Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

DCIS: Operasi Dulu atau Pantau Dulu?

Di ranah medis, ada kalanya diagnosis awal, yang tadinya terdengar seperti alarm kebakaran di telinga, ternyata hanyalah percikan api yang tidak akan pernah membesar menjadi kobaran. Begitulah kira-kira analogi yang bisa disematkan pada hasil awal studi LORD mengenai ductal carcinoma in situ (DCIS) atau yang sering disebut sebagai prakanker payudara. Para peneliti di Barcelona baru saja membeberkan data yang, mari kita katakan saja, membuat para ahli sedikit bernapas lega. Ternyata, tidak semua yang berlabel ‘kanker stadium awal’ itu harus langsung dilawan habis-habisan layaknya pahlawan super menghadapi musuh bebuyutan. Terkadang, observasi cermat sudah cukup ampuh.

Bagi yang awam, DCIS itu ibarat ‘tamu tak diundang’ yang masuk ke saluran susu payudara. Sel-selnya memang sudah mulai bertingkah, tapi belum sampai menyebar ke jaringan sekitar, yang artinya ini belum jadi kanker invasif. Masalahnya, sel-sel ‘nakal’ ini punya potensi untuk berkembang biak menjadi sesuatu yang lebih serius di kemudian hari. Namun, dari riset yang ada, diperkirakan sekitar 80% kasus DCIS tidak akan pernah berubah menjadi ancaman mematikan. Pertanyaannya menggelitik: kalau begitu, mengapa semua harus melalui ‘ritual’ pengobatan standar yang terkadang lebih menyakitkan daripada penyakitnya sendiri?

Secara tradisional, DCIS ditangani bak kanker payudara pada umumnya: bedah, kadang disambung lagi dengan radioterapi atau terapi hormon. Ini semacam ‘tembakau jatuh’, semua target dihantam tanpa pandang bulu. Namun, munculnya studi LORD ini merupakan upaya untuk mencari tahu apakah pasien DCIS dengan risiko rendah bisa sekadar dipantau secara berkala alih-alih langsung masuk ruang operasi. Sebuah pendekatan yang terkesan lebih humanis dan rasional, bukan?

Professor Jelle Wesseling dari The Netherlands Cancer Institute dan Leiden University Medical Center, sang pembawa kabar dari konferensi EBCC15, menyuarakan kegelisahannya selama puluhan tahun. Ia mengibaratkan DCIS sebagai ‘kanker stadium awal’ yang seringkali diperlakukan sama dengan kanker payudara invasi. “Tetapi jika sebagian besar DCIS tidak akan pernah berbahaya, timbul pertanyaan penting: apakah sebagian wanita menerima perawatan lebih dari yang mereka butuhkan?” ujarnya, seperti seorang filsuf di tengah medan perang medis.

Prinsip ‘primum non nocere‘ atau ‘utamakan jangan merugikan’ menjadi kompas moral sang profesor. Latar belakang LORD trial pun sederhana: membuat penanganan medis lebih aman dan seimbang. Tujuannya jelas, mengidentifikasi wanita dengan DCIS risiko rendah yang aman dipantau melalui pemeriksaan rutin (active surveillance) tanpa harus segera dibedah. Intinya, menghindari pengobatan yang tidak perlu tanpa membahayakan pasien. Sungguh sebuah revolusi kecil di dunia medis yang seringkali terjebak rutinitas.

Data yang dipaparkan Profesor Wesseling berasal dari 1.423 partisipan yang rata-rata telah menjalani pemantauan selama dua tahun. Mereka ini adalah pasien DCIS risiko rendah (grade 1 atau 2 yang terdeteksi dari skrining payudara) dari sekitar 60 rumah sakit di Belanda. Sebuah sampel yang cukup representatif untuk ditarik kesimpulan awal.

Kala Pilihan Memisahkan Jalan

Trial ini dimulai sejak 2017. Awalnya, 73 pasien pertama dibagi secara acak: separuh menjalani pengobatan standar (operasi), separuh lagi masuk kelompok active surveillance. Namun, masukan dari lapangan membuat protokol diubah. Pasien diberi kebebasan memilih jalur mereka. Hasilnya mencengangkan: mayoritas, sekitar tiga perempat dari total, memilih active surveillance (1.025 pasien) ketimbang langsung operasi (330 pasien). Ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma di kalangan pasien sendiri, sebuah keinginan kuat untuk tidak berlebihan dalam penanganan.

Dari kelompok yang memilih operasi (363 pasien), pemeriksaan jaringan payudara yang diangkat mengungkap sebuah fakta tak terduga. Sebanyak 29 pasien ternyata sudah menunjukkan tanda-tanda kanker invasif sejak awal trial. Bukan hanya itu, empat pasien lainnya di kelompok yang sama kemudian terdiagnosa kanker invasif setelah menjalani operasi. Angka ini, meski tergolong kecil, menunjukkan bahwa pemeriksaan awal saja terkadang belum cukup akurat untuk memprediksi kondisi sebenarnya.

Sementara itu, di kubu active surveillance, dari 1.060 pasien, sebanyak 63 orang terdiagnosis kanker invasif. Angka ini memang terdengar lebih tinggi jika dilihat secara absolut. Namun, jika dibandingkan proporsinya dengan kelompok operasi, perbedaannya menjadi tidak terlalu signifikan. Studi ini kemudian dihentikan sesuai protokol karena jumlah diagnosis kanker invasif sudah mencapai batas yang ditentukan.

Secara total, ditemukan 33 kasus kanker invasif dari 363 pasien di kelompok pengobatan standar (sekitar 9%). Bandingkan dengan 63 kasus dari 1.060 pasien di kelompok active surveillance (sekitar 6%). Menariknya, tumor yang terdeteksi pada kelompok active surveillance rata-rata berukuran sedikit lebih besar (6mm versus 9mm), namun tingkat agresivitasnya tidak lebih tinggi. Ini mengindikasikan bahwa selisih ukuran tersebut tidak serta-merta berarti penyakit yang lebih ganas.

Harapan Baru, Tapi Tetap Hati-Hati

Profesor Wesseling menyimpulkan, hasil sementara ini “menenteramkan” bagi wanita dengan DCIS risiko rendah. Belum ada indikasi kuat bahwa active surveillance menghasilkan luaran yang lebih buruk dibandingkan operasi segera. Ia menekankan pentingnya pemahaman bahwa active surveillance bukanlah berarti menolak pengobatan sama sekali. Ini lebih kepada pemantauan ketat, dengan opsi operasi yang tetap terbuka kapan saja jika kondisi memang mengharuskan.

Secara lebih luas, studi ini memberikan bukti penting dalam diskursus mengenai pengurangan pengobatan berlebihan dalam perawatan kanker payudara. Namun, seperti nasihat bijak dari tetua, diperlukan tindak lanjut yang lebih panjang sebelum ada perubahan signifikan pada panduan pengobatan yang ada. Seperti halnya memetik buah, perlu waktu hingga matang sempurna untuk dinikmati.

Para peneliti sendiri masih terus memantau semua partisipan. Tujuannya adalah untuk mengukur keamanan jangka panjang kedua pendekatan tersebut. Analisis mendalam terhadap kasus-kasus yang berkembang menjadi kanker invasif juga terus dilakukan untuk mengidentifikasi profil pasien mana yang benar-benar bisa terhindar dari operasi segera. Sebuah upaya detil layaknya detektif yang mencari petunjuk.

Profesor Isabel Rubio, Ketua EBCC15 yang tidak terlibat dalam penelitian ini, memberikan pandangannya. Ia mengakui bahwa DCIS adalah kondisi umum yang sering terdeteksi lewat skrining. Meski banyak kasus yang tidak berkembang menjadi kanker invasif, operasi masih menjadi standar. Studi LORD, sebagai salah satu studi prospektif terbesar yang fokus pada DCIS risiko rendah, memberikan pandangan awal yang berharga. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah kanker invasif yang terdeteksi pada kelompok active surveillance sebanding dengan kelompok operasi, dan mayoritas pasien memilih pendekatan ini.

Ia menambahkan, dengan observasi jangka panjang, temuan ini dapat mendukung pendekatan perawatan yang lebih terukur atau de-escalated bagi pasien terpilih. Ini mengisyaratkan bahwa active surveillance yang terpantau dengan cermat bisa menawarkan luaran yang setara dengan operasi, sambil menghindari penanganan yang berlebihan. Sebuah pesan kuat untuk efisiensi dan efektivitas dalam dunia kesehatan.

Previous Post

Fed Bakal Kecilkan ‘Perut’ Neraca: Bukan Mimpi, Tapi Butuh Sabar

Next Post

Bule Nyasar Saat Nyepi Bali: Dilarang Keluar, Malah Ngopi Sendiri?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *