Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Assassin’s Creed: Dampak Syndicate pada Game Dual-Protagonis & Masa Depan Shadows

Bayangkan begini: dunia game itu seperti warung kopi. Dulu, menunya cuma kopi hitam, sekarang ada kopi susu, kopi tubruk, sampai kopi kenangan mantan. Dulu, karakter game cuma satu, sekarang bisa gonta-ganti, bahkan kadang bingung mau mainin yang mana. Fenomena karakter ganda ini, dari yang keren sampai yang bikin garuk-garuk kepala, ternyata punya sejarah panjang dan lika-liku yang menarik.

Dari Master Chief Sampai Tukang Parkir: Evolusi Karakter Ganda

Dulu, di era console jadul, karakter ganda itu ya paling banter cuma buat co-op. Player 2 jadi kloningan Player 1, bedanya cuma warna baju. Tapi, seiring perkembangan teknologi dan ambisi para developer, karakter ganda mulai punya identitas sendiri. Halo, misalnya, berevolusi dari sekadar Master Chief dan Master Chief Lite, menjadi Arbiter dan Spartan yang punya peran penting dalam cerita. Ini seperti upgrade dari kopi hitam biasa ke kopi dengan barista yang punya cerita cinta sendiri.

Grand Theft Auto V malah lebih gila lagi. Tiga karakter sekaligus dengan latar belakang dan masalah masing-masing. Ini seperti punya tiga kehidupan berbeda dalam satu game. Sementara Red Dead Redemption berani memainkan emosi dengan mengganti karakter utama di tengah cerita, membuat pemain merasa seperti ditinggal pacar pas lagi sayang-sayangnya. Pertanyaannya, kenapa sih developer repot-repot bikin karakter ganda?

Kenapa Satu Itu Nggak Cukup? Perspektif Ganda di Dunia Game

Simpelnya, karakter ganda menawarkan perspektif berbeda. Bayangkan nonton film dari dua sudut pandang yang berbeda. Lebih seru kan? Ratchet & Clank, misalnya, memberikan pengalaman bermain yang variatif dengan perbedaan gameplay antara Ratchet yang jago berantem dan Clank yang jago mikir. The Last of Us memanfaatkan karakter ganda untuk menciptakan rasa rentan dan kuat secara bergantian, seperti naik roller coaster emosi.

Metal Gear Solid 2 bahkan berani memainkan persepsi pemain dengan karakter Raiden yang kontroversial. Ini seperti dikasih kopi yang rasanya aneh, tapi bikin penasaran. Tapi, ada satu game yang layak dapat apresiasi karena berhasil mendobrak batasan karakter ganda, yaitu Assassin’s Creed Syndicate.

Assassin’s Creed Syndicate: Ketika Perempuan Juga Boleh Jadi Assassin

Assassin’s Creed Syndicate, yang dirilis tahun 2015, hadir setelah Assassin’s Creed Unity yang menuai kritik pedas. Selain memperbaiki gameplay, Syndicate memperkenalkan Evie Frye, protagonis perempuan pertama dalam seri utama Assassin’s Creed. Ini bukan sekadar gimmick, tapi langkah penting dalam representasi perempuan di dunia game.

Dulu, developer beralasan bikin karakter perempuan itu ribet, butuh animasi dan desain kostum yang beda. Tapi, Syndicate membuktikan bahwa karakter perempuan bisa sama kerennya, bahkan lebih keren dari karakter laki-laki. Evie Frye bukan cuma tempelan, dia punya kemampuan dan motivasi sendiri. Dia seperti kopi susu yang manisnya pas, nggak bikin eneg.

Evie Frye: Lebih Populer dari Jacob, Bukti Bahwa Cewek Juga Bisa Jagoan

Meski promosi dan box art lebih menyoroti Jacob, saudara kembar Evie, ternyata Evie lebih populer di kalangan pemain. Penampilannya bahkan dinominasikan untuk penghargaan DICE. Ini membuktikan bahwa pemain nggak peduli gender, yang penting karakter itu menarik dan punya cerita yang kuat. Popularitas Evie membuka jalan bagi karakter perempuan lain di game-game Ubisoft.

Setelah Syndicate, Ubisoft mulai berani bereksperimen dengan karakter yang bisa dikustomisasi gender dan etnisnya, seperti di Far Cry 5 dan Immortals: Fenyx Rising. Assassin’s Creed Odyssey bahkan memberikan pilihan antara Alexios dan Kassandra, sementara Valhalla punya Eivor yang bisa berganti gender sesuka hati. Tapi, di balik kebebasan ini, ada cerita yang lebih kompleks.

Di Balik Layar Ubisoft: Tekanan dan Prasangka Soal Karakter Perempuan

Ternyata, ada laporan yang mengungkap bahwa Kassandra sebenarnya adalah karakter utama Odyssey sebelum Alexios ditambahkan karena prasangka bahwa game dengan karakter perempuan nggak akan laku. Begitu juga dengan Syndicate, awalnya Evie dan Jacob punya porsi yang sama, tapi kemudian Jacob lebih ditonjolkan. Ini seperti kopi yang awalnya mau dikasih susu full cream, tapi cuma dikasih sedikit karena takut kemanisan.

Bahkan, Assassin’s Creed Origins awalnya berencana membunuh Bayek dan mengganti perspektif ke istrinya, Aya. Tapi, rencana ini dibatalkan. Semua ini menunjukkan bahwa di balik layar, ada tekanan dan prasangka yang mempengaruhi keputusan kreatif para developer. Tapi, di tengah tekanan itu, para developer Creed berhasil menciptakan tren karakter ganda yang terus berkembang hingga saat ini.

Dari Spider-Man Sampai The Last of Us: Ketika Karakter Ganda Jadi Lebih Dalam

Tren karakter ganda nggak cuma soal punya dua karakter yang bisa dimainkan, tapi juga soal memberikan kedalaman narasi. Spider-Man, misalnya, membangun karakter Miles Morales secara bertahap sehingga kehadirannya di Marvel’s Spider-Man 2 terasa natural dan penting. The Last of Us Part II berani memainkan emosi pemain dengan memperkenalkan Abby, karakter yang awalnya dibenci tapi kemudian dipahami.

Clair Obscur: Expedition 33 bahkan memutar perspektif antara tiga karakter, memberikan pemain pemahaman yang lebih utuh tentang dunia game. Dalam kasus ini, kontribusi karakter terhadap narasi lebih penting daripada sekadar durasi bermain. Ini seperti kopi yang dicampur dengan bahan lain, menghasilkan rasa yang unik dan kompleks.

Karakter Ganda: Bukan Sekadar Tren, Tapi Masa Depan Dunia Game

Berbeda dengan tren lain seperti rhythm game atau battle royale, karakter ganda punya potensi yang lebih besar. Ini bukan sekadar gimmick, tapi mekanik yang bisa memperkaya cerita dan pengalaman bermain. Pemain umumnya suka dengan ide berganti-ganti karakter, memberikan variasi dan perspektif baru. Beberapa game bahkan nggak akan sama tanpa karakter ganda.

Seperti yang ditunjukkan Assassin’s Creed, karakter ganda bisa membantu sebuah seri tetap relevan dan menarik. Jadi, jangan heran kalau di masa depan kita akan melihat lebih banyak game dengan karakter ganda, dengan cerita yang lebih dalam dan kompleks. Siapa tahu, nanti ada game yang karakternya bisa gonta-ganti gender dan identitas sesuka hati, seperti gonta-ganti baju di lemari. Yang penting, ceritanya tetap menarik dan nggak bikin ngantuk.

Previous Post

Intelijen Rusia: 3 Pria di Inggris Ditangkap karena Diduga Membantu Spionase Kremlin

Next Post

Nebraska ’82: Springsteen Ungkap Kegagalan Jadi Inspirasi Album Ikonis

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *