Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

BTS Arirang: K-Pop Bangsawan atau Bubur Campur Kopi?

Mendengar album BTS berjudul Arirang, sementara para produser dan bintang tamu internasionalnya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa ibu, lalu video klipnya menampilkan aktris Amerika, dan pertunjukan pembukanya digarap sutradara Inggris untuk disiarkan di Netflix, sungguh sebuah ironi yang mengundang tawa getir. Apa jadinya identitas budaya ketika warisan leluhur hanya jadi sampul, sementara isinya diramu dari berbagai penjuru dunia? Pertanyaan “kurang Korea”-nya album ini seolah memantulkan pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana praktik budaya tradisional mendefinisikan ke-Korea-an seseorang di era globalisasi?

Kembalinya BTS setelah jeda panjang untuk dinas militer dan aktivitas solo sungguh dinanti. Momentum peluncuran album Arirang pada 20 Maret lalu, dengan nama yang sarat makna folklor Korea, seharusnya menjadi perayaan identitas. Arirang, lagu rakyat paling dicintai di Korea, adalah semacam wadah emosional yang menampung ribuan variasi lirik, melodi, dan makna, merefleksikan gabungan antara han (kesedihan mendalam, kerinduan) dan heung (kegembiraan spontan) dari jiwa bangsanya. Panggung pembukaan megah di jalan bersejarah Gyeongbokgung, disaksikan 104.000 penggemar, jelas mengukuhkan posisi mereka sebagai duta budaya Korea.

Namun, justru di sinilah letak geliatnya. Album yang menyandang nama sakral itu justru dominan berbahasa Inggris. Seabrek produser dan penulis lagu papan atasnya berasal dari luar Korea: Diplo dari Amerika Serikat, El Guincho dari Kepulauan Canary, dan Kevin Parker (Tame Impala) dari Australia. Meski sampel musik tradisional Korea diselipkan, keempat belas lagu terhitung berjingkrak dalam ramuan genre yang jelas-jelas lahir di belahan bumi lain – hip-hop, funk, pop-rock, R&B, dan EDM. Video musik untuk lagu “Swim”, yang sejatinya menjadi title track, malah menampilkan Lilli Reinhart, seorang aktris Amerika berdarah Eropa. Panggung pembukaan yang ditata apik oleh Hamish Hamilton, sutradara kawakan Piala Super Bowl dan Olimpiade, disiarkan melalui platform global seperti Netflix, bukan layanan streaming lokal.

Sebuah Candaan Budaya atau Revolusi Identitas?

Kontradiksi ini menimbulkan pertanyaan menggelitik. Bagaimana mungkin sebuah album menyandang nama Arirang, menggelar pertunjukan perdana di jantung ibu kota Korea, namun elemen-elemen yang benar-benar berakar dari Korea justru menjadi minoritas? Ini bukan sekadar soal persentase bahasa atau kewarganegaraan tim produksi; ini tentang esensi. Ketika elemen-elemen global mendominasi karya yang menyandang nama ikon budaya, apakah esensi tradisional itu perlahan terkikis, atau justru sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih universal?

Fenomena ini bukan hanya terjadi di dunia musik. Fenomena serupa dapat diamati dalam berbagai aspek budaya pop. Banyak grup idola global kini memproduksi lagu dalam bahasa Inggris demi jangkauan pasar yang lebih luas. Kolaborasi dengan artis internasional menjadi semacam ‘kartu sakti’ untuk menembus tangga lagu global. Situs web resmi, media sosial, hingga merchandise resmi pun seringkali memiliki versi bahasa Inggris yang lebih dominan, seolah pasar domestik hanya persinggahan sekunder. Ini menciptakan semacam paradoks: semakin besar skala global sebuah grup, semakin jauh pula ia terlempar dari akar kulturalnya sendiri, setidaknya dalam narasi dan presentasi.

Bagi penggemar garis keras, situasi ini bisa jadi memicu kecemasan. Apakah mengikuti tren global berarti mengorbankan keaslian? Apakah menjaga tradisi berarti menolak perkembangan? Jiwa muda yang haus akan pengakuan global seringkali terjebak dalam dilema ini. Ada keinginan kuat untuk menjadi ‘bagian dari dunia’, namun sekaligus ada ketakutan kehilangan jati diri yang unik. Pertanyaan tentang apa yang membuat sesuatu ‘Korea’ menjadi semakin kabur di tengah arus globalisasi yang tak terbendung.

Arirang: Simbol atau Sekadar Nama?

Penggunaan nama Arirang sendiri bisa diinterpretasikan sebagai langkah strategis yang cerdik sekaligus berisiko. Di satu sisi, ini adalah upaya untuk menarik perhatian global dengan memanfaatkan pengakuan internasional terhadap lagu rakyat tersebut. Arirang adalah kode yang langsung dikenali sebagai identitas Korea, bahkan oleh mereka yang minim pemahaman budaya Korea. Di sisi lain, ini menciptakan ekspektasi yang sangat tinggi. Penggemar yang mengharapkan nuansa han dan heung dalam setiap nada dan lirik mungkin akan kecewa ketika yang mereka dengar adalah racikan pop internasional modern.

Diskusi ini membawa kita pada definisi identitas budaya itu sendiri. Apakah identitas budaya bersifat statis, terpaku pada praktik-praktik lama yang harus dilestarikan tanpa perubahan? Atau apakah ia dinamis, terus berevolusi dan beradaptasi dengan zaman, menyerap pengaruh baru tanpa kehilangan esensinya? Jika identitas budaya adalah sesuatu yang hidup, maka album Arirang dari BTS ini bisa jadi merupakan sebuah eksperimen berani dalam mendefinisikan ulang apa artinya menjadi ‘Korea’ di panggung dunia.

Pendekatan BTS dalam album ini, dengan memadukan elemen tradisional dengan produksi global, bisa dilihat sebagai upaya untuk menjembatani dua dunia. Mereka menggunakan Arirang sebagai jangkar emosional, sebuah pengingat akan akar, namun mereka membangun struktur lagu dengan bahan-bahan global. Ini adalah strategi yang cerdik untuk menarik audiens yang lebih luas, yang mungkin belum akrab dengan kompleksitas han dan heung secara mendalam, namun dapat terhubung dengan melodi pop yang familiar.

Pertanyaannya, apakah strategi ini berhasil tanpa mengorbankan substansi? Jawabannya tentu tidak tunggal. Bagi sebagian orang, ini adalah evolusi alami. Bagi yang lain, ini adalah kompromi yang menyakitkan. Intinya, album ini membuka diskusi penting tentang bagaimana karya seni dapat menjadi cerminan kompleksitas identitas di era persilangan budaya. Keberanian mereka dalam mengambil risiko artistik semacam ini patut diapresiasi, terlepas dari hasil akhirnya.

Fenomena seperti ini mengingatkan pada bagaimana kuliner tradisional pun terus berinovasi. Sambal kini disajikan dalam bentuk saus pasta, dan rendang hadir dalam kemasan instan. Apakah ini berarti kuliner Indonesia ‘kurang Indonesia’? Tentu tidak. Ini adalah adaptasi, sebuah cara agar warisan tetap relevan dan dinikmati oleh generasi baru dan audiens yang lebih luas. Kunci utamanya adalah bagaimana keseimbangan itu dicapai, dan sejauh mana akar asli tetap dihormati dalam proses adaptasi tersebut.

Jadi, apakah album Arirang ini ‘Korea’ yang cukup? Mungkin definisi ‘cukup’ itu sendiri yang perlu dipertanyakan. Mungkin era ini menuntut definisi identitas budaya yang lebih cair, lebih inklusif, dan lebih terbuka terhadap percampuran. BTS, dengan segala kontroversi yang menyertainya, tampaknya sedang mendorong batas-batas definisi tersebut, mengajak dunia untuk merenungkan kembali apa artinya terhubung dengan warisan budaya di tengah pusaran globalisasi yang tiada henti. Ini adalah sebuah pertunjukan budaya yang cerdas, menantang, dan tak terduga.

Previous Post

Kolonoskopi: Takut Mati? Lebih Baik Takut Tak Tahu Gejala

Next Post

Minecraft World: Blok Bangunan Fantasi Jadi Destinasi Wisata Seru 2027

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *