Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

AI di Indonesia: Kolonialisme Digital yang Memeras Perempuan Pekerja Lepas

Lupakan narasi utopis tentang kecerdasan buatan (AI) yang bakal bikin hidup makin gampang kayak beli kuota internet pakai promo dadakan. Buat jutaan perempuan di ekonomi gig Indonesia, AI itu lebih mirip pengawas galak yang nggak pernah tidur. Efisien? Mungkin. Inovatif? Bisa jadi. Tapi buat para perempuan ini, AI justru jadi sumber tekanan yang kian menggunung, bikin mereka harus mikir dua kali sebelum jeda sebentar buat nyiram tanaman.

Penelitian terkini soal pekerja perempuan di ekonomi gig Indonesia mengungkap fenomena yang disebut AI colonialism. Istilah ini bukan sekadar keren-kerenan anak fisip, tapi menggambarkan bagaimana jejak kolonialisme zaman dulu masih bercokol sampai sekarang, cuma bedanya sekarang bungkusnya teknologi dan sistem digital yang bikin pengawasan makin ketat. Ibaratnya, tuan tanah zaman Belanda diganti sama algoritma canggih dari negara-negara maju.

Konsep ini menangkap esensi bagaimana pihak-pihak kuat menggunakan AI—yang sering kali berpusat di negara-negara Global North—untuk mengeksploitasi pekerja di Global South. Mirip banget sama kolonialisme sejarah, iterasi digital ini bergantung pada ekstraksi data, tenaga kerja, dan sumber daya buat ngukuhin relasi kekuasaan yang nggak seimbang. Jadi, ceritanya bukan soal kemajuan teknologi semata, tapi soal siapa yang dapat untung dan siapa yang kebagian beban.

Di Indonesia, platform yang digerakkan AI seperti penyedia layanan transportasi daring dan e-commerce ini menyerap tenaga kerja informal, tapi anehnya, semua risiko dan tanggung jawab malah dilempar balik ke pundak pekerja. Celakanya, perempuan yang paling kena getahnya. Algoritma yang katanya netral ini seringkali nggak paham sama realitas kerja yang melibatkan urusan rumah tangga, kekhawatiran soal keselamatan, dan norma sosial yang berlaku.

Algoritma Bukan Friendzone, Tapi Friend-Zone buat Perempuan

Pasar tenaga kerja Indonesia emang dari sananya udah identik sama sektor informal. Jutaan orang nyari nafkah tanpa kontrak formal atau perlindungan sosial yang jelas. Perusahaan teknologi kayak Gojek, Grab, Maxim, dan Shopee ini nggak lantas bikin sistem jadi lebih formal; mereka cuma mendigitalkan aja. Kerjaan jadi terkesan lebih modern, tapi pondasi ketidakpastiannya tetap sama.

Para pengemudi dikategorikan sebagai ‘mitra’, bukan ‘karyawan’. Konsekuensinya? Nggak ada upah minimum, nggak ada bayaran saat sakit, apalagi cuti melahirkan. Penghasilan sepenuhnya bergantung pada jumlah match dan rating algoritma. Kalau performa lagi jelek, siap-siap aja dompet tipis. Sistem ini dibangun atas asumsi pekerja tunggal yang bebas dari segala kewajiban.

Nah, buat perempuan, struktur ini jadi tamparan keras. Mereka seringkali terperangkap dalam “beban ganda”—pekerjaan yang dibayar dan pekerjaan rumah tangga yang nggak dibayar. Sementara algoritma menuntut ketersediaan tanpa henti, realitas domestik tetap harus dijalani.

Coba bayangin Lia, seorang pengantar makanan berusia 33 tahun. Dia harus bangun sebelum subuh untuk masak dan menyiapkan anak-anak sekolah. Baru setelah semua ‘tugas negara’ di rumah selesai, dia baru bisa log in ke aplikasi. Sistem nggak peduli kalau dia punya anak yang harus diurus; yang dia tahu cuma apakah Lia sedang online atau tidak.

Algoritma platform kan emang suka banget sama ketersediaan yang konstan dan tanpa gangguan. Skema insentifnya minta sekian banyak perjalanan dalam jendela waktu yang sempit. Ini jadi tantangan berat buat mereka yang punya ikatan domestik. Kalau Lia log off sebentar buat jemput anak, bonus potensial bisa hilang. Kalau dia mengurangi jam kerja karena sakit menstruasi atau kelelahan, metrik performanya langsung anjlok.

Kapitalisme neoliberal itu kan ngandelin banget jumlah besar ‘invisible labour’ yang nggak dibayar, kayak ngurus anak dan rumah tangga. Tapi lucunya, dia menolak bayar buat kerjaan itu atau ngasih jaring pengaman buat yang ngerjain. Sistem AI ini, bukannya memperbaiki ketidakseimbangan, malah bikin situasi makin parah.

Pas Cinthia, seorang pengantar makanan tunggal dengan anak balita, jatuh sakit dan nonaktifkan aplikasi selama beberapa hari, dia sadar pas balik lagi tawaran kerjanya jadi lebih sedikit. Rasanya kayak dihukum sistem. Alhasil, dia jadi takut buat berhenti kerja, walaupun badan lagi nggak fit.

Kamuflase ‘Netralitas’ di Balik Interface

Ekonomi digital seringkali sesumbar soal netralitas. Katanya, semua orang punya kesempatan yang sama. Tapi jangan salah, bias gender itu tetap ada, cuma dibungkus lebih rapi aja. Algoritma nggak dirancang secara eksplisit untuk mendiskriminasi, tapi dia beroperasi berdasarkan asumsi pekerja tanpa hambatan pengasuhan—sebuah norma yang secara sistematis merugikan perempuan.

Yanti, pengemudi transportasi daring 43 tahun di Yogyakarta, rutin mengirim pesan ke penumpang pria sebelum menjemput: “Saya pengemudi wanita. Apakah tidak apa-apa?” Seringkali, balasan yang diterima adalah pembatalan mendadak. Aplikasi mencatat pembatalan itu, tapi tentu saja tidak mencatat alasan bias gender di baliknya.

Karena Yanti menghindari bekerja larut malam demi alasan keamanan, dia ketinggalan insentif jam sibuk. Sistem, alih-alih memperhitungkan risiko keamanan, malah menerjemahkannya sebagai produktivitas yang lebih rendah. Ini menunjukkan bagaimana sistem yang terkesan objektif justru memelihara ketidakadilan yang sudah ada.

Para peneliti udah lama mengingatkan bahwa sistem otomatis seringkali justru mencerminkan dan memperkuat ketidaksetaraan sosial yang ada, bukannya menghilangkannya. Di ekonomi platform Indonesia, diskriminasi ini nggak selalu terprogram secara langsung; ia lebih merupakan produk sampingan dari logika desain yang lebih mengutamakan efisiensi daripada kesetaraan.

Di India pun, pengemudi perempuan melaporkan pendapatan rata-rata lebih rendah dibandingkan rekan pria mereka, sebagian karena pilihan terkait waktu dan rute yang didorong oleh kebutuhan keamanan. Algoritma sama sekali tidak memperhitungkan risiko dalam perhitungannya; yang diukur hanyalah output mentah.

Keselamatan, Pengawasan, dan Disiplin Algoritmik

Buat para pengemudi perempuan, keselamatan adalah negosiasi yang konstan. Sekitar 90% perempuan dalam diskusi kelompok fokus memilih pengantaran makanan karena dianggap lebih aman daripada transportasi daring. Tapi jangan salah, pelecehan tetap ada dalam pekerjaan pengantaran.

Lia pernah berbagi pengalaman bagaimana seorang rekan pria melecehkannya dengan komentar tidak pantas saat menunggu pesanan. “Bukan cuma pelanggan,” katanya. “Kadang sesama pengemudi juga.” Saat pandemi COVID-19, pekerja gig sempat dilabeli ‘esensial’. Ironisnya, pendapatan mereka justru anjlok drastis hingga 67% di awal 2020. Untuk menutupi kerugian, banyak yang terpaksa bekerja 13 jam lebih per hari.

Indonesian female online drivers are having dinner together

Para pengemudi ojek daring perempuan di Indonesia berbuka puasa bersama di bulan Ramadan, Maret 2026. Diskriminasi dari algoritma platform seringkali memaksa perempuan ini bekerja lembur.
foto pix/shutterstock

Platform-platform ini tetap mempertahankan metrik kinerja mereka yang kaku di tengah krisis. Pengemudi yang terpaksa berhenti bekerja karena sakit seringkali melihat rating mereka menurun. Kerentanan kesehatan diterjemahkan langsung menjadi penalti algoritmik. Ini adalah bentuk disiplin tenaga kerja melalui infrastruktur digital: kendali bergeser dari mandor ke kode pemrograman.

AI colonialism lebih dari sekadar kepemilikan asing. Ini tentang bagaimana logika ekstraktif terjalin ke dalam sistem digital sehari-hari. Pekerja menanggung beban tenaga, data, waktu, dan risiko—namun platform memegang kendali penuh atas tata kelola algoritma. Sebuah paradoks modern di mana kemajuan teknologi justru melanggengkan pola eksploitasi lama.

Solidaritas Bukan Sekadar Grup WhatsApp

Para pekerja gig perempuan telah membangun jaringan solidaritas yang padat melalui grup WhatsApp dan Telegram. Mereka berbagi informasi tentang perubahan kebijakan, saling memperingatkan tentang pelanggan yang tidak aman, dan bertukar strategi untuk menavigasi pergeseran algoritmik. Sebuah ekosistem dukungan mandiri yang lahir dari kebutuhan bersama.

Jika sebuah akun menjadi “gagu” (menerima sedikit pesanan), pengemudi yang berpengalaman akan “memanaskannya” dengan meningkatkan aktivitasnya sementara waktu. Mereka saling meminjamkan uang untuk bahan bakar, mengumpulkan sumber daya untuk perbaikan kendaraan. Ini adalah bentuk gotong royong digital yang sangat terorganisir.

Ketika ada anggota yang menghadapi pelecehan, yang lain segera menyebarkan informasi untuk melindungi sesama pengemudi. Mereka bahkan mendatangi kantor platform bersama-sama ketika salah satu anggota diskors. Ini bukan sekadar obrolan grup; ini adalah aksi kolektif yang nyata.

Alih-alih menunggu pengakuan formal sebagai karyawan, perempuan-perempuan ini membangun perlindungan di antara mereka sendiri. “Solidaritas di atas pengakuan” ini muncul dari kerentanan bersama sebagai ibu, pengasuh, dan pekerja di ruang yang didominasi laki-laki. Sebuah gerakan bawah tanah yang cerdas.

Bantuan timbal balik mereka mengubah kepedulian menjadi strategi dan bentuk everyday resistance—tindakan halus yang menantang sistem dominan, sambil merefleksikan etika feminis yang khas untuk bertahan hidup melalui solidaritas relasional. Sebuah pemberdayaan yang tumbuh dari akar rumput, bukan dari atas.

Cerita-cerita mereka adalah pengingat penting bahwa di balik setiap algoritma “efisien” ada manusia yang berjuang menyeimbangkan kelangsungan hidup, martabat, dan harapan. Inilah wajah sebenarnya dari ekonomi gig era AI, yang jauh dari gemerlap inovasi.

Previous Post

Malaria Terdesak: AI Ungkap Jaringan Protein Musuh yang Bikin Pusing

Next Post

Retro Gaming: Nostalgia Vs Industri Game Sekarat

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *