Arab Saudi tampaknya sudah bosan menunggu mobil-mobil terbang itu tiba-tiba muncul entah dari mana, jadi mereka memutuskan untuk serius mengurus soal kendaraan yang nyetirnya sendiri. Bayangkan saja, tahun 2026 depan, jalanan sana bakal diisi mobil yang bisa mikir sendiri, lengkap dengan regulasi yang bikin pusing tujuh keliling kalau nggak dicermati. Ini bukan soal futuristik semata, tapi soal kepastian hukum agar para pemain di pasar ini nggak main serobot atau bikin mobil yang malah jadi bom berjalan.
Pemerintah Arab Saudi, lewat Saudi Standards, Metrology and Quality Organization (SASO) dan General Authority for Roads (RGA), sudah merilis serangkaian aturan yang mencakup segala aspek: dari standar teknis kendaraan otonom itu sendiri hingga kesiapan infrastruktur jalan. Ini bukan sekadar ‘mari coba-coba’, tapi langkah strategis dalam National Transport and Logistics Strategy mereka. Intinya, mereka ingin memastikan bahwa ketika mobil tanpa sopir ini benar-benar meluncur bebas, semuanya sudah terukur, teratur, dan yang paling penting, aman.
Walaupun regulasi resminya baru berlaku April 2026, Transport General Authority (TGA) sudah lebih dulu menggelar ‘acara pemanasan’ lewat pilot project dan program sandbox. Para operator yang mau coba-coba mobil otonom harus bisa membuktikan diri kalau kendaraan mereka memenuhi semua persyaratan teknis dan keselamatan. Ini seperti ujian masuk yang ketat; nggak sembarangan bisa ikutan main.
Program sandbox ini melibatkan pengujian yang diawasi ketat, evaluasi mandiri, dan validasi teknologi. Tujuannya jelas: memastikan mobil-mobil ini nggak cuma canggih, tapi juga benar-benar andal di jalan raya. Buktinya, WeRide sudah dapat izin mengemudi otonom pertama, dan mereka juga berkolaborasi dengan raksasa seperti Uber dan Ai Driver. Laporan keberhasilan pilot project akhir tahun lalu, yang melibatkan lebih dari 1.000 pengguna, jadi semacam ‘pre-test’ yang meyakinkan sebelum regulasi beneran berlaku.
Aturan ini jelas nggak main-main soal siapa yang kena sanksi. Regulasi berlaku untuk kendaraan otonom itu sendiri, dan semua pihak yang terlibat dalam peredarannya di pasar: mulai dari produsen, perwakilan resmi, importir, sampai distributor. Fokus utamanya adalah kendaraan dengan tingkat otomatisasi tinggi (SAE level 4 dan 5) untuk mobil penumpang dan barang. Baik yang dibuat lokal maupun yang diimpor, semuanya masuk daftar.
Para Pemain Kena Aturan Main
Setiap pemain di ekosistem kendaraan otonom ini punya ‘jatah’ tanggung jawabnya sendiri. Ada kewajiban umum yang harus dipenuhi oleh semua pihak, tapi ada juga tugas spesifik yang dibebankan pada produsen, importir, distributor, dan perwakilan resmi. Perwakilan resmi ini penting, terutama bagi produsen yang beroperasi dari luar Arab Saudi; mereka jadi semacam ‘tangan kanan’ di lapangan untuk memastikan semua berjalan sesuai regulasi.
Kewajiban umum ini mencakup kepatuhan terhadap regulasi, kerja sama dengan otoritas terkait—termasuk menyediakan dokumen dan informasi yang diminta—serta memastikan kondisi transportasi dan penyimpanan produk nggak mengorbankan keselamatan. Kalau ada masalah atau risiko keselamatan yang terdeteksi, mereka harus bergerak cepat melakukan perbaikan, bahkan sampai menarik atau me-recall produk.
Produsen, misalnya, punya tugas berat memastikan kendaraan mereka memenuhi standar teknis, lolos uji kesesuaian, dan mengeluarkan deklarasi kepatuhan. Mereka juga bertanggung jawab atas kepatuhan produksi serial, manajemen risiko produk melalui pengujian, penanganan keluhan, dan tindakan korektif. Plus, mereka harus menyediakan identifikasi produk, instruksi penggunaan dalam Bahasa Arab, dan bekerja sama dengan otoritas kalau ada isu keselamatan.
Importir juga nggak bisa santai. Mereka harus memastikan kendaraan yang masuk sudah melewati prosedur penilaian yang benar, kondisi penyimpanan nggak merusak kualitas, dan tindakan korektif diambil kalau ada ketidaksesuaian atau risiko keselamatan. Distributor pun punya peran; mereka harus verifikasi produk sesuai regulasi dan menjaga kondisi penyimpanan agar kualitas nggak terganggu.
Perwakilan resmi bertugas menjalankan mandat dari produsen, tapi perlu diingat, tanggung jawab utama atas kualitas desain dan manufaktur tetap ada di tangan produsen. Jadi, peran mereka lebih ke fasilitator kepatuhan di lapangan.
Spek Teknis Kendaraan: Lebih dari Sekadar Roda Empat
Regulasi ini juga merinci persyaratan level kendaraan itu sendiri, mencakup aspek keselamatan, operasional, dan lingkungan. Pasal 10, misalnya, menguraikan persyaratan keselamatan esensial untuk meminimalkan risiko bagi pengguna, properti, dan lingkungan. Ini diperjelas lagi dalam tiga lampiran yang mengatur soal pengujian, operasional, dan pengecualian teknis yang berlaku untuk kategori kendaraan otonom tertentu.
Lampiran 1 menetapkan kriteria keselamatan, operasional, dan lingkungan yang harus dipenuhi oleh Sistem Mengemudi Otonom (ADS). Di sini juga diatur berbagai jenis tes untuk membuktikan kepatuhan terhadap persyaratan keselamatan esensial. Tes ini terbagi dua: tes di sirkuit (track testing), yang bisa dilakukan di jalan raya atau fasilitas khusus untuk simulasi kondisi desain, dan tes di dunia nyata (real-world testing) di jalan umum sesuai aturan lalu lintas lokal.
Lampiran 2 membahas persyaratan performa ADS, mencakup kapabilitas fungsional seperti sensor dan persepsi, pengambilan keputusan, dan kontrol kendaraan dalam berbagai skenario. Persyaratan ini juga menyentuh bagaimana sistem harus berperilaku saat terjadi kesalahan atau kondisi tak terduga, demi menjaga tingkat risiko tetap aman.
Paling menarik mungkin Lampiran 3, yang menawarkan sedikit kelonggaran. Di sini diatur soal pengecualian teknis terbatas. Artinya, beberapa persyaratan mungkin bisa dikesampingkan untuk tipe kendaraan otonom tertentu, asalkan memenuhi kondisi yang ditetapkan dalam regulasi. Ini semacam ‘jalan tikus’ yang diberikan agar inovasi nggak terlalu terhambat birokrasi.
Secara keseluruhan, terbitnya regulasi ini adalah tonggak sejarah bagi Arab Saudi dalam menyambut teknologi mobilitas masa depan. Dengan kerangka kerja yang komprehensif ini—mencakup keselamatan produk, standar performa, dan pengawasan regulasi—kepastian hukum bagi para pelaku pasar jadi jauh lebih jelas. Dari kacamata industri, regulasi ini diharapkan bisa memicu investasi dan inovasi, sekaligus mendukung pengembangan infrastruktur dan rantai pasok. Semua langkah ini, kalau dilihat lebih luas, sejalan dengan tujuan ambisius Visi 2030 Kerajaan.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi pengacara Gibson Dunn yang biasa berurusan dengan Anda, atau para penulis di Riyadh:
Mohamed A. Hasan (+966 11 211 9014, malhasan@gibsondunn.com)
Mohammed M. Bashir (+966 11 211 9011, mbashir@gibsondunn.com)
Megren Al-Shaalan (+966 11 211 9001, malshaalan@gibsondunn.com)
Lojain AlMouallimi (+966 11 211 9026, lalmouallimi@gibsondunn.com)
© 2026 Gibson, Dunn & Crutcher LLP. Semua hak dilindungi undang-undang. Untuk kontak dan informasi lainnya, kunjungi kami di www.gibsondunn.com.
Iklan Pengacara: Materi ini disiapkan hanya untuk tujuan informasi umum berdasarkan informasi yang tersedia pada saat publikasi dan tidak dimaksudkan sebagai, tidak merupakan, dan tidak boleh diandalkan sebagai nasihat hukum atau opini hukum atas fakta atau keadaan tertentu. Gibson Dunn (dan afiliasi, pengacara, serta karyawannya) tidak akan memiliki kewajiban apa pun sehubungan dengan penggunaan materi ini. Penyebaran materi ini tidak menciptakan hubungan pengacara-klien dengan penerima dan tidak boleh diandalkan sebagai alternatif untuk nasihat dari konsultan yang berkualitas. Perlu dicatat bahwa fakta dan keadaan dapat bervariasi, dan hasil sebelumnya tidak menjamin hasil yang serupa.


