Di jagat permusikan yang gemerlap, ada tren yang muncul begitu saja, mengubah wajah industri kecantikan dan penampilan. Bukan soal kilauan gemerlap konser megah atau alunan merdu yang menggetarkan jiwa, melainkan tentang sapuan kuas yang berani. Yasmin Istanbouli, sang maestro tata rias di balik layar visual Charli XCX untuk album Brat, tanpa sadar telah memicu revolusi. Era ‘clean girl’ yang kaku kini terlempar ke sudut, digantikan oleh estetika yang lebih berani, berkeringat, dan jujur. Sebuah pergeseran estetika yang tak terduga, dan Istanbouli adalah arsitek utamanya.
Perluasan dari sekadar polesan muka, kolaborasi Istanbouli dengan Charli XCX pada sesi foto Brat lebih dari sekadar mematut diri. Ini adalah pernyataan artistik yang mengguncang fondasi standar kecantikan. Charli, dengan mata yang sedikit basah dan kantung mata yang dibiarkan terekspos, telah membuka gerbang bagi bentuk ekspresi diri yang lebih mentah. Istanbouli, seorang seniman tata rias keturunan Korea-Palestina yang berbasis di Los Angeles, bukan hanya mengikuti permintaan, melainkan membentuknya menjadi sebuah gerakan. Pernyataan “aku suka abu-abu. Aku tidak ingin concealer di bawah mata. Aku ingin kantung mataku terlihat” dari Charli, baginya, adalah peta jalan menuju terobosan.
Sejak momen transformatif itu, Istanbouli telah menggunakan platform Instagram-nya sebagai wadah kreasi tanpa henti. Ia tak sekadar mengulang kesuksesan masa lalu, tetapi terus bereksperimen, menciptakan nuansa serupa yang memikat. Walaupun sang seniman merasa proses belajarnya masih terus berlanjut, jejaknya kini terukir jelas dalam lanskap tata rias. Ia bukan lagi sekadar pelaksana, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah muse yang menginspirasi. Istanbouli berbagi perihal sumber inspirasinya, sekaligus bagaimana ia tetap membumi di tengah penciptaan sebuah momen budaya.
Jejak Artistik dari Fotografi ke Kuas
Awal mula perjalanan Istanbouli di dunia seni visual terentang melalui lensa kamera. Di masa sekolah menengah, kamera pertama yang dihadiahkan ayahnya membangkitkan hasrat menjadi seorang fotografer. Terinspirasi oleh karya Vivian Maier dan Daniel Arnold, ia menyelami dunia visual dengan penuh semangat. Meskipun tumbuh di Arab Saudi, keputusannya untuk melanjutkan studi di Scripps College, California, dengan jurusan studi media, menandai babak baru. Namun, di tahun ketiga perkuliahan, keraguan mulai menyelimuti. Ketidakpastian jalur karir ini membawanya pada tontonan RuPaul’s Drag Race, di mana adegan para kontestan merias diri sambil bertukar candaan tajam justru memikat perhatiannya.
Proses merias diri yang ia saksikan terasa begitu memuaskan. Tak butuh waktu lama, Istanbouli mulai memesan perlengkapan tata rias, menghabiskan waktu untuk berlatih ‘drag’ di kamarnya. Pujian dari ibu dan teman-teman terdekat menjadi dorongan awal. Ia mulai merias teman-temannya, bahkan memberanikan diri tampil dengan riasan mata yang berani di kampus. Setelah kelulusan, sebuah kesempatan emas datang ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti kursus tata rias di Los Angeles yang diajar oleh Priscilla Ono, penata rias langganan Rihanna. Tak disangka, ibunya langsung memberikannya kejutan dengan mendaftarkannya di kursus tersebut. Pelatihan intensif selama tiga hari ini mengukuhkan keputusannya; ini adalah jalan yang tepat. Di sela-sela magang pemasaran di sebuah perusahaan denim, ia menekuni tata rias di akhir pekan. Pendekatannya yang proaktif terbukti membuahkan hasil ketika ia mulai menjalin kolaborasi dengan para model dan fotografer, termasuk nama-nama seperti Gabby Richardson dan Salem Mitchell.
Pertemuan yang Mengubah Arah: Charli XCX dan Estetika ‘Brat’
Pertemuan Istanbouli dengan Charli XCX terjadi sebelum fenomena Brat meledak. Firasat datang dari Fitch Lunar, seorang penata rambut kenalan di Los Angeles, yang meyakinkan bahwa Charli sedang mencari penata rias di kota itu dan Istanbouli adalah kandidat yang tepat. Kesempatan pertama pun tiba saat Charli tampil sebagai tamu istimewa untuk Caroline Polachek. Istanbouli mengaku sangat gugup saat itu, mengerjakan riasan Charli di sebuah ruangan backstage yang sangat sempit. Interaksi di antara mereka memang minimal pada awalnya. Namun, setelah tugas tersebut, tawaran pekerjaan datang kembali tanpa jeda. Puncaknya, ia dipercaya untuk menangani sesi pemotretan yang mengarah pada penciptaan visual album Brat. Momen ini krusial, di mana Charli secara eksplisit menginginkan perubahan besar dalam nuansa dan penampilan, sebuah tantangan yang disambut Istanbouli dengan antusias.
From left: Photo: Courtesy of Yasmin IstanbouliPhoto: Courtesy of Yasmin Istanbouli
From top: Photo: Courtesy of Yasmin IstanbouliPhoto: Courtesy of Yasmin Istanbouli
Dampak ‘Brat’ dan Evolusi Wajah Selebriti
Fenomena Brat bukan sekadar album musik; ia adalah katalisator perubahan estetika. Gaya riasan Charli yang terinspirasi dari era 90-an dan awal 2000-an, dengan sentuhan ‘ grunge’ yang halus namun tegas, telah memicu gelombang baru di kalangan penggemar dan sesama seniman. Peralihan dari riasan yang terpoles sempurna, yang seringkali diasosiasikan dengan ‘clean girl’ aesthetic, ke arah yang lebih eksperimental dan berani, menandai pergeseran paradigma kecantikan. Kemunculan kantung mata yang sengaja diekspos, sapuan eyeliner yang sedikit berantakan, serta rona pipi yang merona alami, semuanya adalah elemen yang dirayakan, bukan disembunyikan. Ini adalah pengakuan akan keindahan dalam ketidaksempurnaan, sebuah narasi yang beresonansi kuat dengan audiens muda.
Menanggapi pertanyaan mengenai dampaknya, Istanbouli menyatakan rasa kerendahan hati. Ia mengenang masa lalu ketika dirinya adalah pengamat yang mempelajari tutorial orang lain. Kini, ia menyaksikan karyanya direplikasi dan diadaptasi oleh banyak orang di media sosial. Pengalaman ini terasa seperti momen ‘lingkaran penuh’, namun ia tetap membumi. Istanbouli menekankan bahwa ia masih merasa seperti seorang pemula yang sedang bermain-main dengan kosmetik, sebuah perspektif yang membantunya tetap rendah hati di tengah sorotan publik. Ia menyadari bahwa ketenaran ini adalah hal yang menyenangkan, namun ia bertekad agar hal itu tidak menguasai dirinya. Perjalanan karirnya masih panjang, dan fokus utamanya adalah menjaga koneksi dengan para pengikutnya.
Inspirasi dari Drag hingga Kehidupan Sehari-hari
Ketika ditanya tentang inspirasi terkini, Istanbouli merujuk pada sesama seniman tata rias sebagai sumber utama. Nama-nama seperti Nina Park dan Kennedy disebut sebagai legenda yang menginspirasinya. Walaupun tetap menghormati dunia drag yang menjadi inspirasi awal, fokusnya saat ini lebih pada eksplorasi kreatif melalui riasan pada diri sendiri dan klien. Setiap interaksi dengan klien menjadi momen pembelajaran, menangkap preferensi unik mereka dan kadang-kadang menemukan teknik baru yang tak terduga. Semangat inilah yang ia tularkan dalam tutorialnya, mendorong para pengikut untuk berani bereksperimen dan menyesuaikan setiap langkah sesuai keinginan pribadi.
Mengenai proses kreatif sebelum bekerja dengan klien, Istanbouli mengakui bahwa ia baru mulai menjelajahi pembuatan mood board. Pengalaman masa lalunya sebagai mahasiswi fotografi memberikannya kepekaan visual yang kuat, memungkinkannya untuk bekerja tanpa terlalu mengandalkan alat bantu visual yang rumit. Pendekatannya cenderung langsung dan sederhana. Baginya, tata rias harus terasa menyenangkan dan terlihat baik, tanpa perlu lapisan yang berlebihan. Kesederhanaan ini tercermin dalam hasil karyanya, yang seringkali menampilkan keindahan yang tak dibuat-buat.
From left: Photo: Courtesy of Yasmin IstanbouliPhoto: Courtesy of Yasmin Istanbouli
From top: Photo: Courtesy of Yasmin IstanbouliPhoto: Courtesy of Yasmin Istanbouli
Istanbouli juga mengungkap tempat-tempat yang memberinya inspirasi dan menyegarkan kreativitasnya. Tumbuh di Jeddah, sebuah kota pesisir, membuatnya memiliki keterikatan kuat dengan pantai. Aktivitas berkendara mobil, terutama saat senja, juga memberikan kebahagiaan tersendiri baginya. Pengalaman baru-baru ini, terutama saat diajak menjelajahi New York oleh kekasihnya yang asli sana, membuka perspektif baru. Pengalaman mengunjungi daerah pedesaan di upstate New York, di mana ia membayangkan dirinya dapat ‘bersembunyi’ sambil menanam sayuran, menunjukkan keinginan untuk menemukan ketenangan di tengah kesibukan karirnya.
Menghadapi Tantangan dan Menjaga Keaslian Diri
Tantangan dalam dunia tata rias yang kompetitif di Los Angeles tak luput dari perhatian Istanbouli. Pernah mengalami masa-masa ketika tawaran pekerjaan minim, terutama saat musim penghargaan, tentu sempat mempengaruhinya. Namun, ia menemukan cara untuk bangkit dari fase tersebut. Dengan mengambil kameranya, merias wajahnya sendiri, merekam prosesnya, dan mengunggahnya ke Instagram, ia berhasil membangkitkan kembali semangat kreatifnya. Dukungan dari komunitas online menjadi kekuatan pendorong, memberinya validasi bahwa ia tetap berkarya secara artistik, meskipun hanya melalui pembuatan tutorial.
Dalam menghadapi pertanyaan mengenai seniman tata rias favorit di media sosial, Istanbouli menyebutkan Aoife dan Katie Jane Hughes. Ia mengagumi cara Katie Jane Hughes berkomunikasi yang santai dan tidak rumit. Pengalaman pertemuannya dengan Hughes di London, saat keduanya sama-sama mengerjakan riasan untuk konser Dua Lipa, menjadi momen yang tak terlupakan.
Tentang keseimbangan antara menampilkan diri secara publik dan menjaga privasi, Istanbouli berpendapat bahwa ia telah mencoba bersikap misterius, namun hal itu tidak sesuai dengan kepribadiannya. Ia menganggap dirinya sebagai orang yang paling tidak misterius. Baginya, koneksi antarmanusia adalah hal terpenting, dan ia menyadari bahwa eksistensinya di dunia maya bergantung pada interaksi tersebut. Terkadang, unggahan yang paling banyak mendapat respons justru adalah foto sederhana, seperti sepiring shawarma, yang menunjukkan bahwa kesederhanaan pun dapat menciptakan koneksi.
From left: Photo: Courtesy of Yasmin IstanbouliPhoto: Courtesy of Yasmin Istanbouli
From top: Photo: Courtesy of Yasmin IstanbouliPhoto: Courtesy of Yasmin Istanbouli
Terkait keinginannya terhadap persepsi karya, Istanbouli berharap karyanya dapat dilihat sebagai sesuatu yang mudah didekati. Ia tidak ingin riasannya terasa terlalu rumit atau sulit dijangkau. Kesederhanaan dan keramahan yang ia hadirkan dalam kepribadiannya tercermin dalam hasil kerjanya. Apresiasi terbesar baginya adalah ketika orang lain merasa terinspirasi untuk mencoba riasannya sendiri, yang ia lihat sebagai bukti nyata dari daya tarik karyanya. Ia juga berambisi agar warisan artistiknya bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari dirinya yang otentik. Pesan ayahnya untuk “jangan lupa siapa diri dan dari mana berasal” menjadi pengingat abadi untuk tetap setia pada identitas diri, sebuah prinsip yang terus ia pegang teguh dalam setiap goresan kuasnya.
Dalam industri yang seringkali mendorong kompromi terhadap keaslian, Istanbouli menolak untuk larut dalam kekalutan. Ia mengakui adanya godaan untuk terjebak dalam pola pikir yang sinis atau merasa tidak cukup baik. Namun, dengan dukungan dari orang-orang terdekat dan pengikutnya, ia berhasil mempertahankan karakternya yang unik—terkadang dianggap terlalu ‘keras’, terlalu ‘berisik’, atau terlalu ‘cerewet’. Namun, justru keunikan inilah yang membuat orang lain terhubung dengannya dan memercayakan karya mereka padanya. Ini adalah esensi dari warisan yang ingin ia tinggalkan: keberanian untuk menjadi diri sendiri, tanpa perlu mengubah siapa diri sebenarnya.


