Bayangkan ini: setelah empat setengah dekade mengaduk-aduk thrash metal, gitaris EXODUS, Gary Holt, masih saja menikmati hidup di tengah kenyataan panggung yang kadang brutal. Dari Sold Out megah di LA Forum bersama SLAYER, ia bisa saja meluncur ke ritual mandi di bilik yang meragukan di sebuah venue di Jerman. Dan bukan sekadar bertahan, ia justru bilang, “Saya cinta itu. Ini luar biasa.” Sebuah dedikasi yang, mari kita akui, agak bikin geleng kepala sekaligus salut.
Senyawa Pengikat Generasi: Lifeblood Sang Gitaris
Pertanyaan tentang fokus Gary Holt pada EXODUS selama lebih dari empat dekade bukanlah hal sepele. Jawaban yang keluar dari mulutnya bukan sekadar formula bisnis musik; ini adalah tentang identitas. “Menjadi bagian dari EXODUS itu adalah cara hidup,” ujarnya blak-blakan. Bahkan ketika ia bersinggah bersama SLAYER, ada rasa rindu yang mendalam akan esensi EXODUS itu sendiri. Perpindahan dari gemerlap tur global SLAYER ke realitas pancuran band underground di Eropa adalah bukti nyata betapa dalamnya akar musikalitas ini tertanam.
Holt, yang kini berusia 61 tahun dan akan segera menginjak 62, memandang pekerjaannya bukan sebagai beban, melainkan sebuah anugerah. “Saya tidak kaya, tapi saya bisa menafkahi hidup dengan bermain gitar, dan itu sendiri adalah sebuah anugerah,” katanya. Ia menyadari, pensiun bukanlah opsi yang realistis baginya. Namun, alih-alih mengeluh, ada semacam penerimaan yang tulus. “Saya cinta pekerjaan saya. Jadi, bekerja bukanlah masalah.” Pengakuan ini menggema di telinga para musisi veteran lainnya yang mungkin merasakan hal serupa; sebuah perjuangan konstan demi mempertahankan api kreativitas dan eksistensi di industri yang tak kenal ampun.
Fokus yang tak tergoyahkan ini jelas bukan hasil dari sekadar kebetulan. Ada sebuah dialektika antara kenyamanan dan ketidakpastian yang justru menjadi bumbu penyedapnya. Pergolakan antara pengalaman di panggung besar dengan SLAYER dan realitas shower yang “agak mencurigakan” di benua biru, semuanya disikapi dengan senyum getir namun tetap mencintai prosesnya. Ini adalah potret musisi yang benar-benar hidup untuk musiknya, bukan sekadar hidup dari musiknya.
Symphony yang Tak Terduga: Inspirasi Adele di Tengah Riff Brutal
Ketika ditanya tentang sumber inspirasinya untuk “alur kreatif” yang tak henti mengalir, Gary Holt memberikan jawaban yang cukup mengejutkan. Jauh dari dugaan mendengarkan deretan band metal modern, Holt justru mengaku terobsesi dengan Adele. Ya, Anda tidak salah baca. “Saya mendengarkan Adele. Satu-satunya album yang saya dengarkan adalah semua lagu dari Adele. Saya terobsesi. Saya suka Adele.” Pengakuan ini jelas membuyarkan ekspektasi banyak pendengar setianya yang membayangkan playlist-nya dipenuhi riff-riff garang.
Tak berhenti di situ, radio mobilnya pun bukan frekuensi metal. Lebih sering terdengar siaran sports talk radio atau soft rock. “Mungkin saya mendapat pengaruh dari Christopher Cross. Saya tidak tahu,” ujarnya dengan nada sedikit bingung. Namun, ada satu nama yang ia sebutkan sebagai pahlawan musikalnya, Prince. “Prince adalah pahlawan musikal saya. Mungkin saya secara bawah sadar mengambil pengaruh sebanyak dari dia seperti dari siapa pun,” ungkapnya. Pengaruh lintas genre ini menunjukkan bahwa kreativitas Holt tidak terkotak-kotak dalam satu definisi sempit genre.
Terlepas dari berbagai pengaruh tak terduga tersebut, Holt menegaskan bahwa fondasi musikalitasnya tetap kokoh pada akar rock yang ia cintai sejak masa SMA. Nama-nama seperti NAZARETH, THIN LIZZY, Ted Nugent, AC/DC, dan SCORPIONS masih menjadi santapan sehari-hari. Metode komposisinya pun tak banyak berubah; sebuah proses intuitif yang dimulai dari sesi jamming sampai sebuah melodi atau riff yang terasa pas benar-benar menancap. Sebuah perpaduan antara kecintaan pada masa lalu dan keterbukaan terhadap arus inspirasi yang datang dari arah yang tak terduga.
Era Baru EXODUS: Goliath Siap Mengguncang Dunia
Menjelang rilisnya album studio kedua belas, “Goliath”, yang dijadwalkan pada 20 Maret melalui Napalm Records, antusiasme para penggemar EXODUS semakin memuncak. Produksi album ini dikerjakan langsung oleh EXODUS sendiri, sementara urusan mixing dan mastering diserahkan kepada Mark Lewis, yang sebelumnya telah bekerja dengan nama-nama besar seperti WHITECHAPEL, NILE, dan UNDEATH. Ini menandai sebuah babak baru dalam evolusi suara mereka, sebuah upaya segar untuk menjaga relevansi di lanskap musik yang terus berubah.
Proses kreatif di balik “Goliath” juga melibatkan pembuatan video musik untuk tiga lagu dari album tersebut, termasuk “3111” dan “Goliath”. Proyek visual ini digarap oleh Jim Louvau, seorang seniman multitalenta asal Phoenix, Arizona, yang sebelumnya juga terlibat dalam pembuatan video musik “The Fires Of Division” untuk album “Persona Non Grata” (2021). Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan dimensi visual yang kuat untuk materi baru mereka, melengkapi kebrutalan sonik yang menjadi ciri khas EXODUS.
Perlu dicatat, “Goliath” menjadi album pertama bagi EXODUS dalam hampir tiga dekade yang tidak melibatkan Andy Sneap dalam proses mixing. Sneap, yang dikenal sebagai produser dan gitaris tur untuk JUDAS PRIEST selama delapan tahun, telah menjadi bagian integral dari lanskap suara EXODUS dalam periode yang cukup panjang. Keputusan ini mengisyaratkan adanya keinginan untuk eksplorasi suara yang lebih luas dan mungkin juga sebuah tantangan bagi EXODUS untuk mendefinisikan ulang identitas sonik mereka tanpa kehadiran tangan dingin Sneap.
Rotasi Vokal Klasik: Rob Dukes Kembali, Zetro Harus Ke Kiri
Dalam sebuah pergantian yang mengejutkan jagat metal, penyanyi Steve “Zetro” Souza diberhentikan dari EXODUS pada Januari 2025. Posisi yang ditinggalkannya kini diisi oleh kembalinya Rob Dukes, yang sebelumnya telah menjadi bagian dari formasi band. Peristiwa ini tentu menimbulkan berbagai spekulasi dan reaksi dari para penggemar yang terbiasa dengan dinamika vokal dalam band.
Sejarah kolaborasi Souza dengan EXODUS sendiri cukup panjang dan berliku. Ia pertama kali bergabung pada tahun 1986, setelah sempat mengisi vokal di band LEGACY (yang kemudian berganti nama menjadi TESTAMENT). Souza bertahan hingga EXODUS hiatus pada tahun 1993, lalu kembali lagi untuk periode dua tahun dari 2002 hingga 2004. Di sisi lain, Dukes bergabung dengan EXODUS pada tahun 2005, mengisi kekosongan setelah Souza hengkang, dan bertahan hingga 2014 sebelum akhirnya Souza kembali lagi.
Penampilan Dukes sebelumnya bersama EXODUS sangat berkesan, terutama kontribusinya pada empat album studio: “Shovel Headed Kill Machine” (2005), “The Atrocity Exhibition… Exhibit A” (2007), “Let There Be Blood” (2008, sebuah re-recording dari album klasik “Bonded By Blood”), dan “Exhibit B: The Human Condition” (2010). Konser pertama EXODUS yang menampilkan Dukes dalam hampir 11 tahun terakhir digelar pada 5 April 2025 di Decibel Magazine Metal & Beer Fest: Philly, Philadelphia. Kembalinya Dukes diharapkan dapat membawa kembali energi dan nuansa vokal yang telah lekat dengan era-era tertentu dalam diskografi EXODUS.
Warisan Abadi: EXODUS dan Pengaruhnya pada Thrash Metal
Meskipun EXODUS mungkin jarang disebut berdampingan dengan kuartet legendaris “Big Four” thrash metal era 80-an—METALLICA, MEGADETH, SLAYER, dan ANTHRAX—pengaruh mereka pada genre ini tidak dapat diremehkan. Album klasik mereka, “Bonded By Blood” (1985), adalah mahakarya yang menginspirasi banyak band generasi berikutnya untuk mengukir jalan mereka sendiri di kancah thrash metal.
Banyak nama besar yang lahir dan tumbuh dari percikan api yang dinyalakan oleh EXODUS. Band-band seperti TESTAMENT, DEATH ANGEL, dan VIO-LENCE, yang kini memiliki basis penggemar setia, secara terang-terangan mengakui peran krusial “Bonded By Blood” dalam pembentukan identitas musik mereka. Pengakuan ini menegaskan posisi EXODUS sebagai salah satu pilar fundamental dalam evolusi thrash metal global, sebuah warisan yang terus bergema hingga kini.
Pengaruh tersebut bukan hanya sekadar sejarah, melainkan sebuah bukti nyata dari kualitas dan inovasi yang dibawa oleh EXODUS sejak awal kemunculannya. Mereka berhasil menciptakan formula yang tidak hanya memuaskan dahaga para penggemar akan musik yang cepat, agresif, dan teknikal, tetapi juga mampu memberikan fondasi bagi perkembangan genre yang lebih luas. Kisah EXODUS adalah kisah tentang ketekunan, evolusi, dan dampak abadi pada dunia musik.


