Bayangkan, upacara kenegaraan, momen sakral pemberian gelar kehormatan… ditulis oleh AI? Kedengarannya seperti plot distopia dalam film sci-fi, tapi inilah yang mungkin terjadi di Indonesia. Pemerintah berencana menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu menyusun draf penghargaan tahunan. Apakah ini kemajuan teknologi yang patut dirayakan, atau awal dari era di mana robot menggantikan peran manusia dalam segala hal, termasuk memberikan pujian?
AI Menulis Pujian: Antara Efisiensi dan Hilangnya Sentuhan Manusiawi
Departemen Perdana Menteri dan Kabinet (DPMC) mengungkapkan bahwa Unit Penghargaannya akan menguji coba penggunaan AI generatif. Tujuannya? Untuk membantu menyusun kutipan penghargaan yang biasanya menjadi ringkasan singkat prestasi penerima. Bayangkan, sebuah algoritma menganalisis CV, surat dukungan, dan berbagai informasi pribadi, lalu merangkainya menjadi kalimat-kalimat pujian yang… mungkin terdengar agak robotik.
Prosesnya sendiri cukup sederhana. AI akan menghasilkan draf kutipan, yang kemudian akan diperiksa oleh staf manusia sebelum dikirimkan ke penerima penghargaan untuk dikoreksi. Jadi, setidaknya ada filter manusia di sana. Tapi, tetap saja, pertanyaan besar muncul: bisakah AI benar-benar memahami dan menyampaikan esensi dari pencapaian seseorang? Bisakah algoritma merasakan emosi dan semangat yang melatarbelakangi sebuah dedikasi?
Penggunaan AI ini didasarkan pada pengecualian dari kebijakan pemerintah yang biasanya membatasi penggunaan informasi pribadi oleh AI. Sebuah formulir pengecualian yang disetujui oleh Sekretaris Kabinet pada bulan Juli memberikan izin kepada DPMC untuk menggunakan alat AI bernama Paerata. Alat ini dikembangkan oleh Departemen Keuangan dan Central Agencies Shared Services (CASS), dan diluncurkan untuk digunakan oleh departemen pemerintah pada Mei 2024.
Paerata: Robot Pujangga di Balik Layar?
Paerata, si AI pujangga, diklaim memiliki kemampuan untuk mensintesis informasi dan menyajikan ringkasan yang ringkas, sehingga menghemat waktu staf. Formulir pengecualian tersebut juga menekankan bahwa Paerata dirancang untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi dan mempertahankan kepercayaan publik pada sistem penghargaan. Tapi, apakah ini benar-benar jaminan, atau hanya janji manis di era digital?
Informasi pribadi yang akan diolah oleh Paerata mencakup detail seperti riwayat pekerjaan, keterlibatan politik, kegiatan keagamaan dan komunitas, serta informasi kontak nominee, nominator, pendukung, dan bahkan beberapa informasi kesehatan. Bayangkan data-data sensitif ini di tangan sebuah algoritma. Meskipun diklaim aman, tetap saja ada potensi risiko penyalahgunaan atau kebocoran data.
Risiko dan Manfaat: Menimbang Era AI dalam Penghargaan
Pemerintah meyakinkan bahwa Paerata tidak akan belajar dari informasi yang diberikan kepadanya, dan tidak akan menyimpan informasi pribadi tersebut. Semua data akan disimpan dalam database yang aman dengan akses terbatas. Selain itu, Paerata juga tidak dapat membagikan informasi tersebut di luar departemen. Hanya pengguna Paerata yang akan memasukkan nominasi dan surat dukungan, dan menerima kembali draf kutipan.
Namun, skeptisisme tetap ada. Bisakah kita benar-benar mempercayai sebuah algoritma untuk menangani informasi sensitif dengan bijak? Bagaimana jika terjadi kesalahan pemrograman atau celah keamanan yang memungkinkan data bocor ke publik? Apakah ada jaminan bahwa Paerata tidak akan bias atau diskriminatif dalam menyusun kutipan?
Efisiensi vs. Esensi: Apa yang Hilang dalam Terjemahan Algoritma?
Salah satu kekhawatiran utama adalah hilangnya sentuhan manusiawi dalam proses penulisan penghargaan. Kutipan yang ditulis oleh manusia biasanya mencerminkan pemahaman mendalam tentang dedikasi dan pengorbanan seseorang. Mereka bisa menangkap nuansa emosional dan memberikan penghormatan yang tulus. Bisakah AI melakukan hal yang sama?
Mungkin saja, kutipan yang dihasilkan oleh AI akan terdengar generik dan kurang personal. Mereka mungkin akan berfokus pada fakta-fakta dan angka-angka, tetapi gagal menyampaikan esensi dari apa yang membuat seseorang layak mendapatkan penghargaan. Ini seperti memakan makanan yang diproses secara massal – nutrisinya mungkin ada, tetapi rasanya hambar dan kurang memuaskan.
Ctrl+C, Ctrl+V: Masa Depan Penghargaan yang Diotomatisasi?
Tentu saja, ada potensi manfaat dari penggunaan AI dalam penulisan penghargaan. Efisiensi adalah salah satunya. AI dapat memproses informasi dengan cepat dan menghasilkan draf kutipan dalam waktu singkat. Ini dapat membebaskan staf untuk fokus pada tugas-tugas lain yang lebih penting, seperti meneliti dan memverifikasi informasi.
Selain itu, AI juga dapat membantu mengurangi bias dan subjektivitas dalam proses penulisan. Algoritma dapat dirancang untuk memberikan perlakuan yang sama kepada semua nominee, tanpa memandang latar belakang atau afiliasi politik mereka. Ini dapat meningkatkan kepercayaan publik pada sistem penghargaan.
Saatnya Robot Mendapat Penghargaan?
Namun, pada akhirnya, pertanyaan mendasar tetap ada: apakah kita benar-benar ingin menyerahkan tugas penulisan penghargaan kepada mesin? Apakah kita siap untuk menerima kutipan yang dihasilkan oleh algoritma, meskipun terdengar kurang personal dan emosional? Apakah kita rela mengorbankan sentuhan manusiawi demi efisiensi dan objektivitas?
DPMC sendiri mengakui bahwa AI tidak digunakan untuk menulis kutipan untuk daftar penghargaan Tahun Baru 2026, karena kutipan tersebut sebagian besar ditulis sebelum persetujuan internal diberikan untuk menggunakan AI. Setelah menggunakan AI secara substantif untuk menyusun draf kutipan penghargaan, Unit Penghargaan akan menilai apakah penggunaan ini bermanfaat. Penilaian ini akan mencakup dampak privasi penggunaan Paerata, yang saat ini dinilai “rendah” dengan risiko bahaya “dapat diabaikan”.
Di Balik Layar Digital: Masa Depan Birokrasi yang Diotomasikan
Penggunaan AI untuk menulis penghargaan hanyalah salah satu contoh dari semakin banyaknya aplikasi kecerdasan buatan dalam pemerintahan. Di masa depan, kita mungkin akan melihat AI digunakan untuk berbagai tugas, mulai dari menyusun undang-undang hingga memberikan layanan publik. Ini bisa menjadi revolusi birokrasi yang menjanjikan efisiensi dan transparansi yang lebih besar.
Tapi, seperti halnya teknologi baru, ada risiko yang perlu diwaspadai. Kita perlu memastikan bahwa AI digunakan secara bertanggung jawab dan etis, dan bahwa manusia tetap memegang kendali. Kita tidak boleh membiarkan mesin menggantikan peran manusia sepenuhnya, terutama dalam hal-hal yang membutuhkan sentuhan personal dan emosional. Jadi, siapkah kita menyambut era AI dalam birokrasi, atau justru ketar-ketir melihat robot mengambil alih segalanya?


