Pernahkah terpikirkan bagaimana musik lawas yang mengisi masa muda bisa bertransformasi jika disuntik energi deathcore bernuansa hip-hop, lengkap dengan visual ala Mad Max? Mungkin hanya khayalan sebagian orang, tapi Filth baru saja mewujudkannya. Band ini merilis EP terbaru bertajuk Welcome to Shell Town, sebuah persembahan yang berani mendobrak batasan genre dengan menggarap ulang sejumlah lagu klasik nu metal.
Dalam rilisan ini, Filth tidak hanya menyentuh Drowning Pool dengan “Bodies” dan Disturbed lewat “Stupify”, namun juga menantang status legendaris Limp Bizkit melalui nomor 2000 mereka yang ikonik, “Rollin’ (Air Raid Vehicle)”. Tak berhenti di situ, EP ini juga memperkenalkan dua nomor orisinal yang tak kalah menghentak: “Shell Town” dan “Outta Pocket”. Kehadiran kedua trek ini membuktikan bahwa Filth tidak sekadar nostalgia, tetapi juga memiliki visi artistik yang terus berkembang.
Namun, daya tarik visual yang mengusung semangat Mad Max adalah elemen yang patut disorot. Video klip untuk “Rollin’ (Air Raid Vehicle)” ini diarahkan oleh Toddi Babu. Visualnya menampilkan para personel Filth beraksi di tengah lanskap pasca-apokaliptik yang sangat terinspirasi dari estetika brutal dan penuh asap dari epik diesel George Miller. Suasana gurun yang tandus, kendaraan modifikasi ekstrem, dan aura bertahan hidup yang kental benar-benar menciptakan pengalaman audiovisual yang unik dan memikat.
Welcome to Shell Town kini telah tersedia di berbagai platform digital kesayangan. Di samping suguhan musik video dan daftar lagu yang me-remix kenangan, band ini juga memulai tur akbar bertajuk “Beasts of the East”. Jadwal tur yang padat ini menjadi kesempatan emas bagi para penggemar untuk menyaksikan langsung transformasi suara dan penampilan energik Filth secara langsung. Tiket tur dapat diakses melalui berbagai kanal penjualan daring.
Filth ‘Beasts of the East’ Tour: Sebuah Ekspedisi Brutal
Jadwal tur “Beasts of the East” dibuka dengan kolaborasi bersama Blackwater Drowning. Rangkaian tur ini dimulai dari wilayah East Coast Amerika Serikat, menyentuh beberapa kota kunci yang menjadi basis penggemar musik keras. Setiap pertunjukan diharapkan dapat memberikan pengalaman yang tak terlupakan, menggabungkan materi baru dengan lagu-lagu yang telah mengukuhkan posisi Filth di kancah musik.
Tanggal-tanggal awal tur ini meliputi:
- 3/6 Dunbar, WV The Shop Live
- 3/7 Salisbury, MD Lurking Class Skate
- 3/8 Richmond, VA Canal Club
- 3/9 Baltimore, MD Zen West
- 3/10 Wilmington, NC Reggie’s
- 3/11 Greensboro, NC Hangar 1819
Perjalanan tur dilanjutkan dengan formasi yang lebih beragam, menampilkan Autumn Lies Buried, Comawaves, dan Jawjacked sebagai pendukung utama. Kehadiran beberapa band ini dalam satu panggung menjanjikan sebuah perhelatan musik yang sarat energi dan perpaduan gaya yang menarik, semakin memperkaya pengalaman para penonton.
Sisa jadwal tur yang dipenuhi kolaborasi ini meliputi:
- 3/12 Virginia Beach, VA Scandals Live
- 3/13 Gastonia, NC The Rooster
- 3/14 Atlanta, GA 529
- 3/15 Jacksonville, FL The Albatross
- 3/17 Pensacola, FL The Handlebar
- 3/18 Tampa, FL Brass Mug
- 3/19 Orlando, FL Conduit
- 3/20 Summerville, SC Trolley Pub
- 3/21 Spartanburg, SC GroundZero
- 3/22 Chapel Hill, NC Local 506
EP Welcome to Shell Town sendiri merupakan sebuah bukti nyata ambisi Filth untuk terus berinovasi. Mengambil lagu-lagu yang sudah akrab di telinga dan memberikan sentuhan deathcore yang brutal namun tetap mengalir bersama ritme hip-hop adalah sebuah keberanian artistik. Nuansa “Rollin’ (Air Raid Vehicle)” yang dibalut dengan teriakan khas deathcore, misalnya, menciptakan sebuah ironi yang gelap namun memikat, membuktikan bahwa musik lawas pun bisa memiliki kehidupan baru jika ditangani dengan visi yang segar dan tidak takut bereksperimen.
Proses rekontekstualisasi lagu-lagu ikonik ini bukan sekadar upaya daur ulang. Filth seolah melakukan sebuah studi kasus tentang bagaimana elemen-elemen musik dari era berbeda dapat berbenturan dan menghasilkan sesuatu yang baru. Penggunaan distorsi gitar yang lebih ekstrem, blast beat yang menghantam, dan guttural vocals yang mengoyak, semuanya disandingkan dengan hook melodi atau rap yang mungkin pernah populer di era nu metal. Hasilnya adalah sebuah amalgamasi sonik yang mengejutkan, menarik, dan provokatif.
Video klip Mad Max-esque yang mengiringi perilisan ini melengkapi narasi visual yang dibangun Filth. Estetika pasca-apokaliptik bukan hanya latar, melainkan sebuah metafora. Kehancuran dan kegersangan lanskap mencerminkan keadaan musik populer yang terkadang terasa repetitif atau kehilangan arah. Di tengah kekacauan tersebut, muncul Filth sebagai kelompok yang bertahan, membawa obor pemberontakan sonik, merombak puing-puing masa lalu menjadi sesuatu yang baru dan menakutkan.
Keputusan Filth untuk membawakan ulang lagu-lagu seperti “Bodies” dan “Stupify” patut diacungi jempol. Lagu-lagu ini, pada masanya, adalah anthem bagi generasi tertentu. Mengambilnya dan memberikan interpretasi ulang yang radikal adalah sebuah pernyataan. Ini bukan sekadar penghormatan, melainkan sebuah dialog lintas generasi musik. Filth seolah berkata, “Kami memahami akar kalian, tapi lihatlah ke mana kami bisa membawanya sekarang.” Kemampuan untuk menjaga esensi emosional lagu asli sambil menerjemahkannya ke dalam bahasa musik yang jauh lebih agresif menunjukkan kedalaman musikalitas band ini.
Kehadiran dua lagu orisinal dalam EP ini, “Shell Town” dan “Outta Pocket”, memberikan ruang bagi Filth untuk mengekspresikan identitas mereka secara mandiri, tanpa terbebani interpretasi ulang. Kedua lagu ini berfungsi sebagai jangkar, menunjukkan bahwa eksperimen mereka bukanlah sekadar gimmick, melainkan bagian dari evolusi artistik yang berkelanjutan. Mendengarkan karya orisinal mereka setelah diperkenalkan dengan interpretasi ulang lagu lawas memberikan gambaran yang lebih utuh tentang arah musik Filth ke depannya.
Perilisan Welcome to Shell Town dan dimulainya tur “Beasts of the East” ini menandai sebuah babak baru bagi Filth. Band ini tidak hanya membuktikan kemampuan teknis mereka yang mengesankan, tetapi juga keberanian mereka untuk menantang ekspektasi. Dalam lanskap musik yang seringkali terasa homogen, Filth hadir sebagai agen perubahan yang brutal namun cerdas. Mereka mengingatkan bahwa musik, bagaimanapun bentuknya, selalu memiliki potensi untuk berevolusi dan mengejutkan pendengarnya.
Perjalanan Filth melalui Welcome to Shell Town lebih dari sekadar EP; ini adalah sebuah manifestasi artistik yang merangkul nostalgia sambil dengan garang menatap masa depan. Dengan perpaduan unsur deathcore, hip-hop, dan visual yang terinspirasi dari keganasan Mad Max, Filth berhasil menciptakan sebuah identitas unik yang sulit diabaikan. Tur “Beasts of the East” menjadi bukti nyata bahwa semangat ini akan terus bergema, memanaskan panggung demi panggung, dan meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di benak para penikmat musik keras.


