Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Kesehatan Perempuan Asia Tenggara: Kemajuan Lamban, Keadilan Masih Jauh

Tengoklah peta Asia Tenggara: ada kesibukan yang luar biasa di sana, tapi anehnya, kemajuan kesehatan perempuan justru bergerak sepelan siput kejepit pintu. Angka kelahiran remaja masih meroket tinggi, layaknya pendakian gunung tanpa alat pengaman. Metode kontrasepsi modern? Banyak negara terlihat seperti terhenti di garasi, enggan melaju. Dan tahukah, sepersekian dari kematian ibu sedunia itu datang dari Asia Selatan, sebuah fakta yang bisa bikin bulu kuduk berdiri. Belum lagi, kawasan Asia Tenggara memimpin daftar kelam kekerasan dalam rumah tangga, 20.5% perempuan melaporkan insiden dalam setahun terakhir. Ditambah lagi, kesehatan mental, neurologis, hingga masalah zat adiktif, semuanya seolah punya kontrak eksklusif dengan perempuan sepanjang hidup mereka. Seakan dunia ini sedang memainkan pertunjukan komedi satir tentang kesetaraan, tapi hanya satu pihak yang menertawakan leluconnya.

Perayaan Hari Perempuan Internasional 2026, dengan tema “Hak. Keadilan. Aksi. Untuk SEMUA Perempuan dan Anak Perempuan,” sejatinya adalah pengingat bahwa setiap perempuan dan anak perempuan punya hak fundamental untuk meraih standar tertinggi kesehatan dan kesejahteraan. Namun, apakah hak tersebut hanya sebatas jargon di atas kertas, ataukah ada dorongan nyata untuk mengubahnya menjadi realitas yang bisa dirasakan? Ini pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar mengecat tembok dengan warna-warna ceria.

Kesehatan Bukan Olahraga Netral Gender

Mengabaikan perbedaan gender dalam kebijakan kesehatan itu ibarat mencoba memainkan esports tanpa memahami game mechanics. Hasilnya? Ketidaksetaraan yang makin dalam, jurang pemisah yang semakin lebar. Konsep universal health coverage, cakupan kesehatan universal, itu hanya impian kosong jika perempuan dan anak perempuan tertinggal di belakang, terperosok dalam lubang ketidakadilan. Rencana kesiapsiagaan menghadapi bencana pun terasa seperti menyusun strategi perang tanpa memperhitungkan medan tempur spesifik yang dihadapi kaum perempuan saat krisis melanda. Ini bukan soal pilihan, tapi soal fakta lapangan yang terabaikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berjanji untuk mendorong kesetaraan gender, baik dalam ranah kesehatan maupun melalui kesehatan itu sendiri. Program Kerja Umum ke-14 WHO menyertakan indikator hasil yang sangat spesifik: peningkatan “cakupan layanan kesehatan dan perlindungan finansial untuk mengatasi ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender.” Ini bukan sekadar tambahan, melainkan salah satu dari enam tujuan strategis untuk periode 2025–2028, menempatkan gender di jantung strategi WHO dan menuntut akuntabilitas nyata atas setiap hasil yang dicapai. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa gender bukan lagi sekadar kata kunci dalam dokumen, tetapi fondasi dari setiap langkah yang diambil.

Dari Kebijakan Global Hingga Aksi Nyata

Di tingkat global dan regional, WHO aktif menjalankan Rencana Akselerasi Kesetaraan Gender (GEAP) dari Sekretaris Jenderal PBB. Pendekatannya adalah mengintegrasikan prinsip-prinsip kesetaraan gender ke dalam rencana operasional dan anggaran di berbagai kantor dan pusat anggaran. Penggunaan Gender Equality Marker menjadi alat vital untuk melacak alokasi dan pengeluaran finansial, memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan berkontribusi pada kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban finansial yang terukur, bukan sekadar retorika.

Naik ke level nasional, WHO memantau undang-undang, kebijakan, dan strategi kesehatan nasional untuk memastikan semuanya merefleksikan prinsip kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan keadilan. Ini bukan pekerjaan mudah, sebab seringkali ada jurang pemisah antara niat baik dan implementasi di lapangan. Integrasi gender di seluruh siklus perencanaan terus diperkuat, dan Kantor Perwakilan WHO di berbagai negara berupaya meningkatkan kapasitas mereka untuk menerapkan gender markers dalam perancangan program, penganggaran, dan pemantauan. Ibaratnya, mereka sedang membangun jembatan dari teori ke praktik.

Sebagai contoh nyata, kampanye #BecozSheMatters yang diluncurkan pada tahun 2025 di Sistem Metro Delhi, sebuah kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India serta Kantor Perwakilan WHO di India, berhasil menjangkau hampir 200.000 orang setiap hari selama 16 Hari Aktivisme Menentang Kekerasan Berbasis Gender. Pesan-pesan tentang kesehatan dan kesejahteraan perempuan disebarkan melalui sarana transportasi publik yang padat. Ini adalah contoh bagaimana inisiatif yang kreatif dan terencana dapat menghasilkan dampak yang signifikan pada skala yang besar, menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Kesehatan dan kesejahteraan, pada dasarnya, adalah titik masuk sekaligus akselerator yang ampuh untuk mencapai kesetaraan gender. Kepemimpinan yang berani, suara yang lantang, dan tindakan sehari-hari yang konsisten dapat menjadi katalisator perubahan yang transformatif. Pada momen Hari Perempuan Internasional ini, seruan untuk melindungi hak atas kesehatan dan kesejahteraan perempuan dan anak perempuan, baik dalam hukum, kebijakan, maupun praktik, semakin menggema. Ini bukan permintaan, melainkan desakan untuk memastikan hak tersebut dihormati dan dilindungi sepenuhnya.

Melalui penegakan hak, perwujudan keadilan, dan aksi nyata, progres kesehatan dan kesejahteraan untuk semua perempuan dan anak perempuan di Asia Tenggara dapat benar-benar terwujud. Ini adalah sebuah peta jalan yang kompleks, penuh tantangan, namun dengan komitmen yang tepat dan langkah yang terukur, hasilnya akan lebih memuaskan daripada sekadar memenangkan sebuah match point tanpa keringat.

Previous Post

CT Scan Lansia: Makin Sering, Makin Cemas Radiasinya

Next Post

Biksu Tumpahkan 10.000 Liter Ecoenzyme, Selamatkan Sungai Sekaligus Rekor MURI

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *