Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Call of Duty: Taylor Sheridan Garap Film Live-Action, Siap Gebrak Layar Lebar!

Dunia perfilman sedang bersiap untuk invasi—bukan alien, tapi Call of Duty. Ya, video game yang bikin kita lupa waktu dan mandi ini, akan segera menyusul jejak Mario Bros dan Sonic the Hedgehog untuk unjuk gigi di layar lebar. Tapi, bisakah film adaptasi ini menghindari kutukan video game yang seringkali zonk?

Dari Layar Kecil ke Layar Lebar: Misi yang (Semoga) Tidak Mustahil

Adaptasi video game ke film memang bagaikan ranjau—salah langkah, bisa meledak jadi bencana. Ingat film Doom yang bikin Dwayne “The Rock” Johnson menyesal seumur hidup? Atau Assassin’s Creed yang menjanjikan tapi mengecewakan? Call of Duty (CoD) mencoba peruntungan, dan mereka tidak main-main.

Activision dan Paramount Pictures telah resmi mengumumkan bahwa Taylor Sheridan, otak di balik serial Yellowstone, akan menulis dan memproduseri film Call of Duty. Peter Berg, sutradara Lone Survivor, juga akan menulis, menyutradarai, dan memproduseri adaptasi live-action ini. David Glasser turut ambil bagian sebagai produser.

Keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat Sheridan baru-baru ini pindah dari Paramount+ ke NBCUniversal dengan kontrak bernilai miliaran dolar. Paramount sepertinya menyesal tidak berusaha mempertahankan Sheridan, yang telah menciptakan banyak serial hit untuk mereka.

Siapa Taylor Sheridan dan Kenapa Dia Penting untuk Call of Duty?

Taylor Sheridan bukan nama sembarangan di Hollywood. Ia dikenal dengan kemampuannya menciptakan cerita yang intens, realistis, dan penuh karakter kuat. Serial Yellowstone dan spinoff-nya adalah bukti nyata. Gaya Sheridan yang gritty dan fokus pada karakter diharapkan bisa membawa kedalaman yang dibutuhkan untuk film Call of Duty.

Peter Berg, dengan pengalamannya menyutradarai film-film aksi seperti Lone Survivor dan Hancock, akan memberikan sentuhan visual yang memukau. Kombinasi antara Sheridan dan Berg diharapkan bisa menghasilkan film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki substansi.

Call of Duty: Dari Perang Dunia II ke Perang Masa Depan

Salah satu tantangan terbesar dalam mengadaptasi Call of Duty adalah memilih setting waktu yang tepat. Franchise ini telah menjelajahi berbagai era, mulai dari Perang Dunia II hingga masa depan yang distopia. Game terbaru, Call of Duty: Black Ops 7, dijadwalkan rilis pada bulan November, tetapi belum jelas apakah filmnya akan terkait dengan cerita tersebut.

Activision sebenarnya sudah lama bermimpi membuat film Call of Duty. Mereka bahkan mengajukan merek dagang untuk film tersebut sejak tahun 2009. Namun, rencana ini sempat dibatalkan oleh mantan CEO Activision, Bobby Kotick, yang khawatir film adaptasi akan mengecewakan penggemar dan merusak merek.

Ambisi Cinematic Universe: Mungkinkah Terwujud?

Pada tahun 2016, Activision Blizzard Studios dibentuk dengan ambisi besar: menciptakan cinematic universe Call of Duty ala Marvel. Stefano Sollima, sutradara Sicario 2: Soldado, sempat ditunjuk sebagai sutradara pada tahun 2018, dengan rencana untuk membuat sekuel yang ditulis oleh Joe Robert Cole (Black Panther). Sayangnya, rencana ini tidak pernah terwujud.

Dengan hadirnya Taylor Sheridan dan Peter Berg, harapan untuk cinematic universe Call of Duty kembali membumbung tinggi. Pertanyaannya, bisakah mereka menciptakan film yang sukses dan membuka jalan bagi film-film Call of Duty lainnya?

Call of Duty vs. Battlefield: Persaingan Abadi di Dunia Game

Call of Duty dan Battlefield adalah dua franchise game perang paling populer di dunia. Persaingan mereka sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan masing-masing memiliki penggemar setia. Film Call of Duty tentu akan dibandingkan dengan film-film perang lainnya, termasuk film-film yang terinspirasi dari Battlefield.

Namun, Call of Duty memiliki keunggulan dalam hal popularitas dan pengenalan merek. Jika film ini berhasil, bukan tidak mungkin Call of Duty akan menjadi fenomena budaya yang lebih besar lagi.

Menanti Gebrakan Baru Atau Justru Sekadar Numpang Lewat?

Jadi, apakah film Call of Duty akan menjadi sukses besar atau flop total? Terlalu dini untuk memberikan penilaian akhir. Namun, dengan talenta seperti Taylor Sheridan dan Peter Berg di belakangnya, ada alasan untuk optimis. Kita hanya bisa berharap film ini tidak hanya menjadi adaptasi video game yang biasa-biasa saja, tetapi juga menjadi film perang yang memorable dan impactful.

Semoga saja, film Call of Duty ini tidak berakhir seperti harapan kita saat malam tahun baru: semangatnya di awal, tapi langsung ambyar di hari berikutnya. Kita tunggu saja, apakah Call of Duty akan menjadi “Top Gun: Maverick”-nya dunia game, atau malah jadi “Pixels” versi perang-perangan.

Previous Post

Like Button YouTube Baru: Animasi Keren Bikin Nonton Makin Seru!

Next Post

Myles Smith Guncang ‘Love Is Blind’: ‘Nice to Meet You’ Jadi Peluang Emas di Billboard Hot 100!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *