-itu aja, cobain deh wisata kuburan. Siapa tahu, kamu malah jadi taphophile sejati dan nemuin pengalaman wisata yang nggak bakal kamu lupain seumur hidup. Plus, kamu juga bisa jadi rebel yang berani melawan arus dan mencari pengalaman wisata yang lebih otentik dan bermakna. Keren, kan?
Daripada capek ngantri di tempat wisata yang penuh sesak, mendingan jalan-jalan di kuburan sambil mikirin arti kehidupan. Siapa tahu, abis dari sana, kamu jadi lebih bijak dan nggak gampang baper kayak netizen zaman sekarang. Tapi inget, jangan lupa bawa kamera buat foto-foto. Biar bisa pamer di Instagram dan bikin temen-temenmu pada iri. Selamat berwisata!

