Di kancah musik yang kerap kali dibanjiri drama dan komentar dadakan, sebuah insiden mencuat baru-baru ini melibatkan duo Moby dan The Kinks, memicu perdebatan sengit tentang interpretasi lirik lagu lawas. Sebuah pengakuan mengejutkan dari Moby, yang menyatakan ketidaknyamanannya terhadap lagu “Lola” milik The Kinks karena dianggap “gross dan transphobic,” memicu gelombang reaksi, terutama dari Dave Davies, gitaris The Kinks. Narasi ini bukan sekadar pertengkaran antar musisi; ini adalah cerminan pergulatan abadi antara perspektif historis, sensitivitas kontemporer, dan kekuatan interpretasi seni.
Perang Lirik: Moby vs. The Kinks, Era Baru Interpretasi Lagu
Semua berawal dari kolom “Honest Playlist” The Guardian, sebuah rubrik yang meminta tokoh publik untuk menyusun daftar lagu berdasarkan tema spesifik. Di sinilah Moby, seorang produser dan DJ kenamaan, memilih “Lola” untuk kategori “Lagu yang tidak bisa lagi didengarkan.” Alasannya? Liriknya dianggap Moby terlalu “tidak berkembang” dan bernada transfobik. Pernyataan ini bagai petir di siang bolong bagi para penggemar The Kinks, memicu argumen tentang bagaimana sebuah karya seni dari masa lalu harus dinilai di era modern yang sarat dengan kesadaran sosial yang kian meningkat.
Tak berselang lama, Dave Davies, sang gitaris dan saudara dari penulis lagu “Lola,” Ray Davies, melontarkan tanggapan pedas. Melalui platform X (sebelumnya Twitter), Davies menyatakan rasa tersinggungnya atas tuduhan yang dialamatkan kepada saudaranya. Ia menegaskan bahwa menuduh Ray Davies sebagai sosok yang “tidak berkembang” atau transfobik adalah sebuah kesalahpahaman yang besar, menunjukkan jurang pemisah antara persepsi Moby dan niat awal pencipta lagu.
Dukungan untuk interpretasi yang lebih bernuansa datang dari Jayne County, seorang seniman punk transgender legendaris. Dalam pernyataannya, County justru memuji “Lola” sebagai lagu yang “memecah kebekuan,” membawa subjek yang dulu tabu ke permukaan dengan cara yang terdengar natural. Ia menekankan bahwa meskipun stasiun radio mungkin tidak menangkap nuansa tersebut, para penggemar setia The Kinks justru yang memahami esensi keberanian di balik liriknya. Ini adalah titik krusial: validitas sebuah karya seni seringkali bergantung pada siapa yang mendengarkan dan bagaimana mereka terhubung dengannya.
Lagu “Lola,” yang dirilis pada Juni 1970 sebagai single utama dari album Lola Versus Powerman and the Moneygoround Part One, memang selalu menjadi subjek perdebatan. Apakah Lola adalah seorang wanita transgender atau sekadar pria yang gemar berpakaian silang, pertanyaan ini terus mengemuka. Ray Davies sendiri pernah menyatakan bahwa “jenis kelamin Lola tidak penting,” yang terpenting adalah ia “baik-baik saja.” Namun, saat lagu ini meroket di tangga lagu, para DJ radio Inggris memilih untuk memotong bagian akhir lirik yang mengungkapkan, “I’m glad I’m a man and so is Lola,” sementara beberapa stasiun di Australia bahkan melarang lagu ini tayang sama sekali. Ini menunjukkan betapa kontroversialnya representasi gender pada masa itu, dan bagaimana lagu ini berhasil menembus batas-batas keengganan publik.
Nalar vs. Nostalgia: Membedah Lirik “Lola”
Fakta bahwa Moby, seorang musisi yang kerap bersentuhan dengan isu-isu progresif, bisa merasa terganggu oleh lirik “Lola” menghadirkan sebuah dilema menarik. Ini bukan tentang menyalahkan Moby, melainkan memahami bagaimana sebuah karya bisa ditafsirkan secara berbeda seiring waktu dan perubahan sosial. Lirik ” Lola, lo-lo-lo-Lola” yang berulang, bersama dengan cerita tentang “malam yang panjang” dan bertemu “gadis” bernama Lola, memang bisa memicu pertanyaan tentang identitas gender karakter tersebut. Namun, pendekatan Moby yang tegas dalam menyebutnya “gross dan transphobic” terasa seperti sebuah penghakiman instan yang mengabaikan konteks historis dan kemungkinan interpretasi lain yang lebih mendalam.
Dave Davies, dengan latar belakang sebagai pencipta lagu bersama saudaranya, memberikan perspektif internal yang tak ternilai. Reaksinya yang defensif terhadap tuduhan transfobia mungkin berasal dari pemahaman bahwa Ray Davies, sebagai penulis lirik, memiliki niat yang berbeda. Dalam konteks era 70-an, di mana diskusi tentang identitas gender jauh lebih terbatas dan seringkali diselimuti stigma, lagu seperti “Lola” bisa dianggap sebagai sebuah terobosan, bahkan jika belum sempurna. Ini adalah pertanyaan tentang kemajuan inkremental versus standar kesempurnaan yang diharapkan saat ini.
Pernyataan Jayne County menjadi jangkar penting dalam perdebatan ini. Sebagai seorang individu yang hidup dengan identitas transgender, pengalamannya dengan lagu “Lola” memberikan legitimasi kuat pada interpretasi bahwa lagu tersebut justru merangkul, bukan mengejek. Penggunaan kata “girl” untuk mendeskripsikan Lola, meskipun bisa diperdebatkan, bagi County adalah sebuah langkah maju. Ini menyoroti bagaimana seni bisa menjadi katalisator perubahan sosial, bahkan jika dampaknya tidak langsung atau sepenuhnya disadari oleh semua pihak pada saat perilisan.
Ada baiknya kita menengok kembali pada semangat era tersebut. Musik rock di era 70-an seringkali menjadi sarana untuk mengeksplorasi tema-tema yang dianggap tabu oleh masyarakat arus utama. The Kinks, dengan gaya lirik mereka yang seringkali observasional dan sedikit sarkastik, mungkin berusaha menggambarkan realitas yang lebih kompleks dari sekadar narasi heteronormatif yang kaku. Apakah Ray Davies secara sadar menulis lagu tentang seorang wanita transgender? Mungkin tidak secara eksplisit, tetapi ia menciptakan sebuah karakter yang menantang norma-norma gender yang berlaku, dan itu sendiri adalah sebuah pernyataan.
Interpretasi Seni: Cermin Perubahan Sosial
Perdebatan seputar “Lola” adalah pengingat bahwa karya seni tidak pernah statis. Interpretasinya terus berevolusi seiring dengan perubahan nilai-nilai masyarakat dan kesadaran audiens. Apa yang mungkin dianggap revolusioner di masa lalu bisa jadi dilihat sebagai kurang sensitif di masa kini. Namun, penting untuk tidak menghapus sejarah atau menuntut seniman dari masa lalu untuk hidup sesuai dengan standar masa kini. Sebaliknya, kita bisa menggunakan karya-karya tersebut sebagai titik awal untuk diskusi yang lebih bernuansa.
Mungkin Moby memiliki niat baik untuk menyoroti isu-isu penting, namun metode yang digunakan terasa kurang diplomatis. Mengaitkan sebuah lagu lawas dengan tuduhan transfobia tanpa mempertimbangkan konteksnya bisa jadi kontraproduktif, berisiko menimbulkan pertahanan diri daripada keterbukaan untuk dialog. Di sisi lain, respons defensif Dave Davies, meskipun bisa dipahami, juga perlu diimbangi dengan pengakuan bahwa persepsi audiens modern memiliki haknya sendiri.
Pada akhirnya, “Lola” tetap berdiri sebagai sebuah karya musik yang kompleks dan kaya akan lapisan makna. Lagu ini telah memicu percakapan selama puluhan tahun, dan kontroversi terbaru ini hanya menambah kedalaman diskursus. Bukannya membuang lagu-lagu lama karena dianggap tidak sesuai zaman, justru lebih produktif untuk terus membahasnya, menganalisisnya dari berbagai sudut pandang, dan belajar dari evolusi pemahaman kita tentang representasi dan inklusi. Seni seringkali datang jauh sebelum masyarakat siap menerimanya, dan “Lola” adalah bukti nyata dari fenomena tersebut.


