Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Diamond Head: Riff Memukau, Nasib Tak Seberuntung Metallica

Di dunia musik yang gemerlap, ada band-band yang meroket bagai meteor melintasi langit malam, meninggalkan jejak terang yang abadi. Lalu ada Diamond Head. Para pahlawan yang hilang dari era keemasan New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM) ini, meski tak pernah mencapai puncak popularitas Iron Maiden atau Def Leppard, justru menanam benih yang tumbuh subur di taman para raksasa metal masa depan. Mereka bukan sekadar band; mereka adalah blueprint, cetak biru sonik yang diduplikasi dengan sukses oleh para pengagum setia, menciptakan paradoks ironis: mereka tak jadi bintang besar, tapi tanpa mereka, bintang-bintang terbesar takkan bersinar seterang itu.

Sang Maestro Riff yang Terlupakan

Terlahir di Stourbridge pada tahun 1977, Diamond Head digawangi oleh Brian Tatler, sang gitaris jenius yang riff-riffnya dipuji setara dengan Jimmy Page atau Tony Iommi. Sean Harris, vokalisnya, membawa energi muda yang mengingatkan pada Robert Plant muda. Inspirasi mereka jelas, bersumber dari para titan hard rock dan heavy metal seperti Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Deep Purple. Kritik kala itu pun tak main-main; Geoff Barton dari Sounds sesumbar bahwa satu lagu Diamond Head menyimpan lebih banyak riff cemerlang dibanding empat album awal Black Sabbath. Predikat ‘penerus alami Led Zeppelin’ pun disematkan, menciptakan ekspektasi yang begitu tinggi, bahkan untuk standar sebuah band belia yang baru merangkak.

Namun, dalam pusaran euforia NWOBHM, keberuntungan seakan enggan berpihak. Sementara Iron Maiden dan Def Leppard menaklukkan tangga lagu global, Diamond Head hanya mampu menggaruk permukaan. Tiga album awal mereka di era 80-an adalah karya brilian yang kemudian terbukti menjadi fondasi bagi generasi metal berikutnya. Pengaruh mereka begitu besar, bahkan Lars Ulrich dari Metallica secara gamblang menyatakan bahwa Diamond Head adalah ‘lima puluh persen dari apa yang kemudian menjadi Metallica’. Riff-riff dan struktur lagu mereka, menurut Ulrich, adalah sumbangsih krusial, yang melengkapi separuh lainnya dari Motörhead.

“Am I Evil?”: Sebuah Anthem yang Mendunia… Tapi Bukan Milik Mereka Sepenuhnya

Di antara karya-karya monumental Diamond Head, “Am I Evil?” berdiri tegak sebagai lagu yang paling dikenang. Diciptakan oleh Tatler dan Harris di usia belia, lagu ini adalah bukti nyata ambisi dan bakat mereka. Tatler, yang terinspirasi oleh kehebatanriff dari “Symptom Of The Universe” milik Black Sabbath, bertekad menciptakan sesuatu yang lebih berat lagi. Ditambah lagi sentuhan megah dari “Mars, The Bringer Of War” karya Gustav Holst sebagai intro, menghasilkan sebuah mahakarya epik yang mendefinisikan era tersebut. Namun, bagi Tatler yang berusia 17 tahun saat itu, menggapai level musikalitas Zeppelin, Sabbath, dan Deep Purple terasa seperti mimpi di siang bolong, membutuhkan latihan bertahun-tahun yang seolah takkan pernah berakhir.

Titik balik datang dari kegelisahan terhadap batas-batas musik yang ada. Kemunculan punk rock, dengan kesederhanaan tiga kordnya seperti yang diperlihatkan Sex Pistols di televisi, justru menjadi pemicu semangat bagi Tatler dan banyak musisi muda lainnya. Bukan untuk bermain punk, melainkan untuk “bergerak”, untuk menciptakan sesuatu yang otentik. Di sinilah semangat DIY (Do It Yourself) NWOBHM mulai berdenyut kencang. Seluruh Inggris dipenuhi band-band metal baru yang merekam demo dan merilis single mandiri, mengisi pub dan klub malam dengan energi baru. Diamond Head berada di tempat dan waktu yang tepat, namun mereka tak memiliki kekuatan manajerial yang sebanding dengan Peter Mensch dan Cliff Burnstein milik Def Leppard, atau agresivitas Rod Smallwood yang membesarkan Iron Maiden.

Manajemen Diamond Head justru jatuh ke tangan Linda Harris, ibunda Sean, dan rekannya Reg Fellows, yang membiayai band dari keuntungan bisnis kardus mereka. Saat Def Leppard dan Iron Maiden menandatangani kontrak dengan label besar, Diamond Head terpaksa menelan pil pahit. Tatler mengenang betapa frustrasinya melihat majalah Sounds memuji habis-habisan band mereka, namun tak ada tawaran dari perusahaan rekaman. Alih-alih menyerah, mereka memilih jalur independen: merilis album perdana, Lightning To The Nations, dengan label sendiri, Happy Face. Rekaman hanya memakan waktu seminggu di Old Smithy studios, menghasilkan empat lagu yang kelak menjadi anthem Metallica: “It’s Electric”, “Helpless”, “The Prince”, dan tentu saja, “Am I Evil?”. Bahkan “Sucking My Love” dari album yang sama menjadi inspirasi riff untuk “Seek & Destroy” milik Metallica.

Jatuh Bangun di Bawah Bayang-bayang Kesuksesan

Lightning To The Nations adalah salah satu album paling berpengaruh dari NWOBHM. Di tahun 1980, panggung musik dipenuhi debut album band-band kunci seperti Def Leppard dan Iron Maiden. Namun, hanya album milik Iron Maiden yang mampu menyaingi kualitas karya Diamond Head. Paul Suter dari Sounds memprediksi masa depan cerah bagi mereka. Tak lama berselang, pada Juli 1981, Lars Ulrich yang baru berusia 17 tahun, terbang dari Los Angeles ke London. Tujuannya: merasakan langsung denyut NWOBHM. Di Woolwich Odeon, ia menyaksikan pertunjukan Diamond Head yang ia sebut sebagai “puncak kebahagiaan heavy metal sejati”. Setelah pertunjukan, Ulrich berhasil menyelinap ke belakang panggung, berkenalan dengan band, dan tak lama kemudian, kembali ke California, ia menghubungi Tatler, mengabarkan pembentukan band barunya: Metallica.

Tatler sendiri tak pernah menyangka anak muda itu akan menaklukkan dunia. Akhirnya, Diamond Head mendapatkan kontrak label besar dengan MCA. Namun, di bawah tekanan label, album kedua mereka, Living On Borrowed Time, menyertakan rekaman ulang “Am I Evil?”. Ada pula lagu “Call Me”, yang diciptakan khusus sebagai single potensial dengan gaya ala Foreigner. Track pembuka, “In The Heat Of The Night”, menampilkan kekuatan terukur yang mengingatkan pada Led Zeppelin. Keberhasilan komersial pun datang ketika Living On Borrowed Time menembus chart Inggris di posisi #24 pada Maret 1982. Namun, di saat yang sama, Def Leppard mulai mengukir nama di Amerika dengan High ‘N’ Dry, dan Iron Maiden meraih sukses besar dengan The Number Of The Beast. Metallica pun telah rutin membawakan hingga empat lagu Diamond Head dalam setiap penampilan mereka di klub-klub California. Sayangnya, MCA tidak memberikan dukungan tur ke Amerika atau Eropa untuk Diamond Head. Usai tur Inggris dan penampilan di Reading Festival, mereka kembali ke studio untuk mengerjakan album ketiga, yang Tatler akui sebagai “album sulit”, sebuah klise yang ternyata nyata bagi mereka.

Diamond Head mulai melampaui akar heavy metal mereka. Tatler mengaku mengagumi The Police, U2, dan Siouxsie & The Banshees, mencoba menyerap segala pengaruh. Ambisi mereka adalah mencapai kecanggihan produksi yang didapat Def Leppard berkat Mutt Lange di album Pyromania. Mike Shipley, produser Diamond Head, pernah menjadi engineer di Pyromania. Namun, metode produksi “mode sempurna” ala Lange dan Shipley justru menjadi masalah. Tatler mengaku kesulitan bermain mengikuti metronom, sebuah gesekan yang mulai merapuhkan band. Bassist Colin Kimberley dan drummer Duncan Scott pun hengkang. Tatler mengakui penyesalan mendalam atas perpecahan ini, merasa band kehilangan sesuatu yang fundamental. Album ketiga, Canterbury, akhirnya rampung dengan bassist Merv Goldsworthy dan drummer Robbie France, menghabiskan anggaran £100,000. Secara artistik, album ini adalah sebuah kemenangan, hard rock modern yang tetap klasik. “To The Devil His Due” menampilkan kemegahan ala “Kashmir” Zeppelin, sementara track judulnya memiliki nuansa Queen. Single andalan, “Makin’ Music”, terdengar seperti masa depan rock. Namun, malapetaka datang dari cacat manufaktur yang membuat 20.000 kopi vinyl tak bisa dimainkan. Album ini akhirnya masuk chart Inggris di #32.

Nasib Sial dan Warisan yang Tak Terbantahkan

Menjelang akhir 1983, saat Metallica merevolusi kancah metal dengan debut Kill ‘Em All, Diamond Head terdepak dari MCA. Demo untuk album keempat, Flight East, tak menarik minat label besar. Ironisnya, pada 1984, versi “Am I Evil?” dari Metallica dirilis sebagai b-side single “Creeping Death”. Akhir yang tak mulus terjadi di awal 1985; Diamond Head bubar secara diam-diam. Tatler merasa Sean Harris ingin bersolo karier, dan mereka berdua butuh ruang. Di akhir 80-an, Tatler membentuk Radio Moscow, namun tak mendapat kontrak. Sean Harris bersama Robin George membentuk duo Notorious, yang albumnya dihapus dari peredaran hanya tiga minggu setelah rilis. Sebuah “bencana total”, menurut Tatler.

Tak terhindarkan, reuni pun terjadi. Album baru, Death And Progress, dirilis pada 1993 dengan formasi Tatler, Harris, drummer Karl Wilcox, dan bassist Pete Vuckovic. Album ini menampilkan kembali ciri khas Diamond Head: power, melodi, dan riff melimpah. Dave Mustaine dari Megadeth, penggemar berat Diamond Head sejak di Metallica, turut bermain di “Truckin'”. Tony Iommi dari Black Sabbath berkolaborasi di “Starcrossed (Lovers Of The Night)”. Figur krusial lain dalam kebangkitan Diamond Head adalah Lars Ulrich. Ia memilih Diamond Head sebagai pembuka konser gig terbesar mereka di Milton Keynes National Bowl pada 5 Juni 1993. Namun, gig tersebut berubah menjadi mimpi buruk. Band kurang latihan, Tatler sedang sakit, dan Sean Harris muncul dengan kostum Grim Reaper, sebuah simbol bahwa Diamond Head telah berakhir baginya. “Death and progress,” begitu ia menjelaskan.

Sempat ada reuni singkat di awal 2000-an, merekam materi kuat seperti “Medusa’s Gaze” dan “Music Box”. Namun, album tersebut tak pernah dirilis. Tatler memutuskan melanjutkan dengan vokalis baru, Nick Tart, yang bergabung tahun 2004. Band ini merilis dua album solid: All Will Be Revealed (2005) dan What’s In Your Head? (2007). Setelah Tart hengkang pada 2014, digantikan oleh Rasmus Bom Andersen, Diamond Head kembali merilis album eponymous di 2016, dengan Tatler masih menciptakan riff yang diinginkan Metallica. Dilanjutkan oleh The Coffin Train (2019). Tatler kini juga menjadi gitaris Saxon, namun ia tak pernah benar-benar meninggalkan Diamond Head. Berkat royalti Metallica, ia tak perlu lagi bekerja keras. Ia bahkan berkumpul lagi dengan Harris pada 2011 di acara 30th anniversary Metallica, membawakan empat lagu klasik mereka. Tatler tak memandang Diamond Head sebagai kegagalan, melainkan pelajaran tentang menciptakan keberuntungan dan ketekunan. Ia sadar, bakat saja tak cukup; perlu kemauan untuk sukses, sesuatu yang ia akui kurang dalam diri Diamond Head di masa lalu. Sebuah warisan yang terus bergema, membuktikan bahwa pengaruh sejati tak selalu terukur dari angka penjualan.

Previous Post

Pokopia: Jangan Siram Sembarangan, Hujan Otomatis Datang!

Next Post

Energi Murah Eropa: Komisi Uni Eropa ‘Ngeluarin’ Jurus Hemat Warga

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *