Tiga tahun pasca-deklarasi usai pandemi SARS-CoV-2, seolah virus ini memutuskan untuk tidak benar-benar pergi, melainkan bereinkarnasi menjadi momok baru bernama long COVID. Angka konservatif menyebutkan 80 hingga 400 juta jiwa di seluruh dunia masih bergulat dengan kondisi kronis ini, yang hadir dengan lebih dari 200 gejala—mulai dari kelelahan abadi dan sesak napas sampai urusan neuropsychiatric yang bikin otak serasa korslet: disfungsi kognitif, gangguan tidur, depresi, hingga hilangnya ingatan. Semua ini jelas bukan sekadar ‘masuk angin’ biasa; ini adalah serangan terstruktur terhadap kualitas hidup, yang membuat tugas sehari-hari dan produktivitas kerja terasa seperti mendaki Everest tanpa perlengkapan.
Mekanisme patofisiologis di balik kekacauan ini sungguh kompleks, seperti teori konspirasi yang tak berujung. Ada dugaan virus SARS-CoV-2 yang tetap membandel dalam tubuh (viral persistence), reaktivasi virus herpes yang ngamuk saat imunitas lemah, serta aktivasi imun kronis. Belum lagi disregulasi sistem imun, ketidakseimbangan mikroorganisme usus (dysbiosis), kelainan pembekuan darah, dan kerusakan endotel. Khusus soal otak, para ilmuwan menemukan perubahan struktural dan konektivitas fungsional yang anomali. Intinya, tubuh seolah sedang berperang melawan dirinya sendiri, sementara virusnya hanya menonton dari pinggir lapangan.
Namun, alih-alih panik berlebihan, kemajuan signifikan dalam memahami long COVID justru membutuhkan studi ilmiah yang lebih mendalam. Standarisasi definisi dan nomenklatur untuk kelainan ini masih jadi PR besar, begitu pula uji klinis terapi potensial. Ibarat mau memperbaiki mesin yang rusak parah, kita perlu manual yang jelas dan alat yang tepat, bukan sekadar coba-coba.
Di tengah kegamangan ini, hadir sebuah review article perdana dari jurnal bergengsi Nature Reviews Disease Primers. Artikel ini bukan sekadar rangkuman, melainkan sebuah kajian komprehensif yang mendedikasikan diri untuk manifestasi neurologis, psikologis, dan psikiatris pasca-COVID-19. Cakupannya luas: epidemiologi, mekanisme biologis, diagnosis, pendekatan terapeutik, dampak pada kualitas hidup, hingga tantangan yang dihadapi para ilmuwan. Ini adalah peta jalan awal, peta yang mungkin masih kasar, tapi setidaknya memberikan arah di tengah hutan belantara misteri long COVID.
Yang menarik, panel internasional yang terdiri dari 14 pakar ini turut menyertakan satu nama dari Brasil: Profesor dan Ahli Saraf Clarissa Yasuda dari Fakultas Ilmu Kedokteran di Universitas Negeri Campinas (UNICAMP). Yasuda, yang juga peneliti di Institut Neurosains dan Neuroteknologi Brasil (BRAINN) dan anggota pusat RIDC FAPESP, telah mengoordinasikan serangkaian studi long COVID sejak 2020. Kehadirannya dalam riset ini memberikan dimensi lokal pada isu global, mengingatkan bahwa dampak long COVID tidak mengenal batas geografis.
Penyakit ini baru dan masih sedikit dipahami. Banyak pihak yang berusaha mengurainya, bukan hanya karena kasus saat ini, tetapi juga karena umat manusia rentan terhadap virus lain yang bisa memicu masalah sebesar pandemi ini. Kita perlu belajar darinya dan melakukan investigasi secara efektif dan cepat. Long COVID sangat mengganggu kehidupan individu, dan saat ini belum ada pengobatan spesifik. Yang terpenting adalah vaksinasi dan menghindari reinfeksi. Itu juga pesan dari artikel ini.
Clarissa Yasuda, Fakultas Ilmu Kedokteran, Universitas Negeri Campinas
Para peneliti dalam studi tersebut menekankan satu hal fundamental: pencegahan infeksi SARS-CoV-2 adalah satu-satunya cara untuk menghindari long COVID sejauh ini. Diagnosisnya sendiri masih sangat bergantung pada evaluasi klinis. Tanpa biomarker yang jelas, riwayat infeksi virus yang baru dan gejala yang persisten atau berulang selama minimal tiga bulan menjadi kunci. Ditambah lagi, kondisi lain yang berpotensi serupa harus disingkirkan melalui tes darah, pencitraan, elektrokardiografi, dan ekokardiografi. Prosesnya seperti detektif yang harus menyingkirkan semua tersangka lain sebelum menunjuk pelaku sebenarnya.
Otak Ngadat, Hidup Berantakan
Dampak long COVID jauh melampaui sekadar gejala fisik; ia merambah ke ranah pasar kerja dan menghadirkan stigma sosial yang tak kalah memberatkan. Kehilangan pekerjaan dan pendapatan menjadi konsekuensi nyata, diperparah oleh sulitnya kembali bekerja akibat minimnya dukungan dari sistem kesejahteraan sosial. Individu yang terdampak seringkali mengalami fluktuasi kondisi, mengalami ‘breakdown‘, depresi, dan rasa ‘low‘ yang membuat mereka merasa tidak mampu mempertahankan tingkat aktivitas yang sama. Ibarat pemain gim yang stuck di level sulit tanpa power-up.
Estimasinya pun mencengangkan. Pada tahun 2024, sebuah studi dari institusi AS memproyeksikan bahwa long COVID menyebabkan lebih dari 803 juta jam kerja hilang di Brasil saja, dengan potensi kerugian lebih dari 11 miliar USD. Ini setara dengan sekitar 400.000 pekerja full-time absen dari pasar kerja selama setahun. Secara global, dampaknya bisa mencapai 1 triliun USD per tahun, atau sekitar 1% dari ekonomi dunia. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya long COVID bukan hanya sebagai masalah kesehatan individu, tetapi juga sebagai ancaman ekonomi makro.
Profesor Yasuda sendiri merasakan langsung perjuangan pasca-long COVID. Setelah terinfeksi virus pada Agustus 2020 dengan gejala ringan, sebulan kemudian ia menyadari disfungsi kognitifnya menghambat pekerjaan akademis. Dalam artikel berjudul “Saya Mau Otak Saya Kembali” yang diterbitkan pada Juni 2022, ia mendeskripsikan upaya pemulihannya dan strategi yang digunakan untuk mengatasi keterbatasan performa kognitif yang persisten. Dedikasi dan disiplin membuahkan hasil, meski prosesnya tidak mudah.
Di Brasil, sistem kesehatan publik nasional, SUS (Sistema Único de Saúde), telah memantau kondisi ini sejak 2021. Catatan terbaru pada 2025 mengestimasi ada 13,8 juta kasus ‘kondisi pasca-COVID’ di negara tersebut, mayoritas perempuan (8,58 juta). Kelompok usia yang paling terpengaruh adalah 30-49 tahun, mencakup 6,2 juta individu. Angka ini menegaskan bahwa long COVID bukan fenomena marginal, melainkan isu kesehatan masyarakat yang masif.
Stigma: Beban Tambahan yang Tak Terlihat
Lebih buruk lagi, pasien long COVID seringkali harus menghadapi stigma sosial yang berlapis. Mereka berjuang keras agar kondisinya diakui, mencari akses ke perawatan dan dukungan, namun malah kerap disambut diskriminasi, perlakuan tidak memadai, bahkan disalahkan. Individu dari kelompok minoritas etnis merasakan tingkat stigma yang lebih tinggi. Ini seperti menambah garam di luka yang belum sembuh. Bagi anak-anak dan remaja, dampaknya bisa sangat serius pada interaksi sosial dan pendidikan mereka, menciptakan generasi muda yang terpinggirkan sebelum waktunya.
Oleh karena itu, rekomendasi utama adalah pembentukan tim multidisiplin yang mencakup profesional dari berbagai bidang kesehatan untuk memberikan perawatan holistik. Untuk studi masa depan, para ilmuwan menyarankan rekrutmen populasi pasien yang beragam dan representatif, serta mempertimbangkan perspektif penyintas long COVID dan peran determinan sosial serta kesehatan. Pendekatan terfragmentasi tidak akan cukup; diperlukan sinergi yang kuat.
Dalam konteks ini, kelompok riset Yasuda sedang melakukan studi longitudinal untuk memahami bagaimana penyakit ini mengubah otak. Keterlibatannya dalam review article ini menjadi pengakuan internasional atas kerja keras mereka di BRAINN RIDC, didukung pula oleh badan pendanaan seperti CNPq. Upaya seperti ini krusial untuk membuka tabir misteri long COVID dan pada akhirnya menemukan jalan keluar bagi jutaan orang yang terdampak.
Source:
Journal reference:
Wilson, J. E., et al. (2025). COVID-19-associated neurological and psychological manifestations. Nature Reviews Disease Primers. DOI: 10.1038/s41572-025-00674-7. DOI: 10.1038/s41572-025-00674-7. https://www.nature.com/articles/s41572-025-00674-7
