Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Disney: Gebrakan CEO Baru, Kabar Buruk Beruntun di Depan Mata

Di saat para petinggi Disney merayakan kenaikan jabatan CEO baru, Josh D’Amaro, langit-langit kantor mereka tampaknya mulai runtuh satu per satu. Bayangkan saja, baru saja mengumumkan kemitraan senilai miliaran dolar dengan OpenAI untuk membawa karakter-karakter ikonik ke platform video Sora, eh, tahu-tahu OpenAI memutuskan untuk menutup aplikasi tersebut. Bersamaan dengan itu, kesepakatan yang bahkan belum resmi ditutup pun langsung dibatalkan oleh pihak Disney. Ini bukan sekadar insiden kecil; ini adalah serangkaian pukulan telak yang menguji mental seorang pemimpin baru di arena yang penuh gejolak.

Kemelut di Panggung Sang CEO Baru

Josh D’Amaro, yang baru saja menduduki singgasana CEO The Walt Disney Co., sepertinya tidak mendapatkan masa orientasi yang tenang. Dalam waktu singkat, ia dihadapkan pada serangkaian peristiwa besar yang berpotensi mengubah arah strategis perusahaan, mulai dari lini konten hingga pengalaman konsumen. Semua ini menuntutnya untuk segera bertindak, karena krisis ini kini menjadi tanggung jawabnya untuk diselesaikan.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Runtuhnya kesepakatan dengan OpenAI hanyalah permulaan. Ada pula pergeseran strategi dari partner lama, Epic Games, keputusan dramatis untuk menarik sebuah musim penuh dari serial The Bachelorette yang hampir rampung, hingga potensi dampak perang di Timur Tengah terhadap taman tema di kawasan tersebut. Nyaris tidak ada lini bisnis Disney yang luput dari masalah.

Namun, insiden ganda pada hari Selasa, yang melibatkan OpenAI dan Epic Games, secara khusus menyoroti prioritas D’Amaro. Sumber-sumber yang dekat dengan pemikiran D’Amaro mengindikasikan bahwa gaming dan interaktivitas menjadi fokus strategis utamanya. Ia melihat ranah digital sebagai medan tempur krusial untuk interaksi penggemar dengan franchise dan brand favorit mereka, sebuah area yang menawarkan potensi monetisasi dan pemenuhan minat penggemar yang sulit ditandingi oleh format lain, kecuali mungkin taman tema.

Perjudian Digital yang Berisiko

Tepat pada hari Selasa yang sama, Epic Games mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 20% karyawannya, atau lebih dari seribu orang. Alasan di baliknya adalah masalah pada franchise unggulan mereka, Fortnite, yang notabene merupakan tulang punggung dari kesepakatan Disney dengan Epic Games. CEO Epic Games, Tim Sweeney, dalam sebuah memo internal yang blak-blakan, menyatakan bahwa penurunan engagement pada Fortnite sejak tahun 2025 membuat pengeluaran perusahaan jauh melebihi pemasukan, sehingga pemangkasan besar-besaran menjadi langkah krusial untuk menjaga kelangsungan perusahaan.

D’Amaro sendiri adalah motor penggerak di balik investasi Disney senilai $1,5 miliar ke Epic Games, dan ia bahkan bergabung dengan dewan direksi Epic sebagai pengamat. Rencana besar yang meliputi pembangunan alam semesta digital Disney yang kaya akan Intellectual Property (IP) yang terintegrasi dengan Fortnite tengah digodok. Sweeney sempat menyatakan kepada THR bahwa proyek tersebut berjalan lancar, meski detailnya masih dirahasiakan. Ia memuji visi D’Amaro dan Disney dalam memahami bagaimana IP film dan TV, Disney+, serta games dapat saling terhubung dalam ekosistem digital yang berintegrasi dengan taman tema dan lini bisnis lainnya.

Namun, PHK masif di Epic ini tentu menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan proyek bersama tersebut, terutama jika masalah Fortnite terus berlanjut. D’Amaro terus berupaya mengangkat derajat gaming di Disney, bahkan menempatkan kepala divisi games Disney, Sean Shoptaw, di bawah pengawasan langsung Dana Walden, sejajar dengan para pemimpin divisi TV dan film. Di sisi lain, ada spekulasi bahwa kekayaan franchise Disney justru bisa menjadi penarik yang dapat membangkitkan kembali popularitas Fortnite. Mengingat kekuatan fandom Marvel, Star Wars, dan franchise lainnya, skenario ini bukan tidak mungkin.

Masa Lalu dan Masa Depan AI di Disney

Sementara itu, kemitraan senilai miliaran dolar dengan OpenAI justru merupakan perjudian dari pendahulu D’Amaro, Bob Iger. Iger kala itu berargumen bahwa jika teknologi AI akan berkembang, Disney harus segera merangkulnya. Ia menekankan pentingnya untuk berani melangkah maju dengan optimisme dan agresivitas, bahkan jika itu berarti mengganggu model bisnis yang sudah ada.

Namun, kemitraan ini menimbulkan kegelisahan di kalangan para kreator. Mereka khawatir dengan kualitas konten yang dihasilkan oleh Sora, yang terkesan mentah dan kurang terkurasi. Iger sendiri memiliki visi untuk menyajikan video Sora terbaik di Disney+ dan bahkan memungkinkan pengguna Disney+ untuk menciptakan konten video AI singkat mereka sendiri. Peluang ini sebenarnya masih terbuka lebar, karena Disney tidak sepenuhnya meninggalkan bisnis AI.

Pihak Disney sendiri menyatakan akan terus menjajaki platform AI untuk menemukan cara baru berinteraksi dengan penggemar sembari merangkul teknologi baru yang menghormati IP dan hak cipta kreator. Namun, dengan mundurnya OpenAI, belum jelas siapa mitra potensial lain yang bisa digandeng dalam waktu dekat. Pernyataan D’Amaro di hadapan para pemegang saham Disney pada 18 Maret lalu menggarisbawahi ambisinya untuk menjadikan Disney+ sebagai “pusat digital” perusahaan, sebuah portal yang menghubungkan cerita, pengalaman, games, film, dan banyak lagi dengan cara-cara baru.

Ujian Lain di Depan Mata

Lalu ada kasus The Bachelorette. Keputusan ABC untuk menarik serial tersebut dari jadwal tayang, menyusul munculnya video terkait insiden kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan salah satu bintangnya, memang diambil oleh tim di bawah D’Amaro. Namun, dampaknya bisa merugikan Disney hingga puluhan juta dolar. Spekulasi pun beredar bahwa Disney mungkin mencoba menyelamatkan acara ini dengan menayangkannya secara eksklusif di Hulu. Bagaimanapun, perselisihan besar terkait salah satu franchise andalannya jelas bukan hal yang dibutuhkan Disney saat ini.

Tidak ketinggalan, divisi pengalaman (experiences division) Disney, tempat D’Amaro meniti karier, juga menghadapi tantangan. Kendati tidak sehebat pandemi COVID-19, urusan internasional kembali menghampiri perencanaan perusahaan. Tahun lalu, Disney mengumumkan rencana pembangunan taman tema baru di Abu Dhabi, yang didanai dan dibangun oleh Miral Group, namun dikembangkan oleh Disney. D’Amaro kala itu menyoroti posisi strategis Abu Dhabi yang mudah dijangkau dari berbagai belahan dunia, sebuah lokasi yang merayakan seni, kreativitas, dan warisan budaya, sejalan dengan nilai-nilai Disney. Ia melihat taman baru ini sebagai kesempatan untuk merayakan cerita Disney dan tradisi taman tema yang ada, sambil merangkul estetika modern.

Kini, Abu Dhabi justru berada di tengah-tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, dengan serangan rudal dan drone yang dilaporkan mengarah ke Uni Emirat Arab. Dampak jangka panjang dari konflik ini masih belum jelas. Di rapat umum pemegang saham Disney minggu lalu, D’Amaro menyinggung proyek Abu Dhabi sebagai “taman baru pertama dalam satu dekade di sudut dunia yang benar-benar baru,” tanpa menyebut nama lokasinya secara eksplisit. Proyek taman ini memang masih bertahun-tahun lagi dari realisasi, dan upaya Abu Dhabi untuk menjadikan Yas Island sebagai destinasi wisata global masih berlanjut, namun ini adalah satu lagi batu sandungan yang harus dinavigasi oleh D’Amaro.

Navigasi Sang Nahkoda

Seorang CEO perusahaan Fortune 500 pernah berujar bahwa tugas utama adalah menetapkan nada dan strategi masa depan perusahaan, sembari beradaptasi dengan realitas masa kini. Bagi maskapai penerbangan, ini berarti memprediksi dampak kenaikan harga minyak dan merencanakan rute. Bagi ritel global, ini berarti menghadapi tarif dan mengamankan rantai pasok. Bagi perusahaan teknologi, ini berarti membuat keputusan investasi AI sambil meninjau kembali area yang kurang menguntungkan.

D’Amaro telah menetapkan nada untuk kepemimpinannya dengan merangkul teknologi dan kekuatan kreatif yang mendorong Disney. Ia menekankan bahwa sementara industri lain melakukan konsolidasi atau berjuang untuk relevan, Disney berada di posisi unik untuk melaju ke era inovasi dan pertumbuhan berikutnya, didorong oleh kreativitas kelas dunia yang ditingkatkan oleh teknologi. Namun, peristiwa beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa ia juga harus sangat lincah dalam menghadapi segala rintangan yang datang, baik itu kegagalan kemitraan teknologi, penarikan franchise TV, maupun peristiwa global yang memengaruhi kunjungan ke divisi experiences-nya yang menguntungkan.

Previous Post

Vatikan Ngomong Bahasa Indonesia: Pesan Paus Makin Mendunia

Next Post

Mobil Berkulit Sintetis: Cara Unik Peringatkan Bahaya Sinar Matahari

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *