Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Dokter Kelainan Fisik: Sambangi Pasien dengan Semangat Bajak Laut, Bukan Angsa Patah Kaki

Di tengah riuhnya dunia medis yang serba canggih, tiba-tiba muncul sosok yang bergerak bukan dengan langkah gagah, melainkan merangkak dari satu titik ke titik lain, menggenggam pergelangan kaki dan memutar tubuh mungilnya. Ya, ini bukan adegan film fiksi ilmiah nyeleneh, melainkan potret perjuangan Li Chuangye, seorang dokter di pelosok Xinjiang yang membuktikan bahwa dedikasi tak mengenal batas fisik, bahkan ketika gravitasi seolah berkonspirasi menahannya.

Li, pria 38 tahun dengan bobot kurang dari 38 kilogram, adalah korban selamat dari ancaman polio yang pernah menghantui masa kecil anak-anak. Meski kampanye imunisasi massal di Tiongkok telah membuahkan hasil gemilang, nasib berkata lain untuk Li yang terjangkit di pengujung 1980-an. Dampaknya? Kelumpuhan dari pinggang ke bawah dan postur tubuh yang hanya separuh dari rata-rata orang. Namun, di gurun Taklamakan yang terpencil, ia mendirikan klinik yang kini menjadi pelipur lara bagi tetangganya.

Klinik yang baru beroperasi tiga bulan ini, seluas 300 meter persegi, lengkap dengan ruang konsultasi, infus, apotek, dan spanduk megah bertuliskan “Layanan Medis 24 Jam”. Di balik ruang kerja yang luas itu, Li tampak begitu kecil. Ketika pasien datang, ia akan merangkak, memposisikan diri hingga mencapai kursi rodanya, lalu bangkit dengan satu dorongan untuk menyambut mereka sejajar mata. Sungguh sebuah pemandangan yang membuyarkan semua anggapan klise tentang keterbatasan.

Awalnya, penduduk setempat sempat skeptis. Seorang dokter berkacamata dengan postur sekecil itu, bagaimana bisa menangani pasien secara efektif? Keraguan itu luruh seiring waktu, tergantikan oleh rasa hormat pada profesionalisme dan ketulusan Li. Ia tak hanya mengobati, tapi juga menjadi malaikat penolong. Ketika mengetahui tiga lansia berusia 80-an tak punya pendamping untuk berobat karena anak-anak mereka merantau, Li tak ragu membawa tas medisnya, mengunjungi mereka di rumah, memeriksa tekanan darah, gula darah, dan meresepkan obat – semuanya gratis.

Bagi kaum disabilitas dan warga kurang mampu, Li memberikan keringanan: perawatan gratis bagi yang disabilitas, dan diskon 50% bagi yang kurang beruntung. “Mereka tidak menyangka seorang asing, yang kondisinya sendiri memprihatinkan, bisa begitu baik hati,” ujar Patigul Zaker, perawat di klinik Li, menggambarkan bagaimana warga setempat memandang sosoknya. Di tengah populasi Uighur yang besar di Shache County, Xinjiang Selatan, Li berhasil menarik perhatian mereka meskipun ada kendala bahasa, membuktikan bahwa empati melampaui kata-kata.

Api Perjuangan di Tanah Tandus

Sebuah video yang menampilkan Li melakukan kunjungan rumah, keliling pedesaan untuk konsultasi medis gratis, viral di jagat maya. Semangat pantang menyerahnya menginspirasi jutaan warganet. Komentar seperti “dia adalah seberkas cahaya” bermunculan, menumbuhkan harapan baru.

Perjalanan hidup Li sendiri berawal dari keluarga miskin di pedesaan Henan. Sejak bayi tujuh bulan, misdiagnosis memicu polio yang mengubah nasibnya. Delapan tahun berikutnya dihabiskan keluarganya untuk berjuang mencari kesembuhan, berulang kali meminjam dan melunasi utang. “Dulu, aku benci dipanggil cacat,” kenangnya. “Sekarang tidak masalah. Ini kenyataan.”

Masa kecilnya jauh lebih berat. Beban utang keluarga, perjuangan merangkak dan bergerak dengan tangan. Baru di usia 16 tahun ia menjejakkan kaki di sekolah dasar, namun berkembang pesat, melompati beberapa jenjang berkat studi intensif. Di masa inilah ia menemukan kehangatan dari guru dan teman sekelas yang membantunya, baik secara finansial maupun fisik, seperti membopongnya naik tangga.

Tujuan hidupnya jelas: belajar kedokteran. Pada 2013, ia diterima di perguruan tinggi kedokteran, dan tiga tahun kemudian, ia terdaftar di program kedokteran klinis Universitas Henan. Wu Jin’ge, konselor kampusnya, mengenang Li sebagai mahasiswa teladan yang rajin memenangkan beasiswa dan menyalurkannya untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan. “Aku bangga padanya,” ujar ibunya, mengingat masa kecil Li yang pernah berkata, “Hidup ini tidak layak dijalani.” Sang ibu, yang buta huruf, masih menetap di kampung halaman di Henan.

Kini, Li adalah sosok yang tak pernah berhenti bergerak. Setelah mengantongi izin praktik dan membuka klinik di Yunnan, ia rela menempuh perjalanan 61 jam dengan kereta dari Henan ke Xinjiang pada tahun 2025. Berkat bantuan seorang kenalan, ia berhasil mendirikan kliniknya di sana.

Li bekerja tanpa kenal lelah. Tidur hanya empat jam per malam, sisanya ia habiskan untuk membaca buku medis. “Di daerah pedesaan, segala jenis penyakit bisa ditemui. Jika tidak terus belajar, bisa salah diagnosis,” tuturnya. “Itu tidak boleh terjadi.”

Yang mengejutkan banyak orang, hobi Li adalah mendaki gunung. Pada 2016, ia menaklukkan Gunung Tai, salah satu puncak suci Tiongkok. Pendakian yang biasanya empat jam bagi orang lain, baginya membutuhkan lima hari empat malam. Di anak tangga batu yang curam, ia menarik tubuhnya ke atas hanya dengan kekuatan tangan.

Sejak itu, ia telah mendaki berbagai gunung tinggi di seluruh negeri, menghabiskan puluhan pasang sarung tangan, sepatu, dan celana. Meski begitu, pengalaman mendaki baginya sungguh luar biasa. “Saat mencapai puncak, rasanya seperti orang lain.” Li mengunggah video pendakiannya di media sosial, menarik ribuan penonton. Beberapa menyarankan menjadi selebritas internet, namun Li menolak tawaran menggiurkan itu. Ia hanya berharap kisahnya dapat menginspirasi orang lain sepertinya.

Dengan upaya pencegahan dan pengendalian polio selama puluhan tahun, Tiongkok dinyatakan bebas polio oleh WHO pada tahun 2000. Li sendiri telah mendaftar untuk mendonasikan tubuhnya demi penelitian medis setelah meninggal. “Karena aku mengidap penyakit ini, aku berharap para peneliti dapat mempelajari tubuhku untuk mencari tahu penyebabnya, agar tidak ada lagi anak yang harus tumbuh tanpa bisa berdiri,” ungkapnya penuh harap.

Previous Post

Reformasi Lancar, Rating Mandek: Utang Tetap Ngalor

Next Post

Suunto Spark: Dengar Dunia Sekitar, Tetap Lari Kencang

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *