Mendengarkan album debut Diagonale des Yeux, Madeleine, terasa seperti menjelajahi gudang barang bekas yang penuh dengan mainan rusak dan rekaman kaset yang terdistorsi. Liriknya, hasil permainan exquisite corpse antar duo Laurène Exposito dan Théo Delaunay, adalah kolase pemikiran sporadis dalam empat bahasa berbeda. Hasilnya adalah narasi multi-lingua yang aneh, persis selaras dengan sound kasar dan rekaman rumahan mereka, yang memadukan perkusi kotak mainan dengan efek suara peternakan. Pendekatan nyentrik ini berakar kuat pada kancah outsider pop dan post-punk Eropa era 80-an, di mana instrumen sumbang dan vokal apatis adalah norma. Kedua belas trek dalam album ini menawarkan pesona lo-fi yang menggemaskan, dibangun di atas melodi synth dan gitar sederhana yang seringkali meluncur ke arah yang tak terduga. Lagu ‘Acolytes’ berganti dari ledakan punk yang frenetik ke jeda melankolis dalam waktu 90 detik, sementara ‘Le Rayon Orchidée’ terdengar seperti kotak musik yang malfungsi. Vokal mereka, dengan efek yang dimainkan, bervariasi dari rengekan seperti anak kucing yang nadanya diubah hingga geraman maskulin, menambah lapisan teatrikal yang tak terduga pada keseluruhan sajian.
Saat Kekacauan Bertemu Keanggunan Lo-Fi
Meskipun nuansa kekacauan yang ceria terkadang terasa sedikit berlebihan, seperti pada trek pembuka ‘Tie Game’ yang reyot atau ‘Baby Buddha’ yang terasa seperti dongeng yang salah arah, momen-momen tersebut berhasil ditebus oleh sisi album yang lebih tenang dan kurang gimmicky. Trek seperti ‘Hills of Love’ dan ‘Paradies’ menonjol berkat kelembutan melankolisnya yang sederhana, sementara ‘Nana Niña’ mengingatkan pada duet mekanis dari grup minimal synth Deux. Di sisi lain, duo ini menunjukkan bakat mereka dengan meniru gaya Martin Rev dalam lagu ‘Cherry Ann’ yang menggunakan drum-machine, dan Korgis dalam ‘Change Your Heart’, di mana mereka mengubah hit 1980 mereka, ‘Everybody’s Got to Learn Sometime’, menjadi sebuah nomor cold wave yang tangguh dan glitchy. Namun, seperti halnya seluruh rilis yang penuh kejutan ini, referensi tersebut disajikan dengan senyum penuh kesadaran, bukan pretensi yang menggurui.
Pendekatan artistik Diagonale des Yeux memang mengingatkan pada eksperimen jenius dari para pionir avant-garde musik, di mana batasan antara serius dan main-main kabur sepenuhnya. Setiap elemen, mulai dari pemilihan instrumen hingga cara melantunkan lirik, tampaknya sengaja dirancang untuk mengejutkan dan menggugah selera pendengar yang menduga-duga. Alih-alih terpaku pada satu genre atau gaya, mereka dengan berani melompat antar estetika, menciptakan permadani sonik yang unik dan tak terduga. Gaya exquisite corpse dalam penulisan lirik, yang membagi tugas antar anggota, bukan sekadar trik panggung; ini adalah filosofi inti yang tercermin dalam struktur lagu yang tidak linier dan narasi yang seringkali terasa seperti mimpi.
Keramahan lo-fi yang melekat pada setiap trek bukanlah hasil dari keterbatasan teknis semata, melainkan sebuah pilihan sadar untuk menciptakan intimasi yang mentah. Suara synth yang sedikit berderak, distorsi gitar yang terkontrol, dan penggunaan efek vokal yang tak lazim—semuanya berkontribusi pada narasi sebuah dunia yang dibangun di atas fondasi yang sedikit goyah namun penuh pesona. Momen-momen transisi antar bagian dalam sebuah lagu seringkali terasa seperti peralihan adegan dalam sebuah film independen yang sureal, di mana logika konvensional dikesampingkan demi dampak emosional atau estetika.
Di Luar Kotak Suara: Rekomendasi Lain Bulan Ini
Tidak hanya Diagonale des Yeux yang menyajikan keunikan di bulan ini. Dagmar Zuniga, musisi Nikaragua-Amerika, mendapatkan penegasan kembali untuk debut albumnya, In Filth Your Mystery Is Kingdom / Far Smile Peasant in Yellow Music, melalui label AD 93. Album ini adalah kumpulan karya yang indah namun masih mentah, di mana suara Zuniga yang lembut dan tinggi melayang malu-malu di atas petikan gitar dan synth yang berdetak. Keintiman rekaman pita yang fuzzy ini membangkitkan nuansa Grouper dan Vashti Bunyan, menawarkan pengalaman mendengarkan yang sangat personal dan kontemplatif. Dalam ranah yang berbeda, Laurel Halo menyajikan soundtrack untuk Midnight Zone, sebuah film dari seniman konseptual Prancis-Swiss, Julian Charrière, yang menggali area terpencil di Samudra Pasifik yang semakin menjadi target penambangan laut dalam. Komposisi drone yang padat dan epik ini, selaras dengan visual film yang gelap dan berputar, secara intermiten menenangkan namun terkadang juga meresahkan, menjadikannya sebuah karya yang menuntut perhatian penuh pendengar.
Selanjutnya, Mecánica Clásica, grup elektronik yang berbasis di Valencia, merilis album baru mereka yang brilian, Una Teoría del Ritmo, di bawah naungan Abstrakce. Album ini terdiri dari sembilan trek downtempo yang sangat bertekstur, menampilkan synth yang menggelegak dan perkusi yang menetes, memberikan sentuhan hangat dan bersemangat pada fondasi musik yang terasa sedikit suram. Kombinasi elemen-elemen ini menciptakan sebuah lanskap suara yang kaya dan menggugah, membuktikan bahwa kesederhanaan dalam produksi dapat menghasilkan kedalaman yang luar biasa. Setiap trek dalam album ini terasa seperti sebuah lukisan sonik, dengan lapisan-lapisan suara yang saling melengkapi untuk menciptakan suasana yang imersif.
Ketiga rilisan ini, meskipun sangat berbeda dalam gaya dan pendekatan, berbagi benang merah dalam hal keberanian artistik dan penolakan terhadap konvensi. Mereka semua menunjukkan bagaimana musisi saat ini terus mendorong batas-batas genre, menciptakan karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga menantang pendengarnya. Baik itu melalui eksperimen lirik multi-bahasa, eksplorasi suara yang meresahkan, atau perpaduan teksturologi yang cermat, para artis ini membuktikan bahwa lanskap musik kontemporer masih penuh dengan ruang untuk inovasi dan penemuan.
Kembali ke Diagonale des Yeux, kekuatan mereka terletak pada kemampuan untuk menyeimbangkan kekacauan dengan momen-momen keindahan yang tak terduga. ‘Acolytes’, misalnya, adalah contoh sempurna bagaimana sebuah lagu dapat bermanuver antara energi mentah dan kerentanan liris tanpa kehilangan kohesinya. Perubahan tempo dan dinamika yang tiba-tiba, alih-alih terasa mengganggu, justru menambah daya tarik dan ketidakpastian yang merupakan ciri khas mereka. Ini adalah jenis musik yang menghargai perhatian, mengundang pendengar untuk mendengarkan berulang kali, menemukan detail baru di setiap putaran.
Penempatan efek vokal yang kadang seperti binatang dan kadang seperti pria garang, menambah dimensi ironi pada lirik-lirik yang, meski ditulis secara kolektif, tetap memiliki benang merah naratif yang aneh. Ini bukan tentang penyampaian emosi secara langsung; ini lebih tentang membangun karakter dan adegan melalui manipulasi suara. Kemampuan mereka untuk menggunakan alat-alat studio secara tidak konvensional, mengubah suara manusia menjadi sesuatu yang hampir asing, adalah bukti dari jiwa eksperimental mereka. Ini adalah permainan suara yang cerdas, di mana setiap distorsi atau modifikasi vokal adalah sebuah pilihan artistik yang disengaja.
Keberadaan referensi seperti Martin Rev atau Korgis bukanlah upaya untuk meniru, melainkan untuk menempatkan karya mereka dalam sebuah dialog musikal yang lebih luas. Mereka mengambil elemen-elemen yang dikenal dari masa lalu dan mengolahnya kembali dengan sentuhan kontemporer yang segar dan seringkali mengejutkan. Hasilnya adalah musik yang terasa akrab sekaligus asing, sebuah jembatan antara nostalgia dan inovasi. Penggunaan materi sumber yang sudah ada, seperti pada ‘Change Your Heart’, menunjukkan kesadaran diri yang tinggi tentang sejarah musik populer, namun juga keyakinan pada kemampuan mereka untuk memberikan perspektif baru.
Album Madeleine, secara keseluruhan, adalah sebuah perjalanan yang memikat melalui pikiran duo yang unik. Ini adalah karya yang menolak untuk diklasifikasikan dengan mudah, yang menentang ekspektasi, dan yang paling penting, yang menawarkan pengalaman mendengarkan yang kaya dan memuaskan bagi mereka yang bersedia untuk membuka diri terhadap kekacauan yang terorganisir. Ini adalah bukti bahwa dalam kesederhanaan rekaman rumahan dan kebebasan eksperimen, dapat ditemukan kedalaman artistik yang luar biasa, membuktikan bahwa keajaiban musik seringkali bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga.
Pada akhirnya, Diagonale des Yeux telah menciptakan sebuah album yang berani, penuh karakter, dan benar-benar orisinal. Mereka tidak takut untuk menjadi aneh, dan justru dalam keanehan itulah pesona mereka bersinar paling terang. Madeleine bukan sekadar kumpulan lagu; ini adalah sebuah pernyataan artistik yang kuat tentang kekuatan imajinasi dan kegembiraan dalam proses penciptaan musik yang bebas dari batasan.


