Di tengah hiruk pikuk isu lingkungan yang kerap kali dibungkus narasi keputusasaan, muncul secercah harapan—atau mungkin lebih tepatnya, gelombang enzim—dari gerakan pemuda Buddha di Banten. Mereka melakukan sesuatu yang tak biasa: menyiramkan 10.000 liter ramuan ajaib bernama ecoenzyme ke Sungai Jeletreng yang malang, sungai yang kabarnya sempat jadi korban kekerasan kimiawi gara-gara ulah gudang penyimpanan yang terbakar. Aksi ini bukan sekadar tebar pesona, melainkan manifestasi nyata dari apa yang disebut sebagai ecotheology, sebuah konsep yang mungkin terdengar akademis, tapi justru terbukti bisa dijalankan di lapangan, bahkan oleh tangan-tangan muda yang energik.
Kementerian Agama, melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, bahkan sampai angkat topi. Baginya, ini adalah peragaan ecotheology yang paling sahih, sebuah bukti bahwa ajaran agama tidak melulu soal ritual di tempat ibadah, tapi juga tentang bagaimana memelihara “rumah” bersama. Pernyataan Supriyadi menyiratkan sebuah harapan, bukan hanya agar gerakan ini terus bergulir, tapi juga agar semakin banyak komunitas yang termotivasi untuk berkreasi dengan ecoenzyme. Logikanya sederhana: kalau alam dijaga, maka sumber kehidupan pun akan terjaga. Bukan rahasia lagi, manusia itu parasit yang sangat bergantung pada ekosistem. Jadi, ketika sungai tercemar, itu sama saja dengan menggergaji dahan tempat duduk sendiri.
Sungai Jeletreng, yang nasibnya terhubung dengan Sungai Cisadane, memang sempat menjadi sorotan. Kejadian kebakaran di sebuah gudang penyimpanan di Februari lalu meninggalkan jejak kelam. Air dari upaya pemadaman api, yang bercampur dengan residu bahan kimia berbahaya, tak pelak lagi mengalir deras ke sungai, menciptakan pemandangan yang menyedihkan dan aroma yang mungkin tak sedap. Dampaknya tak hanya visual, tapi juga ekologis. Kehidupan akuatik di dalamnya terancam, keseimbangan ekosistem terganggu, dan air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berpotensi menjadi sumber penyakit. Situasi ini menjadi bukti konkret betapa rentannya alam terhadap aktivitas manusia, terutama ketika kelalaian dan kecelakaan industri bersatu padu.
Supriyadi lebih lanjut menjelaskan esensi ajaran Buddha yang sangat menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam. Bukan sekadar konsep filosofis yang indah didengar, melainkan sebuah pandangan hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian integral dari alam semesta. Ada penekanan kuat pada tanggung jawab moral setiap individu untuk merawat segala aspek kehidupan, mulai dari hutan rimba yang megah hingga sumber air yang mengalir jernih. Ajaran ini bukan hanya tentang menghindari perusakan, tetapi juga tentang melakukan pemeliharaan aktif. Ketergantungan manusia pada alam bukan dianggap sebagai kelemahan, melainkan sebagai pengingat akan posisi manusia yang seharusnya rendah hati dan penuh rasa syukur.
Lebih dalam lagi, Supriyadi mengaitkan aksi ini dengan konsep Paticcasamuppada, sebuah prinsip fundamental dalam ajaran Buddha yang mengajarkan tentang saling ketergantungan segala sesuatu. Semua makhluk hidup, dari mikroorganisme terkecil hingga manusia yang merasa paling berkuasa, semuanya terjalin dalam sebuah jaring kehidupan yang kompleks. Pemahaman ini menjadi fondasi moral yang kuat bagi umat Buddha untuk bertindak sebagai pelindung lingkungan. Ketika satu elemen dalam jaring tersebut rusak, maka seluruh jaring akan ikut terpengaruh. Oleh karena itu, menjaga sungai, hutan, udara, dan seluruh aspek alam adalah tindakan menjaga diri sendiri dan sesama makhluk hidup.
Rekor MURI: 10.000 Liter “Ramuan Ajaib” Mengalir
Aksi penyebaran 10.000 liter ecoenzyme ini bukan hanya peristiwa lingkungan biasa. Gerakan Gemabudhi berhasil mencatatkan namanya dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai rekor penyebaran ecoenzyme terbanyak ke dalam sungai. Ini bukan sekadar pencapaian simbolis, melainkan penanda bahwa inisiatif ini memiliki skala dan dampak yang signifikan, setidaknya dalam catatan rekor nasional. MURI, yang biasanya mencatat hal-hal unik atau luar biasa, kali ini melihat sebuah aksi yang menggabungkan pelestarian alam, perayaan hari jadi, dan inovasi solusi ramah lingkungan. Sebuah kombinasi yang patut diapresiasi.
Upaya ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-40 Gemabudhi. Menariknya, momentum perayaan tidak hanya diisi dengan pesta pora, tetapi juga dengan aksi nyata yang berkontribusi pada perbaikan kualitas lingkungan. Targetnya jelas: membantu memulihkan kualitas ekologis Sungai Cisadane, yang salah satu anak sungainya, Jeletreng, sempat tercemar parah. Alih-alih sekadar mengadakan acara seremonial yang mungkin hanya ramai sesaat, Gemabudhi memilih untuk memberikan “hadiah” yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi lingkungan. Ini menunjukkan kematangan organisasi dan kesadaran akan tanggung jawab sosial mereka.
Jusuf Ngadri, Direktur Operasional MURI, turut menyaksikan langsung momen bersejarah ini. Pernyataannya menegaskan bahwa MURI hadir untuk mencatat dan mengapresiasi segala bentuk inovasi dan dedikasi yang dilakukan oleh masyarakat, termasuk pemuda Buddhis dalam kasus ini. Pengakuan dari MURI tentu memberikan dorongan moral yang besar bagi Gemabudhi dan komunitas yang terlibat. Ini juga menjadi sinyal bagi publik luas bahwa ada kelompok masyarakat yang serius memperjuangkan kelestarian lingkungan, bahkan dengan cara yang tidak konvensional. Kehadiran MURI seolah berkata, “Ini bukan sekadar gerakan kecil, ini adalah upaya yang patut dicatat dan ditiru.”
Ecoenzyme sendiri, menurut berbagai sumber, adalah hasil fermentasi dari limbah organik, seperti sisa buah dan sayuran, yang dicampur dengan gula merah dan air. Ramuan ini dipercaya memiliki berbagai manfaat, mulai dari membersihkan air, mengurangi bau tak sedap, hingga berpotensi sebagai pupuk organik. Dalam konteks Sungai Jeletreng, ecoenzyme diharapkan dapat membantu menetralkan residu kimia dan memulihkan ekosistem mikroorganisme di dalam air. Proses fermentasi yang menciptakan enzim-enzim bermanfaat ini seolah menjadi metafora dari proses pemurnian dan pemulihan yang diharapkan terjadi pada sungai yang tercemar.
Tanggung Jawab Kolektif, Solusi Inovatif
Pencemaran sungai di Indonesia bukanlah isu baru. Kasus Sungai Jeletreng hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak sungai yang berjuang untuk bertahan di tengah gempuran limbah industri, pertanian, dan domestik. Seringkali, respons pemerintah hanya sebatas penegakan hukum setelah terjadi kerusakan, seperti yang terlihat dalam kasus-kasus serupa di Sungai Cisadane atau Brantas. Meskipun langkah hukum memang penting untuk memberikan efek jera, fokus pada pencegahan dan solusi inovatif, seperti yang dilakukan Gemabudhi, juga krusial. Tanpa kesadaran dan aksi kolektif dari masyarakat, sungai-sungai akan terus menjadi korban kelalaian.
Narasi tentang ecotheology yang digaungkan oleh Kementerian Agama menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan seharusnya terintegrasi dengan nilai-nilai spiritual dan etika. Ajaran agama, dalam berbagai bentuknya, seringkali memiliki pesan yang mendalam tentang pentingnya menjaga harmoni dengan alam. Ketika pesan ini diinterpretasikan secara progresif dan diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, seperti yang ditunjukkan oleh Gemabudhi, maka agama bukan hanya menjadi sumber ketenangan batin, tetapi juga katalisator perubahan sosial yang positif. Ini membuktikan bahwa iman dan aksi lingkungan bisa berjalan beriringan, bahkan saling memperkuat.
Gerakan penyebaran ecoenzyme ini juga membuka diskusi tentang bagaimana metode-metode alternatif dapat menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan. Alih-alih hanya mengandalkan teknologi mahal atau intervensi kimiawi yang berisiko, pendekatan berbasis alam dan komunitas seperti ini menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau. Keberhasilan dalam MURI menjadi bukti bahwa solusi inovatif bisa datang dari mana saja, termasuk dari tangan pemuda yang peduli. Ini adalah panggilan untuk lebih terbuka terhadap berbagai metode pemulihan lingkungan, bukan hanya yang sudah mapan atau konvensional.
Lebih jauh, aksi ini menyoroti peran vital generasi muda dalam isu lingkungan. Dengan energi, kreativitas, dan idealisme yang mereka miliki, pemuda memiliki potensi besar untuk mendorong perubahan. Gemabudhi, melalui perayaan 40 tahunnya, tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga menanam benih masa depan yang lebih hijau. Mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap alam bukanlah beban, melainkan sebuah bentuk ekspresi diri yang membanggakan, sebuah kontribusi nyata yang dapat diukur dan diakui. Ini adalah pesan kuat bagi generasi muda lainnya untuk tidak ragu terlibat aktif dalam upaya pelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, kisah Sungai Jeletreng dan 10.000 liter ecoenzyme adalah sebuah narasi tentang harapan yang tercipta dari kesadaran dan aksi. Ini adalah pengingat bahwa setiap individu, setiap komunitas, memiliki peran dalam menjaga kesehatan planet ini. Aksi Gemabudhi bukan sekadar memecahkan rekor MURI, tetapi lebih dari itu, mereka telah membuktikan bahwa harmoni antara ajaran spiritual dan praktik lingkungan yang berkelanjutan dapat menghasilkan solusi nyata bagi masalah-masalah mendesak. Ini adalah inspirasi yang mengalir, persis seperti ecoenzyme yang mengalir ke dalam sungai, berharap membawa pemulihan dan kehidupan kembali.


