Siapa sangka, sang rocker legendaris Judas Priest, melalui gitarisnya Richie Faulkner, kembali memberikan alasan untuk penggemar berdebar kencang, bukan hanya karena riff gitar mematikan, tetapi juga karena pertarungan hidup-mati melawan kondisi medis yang tak terduga. Bayangkan, di tengah hiruk-pikuk panggung metal, tubuh justru berkhianat. Ini bukan drama sinetron murahan, ini adalah kenyataan pahit yang dihadapi Faulkner, yang memaksa penonton untuk mengupas lapisan di balik kilau stage light dan deru amplifier yang megah.
Kembalinya Judas Priest ke panggung tur tampaknya menjadi kepastian yang tak terbantahkan, sebuah siklus yang selalu siap berputar tanpa henti. Faulkner sendiri mengakui bahwa mesin Priest ini “selalu siap”, sebuah entitas yang jarang sekali beristirahat terlalu lama. Baru saja turun dari panggung pada bulan Oktober, dan sudah ada percakapan mengenai penerbangan untuk tur berikutnya di bulan Juli. Jeda beberapa bulan terasa seperti sekejap mata di era modern ini, di mana jadwal tur bagai tak kenal ampun. Semangat juang para personel Priest, termasuk sang vokalis Rob Halford yang terus membuktikan bahwa usia hanyalah angka, menjadi pendorong utama untuk terus berkarya. Kesehatan prima menjadi modal utama, sebuah anugerah yang disyukuri betul oleh Faulkner dan kawan-kawan.
Di Balik Panggung: Perjuangan Personal Sang Maestro Gitar
Namun, di balik semangat membara itu, tersimpan narasi tentang perjuangan kesehatan Faulkner yang nyaris merenggut segalanya. Hampir lima tahun berlalu sejak insiden mengerikan aneurisma aorta dan diseksi aorta lengkap yang dialaminya di festival Louder Than Life tahun 2021. Kejadian ini bukan hanya sebuah insiden medis, melainkan titik balik yang memaksa Faulkner untuk menata ulang seluruh rutinitas hidupnya, terutama demi persiapan menghadapi setiap konser. Fisik yang sebelumnya tak tergoyahkan, kini memerlukan perawatan intensif layaknya mesin balap yang harus diservis sebelum lintasan.
Untuk menjaga performa prima di atas panggung, Faulkner kini tak bisa lepas dari sosok Bastian, sang terapis fisik asal Jerman yang selalu setia menemaninya dalam setiap tur. Latihan fisik dilakukan tiga kali sehari: pagi, sebelum konser, dan setelah konser. Fokus utama adalah sisi kanan tubuhnya, yang mengalami kerusakan kolateral akibat peristiwa mengerikan tersebut. Menjaga sisi kanan tetap aktif dan berfungsi optimal adalah prioritas utama. Ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan sebuah rezim ketat yang mencakup pengaturan pola makan dan terapi fisik harian. Faulkner menyadari betapa beruntungnya dirinya masih bisa melakukan apa yang dicintai, meskipun harus bekerja ekstra keras, sebuah pengingat bahwa banyak orang di luar sana yang menghadapi tantangan kesehatan jauh lebih berat.
Pernyataannya kepada Q105.7 di Albany beberapa waktu lalu semakin memperjelas rutinitas pemulihannya. Selain konsistensi mengonsumsi obat-obatan – yang kadang terlupakan di tengah kesibukan – perhatian khusus diberikan pada rehabilitasi sisi kanan tubuhnya. Latihan koordinasi menjadi bagian tak terpisahkan, tiga kali sehari bersama Bastian. Kondisi jantungnya sendiri terbilang stabil berkat pengobatan, meski ada pantangan makanan tertentu seperti sayuran hijau yang baginya tidak terlalu memberatkan. Pengalaman ini membuatnya semakin bersyukur, mengingat masih banyak kondisi yang lebih serius di luar sana.
Sebuah Pengakuan yang Menggugah: Menghadapi Stroke dan Ketakutan Terbongkar
Perjalanan Faulkner tidak berhenti pada penanganan jantung. Tak banyak yang tahu, sebulan setelah operasi besar pertamanya, ia mengalami kejadian yang nyaris serupa, namun kali ini berdampak pada otak. Saat sedang berjalan santai bersama anjing peliharaannya, ditemani sang kekasih Mariah Lynch dan putri mereka Daisy, wajahnya mendadak kaku, kemampuan berbicara hilang. Kejadian ini kemudian diidentifikasi sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), atau serangan iskemik transien, yang merupakan indikasi awal dari kemungkinan stroke.
Peristiwa stroke yang sebenarnya terjadi kemudian, meninggalkan kerusakan pada sisi kiri otak yang berimbas pada fungsi motorik sisi kanan tubuh. Ini menjelaskan mengapa tangan kanannya mulai terasa berbeda, menghambat kemampuannya memainkan riff gitar yang kompleks dan presisi, terutama dalam pola ritme yang harus terkunci rapat. Ia bahkan sempat tidak sanggup memainkan materi demo yang dibuatnya setahun sebelumnya, sebuah realita pahit yang membuatnya merasa seperti penipu di atas panggung.
Rasa takut terungkapnya kondisi ini sempat melumpuhkannya. Faulkner khawatir akan kehilangan kepercayaan dari penggemar dan sponsor. Ia merasa cemas jika penampilannya tidak lagi dianggap ‘kelas dunia’, sebuah standar yang harus dipenuhi oleh Judas Priest. Ketakutan ini menciptakan siklus yang memperburuk keadaan; semakin ia berusaha keras, semakin ia merasa tertinggal. Pengalaman merekam gitar untuk album ‘Invincible Shield’ menjadi bukti nyata betapa kondisi ini memengaruhi kreativitas dan kemampuannya untuk mengeksekusi ide-ide musiknya.
Namun, seiring waktu, Faulkner menemukan keberanian untuk membuka diri. Keputusannya untuk berbagi kisah ini bukan semata-mata untuk mencari simpati, melainkan untuk memberikan pesan kuat bagi mereka yang mungkin mengalami perjuangan serupa. Ia ingin menegaskan bahwa rasa tidak percaya diri atau perasaan kurang mumpuni adalah hal yang wajar, dan yang terpenting, mereka tidak sendirian. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa banyak individu, bahkan para ikon di industri musik, yang bergulat dengan masalah kesehatan fisik maupun mental.
Mengungkapkan kondisinya juga menjadi langkah pembebasan. Faulkner merasa lega tidak perlu lagi menyembunyikan kebenaran. Ia menyadari bahwa meskipun ada sedikit penyesuaian yang harus dilakukan dalam penampilannya, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk terus bermain musik, menciptakan karya, dan memberikan yang terbaik di setiap pertunjukan. Pengakuan ini bukan berarti mengendurkan gas, melainkan sebuah cara untuk mengelola ekspektasi dan membangun pemahaman yang lebih baik.
Bahkan, Faulkner tak ragu membagikan momen ketika ia merasa performanya menurun drastis. Penampilan ELEGANT WEAPONS di Paris tahun 2023, membawakan lagu ‘Painkiller’ milik Judas Priest, ia akui sangat buruk, dan bahkan mengundang pendengar untuk menontonnya di YouTube demi mendapatkan gambaran. Ini adalah bentuk transparansi yang jarang ditemukan, sebuah keberanian untuk menunjukkan kerentanan di tengah citra rockstar yang seringkali digambarkan sebagai sosok tak terkalahkan. Tindakan ini justru menumbuhkan empati dan koneksi yang lebih dalam dengan audiens.
Sebuah Refleksi dari ’50 Heavy Metal Years’
Kisah Faulkner adalah pengingat yang kuat bahwa di balik setiap aksi panggung yang memukau, terdapat cerita manusia yang kompleks, perjuangan yang tak kasat mata. Insiden di Louder Than Life pada tahun 2021, yang datang tanpa peringatan, menjadi pembuka jalan bagi kesadaran akan kerentanan tubuh manusia, bahkan bagi mereka yang tampak paling kuat. Ia sendiri sempat mengutarakan bahwa tidak ada riwayat komplikasi jantung sebelumnya, menegaskan betapa kondisinya datang secara tiba-tiba, layaknya badai di tengah lautan yang tenang.
Definisi medis aneurisma aorta sebagai “tonjolan seperti balon pada aorta, arteri besar yang membawa darah dari jantung melalui dada dan batang tubuh” dan diseksi yang terjadi ketika “gaya dorong darah dapat memecah lapisan dinding arteri, memungkinkan darah merembes di antaranya” memberikan gambaran teknis tentang bahaya yang ia hadapi. Namun, cerita Faulkner melampaui definisi medis, menyentuh aspek emosional dan psikologis dari menghadapi ancaman kesehatan serius.
Setelah insiden tersebut, tur 50 tahun Judas Priest, bertajuk “50 Heavy Metal Years”, harus ditunda. Penjadwalan ulang ke Maret dan April 2022 menjadi penanda ketahanan band ini, serta bukti komitmen mereka kepada penggemar. Faulkner, yang bergabung dengan Priest pada tahun 2011 menggantikan K.K. Downing, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan band ini, membuktikan bahwa semangat metal tidak mengenal batas, bahkan dalam menghadapi tantangan kesehatan pribadi.

