Bayangkan, sedang asyik rebahan sambil dengerin musik doom folk Swedia, eh, tetangga sebelah malah nyetel dangdut koplo full volume. Persis seperti itulah kejutan yang diberikan Witchcraft dengan EP terbarunya, “A Sinner’s Child”. Setelah album comeback yang disambut bak pahlawan, kini mereka hadir dengan sentuhan yang lebih intim dan… akustik? Mari kita bedah, apakah ini evolusi atau malah devoluasi?
Witchcraft: Dari Retro ke Retro-Spektif?
Bagi yang belum familiar, Witchcraft adalah band yang memicu kebangkitan musik retro-doom di awal tahun 2000-an. Bayangkan Black Sabbath ketemu Nick Drake di sebuah bar kumuh di Swedia – kira-kira begitulah sound mereka. Debut self-titled mereka di tahun 2004 jadi semacam kitab suci bagi para penggemar musik vintage. Tapi, Witchcraft nggak mau terjebak dalam nostalgia. Mereka terus bereksperimen, menambahkan elemen progresif, bahkan menyentuh minimalisme akustik.
Nah, di sinilah letak menariknya. Banyak band yang mencoba berevolusi, tapi hasilnya malah jadi aneh bin ajaib. Untungnya, Witchcraft cukup cerdas untuk tidak kehilangan jati diri mereka. Mereka seperti koki yang tahu persis kapan harus menambahkan garam atau cabai. Hasilnya? Tetap enak, tapi dengan cita rasa yang berbeda.
EP “A Sinner’s Child” ini adalah bukti nyata. Magnus Pelander, otak di balik Witchcraft, benar-benar menelanjangi musik mereka hingga ke akarnya. Kita disuguhi perpaduan antara proto-doom yang kelam dan folk yang lembut. Seolah-olah Pelander ingin menunjukkan bahwa musik bisa jadi sangat sederhana, namun tetap memukau.
Magnus Pelander: Sang Visioner yang (Kadang) Bikin Bingung
Magnus Pelander memang sosok yang unik. Ia bukan cuma vokalis atau gitaris, tapi juga seorang visioner. Ia punya ide-ide gila yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Misalnya, kenapa coba dia kasih judul albumnya “Black Metal” padahal isinya musik akustik yang mellow abis? Mungkin dia cuma pengen bikin kita semua bingung, atau mungkin dia punya alasan yang lebih dalam.
Di EP ini, Pelander semakin mempertegas identitasnya sebagai musisi yang nggak takut bereksperimen. Ia seperti ilmuwan yang mencampur berbagai macam bahan kimia di laboratoriumnya. Kadang hasilnya meledak, kadang hasilnya jadi obat mujarab. Tapi, satu hal yang pasti: ia selalu berusaha menciptakan sesuatu yang baru.
“A Sinner’s Child”: Lebih dari Sekadar EP
“A Sinner’s Child” bukan cuma sekadar kumpulan lagu. Ini adalah potret jujur dari seorang musisi yang sedang mencari jati dirinya. Pelander seperti sedang bercerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia mengajak kita untuk merenung, untuk merenungkan dosa-dosa kita, untuk merenungkan arti kehidupan.
Lagu-lagu seperti “Drömmen Om Död Och Förruttnelse” (cieh, sok Swedia) dan “Själen Reser Sig” (makin sok Swedia) menawarkan kedalaman proto-doom yang bikin merinding. Sementara itu, single utama “A Sinner’s Child” dan sekuelnya “Sinner’s Clear Confusion” memancarkan kelembutan folk yang menenangkan. Lalu, ada juga “Even Darker Days” yang merupakan lagu akustik kelam yang bikin kita pengen nangis di pojokan kamar.
Antara Doom, Folk, dan Curhatan Tengah Malam
Kalau boleh jujur, “A Sinner’s Child” ini terasa seperti curhatan tengah malam seorang teman yang lagi galau. Pelander seperti sedang membuka hatinya dan membiarkan kita melihat semua luka dan kebahagiaannya. Ia nggak berusaha menyembunyikan apapun. Ia tampil apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Perlukah Kita Berdosa untuk Menikmati “A Sinner’s Child”?
Pertanyaan bagus. Jawabannya tentu saja tidak. Kita nggak perlu jadi pendosa untuk menikmati EP ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka telinga dan hati kita. Biarkan musik Witchcraft menyentuh jiwa kita. Biarkan kita merasakan semua emosi yang ingin disampaikan oleh Pelander.
Heavy Psych Sounds Records: Label yang Nggak Pernah Salah Pilih
Satu hal lagi yang patut diapresiasi adalah Heavy Psych Sounds Records. Label ini punya insting yang luar biasa dalam memilih band. Mereka selalu tahu band mana yang punya potensi besar. Witchcraft adalah salah satu contohnya. Heavy Psych Sounds Records seperti punya radar khusus yang bisa mendeteksi band-band underrated yang layak dapat perhatian lebih.
Setelah “IDAG”, Apa Lagi yang Bisa Diharapkan dari Witchcraft?
Setelah kesuksesan “IDAG”, banyak yang bertanya-tanya apa lagi yang bisa diharapkan dari Witchcraft. Apakah mereka akan terus bereksperimen dengan musik akustik? Apakah mereka akan kembali ke akar retro-doom mereka? Atau, apakah mereka akan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dan mengejutkan?
Waktunya Streaming!
Apapun itu, satu hal yang pasti: Witchcraft akan terus menjadi salah satu band yang paling menarik dan berpengaruh di dunia musik doom dan folk. Mereka seperti bunglon yang bisa berubah warna sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Mereka nggak pernah bisa ditebak. Dan itulah yang membuat mereka begitu istimewa.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera dengarkan “A Sinner’s Child” dan biarkan musik Witchcraft menghantui hari-harimu. Siapa tahu, setelah mendengarkan EP ini, kamu jadi pengen ikutan bikin band doom folk juga. Eh, tapi jangan lupa, latihan yang rajin ya!
Doom Folk yang Bikin Merenung: Cocok Buat yang Lagi… Mikirin Cicilan?
Well, setelah semua bahasan mendalam ini, mungkin ada yang bertanya: “Jadi, EP ini bagus atau nggak sih?”. Jawabannya: tergantung. Kalau kamu lagi cari musik yang easy listening dan bikin semangat, mungkin “A Sinner’s Child” bukan pilihan yang tepat. Tapi, kalau kamu lagi pengen merenung, introspeksi diri, atau sekadar mencari pelarian dari kenyataan hidup yang pahit (misalnya, mikirin cicilan yang belum lunas), EP ini bisa jadi teman yang setia.
Pada akhirnya, “A Sinner’s Child” adalah bukti bahwa musik bisa jadi sangat personal dan intim. Pelander mengajak kita untuk masuk ke dalam dunianya, untuk merasakan semua emosi yang ia rasakan. Dan itu adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Tapi ingat, jangan sampai kebawa depresi ya! Tetap semangat, dan jangan lupa bayar cicilan!


