Jadi, bayangkan kamu adalah karakter di video game simulasi kehidupan. Semua mata tertuju padamu, setiap gerakanmu dinilai, dan satu kesalahan kecil bisa bikin satu server penuh mencibir. Nah, itulah kira-kira secuil dari realita jadi seorang pop star, kata Charli XCX. Tapi, tunggu dulu, jangan bayangkan glamornya saja. Ada sisi absurd yang bikin geleng-geleng kepala juga.
Charli XCX, yang seringkali dicap sebagai party girl oleh publik, baru-baru ini curhat di Substack tentang lika-liku dunia pop star. Mulai dari momen-momen absurd di balik panggung, hingga kontradiksi yang melekat dalam pekerjaan ini. Dia bahkan mempertanyakan identitasnya sendiri di industri yang kejam ini. Apakah dia seorang “creative (gross)” atau sekadar “artist”? Yang jelas, jadi pop star itu nggak sesederhana joget-joget di atas panggung.
Dalam esainya, Charli membuka tabir tentang kehidupan pop star yang selama ini dianggap glamor. Dia nggak cuma cerita soal pesta mewah dan perhiasan mahal. Lebih dari itu, dia membahas bagaimana ketenaran bisa mengubah seseorang dan bagaimana industri musik itu sendiri mengalami perubahan. Intinya, jadi pop star itu kayak main The Sims dengan tingkat kesulitan insane.
“Salah satu realitas utama menjadi seorang bintang pop adalah bahwa pada tingkat tertentu, itu sangat menyenangkan,” tulis Charli. “Anda bisa pergi ke pesta-pesta besar dengan SUV hitam dan Anda bisa merokok di dalam mobil dan berteriak keluar dari atap mobil dan semua hal klise itu.” Ya, memang klise, tapi siapa yang nggak pengen?
Antara Pesta Mewah dan Ruang Tunggu yang Hampa: Dilema Pop Star Masa Kini
Tapi, jangan salah sangka. Jadi pop star itu nggak cuma soal hura-hura. Charli juga menyinggung soal “menghuni ruang liminal yang aneh dan tak berjiwa”. Maksudnya? Ruang tunggu acara, lounge bandara, kantor visa, bus tur yang sempit, ruang ganti tanpa jendela. Intinya, kamu seringkali terjebak di antara dua dunia. Kayak lagi loading screen di game, nggak jelas kapan selesainya.
Selain itu, ada juga orang-orang yang dengan senang hati berusaha membuktikan bahwa kamu bodoh. Kata Charli, dia selalu terpesona dengan fenomena ini dan menduga ada hubungannya dengan proyeksi diri. Mungkin mereka iri, mungkin mereka insecure. Yang jelas, jadi pop star itu kayak lagi debat kusir sama netizen di Twitter. Nggak ada habisnya.
Charli juga membahas soal kotak-kotak yang seringkali dipaksakan pada pop star dan seniman pada umumnya. Fans punya ekspektasi tertentu, dan kalau kamu keluar dari kotak itu, siap-siap dihujat. Ini kayak main game RPG, tapi kamu nggak boleh ganti class. Sekali jadi mage, ya udah, jadi mage terus.
“Saya selalu bertanya-tanya mengapa kesuksesan orang lain memicu kemarahan dan amarah pada orang-orang tertentu,” kata Charli. “Saya pikir itu semua bermuara pada fakta bahwa masyarakat patriarki tempat kita hidup sayangnya telah berhasil mencuci otak kita semua.” Kita dilatih untuk membenci perempuan, membenci diri sendiri, dan marah pada perempuan jika mereka keluar dari kotak yang sudah ditentukan.
Industri Musik Sekarang: Terlalu Suci atau Kurang Hedon?
Salah satu poin menarik dari esai Charli adalah kritiknya terhadap industri musik yang dianggap terlalu fokus pada “kesucian moral” dan tanggung jawab. Menurutnya, sekarang ini ada ekspektasi bahwa seorang artis harus selalu jujur dan bertanggung jawab. Padahal, dulu, jadi artis itu identik dengan hedonisme dan pemberontakan.
“Saya ingin hedonisme, bahaya, dan rasa anti-kemapanan datang bersama artis saya karena ketika saya masih muda, saya ingin melarikan diri melalui mereka. Saya tidak peduli jika mereka mengatakan yang sebenarnya atau berbohong atau memainkan karakter atau mengadopsi persona atau membuat seluruh skenario dan dunia,” tegas Charli. Baginya, yang penting adalah drama, kesenangan, dan fantasi. Kayak lagi nonton film action, nggak mungkin kan semua karakter protagonisnya berkelakuan bak malaikat?
Charli menambahkan, “Saya ingin para penggemar untuk bersenang-senang seperti yang saya lakukan dan saya tidak berpikir bahwa hal itu mengharuskan mereka untuk selalu melihat saya mengatakan hal yang benar atau menjadi orang yang benar. Saya merasa bahwa itulah hal yang benar untuk saya, tetapi saya tidak merasa itu berlaku untuk semua orang lain.”
Substack kini jadi platform baru bagi Charli untuk berbagi pemikiran dan proyek kreatifnya. Dia memberikan pandangan langka tentang bagaimana dia menghadapi dunia pop star. Buat Charli, semua ini nggak terlalu serius. Dia memang berdedikasi pada seninya, tapi selebihnya? Nggak usah dibawa ribet.
Jadi Pop Star: Antara Mimpi dan Realita yang Absurd
Esai Charli XCX ini memberikan gambaran yang lebih manusiawi tentang kehidupan seorang pop star. Nggak cuma soal glamor dan hura-hura, tapi juga soal tekanan, ekspektasi, dan kontradiksi. Ini kayak lagi main game simulasi kehidupan, tapi dengan konsekuensi yang lebih nyata. Salah langkah, bisa-bisa reputasimu hancur berkeping-keping.
Yang jelas, jadi pop star itu nggak semudah yang dibayangkan. Butuh mental baja, kreativitas tanpa batas, dan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. Kalau nggak, bisa-bisa kamu malah jadi karakter figuran di game-mu sendiri.
Dan, mungkin, di situlah letak daya tarik Charli XCX. Dia nggak berusaha menjadi sempurna, dia nggak takut untuk jujur, dan dia selalu siap untuk menertawakan absurditas dunia pop star. Jadi, buat kamu yang pengen jadi pop star, siap-siap aja. Perjalananmu bakal seru, aneh, dan mungkin sedikit gila. Tapi, yang penting, jangan lupa bawa bekal humor yang cukup.


