Tiga nama yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang—Ejae, Rei Ami, dan Audrey Nuna—baru saja dinobatkan sebagai Billboard’s Women of the Year. Penghargaan ini mereka raih bukan karena kebetulan semata, melainkan buah dari kerja keras dan speech yang menggugah di acara Women in Music 2026. Mari kita kupas tuntas bagaimana para bintang dari dunia fiksi ini berhasil menembus dunia nyata dan merebut hati industri musik global, membuktikan bahwa narasi yang kuat bisa terlahir dari layar kaca menuju panggung penghargaan bergengsi.
Siapa sangka para penyanyi dan penulis lagu ini sejatinya adalah suara di balik HUNTR/X, grup idola K-pop fiksi yang menjadi pahlawan dalam film animasi Netflix berjudul KPop Demon Hunters rilisan 2025? Keberhasilan film tersebut seolah menjadi batu loncatan fenomenal bagi trio ini. Sejak KPop Demon Hunters menghiasi layar kita, HUNTR/X, melalui Ejae, Rei Ami, dan Audrey Nuna, telah mendobrak batasan-batasan tak terlihat, memecahkan rekor demi rekor, dan mengumpulkan piala penghargaan bagai mengumpulkan kepingan puzzle kesuksesan.
Perjalanan mereka bukan sekadar cerita sukses biasa. Lagu “Golden”, yang dibawakan oleh HUNTR/X, telah mengukir sejarah. Tidak hanya memenangkan kategori Best Original Song di Academy Awards—sebuah pencapaian pertama bagi lagu K-pop untuk meraih Oscar—tetapi juga menyabet Best Pop Duo/Group Performance di Grammy Awards. Ini adalah kali pertama sebuah trek K-pop mendapatkan golden gramophone. Prestasi gemilang ini jelas bukan hasil instan; ini adalah akumulasi dari ketekunan, keberanian untuk tampil beda, dan adaptasi di tengah kerasnya persaingan industri.
Puncaknya, pada Rabu malam, 29 April, trio ini kembali menorehkan sejarah di Hollywood Palladium dalam gelaran Women In Music (WIM) 2026. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa karya yang lahir dari imajinasi bisa memiliki dampak yang sangat nyata, bahkan melampaui batas fiksi itu sendiri. Jalan menuju puncak ini diakui sendiri oleh para artisnya sebagai rute yang penuh lika-liku, membutuhkan keyakinan diri yang kokoh, kemampuan bangkit dari kegagalan, serta penyesuaian strategi yang jeli, dan tentu saja, kerja keras yang tanpa henti.
Lahir dari Layar, Mengukir Prestasi Nyata
Ejae, dalam salah satu kutipannya, menegaskan betapa sulitnya berkiprah di dunia musik. Ia menyoroti minimnya representasi sebagai seorang perempuan Asia di panggung musik Barat. Pengalaman ini mendorongnya untuk mengejar karir sebagai idola K-pop. Ketika jalan itu ternyata tidak sesuai harapan, ia sempat merasa putus asa. Namun, penemuan jati diri melalui penulisan lagu menjadi titik balik krusial. Ejae menyadari bahwa musik itu sendiri tidak memandang ras atau gender; ia hanya menuntut kejujuran dan keaslian.
Pendekatan Ejae terhadap seni musik sangat filosofis. Ia menemukan bahwa ketika dirinya membawa seluruh kebenaran, suara otentik, keutuhan diri, dan esensi kewanitaannya ke dalam karya, segalanya mulai berubah. Hal ini membawanya pada kesimpulan mendalam: kekuatan perempuan bukan terletak pada upaya untuk menyesuaikan diri, melainkan pada ketahanan—resiliensi—untuk menyuarakan kebenaran. Pernyataannya ini bukan sekadar pengakuan personal, tetapi sebuah manifesto yang ditujukan bagi perempuan lain yang mungkin merasa terabaikan.
Sang penyanyi yang memenangkan Grammy Award, Ella Mai, turut hadir untuk memberikan penghargaan. Namun, sebelum itu, Ejae, Rei Ami, dan Audrey Nuna sukses memukau penonton dengan penampilan lagu hit mereka, “Golden”. Lagu ini terbukti sangat adiktif, terbukti dengan kesuksesannya bertahan delapan minggu di puncak tangga lagu Billboard Hot 100. Keberhasilan ini tentu saja bukan hanya milik mereka bertiga, tetapi juga buah kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk para kreator perempuan di balik KPop Demon Hunters seperti sutradara Maggie Kang, Spring Aspers, Michelle Wong, dan Sunny Park.
Rei Ami menyampaikan rasa terima kasihnya dengan penuh semangat. Ia secara khusus berterima kasih kepada Tuhan, ibunya, dan kedua rekan grupnya yang dianggapnya luar biasa. Pengakuan terhadap Billboard, Republic Records, tim, keluarga, teman, dan penggemar juga tidak luput dari perhatiannya. Ia tidak segan- menggambarkan tantangan menjadi perempuan di industri yang didominasi laki-laki, di mana perempuan seringkali harus bekerja dua kali lebih keras, menghadapi kritik pedas mengenai penampilan fisik—terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu pasif, atau terlalu berlebihan—sebuah dilema yang membuatnya merasa hampir mustahil untuk sekadar eksis.
Menurut Rei Ami, sebuah kesalahpahaman jika feminitas yang percaya diri dianggap sebagai kesombongan yang harus dicerca. Justru, sebaliknya, itulah yang seringkali membuat orang lain terintimidasi. Kemampuan untuk terus maju dan tampil menunjukkan eksistensi adalah kekuatan super. Pernyataan ini ditujukan sebagai apresiasi bagi semua perempuan di ruangan itu yang menggunakan kekuatan mereka untuk menginspirasi, memimpin, dan melindungi, menegaskan bahwa mereka bukanlah “terlalu banyak” atau “terlalu keras,” melainkan persis seperti apa yang mereka yakini.
Narasi Kekuatan dalam Kerentanan
Audrey Nuna, yang dikenal sebagai sosok yang cenderung menahan emosi, mengakui perasaannya yang meluap malam itu. Ia mengungkapkan kehormatan besar bisa berdiri di antara perempuan-perempuan yang membawa kepemimpinan, cahaya, keberanian, keunggulan, dan perubahan bagi komunitas mereka. Sejak awal karirnya di tahun 2019, Audrey merasa tidak pernah cocok dengan kotak-kotak stereotip yang disematkan pada perempuan Korea-Amerika. Ia bahkan mengakui tidak tahu bagaimana cara memulai untuk mencoba masuk ke dalam “kotak-kotak” tersebut, sebuah metafora jenaka tentang sepatu bot bergambar sarung tinju yang dikenakannya saat itu.
Menerima penghargaan ini sebagai representasi dari lagu dalam film yang menegaskan bahwa dunia membutuhkan perempuan untuk menunjukkan diri mereka seutuhnya—teraneh, terburuk, atau apa pun itu—memberikan kepuasan yang tak terhingga. Audrey menegaskan bahwa tangisan di kehidupan nyata tidak akan terjadi di momen itu, sebuah sindiran halus tentang kontrol emosi yang seringkali diharapkan dari perempuan. Pengalaman menavigasi industri ini secara langsung telah memperlihatkan bahwa perempuan adalah pemimpin alami dan yang terbaik dalam hal itu.
Audrey Nuna menambahkan sebuah poin krusial: ketika perempuan benar-benar mendukung satu sama lain dari lubuk hati terdalam, itu menjadi salah satu kekuatan paling transformatif, efektif, dan revolusioner di dunia. Ia mendedikasikan penghargaan ini untuk timnya yang terdiri dari para perempuan visioner, termasuk Paula Park yang juga menerima penghargaan di malam yang sama. Ketergantungan pada tim perempuan ini menjadi alasan utama di balik kesuksesan yang dirasakannya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para eksekutif perempuan yang terus berjuang untuk kesetaraan yang lebih besar. Pengakuan terhadap mereka yang melakukan pekerjaan berat di balik layar—memastikan perempuan memiliki ruang—sangat berarti. Audrey menyimpulkan bahwa empati adalah aset, kemanusiaan adalah katalis, dan portal untuk perubahan—sebuah penutup yang kuat yang merangkum esensi perjuangan dan pencapaian mereka.


