Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Budaya Kematian: Kritik Tajam Uskup Agung Fisher di Australia

Bayangkan begini: kita semua sedang main game kehidupan. Awalnya asyik, levelnya mudah. Tapi, lama-lama kok ya ada aja quest yang bikin garuk-garuk kepala. Nah, di Australia, ada isu yang lagi ramai diperdebatkan, mirip boss battle yang nggak ada habisnya: euthanasia. Archbishop Anthony Fisher OP melihat ada yang nggak beres dengan perkembangan ini, dan beliau nggak ragu buat angkat bicara.

Australia dan “Budaya Kematian”: Sejauh Mana?

Kita mungkin ingat, dulu Paus Yohanes Paulus II pernah mengeluarkan ensiklik Evangelium Vitae yang menekankan betapa berharganya hidup manusia. Ensiklik itu juga memperingatkan tentang “budaya kematian”. Pertanyaannya, apakah Australia sudah terjerumus ke dalam budaya tersebut? Menurut Archbishop Fisher, jawabannya adalah iya. Kritiknya ini disampaikan dalam orasi tahunan Nicholas Tonti-Filippini, yang namanya diambil dari seorang bioetikawan yang vokal menentang euthanasia sukarela.

Singkatnya, euthanasia itu kayak fitur cheat di game. Sekali dipake, godaannya buat terus make jadi gede. Awalnya buat yang sakit parah banget, eh lama-lama kriterianya makin longgar. Kayak nerf senjata yang nggak jelas, bikin yang lain jadi OP (overpowered).

Orasi yang berjudul “Refleksi tentang Evangelium Vitae dan Budaya Australia 30 Tahun Kemudian” ini disampaikan di Melbourne, pas banget Parlemen Victoria lagi debat soal perubahan undang-undang Voluntary Assisted Dying (VAD) atau “mati sukarela yang dibantu”. Wah, judulnya aja udah kayak judul skripsi ya?

Janji Manis dan Realita Pahit VAD

Waktu Voluntary Assisted Dying Act 2017 disahkan di Victoria, banyak yang bilang ini model paling konservatif sedunia. Pemerintah janjiin sistem dengan “perlindungan yang kuat”. Bahkan, waktu itu Perdana Menteri Daniel Andrews dan Menteri Kesehatan Jill Hennessy ngeklaim nggak ada dokter atau perawat yang dipaksa ikut program ini kalau nggak mau. Tapi, Archbishop Fisher bilang, “Ah, itu mah cuma janji-janji politisi.”

Dan ternyata, beneran kejadian. “Kriteria VAD terbukti longgar dan makin dilonggarkan,” kata Archbishop Fisher. “Bunuh diri dan euthanasia dinormalisasi sebagai cara mati dan hak keberatan hati nurani makin ditolak.” Mirip kayak update game yang malah bikin bug makin banyak.

Di Australia, VAD menyumbang antara 0,5 persen dan 1,6 persen dari semua kematian. Lumayan juga ya? Tapi, di Kanada, kebijakan euthanasia sukarela yang namanya Medical Assistance in Dying (MAID) menyumbang hampir 5 persen kematian di tahun 2024. Gila, kayak win rate cheater di game online.

Perbedaan “Settingan” Australia dan Kanada

Salah satu beda besar antara hukum di Kanada dan Australia adalah dokter Kanada boleh nawarin opsi bunuh diri yang dibantu ke pasien. Di Australia sih nggak boleh. Tapi, eh, bentar lagi aturan ini mau dihapus di Victoria, kalau Voluntary Assisted Dying Amendment Bill 2025 disahkan. Jadi, kayak buka kotak Pandora, sekali dibuka susah ditutup lagi.

Perubahan ini bukan sekadar minor patch, tapi perubahan fundamental. Kata Archbishop Fisher sih gitu. Ibaratnya, upgrade dari Pentium III ke Core i9. Nggak main-main!

Evangelium Vitae: Ramalan yang Jadi Kenyataan?

Menurut Archbishop, perubahan undang-undang ini nunjukkin perubahan sikap masyarakat Australia terhadap hidup dan penderitaan. Dulu, Evangelium Vitae pernah ngomongin “konspirasi melawan kehidupan” di mana orang sakit dan lansia dianggap beban. Kayak karakter NPC (non-player character) yang nggak guna di game.

“Diagnosis Yohanes Paulus II tentang budaya kematian bukan cuma deskripsi akurat tentang zamannya, tapi juga ramalan tentang zaman kita,” kata Archbishop Fisher. Jadi, kayak nonton film horor, kita udah tahu plot twist-nya, tapi tetep aja merinding.

Efek Domino yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Kita semua tahu, efek domino itu nyata. Sama kayak VAD. Sekali dilonggarkan, efeknya bisa ke mana-mana. Awalnya buat yang sakit parah, lama-lama buat yang depresi dikit juga bisa. Mirip kayak kebijakan pemerintah yang awalnya buat rakyat, lama-lama buat pengusaha.

Ini bukan soal setuju atau nggak setuju sama VAD. Tapi, soal kita mau hidup di masyarakat yang kayak gimana. Apakah kita mau hidup di masyarakat yang menghargai setiap hidup, atau masyarakat yang menganggap hidup itu cuma komoditas? Pertanyaan berat ini kayak soal ujian filsafat yang jawabannya nggak ada di Google.

Membongkar “Konspirasi Melawan Kehidupan”: Mungkinkah?

Archbishop Fisher mengajak kita buat mikir lebih dalam soal “konspirasi melawan kehidupan”. Apakah kita sadar atau nggak, kita seringkali terjebak dalam pola pikir yang menganggap orang sakit dan lansia itu beban. Padahal, mereka juga manusia, punya hak buat hidup dan dihargai. Ini kayak quest rahasia di game yang hadiahnya bukan cuma XP, tapi juga kesadaran diri.

Pada akhirnya, kita semua punya pilihan. Mau jadi gamer yang cuma main buat seneng-seneng, atau gamer yang main buat nyari makna? Pilihan ada di tangan kita. Tapi, ingat, setiap pilihan punya konsekuensi. Kayak main game, setiap keputusan bisa ngubah ending cerita.

Apakah kita akan terus melonggarkan aturan VAD dan menormalisasi euthanasia? Ataukah kita akan berusaha menghargai setiap hidup, bahkan yang paling rapuh sekalipun? Jawabannya tergantung dari seberapa kuat kita melawan “budaya kematian” yang semakin merajalela. Ini bukan cuma soal politik atau agama, tapi soal kemanusiaan.

Previous Post

AI Google Maps Hadir: Pengaruhi Industri Travel & Buka Peluang Baru Buatmu!

Next Post

Air Jadi Lebih Baik: IPN Ciptakan TlalocBox Pantau Kualitas Air Meksiko Secara Real-Time

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *