Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Death by Scrolling: Game Ron Gilbert yang Menghipnotis

Jika membayar tagihan bulanan saja sudah bikin pusing tujuh keliling, bayangkan harus melunasi ‘biaya hidup’ di alam baka hanya demi bisa pensiun dengan tenang! Rupanya, game terbaru dari desainer legendaris Ron Gilbert, _Death by Scrolling_, menawarkan krisis eksistensial semacam itu dengan sentuhan humor yang tak terduga. Sebuah RPG vertikal yang memadukan kekacauan _rogue-like_ dengan birokrasi alam baka, game ini menjanjikan pengalaman yang sama uniknya dengan CV Ron Gilbert sendiri.

Ron Gilbert, sosok yang dihormati di dunia _game_ karena sumbangsihnya terhadap mahakarya seperti _Mania Mansion_ dan perannya sebagai penulis-sutradara di _The Secret of Monkey Island_, kini kembali dengan proyek yang sudah lama dinanti. Informasi awal mengenai _Death by Scrolling_ sempat minim, hanya muncul sekilas di blog pribadinya, membuat para penggemar penasaran setengah mati. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang maestro narasi dan teka-teki petualangan beralih ke genre yang jauh berbeda?

Misteri tersebut akhirnya terkuak secara dramatis dalam gelaran _Gamescom_ ‘s Opening Night Live _showcase_ baru-baru ini. Para penonton disuguhi _trailer_ perdana _Death by Scrolling_ yang menunjukkan visual dan mekanisme _game_ yang belum pernah terlihat sebelumnya. Anticipasi pun melambung tinggi, terutama mengingat rekam jejak Gilbert yang selalu menghadirkan inovasi dan cerita yang tak terlupakan.

## Ketika Alam Baka Punya Biaya Admin: Ron Gilbert Berulah Lagi

_Death by Scrolling_, yang akan diterbitkan oleh MicroProse, secara resmi dideskripsikan sebagai “RPG gulir vertikal _rogue-like_ yang kacau”. Premisnya sendiri sudah cukup menggelitik, membawa pemain ke “kedalaman aneh Purgatory — kini di bawah manajemen baru”. Konsep alam baka yang terorganisir, atau setidaknya dikelola dengan cara yang serampangan, sudah cukup untuk memancing rasa ingin tahu banyak orang.

Tujuan utama para pemain adalah melarikan diri dari alam baka yang aneh ini. Caranya tidak lain dan tidak bukan adalah dengan bertempur melewati level-level tak berujung. Sepanjang perjalanan, pemain harus menghadapi berbagai monster dunia bawah tanah yang mengerikan, sambil secara bersamaan berburu harta.

Misi pamungkasnya adalah mengumpulkan 10.000 keping emas. Jumlah emas sebanyak itu dibutuhkan untuk membayar Sang Penyeberang (Ferryman), entitas mitologis yang akan memungkinkan pemain untuk menyeberangi sungai. Ini adalah harga tiket ke “kebebasan” dari Purgatory, sebuah konsep yang mungkin terasa akrab bagi mereka yang pernah berjuang membayar utang kartu kredit.

## Gulirkan Nasibmu: Mekanik Game yang Bikin Jantungan

Aspek paling unik dan menantang dari _Death by Scrolling_ adalah mekanisme layarnya. Layar _game_ akan terus-menerus bergulir ke atas, sebuah fitur yang secara harfiah berarti tidak ada waktu untuk bernapas. Pemain tidak memiliki kemewahan untuk berdiam diri, merencanakan strategi, atau sekadar beristirahat sejenak dari kekacauan yang terjadi.

Tekanan konstan ini menjanjikan pengalaman bermain yang intens dan serba cepat. Setiap keputusan harus diambil dengan kilat, dan kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Ini sangat berbeda dari gaya game petualangan klasik Gilbert yang biasanya memungkinkan pemain untuk merenung dan memecahkan teka-teki dengan tempo lebih santai.

Di balik mekanik yang memacu adrenalin ini, _Death by Scrolling_ juga menjanjikan _game_ yang cerdas dan penuh humor. Deskripsi resmi menyebutnya sebagai “pandangan satir terhadap birokrasi alam baka, dengan dialog-dialog nakal dan narasi yang lucu.” Sepertinya, Gilbert tidak bisa meninggalkan ciri khas humornya yang ikonik.

Pemain juga akan memiliki pilihan beberapa karakter yang bisa dimainkan. Setiap karakter dijanjikan akan memiliki kemampuan dan _perk_ yang berbeda. Hal ini menambah dimensi strategis dan nilai _replayability_, memungkinkan pemain untuk bereksperimen dengan gaya bermain yang berbeda dalam upaya mereka melarikan diri dari Purgatory.

## Kisah di Balik Layar: Dari Ide Cemerlang Hingga Sempat Terlupakan

Ron Gilbert sendiri mengungkapkan perjalanan pengembangan _Death by Scrolling_ yang cukup berliku. “Saya mulai mengerjakan _game_ ini pada tahun 2019,” kenangnya di blog pribadinya awal tahun ini. Ide awalnya disambut baik, semua orang menyukainya karena kesederhanaannya yang brilian.

Namun, seperti yang sering terjadi dalam pengembangan _game_, permintaan untuk “progresi” dan “hal-hal _game_” mulai berdatangan. Gilbert mengakui bahwa selama enam bulan berikutnya, ia “melanjutkan untuk merusaknya” dengan menambahkan terlalu banyak elemen yang justru menghilangkan esensi kesenangan awalnya. Sebuah pelajaran pahit tentang batas antara kompleksitas dan kekacauan.

Kemudian, sebuah “game kecil” bernama _Return to Monkey Island_ datang memanggil. Gilbert pun menghabiskan dua tahun berikutnya untuk mengembangkan _game_ ikonik tersebut bersama Dave Grossman dan tim yang luar biasa. Proyek _Death by Scrolling_ pun sempat terbengkalai, menjadi sekadar kenangan akan ide yang sempat salah arah.

Setelah menyelesaikan _Return to Monkey Island_, Gilbert sempat mencoba mengerjakan RPG dunia terbuka dengan kode nama RPGTBD. Namun, ambisi proyek tersebut ternyata terlalu besar untuk tim kecil yang ia miliki. Ia menyadari bahwa _game_ tersebut tidak akan pernah selesai, sebuah realisasi yang seringkali sulit diterima oleh para pengembang.

“Kemudian saya teringat _Death by Scrolling_,” ujar Gilbert. Ia membagikan _prototype_ yang sempat ia simpan kepada desainer Elissa, yang ternyata sangat menyukainya. “Ada sesuatu tentang _game_ ini yang tidak bisa saya lepaskan,” tambahnya, menunjukkan ikatan pribadi yang kuat dengan konsep tersebut.

Bersama Elissa, Gilbert memutuskan untuk memulai kembali. “Saya membangun kembali seluruh proyek, menyingkirkan semua hal bodoh dan mengembalikannya ke inti _game_ ketika itu menyenangkan.” Dalam tiga bulan berikutnya, mereka menambahkan kembali elemen-elemen secara bertahap, termasuk sistem progresi yang bagus, cerita, _quest_, dan tantangan.

## Uji Coba Neraka, Bukan untuk Semua Jiwa?

Gilbert sendiri mengakui bahwa _Death by Scrolling_ “tidak akan menjadi pilihan semua orang.” Pernyataan ini menunjukkan kejujuran seorang desainer yang memahami bahwa inovasi seringkali datang dengan preferensi yang terpolarisasi. Ini mungkin bukan _game_ yang paling ramah pemula, atau yang paling sesuai untuk mereka yang mencari petualangan klasik.

Namun, ia juga menambahkan sebuah indikator keberhasilan yang paling pribadi: “Elissa dan saya kehilangan diri kami dalam memainkannya saat seharusnya kami menguji fitur baru, jadi saya rasa itu bagus.” Pengakuan ini adalah bukti paling kuat dari potensi _game_ tersebut, bahwa bahkan para kreatornya sendiri bisa terpikat oleh daya tarik dan keseruannya.

_Death by Scrolling_ muncul sebagai sebuah eksperimen berani dari seorang desainer yang tidak takut mengambil risiko. Dengan menggabungkan humor khas Ron Gilbert, mekanik _rogue-like_ yang menantang, dan narasi yang unik, _game_ ini siap untuk menarik perhatian para pemain yang mencari pengalaman yang berbeda. Ini adalah bukti bahwa kadang-kadang, untuk melarikan diri dari neraka, yang Anda butuhkan hanyalah _gold_ dan dorongan layar yang tak henti.

Previous Post

Mike Love: Eulogi Brian Wilson, Panggung Megalomania Sejati

Next Post

Dampak Pemotongan Bantuan: Korban Seksual Konflik Terlantar

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *