Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Campak: Wabah Terlambat yang Jadi Bom Waktu Otak

Pernah dengar cerita tentang si kecil Deepanwita yang di usia 5 tahun mulai sering tersandung, dikira cuma bandelnya anak-anak aktif atau mungkin gara-gara sepatu yang kekecilan? Ternyata, itu cuma permulaan dari mimpi buruk yang jauh lebih kelam. Virus campak, yang mungkin pernah menyerang saat ia masih bayi, ternyata diam-diam membangun markasnya di otak, menunggu saat yang tepat untuk melepaskan bom waktu yang menghancurkan. Sekarang, di usia 8 tahun, Deepanwita terbaring lumpuh dan tak bisa berbicara, sebuah pengingat brutal bahwa penyakit yang dianggap remeh bisa menyisakan kehancuran permanen.

Campak, penyakit sejuta umat yang sering dianggap sepele, ternyata punya potensi mengerikan. Data dari Infectious Diseases Society of America menyebutkan, 3 dari 10 orang yang terinfeksi bisa mengalami komplikasi serius, mulai dari diare hingga kematian. Komplikasi ini bisa datang seketika atau merayap perlahan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kasus Deepanwita, yang dikenal sebagai subacute sclerosing panencephalitis atau SSPE, adalah contoh klasik dari komplikasi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan taringnya.

Banyak orang beranggapan, “Ah, kena campak doang? Nggak bakal apa-apa, tetangga juga pernah kena dan baik-baik aja.” Pandangan skeptis seperti ini, seperti yang diungkapkan Yasmin Khakoo, seorang dokter spesialis neurologi anak, justru berbahaya. Campak bisa jadi semacam ‘tamu tak diundang’ yang datang dengan niat jahat. Di Amerika Serikat sendiri, seorang anak berusia 7 tahun terpaksa harus belajar berjalan lagi setelah mengalami pembengkakan otak akibat komplikasi campak. Namun, yang paling mengerikan adalah ketika virus ini memilih untuk bersarang di sistem saraf, menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja, kadang puluhan tahun kemudian, meninggalkan penderita dalam kondisi yang hampir selalu fatal.

Bom Waktu di Sistem Saraf

Sebelum era vaksinasi massal yang efektif, kasus SSPE cukup sering terjadi di Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an, pemerintah bahkan sampai membuat registri nasional untuk mencatat pasien SSPE. Para peneliti kini memperkirakan sekitar 1 dari 10.000 orang yang terkena campak akan mengembangkan SSPE, namun risiko ini melonjak drastis bagi mereka yang terinfeksi sebelum usia 5 tahun. Negara-negara dengan populasi padat dan tingkat endemisitas campak yang tinggi, seperti India, terus menerus menghadapi kasus ini.

Kini, para dokter dan peneliti mulai khawatir. Penurunan angka vaksinasi dan penyebaran campak yang kembali marak di Amerika Serikat dikhawatirkan akan memicu lonjakan kasus komplikasi mengerikan ini. Sejak awal tahun 2025, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat lebih dari 3.500 kasus campak, angka yang jauh melampaui satu dekade terakhir, dan sebagian besar korban adalah mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi. Di Connecticut, seorang anak 6 tahun didiagnosis SSPE, sementara di California, seorang anak usia sekolah meninggal dunia akibat kondisi serupa, padahal ia terinfeksi campak saat masih bayi.

“Kita kemungkinan besar akan melihat lebih banyak kasus SSPE ke depannya, terutama jika situasi ini tidak segera dikendalikan,” ujar Adam Ratner, anggota Komite Penyakit Menular di American Academy of Pediatrics. Kekhawatiran ini begitu besar hingga pada bulan Januari, Child Neurology Society merilis video edukasi untuk para klinisi di Amerika Serikat mengenai SSPE, dan para dokter yang pernah menangani kasus ini gencar memperingatkan rekan-rekan mereka.

Aaron Nelson, seorang profesor neurologi di New York University Grossman School of Medicine, menegaskan betapa gentingnya situasi ini. “Kita tidak punya cara untuk memprediksi siapa yang akan terkena, dan kita tidak punya cara yang sangat efektif untuk mengobatinya,” katanya. “Satu-satunya hal terbaik yang bisa kita lakukan, idealnya, adalah mencegah anak-anak harus mengalami ini sejak awal.” Vaksin campak dua dosis terbukti ampuh menekan risiko infeksi virus hingga 97%, dan secara otomatis mengurangi peluang terjadinya SSPE. Memang ada risiko kecil kejang demam atau gangguan perdarahan akibat vaksin, namun risiko tersebut jauh lebih kecil dibandingkan bahaya campak itu sendiri.

Tren Mengerikan di Amerika Serikat

Sebuah studi tahun 2017 di California menemukan bahwa setidaknya 1 kasus SSPE didiagnosis untuk setiap 1.400 kasus campak pada anak di bawah 5 tahun, dan 1 kasus untuk setiap 600 bayi yang terinfeksi. Lebih mengkhawatirkan lagi, penelitian tersebut juga mengungkap bahwa banyak kasus yang terlewatkan, terutama pada pasien yang meninggal dengan kondisi neurologis yang tidak terdiagnosis.

Potensi kasus yang terlewatkan inilah yang mendorong Nava Yeganeh dan rekan-rekannya untuk merilis peringatan publik pada bulan September lalu, setelah seorang anak di Los Angeles County meninggal akibat SSPE. “Dalam 25 tahun terakhir, kasus campak di negara ini sangat sedikit,” ujar Yeganeh, direktur medis di Vaccine Preventable Disease Control Program Los Angeles County. “Sayangnya, tren itu berubah. Kami ingin memastikan semua orang sadar akan komplikasi jangka panjang ini.”

Anak di California yang meninggal tersebut terinfeksi campak saat masih bayi, sebelum sempat menerima vaksin. Campak sangat menular, sehingga dibutuhkan kekebalan kelompok minimal 95% populasi untuk melindungi mereka yang rentan, termasuk bayi di bawah usia vaksinasi dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. “Ini adalah contoh seseorang yang sudah melakukan segalanya dengan benar, ingin melindungi anaknya dari infeksi ini, namun sayangnya harus kehilangan anaknya karena kita tidak memiliki kekebalan kelompok yang memadai,” tambah Yeganeh.

Tak lama setelah Yeganeh mengeluarkan peringatan di California, Nelson pun ikut menyebarkan informasi penting ini. Ia baru saja menangani seorang anak berusia 5 tahun yang keluarganya sengaja datang ke AS untuk perawatan medis setelah sang anak mulai sering tersandung, mengalami kejang pada anggota tubuh, berhalusinasi tentang serangga dan hewan, serta mengalami kejang. Anak tersebut terinfeksi campak saat bayi dan belum cukup umur untuk divaksinasi. Nelson mendiagnosisnya dengan SSPE.

“Bayangkan saja: punya anak yang sehat dan ceria, lalu perlahan-lahan bicara semakin berkurang, hingga akhirnya tidak bisa berjalan lagi,” kata Nelson dengan nada prihatin. Ia mengaku dulu mengira kondisi ini hanya ada di buku teks kedokteran, sebuah relik masa lalu. Namun, kenyataannya pahit, ia harus mempresentasikan kasus ini di konferensi nasional Child Neurology Society dan berpartisipasi dalam pembuatan video edukasi mengenai SSPE. “Saya kini melihat sesuatu yang idealnya tidak pernah saya lihat seumur karier saya.”

Tanda Bahaya dari India dan Riset yang Seharusnya Tak Perlu Ada

Secara global, lonjakan wabah campak terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Para dokter di Inggris dan Italia pun melaporkan adanya klaster kasus SSPE. Di India, dampak campak terasa begitu nyata. Di Bangalore saja, diperkirakan ada sekitar 200 keluarga yang merawat penderita SSPE, termasuk keluarga Deepanwita. Sheffali Gulati, seorang peneliti SSPE di New Delhi, melihat sekitar 10 pasien baru setiap tahunnya, yang ia sebut sebagai “gema tertunda” dari wabah campak.

Usia pasien termuda yang pernah ia tangani adalah 3 tahun. “Usia pasiennya semakin muda, dan kondisi kematian atau keadaan vegetatif bisa terjadi dalam waktu 6 bulan hingga 5 tahun sejak gejala awal muncul,” ungkap Gulati. Ia belum menemukan pengobatan yang bisa membalikkan kondisi SSPE, hanya beberapa yang bisa memperlambat progresnya. Ia terpaksa hanya bisa menasihati para orang tua: ini adalah bencana, ini bukan salah mereka, dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan.

Sementara itu, Roberto Cattaneo, seorang ahli biologi molekuler di Mayo Clinic, telah bertahun-tahun mempelajari SSPE. Ia menggunakan jaringan otak post-mortem untuk memetakan bagaimana virus campak menyebar ke seluruh otak. Namun, ia mengakui bahwa masih ada ‘kotak hitam’ mengenai apa yang sebenarnya dilakukan virus campak selama bertahun-tahun dormansi antara infeksi awal dan munculnya gejala kerusakan neurologis. Ada kemungkinan virus terus bereplikasi di otak tanpa terdeteksi, membunuh neuron secara perlahan. Namun, dengan banyaknya neuron di otak manusia, organ ini mungkin punya cara untuk mengkompensasi, hingga akhirnya ‘ambruk’. Cattaneo kini sedang mengajukan pendanaan untuk penelitian lanjutan, meskipun ia berharap penelitian semacam ini tidak perlu ada.

“Masalah ini bisa diatasi dengan vaksinasi,” tegas Cattaneo. Ia menambahkan, Amerika Serikat seharusnya tidak memiliki kasus SSPE sama sekali. “Ini sungguh menyakitkan.” Vaksin campak dua dosis menekan risiko infeksi virus dari 90% menjadi hanya 3%, dan otomatis mengurangi peluang terjadinya SSPE. Meski ada risiko kecil kejang demam atau gangguan perdarahan, risiko ini jauh lebih kecil dibandingkan bahaya campak itu sendiri. Keputusan untuk tidak memvaksinasi anak sama saja dengan membiarkan mereka menari di atas ranjau darat SSPE.

Previous Post

Guilty Gear Strive 2.0: Pukulan Keras Untuk Street Fighter 6 & Tekken 8 Yang Terhuyung

Next Post

Historic: ‘Food Chain’ Kena Ban, Kena Kartu Ninja Turtle, Kenapa Sih?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *