Di tengah gempuran tren yang datang dan pergi secepat kilat—mirip notifikasi promo diskon yang muncul tiba-tiba lalu lenyap begitu saja—banyak merek merasa sedang berlomba maraton tanpa peta. Mereka mencoba mengejar setiap ‘flash mob’ budaya, berharap bisa ikut nge-hype, padahal seringnya malah berakhir dengan canggung dan bikin cringe. Fenomena ini seringkali membuat para pemasar bingung, apakah harus jadi trendsetter atau sekadar follower yang telat. Padahal, rahasia untuk benar-benar menancap di benak konsumen mungkin lebih sederhana: pahami saja apa yang membuat mereka ‘hidup’.
Secara fundamental, pemasaran berbasis budaya (culture-first marketing) berpusat pada upaya menciptakan makna dari hal-hal yang masyarakat konsumsi. Jika sebuah merek fokus pada penciptaan makna, besar kemungkinan merek tersebut juga berupaya keras untuk meraup keuntungan finansial. Budaya adalah relevansi; sebuah merek harus relevan dalam konteks audiens targetnya, bukan sekadar ada.
Pencitraan atau periklanan yang menempatkan budaya sebagai prioritas utama bukanlah sekadar mengikuti tren sesaat. Pendekatan ini justru menggali lebih dalam dari apa yang biasa disebut ‘tren’. Tren sering diibaratkan seperti banjir bandang: tiba-tiba muncul, berisik, dan berumur pendek.
Sebaliknya, budaya itu seperti sungai yang terus mengalir, membentuk lanskap, menopang kehidupan, dan membawa memori. Merek yang mengalir bersama ‘sungai’ ini, dipandu oleh kecerdasan budaya, akan menjadi bagian dari ingatan kolektif. Sementara itu, merek yang hanya mengejar ‘banjir bandang’ mungkin terlihat sejenak, lalu hilang begitu saja.
Ketika sebuah merek berhasil berperilaku layaknya produk budaya, bukan hanya sekadar barang untuk dikonsumsi, dampaknya akan semakin terasa terutama saat musim perayaan. Jika ingin membentuk cara masyarakat berbicara, bertindak, atau apa yang dihargai, merek harus terlebih dahulu membentuk ideologi budayanya. Hanya dengan begitu merek dapat mengalir ke dalam produksi budaya yang lebih luas seperti musik, film, sastra, tari, atau fesyen.
Bukan Sekadar ‘Nge-trend’, Tapi ‘Nge-akar’
Contoh yang bisa diambil adalah Amul. Banyak merek dengan maskotnya kini terlupakan, tetapi Amul girl berhasil bertahan, bahkan berkembang pesat. Maskot ini selalu relevan karena mencerminkan suasana budaya India, politik, kriket, festival, dan momen-momen yang meme-able. Merek ini merefleksikan bagaimana orang berbicara, tertawa, dan hidup. Itulah mengapa Amul bukan sekadar merek susu; ia adalah penanda emosional.
Ambil contoh industri kecantikan. Selama bertahun-tahun, kecantikan saat festival selalu dibingkai di sekitar konsep ‘kulit cerah’. Namun, hari ini ideologinya telah bergeser ke arah wellbeing. Dari kesehatan tubuh hingga kesehatan kulit, dari kesehatan pencernaan hingga kesehatan mental, setiap lapisan menjadi lebih granular. Ini bukan hanya strategi pemasaran; ini mencerminkan bagaimana masyarakat sendiri menata ulang definisi kecantikan.
Demikian pula dengan perhiasan, yang seringkali melangkah melampaui produk untuk menyentuh nada-nada budaya tentang kebersamaan. Perhiasan tidak hanya menjual aksesori; ia membentuk cara masyarakat membayangkan individualitas, cinta, hadiah, dan kenangan. Merek-merek seperti ini seolah berbisik di telinga konsumen, “Ini bukan hanya perhiasan, ini adalah cerita yang bisa kamu pakai.”
Merek F&B seperti Swiggy dan Zomato, pada titik terbaiknya, tidak hanya menjual makanan selama festival. Mereka mengingatkan tentang kerinduan, jarak, dan kebersamaan. Quick commerce sedang mendefinisikan ulang makna menunggu. Antisipasi festival kini bertemu dengan ketersediaan instan, mengubah cara masyarakat berbelanja, memberi hadiah, dan merayakan.
Resep Rahasia: Kecerdasan Budaya Ala LOCUL
Di sinilah pemikiran culture-first menjadi sesuatu yang bisa diterapkan. Di Fire & Waterr Consulting, framework LOCUL dikembangkan untuk menyederhanakan nuansa budaya menjadi lima isyarat penting. Framework ini bukan sekadar daftar checklist yang harus dicentang, melainkan isyarat hidup untuk memasuki budaya dengan rasa hormat dan orisinalitas, memastikan merek tidak cuma ikut meramaikan, tapi benar-benar menjadi bagian dari cerita.
- Locality: Perayaan terasa berbeda di kompleks perumahan Jakarta, di desa terpencil di Jawa, atau di antara diaspora di New Jersey. Konteks lokal adalah segalanya, ibaratnya vibe pasar malam dengan vibe konser indie itu beda.
- Origin: Ritual tradisional itu penting, namun evolusinya, dari upacara di rumah hingga Zoom aarti bersama keluarga di benua lain, juga tak kalah menarik. Merek harus menghargai akar sekaligus melihat tunas baru yang tumbuh.
- 4 Cs & Truths: Keseimbangan antara kebenaran kategori, realitas konsumen, suara perusahaan, dan makna budaya. Mengabaikan salah satunya bisa membuat kampanye terasa hambar, seperti kopi tanpa gula di pagi hari.
- User Experience: Perayaan zaman sekarang bersifat hibrida, antara undangan WhatsApp, aplikasi belanja, filter AR, berpadu dengan aroma baju baru dan riuhnya kembang api. Pengalaman merek harus mengalir mulus di kedua dunia ini, seolah menjadi jembatan antara dunia maya dan dunia nyata.
- Lingua Franca: Bahasa gaul, bahasa daerah, Hinglish, bahkan emoji. Setiap perayaan berbicara dalam banyak bahasa. Merek harus bisa menyampaikan pesannya sesuai ritme perayaan yang sebenarnya, tanpa misunderstanding atau terkesan sok akrab.
Dari Diskon Instan Menuju Kenangan Abadi
Festival bukanlah sekadar musim pemasaran untuk obral besar-besaran. Ini adalah peluang bagi merek untuk menjadi otoritas budaya, seolah-olah merek tersebut adalah seorang influencer dengan followers yang loyal dan tulus. Apa yang diingat orang bukanlah diskon yang mereka tebus, melainkan apakah sebuah merek membuat mereka merasa terlihat, dipahami, dan dirayakan.
Merek yang memahami kecerdasan budaya akan menjadi milik masyarakat luas. Merek seperti ini tidak hanya ada di ruang rapat para petinggi, namun juga hadir dalam percakapan sehari-hari, menjadi bagian tak terpisahkan dari jalinan kehidupan. Menguasai strategi ini adalah kunci untuk membangun resonansi jangka panjang. Sebuah merek yang benar-benar ‘ngerti’ budaya akan selalu menemukan jalannya untuk berinovasi dan berkembang bersama audiensnya.
Sebaliknya, merek yang hanya fokus pada angka dan transaksi semata, tanpa menyelami kedalaman budaya, akan selamanya menjadi entitas asing. Mereka mungkin sesekali menarik perhatian dengan diskon menggiurkan, namun gagal menciptakan ikatan emosional yang kuat. Pada akhirnya, merek yang tidak ‘nge-hargai’ budaya hanya akan berakhir sebagai jejak kaki yang hilang di pasir.


