Pernah nggak sih lo dengerin musik yang bikin lo merasa kayak lagi diculik alien tapi diiringi orkestra simfoni? Nah, kira-kira begitulah pengalaman dengerin album baru Dysylumn, Abstraction. Band black metal asal Prancis ini emang nggak pernah main aman. Mereka selalu nyiptain musik yang aneh, indah, dan bikin kepala lo berasap kayak knalpot bajaj.
Black Metal Prancis: Lebih dari Sekadar Baguette dan Mayhem
Ada sesuatu yang khas dari black metal Prancis. Bukan cuma soal liriknya yang berbahasa Prancis, tapi juga aura “kehangatan” yang meresap ke suara gitar. Kadang terasa kayak kobaran api, kadang kayak hantu yang lagi nyanyi seriosa, kadang juga kayak melodi sendu ala Edith Piaf. Anehnya, baru Dysylumn yang berani nyatuin semua elemen itu jadi satu kesatuan yang… yah, abstrak.
Duo misterius dari Prancis selatan ini udah lama punya basis penggemar setia di kalangan underground black metal. Musik mereka adalah perpaduan antara black metal atmosferik, disonan avant-garde, dan melodi klasik yang “trve”. Setelah merilis album ganda epik Cosmogonie di tahun 2020, Dysylumn balik lagi dengan Abstraction yang relatif “mini”. Seolah-olah mereka pengen ngingetin kita bahwa mereka masih ada di sana, di kegelapan. Tapi, apa maksud semua ini?
Abstraction: Ketika Blut Aus Nord Ketemu Mare Cognitum di Warung Indomie
Judul Abstraction ini emang pas banget. Album ini terdiri dari lima track berjudul sama yang dinomorin. Struktur ini ngajak kita buat menafsirkan album ini sebagai proses-proses berbeda dari satu kesatuan yang utuh. Musiknya sendiri adalah black metal atmosferik semi-disonan yang kedengeran kayak Blut Aus Nord lagi kolaborasi sama Mare Cognitum sambil ngopi di warung Indomie. Melodi-melodi di album ini muncul dan tenggelam di balik teriakan dan ratapan yang menggema, menciptakan suara yang mirip Abduction yang lebih abstrak.
Pergantian ritme yang anggun tapi bikin nggak nyaman, tremolo yang penuh reverb dan fuzz, dan throat-singing yang penuh semangat mungkin butuh kesabaran dan toleransi dari pendengar yang belum terbiasa. Tapi, semua itu nggak bikin Abstraction jadi hambar. Justru, itu semua nyiptain kekosongannya sendiri.
Misteri yang Membekukan Sekaligus Menghangatkan
Kalau ada satu hal yang berhasil Dysylumn lakuin di Abstraction, itu adalah aura mistiknya. Dengan nyatuin melodi yang nggak biasa, vokal harsh yang meratap, dan atmoblack yang halus dan pedih, duo ini nyiptain ruang yang hangat sekaligus dingin. Aneh, tapi entah kenapa berhasil. Lo mungkin bakal menggigil dengerin suara gitar tinggi yang aneh di track “I,” “II,” dan “V,” tapi di saat yang sama lo juga bisa hanyut dalam melodi mellow di track “IV” dan “V.”
Dysylumn sering ganti kunci dan tempo, tapi dengan cara yang natural. Mereka bisa tiba-tiba beralih dari second-wave black metal yang dingin ke hum post-black yang dipetik dan ditepuk (“III,” “IV”). Semua itu dibungkus dalam selubung reverb yang tebal, berkilauan, dan sekaligus kotor. Jeritan penuh semangat muncul di puncak melodi yang dreamy dan intens (“II,” “IV”). Momen-momen terbaik di Abstraction adalah ketika keanehan dan keindahan bersatu dalam melodi tremolo yang menyapu (“III,” “V”) dan pelepasan ala blackened doom yang dramatis (“IV”). Di saat-saat kayak gini, gue bener-bener tenggelam dalam dunia yang lagi Dysylumn bangun.
Unicorn yang Bikin Merinding

Abstraction punya kekuatan buat narik pendengarnya masuk ke dalam kombinasi ajaib antara atmosfer yang memabukkan dan keanehan yang asing. Tapi, kekuatan ini baru bener-bener kelihatan di bagian tengah album, yaitu track “III” dan “IV.” Track “I” dan “II” emang berhasil ngebangun suasana dengan scale yang frosty dan melayang, tapi mereka terjebak dalam struktur songwriting yang terus-menerus ngulang pola melodi yang sama dan gonta-ganti kunci yang sama.
Ketika D-Beat Lebih Menarik daripada Gebukan Blastbeat
Kecenderungan ini muncul lagi di track “V,” tapi nggak separah sebelumnya. Pergantian kunci yang diulang masih bisa dimaafkan, apalagi ketika Dysylumn gunain itu di atas d-beat (“V”), bukan shuffle atau blastbeat kayak sebelumnya. Peralihan ke gitar yang lebih doom, lebih bernuansa, dan dihiasi dengan crash yang menyentuh, klimaks yang menggelegar, dan urgensi yang nyata di track “III” dan “IV” terasa kontras banget.
Dysylumn berhasil ngehindarin diskontinuitas dengan mempertahankan benang merah tema yang kabur dan semi-disonan yang ada di seluruh album. Tapi, fakta bahwa sepertiga pertama dari album berdurasi 36 menit ini adalah bagian terlemahnya bikin pendengar susah buat nyampe ke materi yang lebih dalam dan lebih menarik. Frustrasi dan bikin bingung, kan? Tapi, di sisi lain, kekuatan keanehan yang hangat dan dingin di track “I” jadi bukti kualitas tinggi Abstraction secara keseluruhan. Mungkin lebih baik albumnya makin bagus daripada makin jelek, kan?
Abstraction: Meditasi yang Bikin Kepala Berasap
Intinya, Abstraction butuh kesabaran lo. Album ini pendek, tapi nggak gampang dilupain. Album ini cocok banget buat didengerin sambil merenung, kayak musik atmosferik sejenisnya. Tapi, di balik kabutnya, Abstraction nyimpen keanehan yang indah dan dreamy yang bisa narik pendengar yang nggak terlalu suka musik ekstrem, dan keanggunan nyata yang nggak jauh dari avant-garde. Dysylumn lagi ada di ambang sesuatu yang luar biasa. Mereka cuma perlu nemuinnya.


